Tuesday, March 5, 2019

Tutup Mata Atas Kesalahan Pasangan

"Sampeyan belajarlah menutup mata dari kesalahan-kesalahan pasangan. Gak usah sok bisa mengubah. Mustahil. Itu urusan Gusti Allah. Sampeyan cuma dituntut sabar dan terus berbuat baik. Toh kekeliruan itu gak fatal soal syariat, cuma sikap." saran Kang Sabar pada Kang Kuat.
"Lho katanya disuruh buka mata lebar-lebar sebelum nikah? Kok sekarang disarankan merem. Wah, ra konsisten ik!" sahut Kang Kuat yang baru menikah sekian bulan belakangan.
"Yo kan beda tujuan. Buka mata biar gak kaget banget pas sudah lewat malam pertama. Tutup mata biar tetap bisa bersyukur." balas Kang Sabar.
"Lha mosok dibiarin gitu aja kekurangan istri. Rumus saling melengkapi kan artinya kutambal." kilah Kang Kuat.
"Boleh, tapi tetap ingat Gusti Allah penentu hadirnya perubahan. Bukan Sampeyan. Ingat, Sayyidina Umar saja diam seribu bahasa saat dimarahi istri kok. Bahkan Kanjeng Nabi biarkan Sayyidatina Aisyah pecahkan piring di depan tamu suaminya. Kedua sosok sangar itu ya menutup mulut rapat. Sabar." tutur bapak berjenggot beranak dua.
"Korelasinya ke kasusku?" kejar mantan jomblo itu.
"Jadikan sikap istri yang Sampeyan anggap buruk itu jadi tungku dan palu. Gunanya untuk menempa spiritual Sampeyan. Berat, kan? Itu kenapa nikah senilai separuh agama." tandas Kang Sabar.

Santai

"Lho kok Sampeyan santai-santai saja di masa kampanye gini." tanya Kang Kuat saat beli sarapan dirangkap makan siang di warung Kang Ikhlas.
"Buat apa tegang, kayak hal baru saja. Kalah biasa, menang tinggal digadang. Beres." jawab si pria bersarung dengan kumis putih tebal njelantir.
"Kan mempengaruhi hajat hidup orang banyak lho. Termasuk ladang dakwah dan maisah, em, pendapatan Sampeyan." kejar si mantan jomblo yang masih kerempeng sembari mengambil sendiri nasi dan sayur.
"Dakwah kan nyenengin orang. Warungku ini menerima siapapun, dengan topik obrolan seliar apapun, dan tak pernah kularang sedikitpun. Kecuali kalau mau nenggak alkohol ya pindah dulu saja, pusing dan nge-fly di sini gakpapa. Cuma prosesnya ya jangan." sahut sosok berkepala 5 itu dengan pose masih leyeh-leyeh di bawah pohon jambu air. Laptop Asus di depannya masih menyala.
"Terus soal pajak 10% tiap piring yang Sampeyan sajikan, atau makin sulit dapat pasokan bahan dapur?" Kang Kuat duduk di meja sebelah Kang Ikhlas, mulai melahap porsi kuli di depannya.
"Katanya rejeki sudah diatur Gusti Allah. Mosok aku ragukan. Pajak kan kewajiban, ya tinggal bayar. Non-muslim saja kalau bayar pajak lantas luntur status kafir yang bisa diperangi kok. Adapun bahan masakan kan dipasok koperasi pesantren asuhan Mbah Yai, jelas mandiri dan insyaAllah stabil." imbuh Kang Ikhlas seusai menyeruput kopi di gelas jumbonya.
"Tapi soal potensi garis keras kuasai kampus dan sistem pemerintahan?" pria usia 25 tahun masih belum puas, seperti piring yang belum kandas isinya.
"Itu sudah terjadi sejak era 90-an kok. Santai saja. Ormas kita dan sepupu memang kewalahan, bahkan terang-terangan berkoar masjid dan jamaahnya dicuri. Tapi apa mau dikata, sedangkan kita saja tak reaktif bikin gerakan tandingan. Gagal adaptasi tak terelakkan. Terpenting terus play defense saja." kata Kang Ikhlas yang sudah mengepulkan asap tembakau. Pertanda obrolan mulai serius.
"Harus dilawan dong biar gak ada jihadis amatiran." Si pria ceking masih belum lega. Seseret tenggorokannya yang disebabkan ia lupa ambil segelas air putih gratisan.
"Nyatanya kan densus 88 beres membabat spora-spora itu. Kita tinggal bikin upaya preventif di tingkat pendidikan menengah dan tinggi. Kita kepayahan di situ. Antara lain kurang maunya kader kita srawung dengan kubu yang dianggap lawan. Peran taaruf untuk menyeimbangkan tersisihkan." Pandangan pria bercucu dua itu terlempar jauh ke keramaian jalanan.
"Underbow kita bukannya ada?" Tanya Kang Kuat sembari meremuk krupuk dengan giginya.
"Militan dengan kadar yang masih kalah adaptif dibanding yang ingin disaingi. Darah muda yang terlalu minim gejolak. Tugasmu barangkali ngompori mereka untuk memaksimalkan medsos dan teknologi jauh di depan. Termasuk diskusi masalah kekinian sebaiknya lebih sering digelar. Biar teks agama menemukan konteks di zaman edan ini." Sahut Kang Ikhlas yang beranjak ke meja belakang kasir. Melayani pembeli yang mau bayar.
"Hm. Lho kok jadi tugasku. Penganten anyar kok disuruh turun lapangan. Hadeh. Mana masih keteteran memenuhi belanja isi dapur, je." Celetuk Kang Kuat pelan.
"Lha kan, imanmu kurang mantep tuh." Teriak Kang Ikhlas dengan tangan memijat kalkulator.
"Asyem ik. Kok yo krungu." Gumam Kang Kuat.

