Monday, September 25, 2017

Catatan Timur Tengah

1. Kelompok Otonomi Kurdi di Irak mengklaim hasil referendum senin kemarin sebagai awal dari terbentuknya negara Kurdi.
Langkah ini akan sia-sia dan akan berakhir dengan konflik bersenjata. Irak tidak akan membiarkan skenario pecah-belah ala Barat terjadi di negaranya.
Bukan hanya pemerintahan Republik Irak di Baghdad yang akan menolak dan menganggap referendum sebagai aksi pemberontakan namun milisi mobilisasi popular yang didirikan berdasarkan Fatwa ulama Syiah Ali Sistani akan menjadikan kelompok Kurdi sebagai lawan langsung. Mengingat segregasi Irak di bagian utara menjadi negara baru akan memungkinkan kehadiran secara permanen tentara AS dan mempermudah Israel menyimpan amunisi konflik di masa depan.
2. Pemerintah Suriah setelah mengontrol kota Deir Az Zoir di Timur negara itu akan bergerak cepat ke Raqqa, ibu kota yang diklaim oleh ISIS Suriah. Assad membutuhkan kota ini untuk mengklaim Hasakah dan menguasai ladang minyak di utara sungai euphrates.
Meski menyadari kelompok Kurdistan di dukung oleh pasukan AS, namun nasionalisme Suriah untuk mengklaim seluruh tanah air mereka tidak dapat lagi dinegosiasikan. Assad telah membuktikan ia memiliki klaim lebih besar dengan dukungan mayoritas penduduk. Sementara di bagian utara sendiri etnis Kurdi bukanlah mayoritas. Mereka 7 persen populasi Suriah, dan 40 persen populasi suriah di utara.
3. Sama dengan kepentingan geopolitiknya, maka Iran akan mendukung Baghdad bila terjadi konflik terbuka dengan kelompok Kurdi yang memerdekakan diri dan di dukung AS ini.
4. Turki tidak akan membiarkan mimpi negara Kurdistan raya terbentuk. Mereka melihat referendum Kurdi adalah langkah pertama memerdekakan diri setelah menjadi pseudo federal atas Irak, untuk selanjutnya Barat akan memanfaatkan alasan yang sama pada etnis kurdi di Turki, Suriah, dan Iran.
5. Setelah perang Isis, maka memerangi kelompok Kurdi bersenjata akan menjadi agenda perang di kawasan selanjutnya.
6. Saudi Arabia memasuki tahun ketiga perang dengan milisi dan tentara Arab Yaman.
Sejauh ini ongkos perang di Yaman semakin membebani ekonomi negara, seperti disampaikan Pangeran Salman. Ia mengatakan bahwa proyek mega-infrastruktur di gurun Arab tidak dapat dibiayai karena investor mengundurkan diri dan uang minyak tidak mencukupi mendanainya.
Meski demikian perang Yaman sama sekali belum memberikan hasil bagi Saudi. Sebaliknya milisi Houti yang bermodal senjata rampasan dan senang bersarung dan bersendal jepit menguasai lebih banyak desa-desa Saudi.

