Saturday, August 11, 2018

Nasehat Yang Baik dan Betoel di Pilpres 2019

Sebagaimana ajaran hikmah maka saiya akan memberikan nasehat yang baik dan betoel kepada rekan pemirsa pendukung #2019GantiPresiden. Bagi pendukung #2019DuaPeriode nasehatnya besok lagi.
1) Jadi bagi kalian para pendukung geraan #2019GantiPresiden, hendaknya mereka terpumpun (fokus) saja pada isu ganti presiden.
Jangan mau tertipu untuk menghabiskan amunisi menyerang cawapres. Tokh target utamanya ganti presiden bukan ganti wapres.
2) Percayalah, pilihan Ma'ruf Amien adalah jalan tengah bagi mandegnya pembahasan antara Elit Relawan versus Elit Partai. Ini bukan soal ulama atau kesolehan. This is about money. Relawan di periode ini cukup nyaman dengan menjadi komisaris atau direksi perusahaan nagari. Tetapi elit partai tidak terlalu beruntung.
Naiknya Mahfud MD bagi Relawan Jokowi jauh lebih aman tetapi ia ancaman bagi kepentingan elit partai.
Jokowi ada pada satu titik dimana ia harus menyingkirkan Mahfud yang sudah pede menjadi cawapres. Jika tidak beberapa -partai sore kemaren- akan menarik dukungan.
Maruf Amin adalah the best alternative choice, pilihan alternatif dari kondisi terburuk bagi kelompok pendukung Jokowi. Jadi MA adalah produk dari sebuah krisis
3) Anda pendukung #2019GantiPresiden harus mengambil pelajaran besar pada kasus Mahfud MD dan belajar tentang nilai followershipness (Kepengikutan dan Kesetiaan) dari Prabowo.
Pada pilpres 2014, Prabowo memuliakan Mahfud MD yang dulu disingkirkan dari pentas politik sebagai sebagai Ketua Tim Nas Pemenangan Prabowo-Hatta.
Mahfud mengkhianati penghargaan tadi dengan bersilat lidah dan menimbangnya secara pragmatis saja. Ia berpikir dengan menyeberang akan memberikan padanya peluang.
Pada pilpres 2019 ini, tepat tiga puluh menit menjelang dipastikan dan dengan keyakinan mendalam, Mahfud ditendang tanpa reserve. Ia langsung hilang dari pembicaraan, berikut harga diri dan kebanggaan-kebanggaan lainnya. Rupanya setelah diangkat dan dikipas-kipas, ia betul-betul dibanting kena dikibulin.
4) Anda harus bangga pada pilihan Anda. Prabowo adalah orang yang mau tidak mau harus kita angkat topi memberikan penghormatan.
Ia seorang pemimpin dengan corak perkader yang matang. Kita ingat bagaimana ia menerima dan mendorong Anies Baswedan ke posisi elit sebagai seorang Gubernur sebuah Daerah Khusus bersama Sandi Uno. Posisi setingkat Menteri dengan anggaran lebih kurang 70 Trilyun dan ratusan program siap di implementasikan maka Anies memiliki peluang terbesar maju di pilpres 2024. Ia akan menjadi bahan pemberitaan lima tahun ke depan.
Dulunya ,pada 2014 Anies adalah jubir Jokowi-JK yang pandai memproduksi kata-kata untuk menyerang sisi pribadi Prabowo. Prabowo dikuliti dari persoalan rumah tangga sampai karir yang sial.
Tetapi setelah Anies dicampakkan dari posisi Mendikbud, oleh Jokowi setelah sebelumnya ia mengorbankan integritas keilmuannya sebagai jubir Jokowi, maka Prabowo juga yang mengantarnya kembali kepada posisinya sekarang.
Anda para pendukung #2019GantiPresiden, ada di satu pilihan yang dibenarkan akal sehat, nalar, dan budi pekerti.