Thursday, February 28, 2019

Semakin banyak turis restoran halal di Bangkok

Semakin banyak turis restoran halal di Bangkok
Jumlah restoran muslim atau halal semakin banyak saja kata Moch Noor pegawai di salah satu distro Melayu-Thai dekat arah Bandara.
Tambah banyak turis non muslim bahkan orang Bangkok yang suka makanan khas Muslim Thai. Lanjut Noor orang Siam dan mualaf karena istrinya orang Pathani.
Noor berbincang dengan Dawood dalam bahasa siam. Ia menerjemahkan permintaan kami agar porsi setengah saja untuk menghindari mubazir. Ia supir kedutaan yang off hari itu untuk mengantarkan kami ke Bandara Swarna dan sebelumnya beberapa jam lalu di hotel kami sudah sarapan. Noor mengerti bahasa Inggris yang kami sampaikan sebelumnya.
Saya kagum dengan cara orang Thailand menjaga negerinya sebagai destinasi favorite turis dunia. Tahun lalu lebih dari 40 juta turis asing datang ke negeri siam yang penduduknya pun hanya 70 juta. Beberapa brosur wisata halal dan syariah ditawarkan kepada kami oleh jasa wisata di hotel-hotel.
Wilayah perbatasan Thai-Malaysia, Thai-Vietnam adalah wilayah yang dihuni banyak penduduk beragama Islam. Setelah tensi konflik menurun maka tempat-tempat tadi menjadi favorit pengunjung dari negara-negara mayoritas muslim seperti Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah.
Lama saya perhatikan jika Thailand dan tentu saja Singapura adalah negara yang memperhatikan trends positif pengunjung muslim dengan berbagai persyaratan yang tentunya berbeda dengan turis Cina. Hotel syariah dan tentu saja makanan halal adalah dua hal yang semakin diperhatikan pemerintah mereka.
Sedikit saja saya singgung. Selagi kita masih meributkan konsep halal dan syariah sebagai persoalan yurisprudensi, keyakinan, atau hal-hal lain. Thailand, Singapura sudah lama menguasai jaringan perdagangan makanan olahan halal di Asia. Mereka sebetulnya memimpin pelaksanaan voluntary sustainable standards (VSS), yang sedang digalak-galakkan PBB.
Standar halal sebenarnya sistem standar yang diadopsi sukarela yang paling cepat progressnya. Ini karena semakin banyak pemain bisnis yang menyadari jika konsep halal diterima publik non muslim secara luas bukan karena ia berkaitan dengan keyakinan. Namun kini kata halal di identik dengan makanan sehat, bersih, dan dalam pengolahannya dilakukan dengan gentle baik kepada tumbuhan maupun hewan yang digunakan.
Ketika mereka melihat peningkatan jumlah turis yang menginginkan makanan halal, atau hotel bersyariah itu sangat dimaklumi dan dalam bisnis peluang adalah peluang.
Ketika baru-baru ini saiya membaca Menteri Pariwisata menolak wisata syariah di Bali. Saiya faham sekali, ia tentu bukan ahli dalam mengambil peluang-peluang. Sejujurnya Bali bukan tempat favorit saiya yang hobi makan. Sulit menemukan makanan khas Bali yang halal dan makan di restoran Padang di Bali tentu bukan cita-cita orang.

Sunday, February 17, 2019

DOSA BESAR YANG MERUSAK AKIDAH ITU BERNAMA “KELUH KESAH”