Saringan Informasi

"Selera tiap manusia lumrahnya memang berbeda-beda. Sang Penciptanya saja memiliki nama tak terhingga, meski disepakati 99 nama untuk mempermudah penyebutan. Perbedaan yang luar biasa banyaknya itu menjadi salahsatu kekuasaan Tuhan juga. Boleh juga dianggap bahwa Gusti Allah tidak monoton. Ia terus dalam proses 'kun fayakun'. Dinamis, upgrade skenario dunia tanpa henti. Walaupun dalam Quran disebut 'pena telah diangkat dan tintanya pun telah mengering' toh tetap ada takdir yang tak bisa dirubah dan ada yang bisa.
Pertentangan akibat perbedaan itu pun tak terelakkan pasti hadir di tengah manusia. Pro-kontra selalu mengerucut ke konflik tertutup, bahkan terbuka. Dari adegan menusuk dari belakang sampai melempar kotoran di depan muka yang bersangkutan adalah titik puncaknya. Tanpa adanya resolusi konflik yang baik antara pihak yang berseteru, yang tadinya bara dalam sekam bisa berubah menjadi lahan gambut yang membakar tiba-tiba. 
Di sinilah silaturahim menjadi salahsatu jalan tengah yang apik. Menjadi dasar sila ke empat Pancasila dengan istilah musyawarah mufakat, 'srawung' menjelma menjadi saringan yang mampu memperhalus teh sampai kopi. Kerenggangan antar lubang saringan itu ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kedua belah pihak. Walaupun keduanya berkeinginan yang sama yaitu mendapat hasil saringan yang halus, tetap saja harus ada upaya untuk menundukkan ego masing-masing.
Berlatih menyusun saringan informasi dan argumen semacam itu sangat diperlukan saat ini. Banjir bacaan tak terklarifikasi membuat kebohongan makin tersebar hingga ke pelosok desa dan kebingungan menyikapi kejadian yang sebenarnya tak begitu penting itupun bak tsunami. Keengganan bertabayun tak hanya menimpa kaum awam di negeri yang dicap terbelakang. Lihat saja di negara dengan kebebasan pers terliar di dunia, Amerika Serikat, di sana tiap isu diangkat sedemikian rupa agar menghasilkan laba. Bahkan berita duta sekalipun!
Jika penyebaran berita berisi keji dibiarkan, sama saja menyembelih generasi mendatang. Jika Ismail rela disembelih demi semangat mematuhi perintah Tuhan, dalam hati kecil Ibrahim masih ada secuil keraguan. Kita malah menyerahkan anak-anak laki-laki untuk disembelih Firaun sebab berpeluang mengganggu trahnya." potong Kang Kuat.

Silaturahim

"Silaturahim adalah istilah berat untuk nongkrong atau 'srawung'. Di dalam kegiatan tersebut ada banyak sekali kegiatan. Bisa saling membahagiakan maupun berbagi beban hidup. Bahkan akademisi barat menyebut kebutuhan berinteraksi antar manusia itu sebagai salahsatu hak hidup. Sangking begitu berartinya sampai diistilahkan sebagai 'hewan sosial'. Agak miris dengan penggunaan kata hewan, sebab makhluk ciptaan Tuhan tersebut juga hidup secara komunal.
Kanjeng Nabi menyebut ''srawung' membawa banyak kebaikan. Salahsatu yang paling mantap adalah memperpanjang usia. Bisa ditafsir dengan berbagai cara, tapi bagiku ada kaidah 'jangan seperti keledai jatuh ke lubang yang sama. Pengetahuan maupun pengalaman bisa dibagi antar manusia asal ada iktikad baik di antaranya. Misal kawan tengah menghadapi pengembang yang curang sedangkan kita pernah meloloskan diri dari jebakan serupa. Kita memberikan saran juga pencegahan agar kawan tak masuk ke perangkap yang sama. 
Ada lagi, suami Siti Khadijah itu menyebut bahwa ketika ada yang bertamu ke rumah, si tamu akan membawa semua bala bencana yang seharusnya menimpa kita. Maka anjuran manusia dengan perilaku terbaik di segala zaman itu adalah memuliakan tamu semaksimal mungkin. Tentu sesuai kemampuan serta tak diniatkan untuk gengsi atau dianggap kaum berada. Apa adanya dan diniatkan untuk melayani utusan Gusti Allah, bukan citra diri sendiri.
Ketika keakraban terjalin antar manusia, akan mudah saling bekerjasama. Seperti halnya semut yang berbagi feromon agar bisa sampai tujuan yang sama. Makhluk yang dipimpin seekor ratu itu seolah selalu berjabat tangan tiap bersua. Begitu juga dengan manusia yang dilambangkan dengan ucapan salam yang mengakhiri tiap ritual salat. Bahkan menjawab salam kecuali saat salat dihukumi wajib untuk menjawab. Bisa dihikmahi bahwa keselamatan yang menjadi arti dari salam adalah proses timbal balik dua arah.
Budaya menimba ilmu dan laku semacam itu sebenarnya sudah ada di berbagai daerah sejak dulu kala. Guru-guru di negeri tirai bambu seperti Lao Tse misalnya, selalu berpindah tempat untuk membagikan cara menempuh jalan kebajikan. Di Nusantara pun ada hal serupa, mulai dari santri kalong sampai mahasiswa seminari atau yang sering hadir saat seminar. Maka tak heran jika bangsa ini mampu tertawa terbahak-bahak saat bangsa lain stres menghadapi globalisasi. Laiknya sebuah koloni, hijrah tiap anggotanya akan membuahkan manfaat tanpa batas." sambung Kang Rukun. Ihda HS