Friday, August 10, 2018

Law Kana Bainana

Wahai Tuhanku, kami telah lalai lupa,
Namun setiap orang daripada kami tetap harapkan,
Keampunan-Mu, dan sifat pemurah-Mu dan
kebebasan daripada neraka-Mu,
Dan juga kami harapkan syurga, 
yang dimasuki bersama-sama penghulu seluruh manusia.
Kami mohon pada-Mu...
Mohon dengan sangat, wahai Tuhanku,
Dari sudut hati kami yang paling dalam...
Kalaulah Kekasih-Mu,
masih berada bersama-sama kami,
Akan terlunaslah segala hutang
dan semakin hampirlah dengan haruman Baginda,
sebelum hilangnya,rasa yang meronta-ronta
untuk berada hampir dengan Kekasih-Mu.
Berada berhampiran Baginda, jiwa turut menjadi harum
Dan apa jua yang kalian doakan kepada Allah, akan diperkenankan,
Cahaya Nabi Muhammad tidak akan pernah sirna,
Sempatkanlah kami bertemu dengan Baginda,
Wahai Tuhan yang Maha Memperkenankan doa hamba...
Hidayahmu kepada alam merata meluas,
Tanda hampirnya kasih sayang Tuhan pemberi hidayah,
Hadith-hadithmu ibarat sungai mengalir jernih,
Berada di sisimu bagaikan dahan yang tumbuh segar dan basah.
Kutebus diriku dengan dirimu, wahai Kekasihku,
Nabi Muhammad yang mulia, yang asing,
Berada berhampiranmu, jiwa menjadi harum,
Wahai yang diutuskan sebagai tanda kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam....
Wahai Kekasihku, wahai Nabi Muhammad
Wahai doktor hatiku, wahai yang dipuji dipuja
Dirimu memiliki kelebihan yang diakui
Oleh Tuhan yang turut berselawat ke atasmu.

Saturday, July 28, 2018

"Miskin Nanggung" , SKTM, dan Special Privilege

Hery Darmawan, 28 Juli 2018
Sebulan terakhir ini sedang ramai diskusi ttg menurunnya tingkat kemiskinan di Indonesia dan juga ttg keistimewaan pemilik SKTM untuk masuk sekolah negeri (dengan mengabaikan nilai Ujian Nasional?)...
Saya sendiri jadi inget masa2 sulit keluarga semenjak saya kecil sampe lulus kuliah.. Saya dulu suka memberi istilah "Miskin Nanggung"... Kenapa ?? Karena kita dulu secara kategori "Miskin" menurut pemerintah, tidak masuk kategori itu, tapi secara realistisnya hidup kekurangan..
Dulu, alm Apa mengambil pensiun dini sebelum saya masuk SD, jadi mendapatkan uang pensiun yang tidak full.. yang saya ingat dari sejak saya SD sampe SMP, gaji pensiun Apa itu hanya Rp 180rb/bulan... itu untuk menghidupi 7 anak2 yang sedang pada sekolah.. Pas saya SMA, ada kenaikan gaji menjadi Rp 250rb/bulan.. tapi karena selama 3 tahun Apa sering masuk rumah sakit dan memakai ruangan di atas hak-kelasnya, maka di tahun 95, kena potongan dari kantor sangat besar.. akhirnya hanya mendapatkan uang pensiun Rp 1700/bulan.. udah kayak "kiamat" aja saat itu.. Mamah sampai nangis karena katanya potongan itu harus dijalani selama 3 tahun ke depan.. Padahal saat itu saya baru masuk ke kelas 3 SMA dan adik masuk kelas 1 SMA.. alhamdulillah bbrp Kakak udah pada kerja dan berkeluarga, jadi bisa ikut bantuin jg...Tp pas Apa meninggal dunia di November'96, alhamdulillah hutang2 itu "diputihkan" dan Ibu dapat pensiun janda Rp 180rb/bulan..
Dulu pas saya mau masuk ITB di Agustus 96, belum ada beasiswa BidikMisi kayak sekarang.. Jadi untuk menyiapkan uang masuk Rp 750rb (spp 450rb/semester,seragam olah raga, jas,dll), kakak2 harus sampai pontang-panting juga cari pinjaman kemana2.. Alhamdulillah, uang2 pinjaman itu bisa terkumpul last minutes (jam 23 menuju deadline batas pembayaran besoknya)...sport jantung banget saat itu.. Sore sblm dapat uang, Saya udah nyiapin surat permohonan penangguhan pembayaran uang pendaftaran untuk dibawa ke ITB..
Ada kejadian cukup lucu juga pas mau memasuki semester 2 kuliah..saat itu IOM membuka beasiswa untuk "Mahasiswa Tidak Mampu" ... Saya dengan status "Anak Yatim" dan "Miskin (nanggung)" dengan pede mencoba mendaftarkan diri dengan membawa slip gaji pensiun janda Mamah sebesar Rp 180rb/bulan + "surat kematian alm Apa"... kejadian lucu dimulai saat wawancara.. pewawancara melihat saya dari atas ke bawah berulang kali sambil bilang "ini Adek ndak ada tampang miskin sama sekali...badan juga gemuk" 😅🙈... pas ditanya ttg kondisi rumah, saya jawab dengan jujur "rumah sih besar Pak.. luas 220m2 di dalam gang...tapi ndak ada uang Pak !" ... setelah re-check semua dgn "Kategori tidak Mampu" saat itu, akhirnya saya dinyatakan gagal.. pas pulang ke rumah dan ditanyain Mamah ttg status beasiswa, saya bilang "Gagal, karena "Miskinnya Nanggung"" ...
Setelah itu, saya dan Mamah ndak berhenti2 berdo'a agar dilepaskan dari kesulitan2 ekonomi ini...alhamdulillah semester berikutnya, mulai panen beasiswa sampe lulus kuliah... Saya rasa, banyak juga di Indonesia ini yg punya status "Miskin Nanggung", terutama untuk pensiunan janda dari PNS atau BUMN...