Alfathri Adlin menambahkan foto baru ke album: ISLAM AGAMAKU [01].
DOSA BESAR YANG MERUSAK AKIDAH ITU BERNAMA “KELUH KESAH”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah demi hidup-Mu,
Bahwa aku tak akan pernah memalingkan mataku dari wajah-Mu; bila Kau memukul dengan pedang, aku tak akan berpaling dari-Mu.
Aku tak akan mencari sembuh dari yang lain, karena kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan-Mu.
Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mu‘min bila aku mengeluh.
Aku bangkit dari jalan-Mu bagai debu; kini aku kembali ke debu jalan-Mu.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Coba amati baik-baik puisi Jalaluddin Rumi di atas. Amati bait bagian: “Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.”
Aku tak akan sangsi jika banyak pembaca karya Rumi mengungkapkan kesannya bahwa puisi-puisi Rumi adalah ungkapan cinta kepada-Nya, ungkapan mabuk kepayang seorang pecinta kepada-Nya. Namun, ada baiknya pelajari juga kisah hidup Rumi, ihwal berbagai fitnah yang menimpanya, bahkan dari para muridnya sendiri yang membenci Syamsuddin Tabriz, mursyid Rumi, karena dianggap telah memalingkan Rumi, “kiai pesantren” mereka, sehingga lebih asyik belajar pada seorang darwis yang entah datang dari mana dan entah apa otoritas formal keilmuannya, sehingga lancang sekali mengajari “kiai pesantren” mereka. Juga ihwal konspirasi untuk “menyingkirkan” Tabriz yang melibatkan anak sulung Rumi sendiri. Sang anak sulung itu memilih melawan bapaknya sendiri untuk ikut merencanakan pembunuhan mursyid bapaknya.
Dan, konon, saat anak sulungnya itu meninggal lebih dahulu, Rumi ‘tak bisa’ datang pada saat pemakamannya. Tentu hal itu tak mudah bagi seorang ayah. Dan berbagai ujian lainnya dalam hidup Rumi.
Akhirnya, semua kebencian orang sekitar Rumi terhadap Tabriz, mursyidnya, berujung dengan keterpisahannya dari sang “Matahari Agama” (Syam Ad-Dîn atau kalau di lisan lebih mudah disebut sebagai Syamsuddin), dan hal itu Rumi ungkapkan dalam karya tersendiri berjudul “Diwani Syamsi Tabriz”...
Karena itu, jelaslah bahwa Rumi mencapai ma‘rifatullah bukan dengan larut dalam emosi estetik dan rasa mabuk akan cinta, merangkai kata-kata puitis yang melenakan kebanyakan pembacanya. Lagi pula, bagaimana bisa seorang “kiai pesantren” yang tadinya lebih banyak mendalami urusan fiqih, mendadak menjadi mursyid thariqah yang fasih berpuisi? Kok bisa? Dalam kata-katanya sendiri, di salah satu Rubaiyat-nya, Rumi menegaskan sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Aku bukan seorang penyair,
tak kuperoleh nafkah dari situ,
atau kupamerkan keterampilanku,
bahkan aku tak memikirkan tentang seniku,
bakatku ini hanyalah sebuah cangkir,
yang takkan kuteguk,
kecuali jika Kekasihku yang menyajikan.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dalam bagian lain Matsnawi, Rumi juga menyatakan bahwa dia hanya berserah diri serta menyerahkan lidahnya kepada Allah, dan membiarkan Allah yang menuntun lidahnya melalui ilham untuk berkata apa, dan muridnyalah yang menuliskan bait-bait itu.
Akan tetapi, harus diingat baik-baik bahwa semua ungkapan cinta kepada Allah yang banyak bertebaran dalam puisi Rumi, dan tentu juga para sufi lainnya, diimbangi dengan kesediaan dan ketangguhan mereka untuk menerima apa pun yang “diperbuat” Allah, sebagai Sang Kekasih, terhadap mereka sebagai para pecinta.
Setiap muslim bisa saja dengan mudah mengatakan “Aku mencintai Rasulullah dan Allah”, tapi “pedang yang memukul” atau “dilempar ke dalam api” yang dirasakan dalam hidupnya, sehingga lahirlah sekian banyak keluh kesah -- baik di lisan, dalam hati, atau dalam bentuk status FB, twitter, WA group, bahkan tulisan di blog -- dengan jelas menjadi bukti betapa kata “mencintai” itu hanya baru menyangkut di bibir saja. Dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sedekah.” (HR Thabrani)
Suatu ketika Nabi Isa as berkata kepada al-Hawariyyun bahwa “Yang paling banyak mengeluh di antara kalian pada waktu ditimpa musibah adalah yang paling banyak menghadapkan wajahnya kepada dunia!”
Pernah, saat diminta menjelaskan “Agama Cinta” di Unpar, sebuah kampus Katolik, dalam kelas kajian Filsafat Agama, kukatakan kepada kalangan Nasrani yang hadir di sana, kurang lebih, sebagai berikut:
Baca Kitab Samuel, dan saksikan bagaimana hidup Dawud dicerai berai oleh ujian demi ujian, mulai dari istri yang mengkhianatinya, mertua yang memerangi dan hendak membunuhnya, kakak ipar yang merupakan sahabat terbaiknya namun mati terbunuh dalam peperangan, lalu salah seorang anaknya yang bernama Amnon malah menodai adik tirinya yang bernama Tamar, kemudian Absalom yang membunuh Amnon atas perbuatan terhadap adik kandungnya, lalu Absalom yang diasingkan namun malah membentuk pasukan untuk memerangi bapaknya, dan Absalom pun mati di tangan salah satu jenderal Dawud, kemudian “skenario takdir” ihwal Batsyeba, istri Uriah, salah satu jenderal Dawud, yang membuat Dawud dihukum dan kehilangan beberapa anak yang lahir dari rahim Batsyeba, namun pada akhirnya, justru dari rahim Batsyeba inilah lahir Sulaiman.
Setelahnya, baca kitab Mazmur. Perhatikan. Adakah keluh kesah dalam kitab Mazmur tersebut? Tak ada. Semuanya adalah ungkapan cinta dan kekaguman serta keberserahdirian kepada-Nya. Seseorang yang menjalani hidup seberat Dawud, namun saat mengungkapkan isi hatinya -- sebagaimana terabadikan dalam Mazmur -- ternyata tak sekalipun mengeluh kepada-Nya ihwal hidup yang dijalaninya. Dalam Mazmur 23, tertulis ungkapan Nabi Dawud yang sangat indah:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Lalu kukatakan kepada audiens: “Itulah Agama Cinta. Tidak rumit filosofis kok uraiannya. Agama Cinta itu adalah ketika Tuhan mencobai hidupmu dengan banyak cobaan, namun tak sekali pun engkau berkeluh kesah. Yang lahir dari lisanmu hanya ungkapan cinta sebagai tanda penerimaanmu atas semua takdirnya.”
Itulah ketangguhan dan kekuatan sebenarnya dari seorang pecinta Tuhan, namun seringkali hal itu teralihkan karena terbungkus oleh berbagai ungkapan puitis, sama seperti puisi-puisi Rumi mau pun sufi lainnya. Padahal, dalam puisinya, Rumi mengaitkan keluh kesah dengan ketidakberimanan.
Seusai acara, aku mendapat kenalan beberapa biarawati yang bahkan meminta foto bersama dengan alasan “agar kami tak lupa sama Bapak”, dan seorang audiens Katolik lain, yang sedang menempuh S3 di ICAS dengan disertasi soal Seyyed Hosein Nasr, mengajak aku berdiskusi panjang lebar setelah sesi itu, lalu mengabariku bahwa teman-temannya tak percaya jika yang memaparkan soal Kitab Samuel dan Mazmur seperti itu adalah seorang muslim.