Zaman Fitnah

"Zaman fitnah muncul di akhir zaman. Para nabi memperingatkan kaumnya dengan berbagai cara. Termasuk para budayawan yang tinggal di satu daerah, selalu memiliki cara meninggalkan peringatan itu ke generasi setelahnya. Sah-sah saja sesuai zaman. Bahkan tips dan trik cara menghadapinya pun bisa dikatakan sudah lengkap dari berbagai sisi. Tinggal bagaimana menjadikan ilmu-ilmu itu menjadi laku yang setia dilakoni.
Salahsatu ciri zaman fitnah atau yang oleh Ronggowarsito diistilahkan dengan 'zaman edan' adalah menyebarnya permusuhan. Apapun bisa dijadikan alasan pertengkaran. Mulai dari selera cat rumah antara suami-istri, 'rasan-rasan' antar tetangga yang berbuntut tumbuhnya saling curiga, sampai tingkat dunia di mana pemimpin negara saling pamerkan kekuasaannya. Pengetahuan bisa terus berkembang dengan kecepatan melampaui cahaya, tapi seringkali hanya sia-sia belaka.
Kini kemajuan teknologi yang seharusnya memperlancar arus komunikasi antar pihak justru ditunggangi untuk menebar benci. Kemampuan membaca yang terus merosot dari abad pertengahan membuat ruang untuk berbaik sangka menyempit. Kuantitas buku di abad di mana masa kegelapan Eropa menjadi puncak kebangkitannya kalah banyak dibanding era Zukerberg. Tapi rupanya hal tersebut tak menjadikan manusia akhir zaman ini makin bijak. Bahkan bisa dibilang lebih cepat menuju titik nadirnya sendiri.
Hal yang sama juga berlaku pada kegiatan mendengar. Kedua perbuatan ini, baik membaca ataupun mendengar memang membutuhkan konsentrasi tinggi. Bisa jadi salah satu hikmah dari diciptakannya sepasang mata dan telinga tapi satu mulut saja ada di situ. Memperbanyak masukan informasi tapi mengeluarkannya dengan menyedikitkan sesuai saringan. Boleh porsinya sampai separuh sebagaimana satu adalah setengah dari dua. Sungguh miris jika sekelompok buta yang memegang bagian tubuh gajah berlainan harus sia-sia berdebat seperti apa bentuk gajah.
Maka fungsi banyak baca dan dengar tak hanya dari yang satu sisi sangat diperlukan sebagai penyeimbang. Tsun Zu menyebutkan dalam strategi perang yang ditulisnya sebelum Isa lahir itu dengan kalimat 'kenalilah musuhmu agar kau paham cara berpikirnya'. Delapan abad kemudian Kanjeng Nabi mengatakan bahwa mempelajari bahasa musuh adalah cara mencegah diri tertipu oleh muslihatnya. Bahasa bisa dimaknai sebagai pengetahuan, pengalaman, bahkan sebagai bahasa itu sendiri." imbuh Kang Syukur di lincak berkabut.

Saturday, September 23, 2017

YANG MAU ILMU TINGKAT TINGGI DAN FREE, KEMARI...!! Niar Mihr·15 Desember 2016

Yang pernah merasakan sakit berkepanjangan, stress tidak berujung, hutang kemana mana belum lunas, piutaang dimana mana belum ada yang bayar, mau nagih tapi merasa kok malah yang ditagih seperti singa, malah yang berpituang rasanya seperti burung perkutut yang mendengar auman singa langsung menciut; yang merasa stress dengan suami yang KDRT, yang merasa stress dengan istri yang tidak mau selaras dengan tujuan perkawnan, yang menantu tidak bisa komunikasikan kehendak pada orang tua dan mertua, yang jomblo , duda, janda yang sedih dengan keadaannya, yang pelajar stress dimarahin dosennya terus menerus skripsi gak selesai selesai, yang di PHK, yyang belum bekerja, yang selalu diputusin pacar, yang apalah apalah...
SEMUA YANG PERNAH MENANGIS , SEMUA YANG KEADAAN DEPRESSED, SORROW, LEMAH, LETIH, PUTUS ASA, SEMUA YANG MENGALAMI KEBURUKAN..
SINI SAYA BERITAHUKAN.
Pernahkah anda menangis karena hal hal buruk itu?stress tingkat dewa...
Kalau perempuan , mungkin cepat menangis, kalau lelaki jadi emosian, marah, kencang urat leher, kalau ada yang menangis, semua yang terjadi saat emosimu turuuuuuuunnnn ke tingkat paling bawah..rasanya dunia runtuh.
Timbul kata kata "aku malu, aku jelek, reputasiku hancur, saya dihina , saya gak bagus dimata orang lain, bagaimana pandangan keluarga terhadapku, bagaimana pendangan kawan sekerjaku, aku rapuh, aku tidak punya wajah lagi, aku tidak punya uang lagi, hartaku habis, rumahku sudah terjual, mobilku kugadai, aku sudah tidak punya apa apa lagi.. AKU HANCUR !! dan kata kata lain yang terucap dari hati dan mulutmu..
HEIII.. JIKA ANDA SUDAH PERNAH MASUK KE POSISI ITU, DAN HARI INI MASALAHMU BELUM KUNJUNG SELESAI.., SAYA MAU MEMBAWA ANDA SEMUA KE POSISI ANDA ITU LAGI.
KALAUPUN SEKARANG ANDA SEDANG ADA MASALAH, INI SAAT TERBAIKMU
MASUK SAJA DALAM KONDISI YANG JADI MASALAHMU ITU... INGAT INGAT SAJA APA MASALAHMU !! justru saya mau anda ke puncak ekstrim yang pernah anda lalui, KALAU ANDA SAMPAI TERBAWA SAMPAI ANDA EMOSIMU TERKUAK.. ITU BAGUS.
KALAU ANDA MASUK DAN JUSTRU ANDA SAMPAI MENANGIS DALAM DAN GUSAR, MARAH.. ITU JUGA BAGUS.
TAPI INGAT...!!!
BEGITU ANDA MASUK SAMPAI EMOSIMU TERDALAM, SEGERA SADAR.. BERHENTI MENGATAKAN HAL HAL BURUK ITU LAGI, INI PUNCAK YANG DITUNGGU... !!! SEGERA KATAKAN HAL HAL BAIK.
" AKU BAIK, AKU PINTAR, AKU SUKSES, AKU BERHASIL, AKU KAYA, AKU JUARA, AKU KAYA, AKU NAIK LEVEL, AKU BERUNTUNG, AKU APALAH YANG TERBAIK " BALIK KATA KATAMU SESUAI TUJUAN HIDUP YANG KAMU INGINKAN
KATAKAN DENGAN SUARA KENCANG, KALAU MAU MASUK MOBIL DAN BERTERIAK SAMBIL MENANGIS AIR MATAMU ,AIR HIDUNGMU, AIR LUDAHMU BERCAMPUR.. TIDAK APA APA.
KALAU MAU KE KAMAR, TERIAK DI BANTAL, SEKENCANG KENCANGNYA KATAKAN YANG POSITIF, KATAKAN YANG TERBAIK, SILAKAN , Tapi jangan buat keributan, nanti kamu dikira sedang bla.bla..
KALAU KAMU BISA KUASAI DIRI .. MASIH BISA MENGINGAT SEGALA YANG BURUK ITU DAN MERASAKAN KEPEDIHANNYA, NAMUN DISITUPUN KAMU BISA MENYADARKAN DIRI BAHWA KAMU MAU MENGATAKAN HAL HAL YANG POSITIF, YANG TERBAIK YANG MENJADI TUJUANMU... KATAKANLAH DENGAN KESADARAN SAJA.. AKU TERBAIK, AKU JUARA, AKU NAIK LEVEL, AKU SEORANG BERUNTUNG, AKU KAYA, AKU MANIS, AKU CAKEP, AKU BAHAGIA, AKU SEGALA YANG BAIK, DLL..
============================================
MAKA DALAM HITUNGAN MENIT, KE JAM JAM BERIKUTNYA ANDA AKAN MERASAKAN HAL HAL YANG LUAR BIASA.
ENGKAU AKAN MERASAKAN PINTU KEAJAIBAN DIBUKAKAN BAGIMU, ENGKAU AKAN MERASAKAN SEMANGATMU DOUBLE POWER. ENGKAU AKAN MERASAKAN PERUBAHAN VIBRASI DI LINGKUNGANMU, SEGALANYA BERUBAH. ============================================ TAHUKAH ANDA,.. INILAH ILMUNYA “ILMU KEMAMPUAN UNTUK TIDAK LARUT “ JANGAN KAMU BERMAIN MAIN DENGAN EMOSIMU, SAAT KAMU DI PUNCAK EMOSI, DISITU KAMU SEDANG TERBUKA, DAN KAMU SEDANG TAJAM BAGAI PEDANG.. SEHINGGA APAPUN YANG KAMU UCAPKAN BISA LANGSUNG JADI NYATA BAGIMU. MAKA BIJAKLAH MEMILIH KATA KATA DI SAAT PUNCAK EMOSIMU !! SALAM HANGAT, MASTER NIAR MIHr. www.IntentionHealing.info