Yang ingin kutekankan di sini bahwa contoh-contoh ihwal ketangguhan dalam menjalani hidup dan tak berkeluh kesah serta hanya mengungkapkan cinta kepada-Nya itu banyak bisa ditemui di berbagai agama.
Namun, adalah berbeda antara (1) melakukan “tamasya intelektual maupun spiritual” menjelalajahi berbagai khazanah agama dan memiliki banyak wawasan soal ‘passing over’ dengan (2) mengambil hikmah dari berbagai khazanah itu agar menjadi pakaian keseharian dalam hidupnya. Adalah berbeda antara (1) wawasan yang hanya tersangkut di kepala dan lidah dengan (2) sesuatu yang telah berubah menjadi keseluruhan hidup yang dijalani setiap hari. Ujian hidup dan berbagai hal tak menyenangkan dalam hidup akan membuktikannya sendiri.
Kembali kepada keluh kesah. Ketangguhan untuk menerima kesakitan apa pun sebenarnya paling mudah dilihat pada para nabi dan rasul, atau, di masa berikutnya, di kalangan para sufi ‘arif billah. Rasanya tak jarang para sufi dipandang secara melankolik sebagai orang yang asyik berpuisi-puisi cinta dengan Tuhan, meninggalkan keluarga untuk menyendiri, tidak pernah berkiprah nyata bagi manusia di sekitarnya, dan berbagai stereotip yang entah kenapa selalu diulang-ulang lagi. Itulah gunanya banyak membaca serta belajar lagi dan lagi, tanpa prasangka juga terbuka.
Di kalangan Nabi, Rasul dan para sufi arif billah, keluh kesah itu termasuk dosa besar yang susah untuk dibersihkan. Bayangkan sebagai berikut. Apabila hati itu seperti bola kaca, maka ada dosa-dosa yang menyerupai lumpur yang menempel dan membentuk kerak di luar bola kaca tersebut. Dengan air, lumpur itu bisa kembali dibersihkan. Namun, ada dosa-dosa yang begitu halus dan kecil seperti molekul, yang bisa masuk ke dalam pori-pori bola kaca dan mengendap di bagian inti bola kaca. Keluh kesah termasuk dosa yang halus seperti itu, karena kaitannya dengan akidah seseorang terhadap Allah. Keluh kesah itu mencemari akidah. Silakan pikirkan sendiri bagaimana cara membersihkan “debu-debu halus” yang mengotori bagian dalam bola kaca.
Abdul Qadir Jailani pernah menjelaskan kurang lebih seperti ini. Kita mengenal teman-teman melalui identifikasi sifat dominannya. Bahwa si A itu culas, si B itu pemarah, si C itu tidak percaya diri dalam banyak hal, si D itu kocak tapi jadi susah diajak serius dan lain sebagainya. Kenapa identifikasi itu lahir? Karena dalam interaksi, kita melihat bahwa itulah sifat yang paling dominan pada diri mereka.
Nah, dalam hal ini, Allah Ta’ala mengidentifikasi Diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang menegaskan bahwa dua asma itulah yang paling dominan dari 97 asma lainnya. Dua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya sehingga diabadikan dalam rajanya doa, yaitu “Bismillahi Rahmani Rahimi”. Dengan Rahman dan Rahim-Nya itu pulalah maka Dia selalu menegaskan bahwa Dia hanya memberikan yang terbaik bagi manusia.
Ibn ‘Arabi mengutarakan bahwa Allah memiliki dua Tangan. Tangan Kanan merepresentasikan Kepemurahan-Nya, dan Tangan Kiri merepresentasikan Kemurkaan-Nya. Padahal, kata Ibn ‘Arabi lagi, sebenarnya kedua Tangan tersebut hanyalah Tangan Kanan belaka.
Nah, sebuah keluh kesah yang terlontar pada mereka yang katanya mengaku sebagai pecinta Allah, atau setiap orang yang mengaku beriman, secara langsung sebenarnya membuktikan bahwa cinta itu hanya di ujung lidah. Itulah sebentuk ketidakmenerimaan atas segala hal yang menghampiri dalam kehidupannya. Dan, yang lebih parah lagi, adalah tudingan bahwasanya Allah Ta’ala tidak adil. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: ‘Seorang anak Adam mencaci-maki masa padahal Akulah masa; siang dan malam hari ada di tangan-Ku.’” (HR Muslim)
Apakah Anda adalah seorang muslim yang beriman? Jika ya, silakan renungkan QS Al-Ankabut [29]: 2-3 yang artinya sebagai berikut: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Sebuah keluh kesah secara langsung menghapuskan asma Rahman dan Rahim dari Allah Ta’ala, padahal kedua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya, asma yang mengidentifikasikan sifat dominan Diri-Nya. Tidakkah itu merupakan dosa akidah?
Mari kita simak dulu kisah berikut ini. Pada zaman ‘Amirul Mu‘minin ‘Umar bin Khaththab, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah “Ya Allah, masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit.”
Doanya tersebut didengar oleh ‘Umar ketika beliau sedang melakukan tawaf di Ka’bah. ‘Umar heran dengan permintaan pemuda tersebut. Setelah melakukan tawaf, ‘Umar mendatangi pemuda tersebut dan bertanya: “Mengapa engkau berdoa seperti itu? Apakah tidak ada permohonan lain yang engkau mohonkan kepada Allah?”
Pemuda itu menjawab: “Ya Amirul Mu‘minin, aku membaca doa itu karena aku takut dengan penjelasan Allah dalam surah Al-A‘râf [7]: 10, yang artinya: ‘Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur’. Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, lantaran terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah,” jelas pemuda tersebut.
Bersyukur kepada Allah atas segala yang terjadi, susah mau pun senang. Luar biasa sekali bukan? Kita pun ingat bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah lafadz ‘La ilaha illallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah.’” (HR At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibn Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim). Beranikah mengucapkan alhamdulillah bukan hanya saat mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, tapi juga saat mendapatkan hal-hal yang tak menyenangkan dengan kesadaran bahwa semua itu kebaikan semata dari Allah; bahwa itu semua adalah Tangan Kanan-Nya yang sedang bekerja?
: : : : : : : : : : : : : : : : :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ketangguhan untuk tidak berkeluh kesah itu memang tidak mudah, sehingga alasan yang akan selalu mengemuka adalah: “Saya juga hanya manusia biasa dengan segala kelemahan, sehingga wajar jika saya masih suka berkeluh kesah” serta berbagai apologi sejenis dan senada. Tapi, apakah mungkin manusia berhenti berkeluh kesah dan mensyukuri apa pun yang terjadi dalam hidupnya dengan mengandalkan kemampuannya sendiri? Tidak akan mungkin bisa, kecuali dia meminta pertolongan Allah untuk menguatkan dirinya dan memasukannya ke dalam kalangan yang sedikit itu.
Siapa yang menyuruhmu mengandalkan kemampuanmu sendiri? Maka “...mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu.” (QS Al-Baqarah [2]: 45)
Namun, secara nalar, setidaknya setiap diri bisa memahami bahwa keluh kesah tak mendapat tempat dan apologi apa pun dalam Islam sebab Allah telah berfirman dalam QS Al-Baqarah [2]: 286 yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Jika ada seorang manusia sanggup memikul ujian seberat 100 kilo, maka Allah tak akan menambahi barang sebesar dzarrah sekali pun. Itu sudah janji Allah dalam Al-Quran. Jadi, kenapa juga berkeluh kesah kalau semua yang terjadi dalam hidup ini semata terjadi sebatas kemampuan dirinya?
Dalam suatu kesempatan, Mursyid Penerus pernah memberi nasihat sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Tak jarang, ketika setelah 'dihantam di sana sini' barulah kemudian muncul keinginan untuk menuju Allah. Akan tetapi bagi orang yang akalnya kuat, yang pandai, mereka tidak perlu dihantam dulu di sana sini dalam kehidupan. Tidak perlu ditimpa musibah dulu baru kemudian mencari Allah. Apabila sudah terpanggil -- mau kaya, mau miskin -- mereka akan langsung mencari Allah. Kalaupun misal dihantam di sana sini dalam kehidupan, ya harus bersyukur, karena termasuk orang yang dipalingkan untuk kemudian menuju Allah. Beruntung sekali, dibandingkan mereka yang belum terpanggil.
Jadi, keinginan semacam itu di hati sangat berharga sekali.
Saya pernah bercerita kepada sahabat bahwa Allah boleh mengambil apa pun dari diri saya. Semuanya. Apa pun itu. Tapi ada satu hal yang saya berjuang mempertahankannya, yaitu rasa pencarian kepada Allah. Itu berharga sekali. Kalau rasa itu tidak ada, sungguh sangat menyeramkan. Kalau rasa hilang, maka hilang sudah kemanusiaan saya.
Nabi Ayub as pada awalnya adalah seorang Nabi yang terpandang dan bangsawan. Kemudian hancur semuanya. Ladang habis, anak-anak meninggal, istri-istri pergi, pegawai pergi, karena mereka mengira Nabi Ayub telah sesat dan sedang diazab oleh Allah. Badannya pun diruntuhkan; diambil semuanya. Badannya membusuk, menjadi bau, sehingga orang-orang menyingkir semua. Kuda pun lari. Hingga akhirnya beliau pun masuk ke gua. Namun nabi Ayub berkata: “Ambillah semua ya Allah, kecuali hati dan lisanku untuk memuji-Mu”. Luar biasa, di saat seperti itu, beliau tetap memuji Allah.
Berapa tahun Nabi Zakaria tidak mempunyai anak? Delapan puluh tahun. Tapi dalam Al-Quran dituliskan bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.” Luar biasa. Kita harus menjadi uswatun hasanah seperti itu. Kalau diuji sedikit saja kita sudah bilang “saya sudah diuji berat nih” kan malu sekali kepada paraNabi.
Kalau ada yang bilang “Ah, itu kan para Nabi” Iya, tapi bukankah mereka ada untuk menjadi contoh?
Jadi, semua silahkan diambil, kecuali hatiku, esensiku dalam mencari-Mu, yang bergantung kepada Allah.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Seseorang tak bisa ridha kepada Allah sebelum Allah ridha dulu kepadanya. Karena Allah ridha kepadanyalah maka orang tersebut bisa ridha kepada-Nya. Silakan simak sendiri berbagai ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa “radhiyallahu 'anhum wa radhu ‘anhu”, Allah dulu yang ridha, bukan manusianya. Lalu, bagaimana agar Allah ridha kepada seseorang. Ridhalah dulu terhadap segala hal yang telah Allah tetapkan hingga hari ini dalam hidup ini. Ridhalah dulu terhadap apa pun yang sudah, sedang dan akan terjadi. Insya Allah, jika diterima, maka Allah pun akan ridha kepadanya, dan barulah dia bisa ridha kepada Allah. Jadi, itu bukanlah pengakuan sepihak saja, bukan?
Begitu pula dengan cinta. Tak bisa seseorang itu mencintai Allah sebelum Allah dulu yang mencintainya. Lalu bagaimana agar Allah mencintai seseorang? Rasulullah saw suatu ketika pernah bersabda: “Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Ingin mencintai Allah dan Allah cintai? Cintailah ujian dalam hidup ini seluruhnya, cintailah hidup ini baik susah maupun senang yang terjadi di dalamnya, tanpa berkeluh kesah sedikit pun, dengan meminta penguatan dari-Nya melalui shalat dan sabar, serta cintailah juga sesama manusia dan seluruh makhluk-Nya. Bukankah cinta itu juga bukan pengakuan sepihak saja? Sebelum sampai sana, sebagaimana Al-Quran ulang-ulang, seseorang mungkin hanyalah disukai atau disayangi, namun belum jadi hamba yang dicintai Allah.
Aku pun teringat perkataan Mursyid Sepuh almarhum: “Jika kamu pernah membunuh, maka Bapak masih bisa berdoa untukmu agar Allah ampuni. Jika kamu pernah berzina, Bapak pun masih bisa berdoa untukmu agar Allah ampuni. Namun, jika kamu berkeluh kesah, Bapak tidak bisa apa-apa.”
Adapun dalam menjelaskan QS Al-Hujurat [49]: 7, yang terjemahannya “Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam qalb-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran...,” Mursyid Penerus berkata sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
“Pertama-tama perhatikan ‘apakah ada benih-benih kekafiran dalam diri kita’ sebelum menunjuk orang lain. Karena setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Sang Pemilik Semesta.
Hati yang masih mengeluh, kurang bersyukur, berprasangka buruk kepada Allah serta tidak menerima dengan baik ketetapan yang Dia Ta‘ala berikan sesungguhnya merupakan ‘benih-benih kekafiran dalam diri’.
Kekafiran dalam arti ‘ketertutupan dari cahaya kasih-Nya sehingga manusia kesulitan memandang kebaikan dalam fase-fase kehidupan’ adalah tirai besar yang menghalangi seorang hamba untuk bisa bersyukur kepada-Nya.
Orang beriman akan sangat benci untuk mengutuk kehidupan, mengeluh pada keadaan, dan menyimpan prasangka buruk dalam hati. Semua itu adalah bentuk-bentuk kekafiran dalam diri. Astaghfirullah al-adzim.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersanda bahwa “Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), berarti seakan-akan dia mengeluhkan Rabb-nya. Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya, berarti sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah. Barang siapa menghormati seseorang karena kekayannya, sungguh telah lenyaplah dua per tiga agamanya.“ (Hadits dikutip dari Kitab Nashaihul ‘Ibad).
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Demikian. Jika postingan ini menurut Anda ada gunanya dan ingin di share, ambil saja. Copas juga sialakn. Nggak perlu pakai izin-izin swegala. Baiklah, mohon maaf jika ada silap kateu ta yeu. Wallahu a‘lam bishawwab. Wassalam.