Ulama

Apakah 'ulama' itu? Yang jelas, dalam pengertian hakikinya, ulama bukan sekedar jubah dan sorban, sekolah agama tinggi-tinggi, atau gemar berceramah atas nama agama.
Definisi Al-Qur'an: ulama adalah orang yang khasya' (takut) pada Allah. Digunakan kata "yakhsya' " di sana.
"Sesungguhnya yang takut (يخش) kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah Al-Ulama.” (QS. Fathir: 28).
Ada tiga jenis kata 'takut' dalam Al-Quran, menurut Ibnu Arabi. Yaitu khauf, rahbah, dan khasya'. Ini menunjukkan jenis dan tingkatannya.
Yang dimaksud 'khasya' dalam ayat itu adalah takut pada 'dzat Allah'. Bukan lagi 'sekedar' takut pada azab-Nya (ini istilahnya 'khauf') maupun takut akan ketidakridhaan Allah (disebut 'rahbah'). Kata awalan 'Al' di kata 'ulama' di ayat tersebut menunjukkan segolongan khusus diantara sebuah golongan umum.
Khasya' ini adalah tingkatan ketakutan seseorang yang telah mengenal Allah, sebagaimana seorang jelata yang memiliki ketakutan, rasa segan (sekaligus kekaguman dan kecintaan) setelah ia mengenal rajanya. Ia takut karena mengerti apa saja yang Rajanya mampu lakukan.
Khauf: takut siksa Allah. Artinya, takut pada perbuatan Allah. Rahbah: takut pada ketidakridhaan Allah. Ini takut pada sifat Allah. Khasya': takut pada Dia. Takut pada zat.
Kalau diperhatikan, ada peningkatan kedalaman level pengenalan. Mengenal perbuatan/tindakan Allah, mengenal sifat Allah, lalu mengenal Dia. Memahami keagungan dan kedahsyatan Dia ta'ala akan membuatnya takut, tapi sekaligus kagum dan cinta.
Semua yang telah mengenal Allah dan membuatnya khasya', adalah ulama. Sebaliknya, yang belum mengenal-Nya, belum menjadi seorang ulama di mata Allah ta'ala, walaupun orang-orang di dunia menggelarinya ulama dan ia sendiri telah merasa menjadi seorang ulama.
Ulama adalah sebutan Allah pada sekelompok hamba-hamba-Nya yang khusus. Tidak semua hamba-Nya adalah ulama. Bahkan, tidak semua wali adalah ulama.
'Ulama' adalah segolongan khusus insan yang tidak mengumbar gelarnya. Mereka membiarkan dirinya diidentifikasi hanya oleh orang yang butuh saja, sebagaimana sumur yang diam, membiarkan dirinya dicari orang yang haus.
Kenapa mereka 'diam'? Karena pada dasarnya kehausan adalah sebuah kondisi yang diberikan Allah pada orang yang sudah sangat membutuhkan air. Rasa haus adalah sebuah 'tiket masuk', sebuah surat panggilan.
Jika rasa ingin minum pada seseorang belum sampai membuatnya mencari minum dari sumber air, maka pada hakikatnya, sebenarnya Allah memang belum memberinya sebuah 'tiket' untuk minum dari sumber air. Ia memang belum dipanggil. Dengan demikian, air dari sumbernya memang belum menjadi haknya saat itu. Tidak ada tanda dari Allah bahwa ia sudah waktunya diberi minum. Dan seorang ulama hakiki hanya seorang hamba: ia tidak akan berani mendahului tanda dari majikannya.
Sesederhana itu.
Jadi,
(1) tidak semua penceramah atau yang bersorban adalah ulama.
(2) Ada tiga tingkatan ketakutan seorang hamba pada Allah: takut pada azab Allah (khauf), takut jika Allah tidak ridha padanya (rahbah), dan yang tertinggi, takut pada (zat) Allah (khasya'). Allah hanya menyebut 'ulama' pada mereka yang telah khasya' pada Allah.
(3) Kehausan akan segala sesuatu tentang Allah sebenarnya adalah tiket masuk, sebuah izin untuk mulai mendekati-Nya. Kehausan adalah sebuah anugerah dari-Nya.
(4) Ada kalimat yang mirip dalam Alkitab, dalam Amsal 1 : 7, "Takut akan Tuhan adalah awal pengetahuan."