Saturday, February 16, 2019

Filsafat Kumbang Taik

Filsafat Kumbang Taik
Yuuup, saiya tidak hadir di acara diskusi nya Goenawan Moehammad Cs yang kata orang-orang sih isinya ngegosipin Rocky Gerung.
Pertama, saiya sibuk sekali ngumpulin makan siang yang disediakan kantor. Terlalu banyak nasi boks sementara undangan yang datang biasa-biasa saja. Jadi undangan ke Cafe yang didahului makan siang itu tidak lagi menarik. Pipit di tangan dilepas, elang di awan dibayangkan.
Kedua, acara tadi sejak awal memang diselenggarakan oleh tim hore-hore petahana untuk membendung analogi Dungunya Rocky yang memincut perhatian publik lewat acara ILC yang digawangi Karni Ilyas. Rocky adalah selebritinya, dia sukses menembak langsung kekuasaan dengan permainan kata/bahasa yang langsung-langsung saja (einfach ein wort/sprachspiele). Meminjam istilah Wittgenstein, lugas, jelas, dan tepat sasaran.
Dungu, tolol, otak kecebong, tempurung, IQ digabung sekolam, adalah pilihan kata (diksi) yang mudah difahami awam dan tanpa mengurangi maknanya mereka ada di dalam kamus KBBI.
Sementara the so called para pencegah pembusukan filsafat itu sendiri kita mengenalnya sebagai penggiat kebudayaan, yang sebelumnya pun tidak terlalu dikenal karena memperkaya khasanah diskusi filsafat. Baru-baru ini pun mereka sibuk dalam wacana Kongres Kebudayaan. Tetapi hari ini orang tidak mau percaya jika isu politik-ekonomi adalah persoalan mental kebudayaan. Di sini kita dapat fahami mengapa Rocky me-rocket. Ia sukses memilih permainan kata yang cocok dalam bahasa popular hari ini.
Ketiga, tidak satu pun dari pemateri yang hadir berani mengatakan dirinya filsuf. Mereka hanya disebut Budayawan, Dosen Filsafat, Dosen Filsafat, dan semacam alumnus sekolah filsafat. Jadi atas keprihatinan siapa mereka ingin melawan pembusukan filsafat dan filsafat mana yang tengah dibusuki itu kita tidak tahu.
Sekali lagi, mereka hanya menjadi pengamat Rocky yang tentu saja statusnya mesti lebih rendah dari yang diamati. Ini karena mereka apa pun kedudukannya sedang digarap dalam permainan Rocky. No Rocky no Party, dan mereka adalah sedikit dari beberapa penggembira saja.
Keempat, dari link youtube yang diunduh tentang acara tersebut, saiya tidak melihat adanya pembahasan yang komprehensiv baik itu tentang filsafatnya atau Rocky. Keempatnya seperti melakukan gosip ala ibu-ibu di gang tentang janda kembang yang baru pindah rumah ke lingkungan. Si janda sendiri tidak terlalu pusing dengan obrolan dan persoalan filsafat atau pemikiran yang membusuk.
Ini karena si janda yang naik daun faham sekali, jika satu-satunya hewan yang mencegah terjadinya proses pembusukan adalah kumbang taik. Mereka senang menyimpannya untuk diri mereka sendiri.

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Setelah Menhan Ryamizard Riakudu berkunjung ke Rusia bertemu dengan Menhan Sergey Sughoi kini giliran Menko Wiranto ke sana untuk bertemu Nikolay Patrusev, Sekretaris Dewan Keamanan.
Sebetulnya sulit untuk tidak menghubungkan pertemuan lanjutan dari pejabat setingkat menteri ke pejabat senior (Menko vs Sekretaris Jendral Keamanan) ini dengan isu Propaganda Rusia yang dilansir Jokowi pada sebuah kampanye di Surabaya beberapa waktu lalu.
Isu Russian Bots, Russia Apologist, dan kini Russia Propaganda adalah salah satu topik utama yang mendapatkan perhatian khusus kontra-intelejen Rusia. Mereka tidak menganggapnya hal sederhana, ini karena menyangkut keamanan geopolitik internasional Russia. Ada empat lembaga setingkat kementerian yang menangani persoalan ini, dari Kemlu Rusia, Kemendagri, Duta Besar Rusia PBB, Kemhan, dan Dewan Keamanan Rusia.
Bila Ryamizard mengatakan tujuan kunjungan adalah mempererat kerjasama pertahanan maka kunjungan Wiranto fokus pada upaya kerjasama penanggulangan Bencana a selain isu terorisme dan kejahatan siber.
Mereka yang senang mengamati isu keamanan-dan intelejen tentu mengetahui jika Sekretaris Keamanan Patrusev bukanlah orangnya untuk kerjasama penanggulangan seperti dimaksud. Ia adalah pejabat senior di FSB (dulu KGB) dan kepercayaan Putin di bidang kontra intelejen. Seperti pernah kita bahas beberapa waktu lalu di forum wall fesbuk nan mulia ini, pernyataan Jokowi memang tidak akan berhenti sekedar kicauan resmi Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Meski ada saja pemirsa yang tidak percaya jika persoalan ini akan berkembang menyangkut masalah diplomatik.
Melihat perkembangan leverage dari Menteri ke Pejabat yang lebih tinggi, tentu kita dapat menilai jika Rusia mesti meminta klarifikasi yang lebih terpercaya terkait pernyataan Jokowi di Surabaya. Ini karena meskipun sebagian menyebut Jokowi mengatakan Propaganda Rusia sebagai capres, atau Zainudin Ngaciro, Cak Njanjuk dst., tetapi secara de facto ia adalah presiden. Pernyataan yang keluar dari seorang presiden mesti mewakili satu pandangan kebijakan pemerintah dalam hubungannya ke dalam maupun ke luar dengan negara lain.
Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna. Ini pepatah lama, tetapi persoalannya apa kita menggunakan pikiran ketika berpendapat.

Sunday, February 10, 2019

hawa nafsu

Sewaktu masih kuliah di Tut Tek Dung, saya diperkenalkan pada Hukum Panitia OS yang berbunyi: (1) Panitia selalu benar, dan (2) Jika Panitia salah maka lihat nomor (1).

Adalah lazim bahwa kebanyakan manusia tak akan suka disalahkan, termasuk saya sendiri. Menyakitkan rasanya. Dalam Islam, ada istilah “hawa nafsu” yang merupakan hasrat imaterial, hasrat yang 'menyeru' manusia kepada dirinya sendiri, bahwa akulah yang paling benar, bahwa akulah yang paling pandai, bahwa aku tak boleh dihina, bahwa aku tak boleh dipersalahkan, bahwa aku ingin berkuasa, dan berbagai “aku-sentris” lainnya.

Adalah sulit untuk melawan hawa nafsu, sehingga Rasulullah Muhammad saw pun menyebutnya sebagai “jihad akbar”...

(“Tapi Kang Al, itu bukan hadits. Itu adalah perkataan Abu Bakar.” ... Ya, tak apa-apa kalau ‘hanya’ perkataan Abu Bakar juga, toh tak mungkin Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mulia itu akan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Rasulullah Muhammad saw.)

Sekalipun memang susah melawannya, namun bukan berarti ‘mengafirmasi’ hawa nafsu adalah jalan keluarnya. Dan, salah satu jalan untuk berlatih melawan hawa nafsu itu adalah kejujuran dan kerendahhatian khas dunia ilmiah yang biasa disebut sebagai objektivitas.

(“Tapi Kang Al, apakah objektivitas itu memang ada?” Iya, kebetulan guru filsafat saya yang pertama adalah salah satu pakar hermeneutika di republik ini. Saya sedikit tahu soal itu. Tapi kita pakai saja dulu kata ‘objektivitas’ dalam makna yang menyiratkan ‘keterbukaan dan tak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu.’ Boleh kan?)

Menjelang akhir pengerjaan disertasinya, istriku tercinta yang cantik jelita itu berkata dengan nada kecewa bahwa ternyata hasil penelitian S3-nya tidaklah signifikan. Dia meneliti meningitis dalam proyek disertasinya. Dia melakukan penelitian pada para pasien meningitis. Mungkin untuk kita yang awam, bayangkan saja perumpamannya begini. Selama ini dengan treatment standar yang ada, para pasien meningitis bisa membaik dalam waktu setahun. Nah berdasarkan penelitian tersebut, bagaimana kalau treatment-nya agak diubah, apakah pasien akan lebih cepat membaik? Ternyata pasien hanya jadi membaik satu jam lebih cepat saja. Ini hanya perumpamaan saja ya. Agar mudah membayangkan.

Istri cantikku itu lalu bercerita soal ‘ketidakpercayaan’ akademisi luar -- khususnya Barat -- terhadap penelitian di Indonesia, sebab tak jarang yang terjadi adalah ‘fabrikasi data’ hanya agar terlihat bahwa penelitian tersebut berhasil.

Dalam suatu percakapan bersama Mursyid Penerus, saat baru saja menyelesaikan disertasinya, beliau berkata bahwa semua penelitian mahasiswa S3 itu harus menghasilkan sesuatu yang “berhasil” dan “terbukti” agar bisa lulus. Kenapa tidak bisa kesimpulannya adalah “gagal” dan “tidak terbukti”?

Sebagaimana umumnya diketahui bahwa penulisan tugas akhir itu dimulai dari Bab Pendahuluan berisi berbagai pertanyaan teoretik yang hendak dijawab, dan bukan dari Bab Kesimpulan. Nah, untuk mahasiswa S3, porsinya berbeda. Mereka harus menghasilkan suatu kebaruan. Gambaran gampangnya begini: kalau selama ini Rasulullah dikenal sebagai nabi pembawa agama, pedagang, pemimpin, panglima perang, suami dari sekian istri, sosok yang dicintai lebih daripada para sahabat mencintai diri mereka sendiri, maka dalam disertasi ini sang mahasiswa S3 akan “membuktikan” bahwa Rasulullah juga adalah seorang eksistensialis.

Nah, apakah sang mahasiswa akan dinyatakan lulus jika dia berhasil “memperlihatkan” bahwa Rasulullah memang “terbukti” sebagai seorang eksistensialis, meskipun Islam yang dibawa Rasulullah memiliki pandangan ihwal hidup dan manusia yang berbeda sama sekali dengan eksistensialisme? Mungkin salah satu permasalahannya adalah “bagaimana bisa diterima bahwa waktu studi dan riset selama 4 tahun atau bahkan lebih itu hanya dihabiskan untuk menuliskan kesimpulan ‘ternyata saya salah’ dan ‘pendirian teoretik baru yang ingin saya hasilkan ternyata tak terbukti’...” Jika memang demikian keberatannya, lantas di manakah “kejujuran ilmiah bernama objektivitas” apabila sang mahasiswa malah seperti diajari untuk “berusahalah semaksimal mungkin untuk ngeles guna membuktikan bahwa saya benar”?

Memang ada perbedaan antara sains dengan humaniora. Sebagaimana saya tulis dalam makalah berjudul “Qui a peur de la philosophie?: Antara Prasangka, Fikrah dan Objektivitas”, salah satu perbedaannya adalah masalah hermeneutika tunggal (single hermeneutics) dengan hermeneutika ganda (double hermeneutics).

Hermeneutika tunggal artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis dalam ilmu alam itu berlangsung satu arah, yaitu dari sang saintis kepada objek yang diamatinya. Tak ada tafsir apa pun yang dilakukan oleh objek sains terhadap sang saintis.

Hermeneutika ganda artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis berlangsung dua arah, karena ilmu-ilmu sosial mengamati manusia. Misalnya, prediksi seorang ekonom soal bencana ekonomi yang akan terjadi di Indonesia 2017 bisa disikapi kepanikan oleh masyarakat dan berdampak pada tindakan para pelaku pasar. Namun, pelaku analisis/pengkaji/ilmuwan sosial dan apa yang dilakukannya merupakan bagian dari praktik sosial, yang pada gilirannya juga dapat dianalisis oleh ilmuwan sosial lainnya. Berbeda dari ilmu-ilmu alam, para pelaku ilmu-ilmu sosial (ilmuwan sosial) tidak sepenuhnya terpisah dari objek yang dikajinya.

Akan tetapi apakah karena ini pula maka dalam ranah humaniora, segala pendirian teoretis itu “benar” selama bisa diargumentasikan secara licin dan penuh akal-akalan? Kembali pertanyaannya adalah “lantas di mana integritas sang peneliti untuk mencoba bersikap objektif dan menerima bahwa ternyata dirinya memiliki kesimpulan yang salah?” Kadang hal ini malah menjadi kabur dengan klaim-klaim indah ihwal “pluralisme”, “penafsiran baru”, dan “keterbukaan menerima kritik untuk nantinya dijawab dengan ‘ngelesan’ lainnya”, sebagaimana sering juga dilakoni oleh saya sendiri.

Ini menggiring ingatan saya kepada Sokrates. Ada satu hal yang mengagumkan dari Sokrates jika membaca kitab Kriton.