Menyatakan perbedaan keadaan orang berdosa dengan orang bertakwa.

Tak terhitung banyaknya hamba yang taat,
menjerit dalam doa,
sehingga kabut ketulusan membumbung ke langit.
Dan dari rintihan penyesalan dosa,
naik wewangian melampaui atap langit.

Sehingga para malaikat yang patuh memohon
kepada Rabb, seraya berkata,
"Wahai Engkau yang menjawab semua doa
wahai Engkau yang perlindungannya didambakan,
Seorang hamba-Mu yang taat tengah memohon
dengan berendah hati,
tak digantungkannya harapan
kecuali kepada-Mu.
Engkau Sang Penganugerah limpahan
bahkan kepada mereka yang asing pada-Mu,
setiap pendamba memperoleh dambaannya dari-Mu."
Rabb bersabda, "Bukanlah karena dia tercela,
sehingga anugerah-Ku baginya ditunda:
penundaan itu adalah sebuah bantuan.
Kebutuhannya membawa dia
dari kelalaiannya kepada-Ku,
terseok-seok merayap dia ke jalan-Ku.
Seandainya langsung Ku-penuhi keperluannya,
segera dia berbalik: tenggelam kembali
dalam permainan hidupnya.
Walaupun dia merintih,
dari kedalaman jiwanya:
'Wahai Rabb, Sang Maha Pelindung;'
biarlah dia menangis
dengan hati patah dan dada terluka.
Aku senang mendengar rintihannya:
'Wahai Rabb,'
dan doa yang dia rahasiakan.
Dan bagaimana dalam permohonan
dan beralasan kepada-Ku,
akan dia ajukan aneka bujukan,
bahkan coba memperdaya dan memaksa."
Orang memasukkan burung nuri dan bulbul
ke dalam kandang yang bagus,
untuk mendengar keindahan suara
dan nyanyian mereka.
Itu tak dilakukan orang
terhadap burung hantu atau gagak.
Atau, seperti kisah dua orang
yang pergi menemui seorang pembuat roti:
yang pertama seorang yang tua dan buruk rupa,
yang ke dua seorang pemuda tampan,
yang cemerlang wajahnya disukai sang tukang roti. [1]
Ke duanya meminta roti,
Sang tukang roti segera memberi si tua buruk rupa
sepotong roti tak beragi,
lalu langsung menyuruh dia pergi.
Tapi apakah dia akan juga segera memberi roti
pada sang pemuda; yang ketampanan
dan kecemerlangannya dia sukai?
Tidak! Dia akan menahannya.
Dia akan berkata, "duduklah sebentar,
kau takkan rugi sedikit pun,
roti segar yang baru tengah di bakar."
Lalu, ketika sudah matang,
dan roti panas segar dihidangkan kepadanya,
sang tukang roti akan berkata,
"tunggulah sebentar lagi,
halwa segera dihidangkan."
Begitulah dia suka menahan sang pemuda,
dan secara tersembunyi menjadikan sang pemuda
sasaran perhatiannya.
Seakan berkata, "Aku punya urusan penting
yang perlu kita bicarakan, karena itu
tunggulah sebentar, wahai wajah cemerlang."
Ketahuilah dengan yakin,
inilah sebab mengapa mereka yang beriman,
menjumpai berbagai kekecewaan
ketika memohonkan kebaikan
dan menghindari kejahatan.
Catatan:
[1] Menyatakan perbedaan keadaan orang berdosa dengan orang bertakwa.
Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 4217 - 4237
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Herman Soetomo.