Dalam kitab itu, Kriton menawarkan Sokrates untuk melarikan diri dengan cara menyuap penjaga penjara. Sokrates menolaknya sebab dia tak mau “menghancurkan” Athena dengan cara melanggar hukum-hukumnya, terlebih dia sendiri adalah salah satu warganya. Bagi Sokrates, memperlakukan seseorang dengan buruk sama saja dengan memperlakukannya dengan tidak adil. Sokrates juga sadar jika dia dihukum dengan cara yang tak adil, namun Sokrates mengingatkan Kriton ihwal percakapan lama mereka bahwa seseorang tak boleh membalas perlakuan buruk yang diterimanya. Balas dendam itu sama sekali tak dibenarkan. Sokrates juga menegaskan bahwa pendapat kebanyakan orang bukanlah sesuatu yang pasti benar. Sokrates lebih mempercayai satu orang yang memang ahlinya, daripada suara orang banyak, ihwal suatu perkara. Namun itu pun bukan menjadi pembenaran baginya untuk lantas melanggar hukum Athena, apalagi dengan cara menyuap. Selain itu, Sokrates pun tak menaruh benci atau menyalahkan siapa pun atas ketidakadilan yang dialaminya, bahkan tidak juga kepada Aristophanes yang membuat pertunjukkan teater untuk menyebarkan fitnah bahwa Sokrates adalah seorang gay yang mengincar para pemuda Athena dan bahwasanya Sokrates pun mengajarkan relativitas moral.

Bagi saya ini sangat luar biasa.

Sokrates menjadikan filsafat bukan sebagai seni mencipta konsep-konsep (rumit) sebagaimana didefinisikan oleh Deleuze & Guattari. Sokrates menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, sebagai suatu integritas yang tak memisahkan antara etika dengan epistemologi, yang tak memisahkan antara ke-semau-gue-an di ranah privat dan ke-jaim-an di ranah publik, yang tak memisahkan hasrat tak terkendali lagi motivasi busuk tersembunyi di ranah privat yang kemudian dibungkus dengan konsep-konsep canggih lagi rumit di ranah publik. Sokrates menghidupi filsafat di ranah privat dan publik dalam keseharian hingga ajal menjemputnya, dan bukannya menawarkan kerumitan pikiran ke ranah publik sembari menutupi keliaran hasrat tak terkendali dan niat busuk di ranah privat.

Menurut saya, sofisme yang dilawan oleh Sokrates bukan semata berbentuk akrobat logika yang merelatifkan kebenaran hanya demi mendapatkan uang sebagaimana dilakoni oleh kalangan Sofis, tapi juga bagaimana daya pikir manusia malah dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh epithumia (hasrat material) maupun thumos (hasrat imaterial) untuk mendapatkan apa yang dimauinya. Baik epithumia maupun thumos adalah bagian dari jiwa yang fana (mortal), berbeda dengan bagian lain dari jiwa yang abadi (imortal) dan bahkan serupa dengan Idea. Itulah kenapa Sokrates mengatakan bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati, yaitu agar seseorang yang belajar filsafat bisa lepas dari epithumia dan thumos dengan berlatih mati, sehingga psukhé (jiwa) bisa lepas dari soma (tubuh), dan psukhé pun bisa belajar tanpa harus terganggu oleh hasrat-hasrat tersebut.

Dalam Islam dikenal ajaran bahwa hati (qalb) itu ibarat raja, sedangkan anggota badan itu ibarat prajuritnya. Bila sang raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya.

Saya baru mulai memahami kenapa Mursyid Penerus selalu menegaskan berulang kali agar kami, para saliknya, senantiasa belajar membangun sikap objektif, dan ternyata saya sendiri masih sering gagal membangun sikap ini.

(“Iya, Kang Al juga sering tidak objektif.” Sumuhun, saya memang seburuk itu, bahkan masih banyak keburukan saya yang belum Anda sebutkan, dan seperti yang saya tuliskan di atas, kebanyakan manusia itu tak suka jika disalah-salahkan. Begitu juga saya. Begitulah keburukan yang masih menempel di diri saya. Namun, semoga setelah teguran dari Anda ini, saya pun bisa mendapatkan ilmu dan hikmah dari Anda ya. Amin Ya Rabb Al-Alamin.)

Beberapa minggu ini saya baru mulai menyadari bahwa (berusaha untuk) bersikap objektif itu pun membersihkan hati. Bahwa saya seharusnya mencoba untuk tidak begitu saja dipermainkan oleh ketidaksukaan atau bahkan rasa benci kepada seseorang atau suatu kalangan sehingga ketidaksukaan atau rasa benci itu malah memanipulasi dan memanfaatkan segenap kemampuan pikir yang saya punya hanya untuk menyerangnya, mempermalukannya, mendelegitimasinya, dan di atas itu semua adalah “membuktikan bahwa saya pasti benar, sebab jika saya salah, maka ketahuilah bahwa saya pasti benar.” Permasalahannya, ketidaksukaan atau rasa benci itulah yang membuat saya selalu melihat orang atau kalangan yang tidak saya sukai atau benci senantiasa melakukan kesalahan; apa pun yang mereka lakukan pasti salah, sebab salah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri mereka. Adapun kebenaran itu ada di pihak saya dan teman-teman yang sepikiran dengan saya. Titik!

Ternyata seburuk itu saya selama ini... Astagfirullah Al-Adzim. Hampura Gusti Nu Agung.

Nah, dengan status panjang ini, sekalian saya pun mohon pamit untuk mundur dulu dari dunia media sosial, khususnya FB. Permasalahan utamanya adalah ada begitu banyak deadline yang harus saya penuhi hingga bulan Juli tahun ini, dan itu akan menyita banyak waktu. Semoga hingga saat pekerjaan itu selesai, euforia cupras capres pun sudah berlalu, dan saya pun bisa ngemedsos lagi dengan kondisi diri yang lebih baik dan tak merasa paling benar. Mohon maaf juga jika berbagai comment Anda di postingan ini tidak selalu saya jawab. Adapun jika Anda merasa bahwa postingan ini ada gunanya, serta berniat nge-share, silakan saja, tak perlu minta izin segala.

Oh iya, mungkin sesekali saya akan muncul di akhir pekan, jika ada sesuatu yang saya rasa berharga untuk dituliskan. Mohon maaf jika selama ini ada banyak salah kata yang saya tuliskan dan menyakitkan Anda, baik disengaja maupun tidak disengaja. Demikian. Salam.