Thursday, July 26, 2018

Amal Baik dan Amal Shalih

Alfathri 20 Juli 2018
Orang boleh berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, akan tetapi jika perbuatan itu tidak terhubung kepada Allah di dalam hati, maka amal itu hanya terbatas menjadi amal baik saja. Bukan amal shalih yang akan menjadi pemberat timbangan di Yawmil Akhir nanti.
Kuncinya adalah mengerjakan apa-apa yang Allah mudahkan ke dalam diri masing-masing. Ada yang dimudahkan dalam mengerjakan proyek, ada yang terampil dalam menjahit, ada yang encer otaknya dalam membuat tulisan, dan lain sebagainya. Setiap potensi diri yang ada patut untuk diberi perhatian agar ia tumbuh berkembang dengan baik.
Akan tetapi berhati-hatilah, karena dalam suluk, kita akan diuji dengan tembok yang merintangi. Apabila suatu urusan dirasakan banyak rintangannya serta belum pas, sebaiknya jangan diterjang.
Demikian pula jika yang merintangi bukanlah tembok, akan tetapi pintu yang masih tertutup. Sebaiknya jangan memaksa membuka peluang untuk mengerjakan sesuatu sebelum pintunya Allah bukakan.
Di tahapan yang lebih halus lagi, kadang penghalang itu bagaikan sehelai sutra tipis. Seolah-olah bukan penghalang bagi kita untuk mengerjakannya, akan tetapi, secara etika, penghalang yang tipis itu jangan disibakkan sampai Allah Ta'ala berkenan memberikan ketetapan ihwal saatnya yang haqq.
Jadi, apa pun proses penantian kita itu, entah itu menanti datangnya jodoh, menanti pekerjaan yang lebih menyenangkan, menanti momongan, keinginan untuk memulai bisnis baru, menanti saat yang tepat untuk melanjutkan sekolah, rencana menambah anak, keinginan pindah rumah, dan lain sebagainya, hendaknya kita berhati-hati dalam membaca tanda-tanda kehidupan, hati-hati dalam membaca kapan saat yang tepat untuk mengambil keputusan, karena bisa jadi kita diuji dengan "binatang buruan yang mudah didapat."
Maka, sujudkan kepala dalam-dalam dengan menyerahkan hati sepenuh keberserahdirian kepada-Nya. Sungguh, tidak akan kecewa mereka yang memohon kepada-Nya
(Cuplikan nasihat dari Kajian Hikmah Al Qur'an yang diampu oleh mursyidku.)

Ujian dalam Kehidupan

Alfathri 25 Juli 2018
Ada hukum kehidupan yang Allah Ta'ala nyatakan dalam Al-Qur'án, tentang keniscayaan ujian dalam kehidupan; khususnya bagi mereka yang mencari Allah Ta'ala.
Di sisi lain, bagi orang yang kufur kepada-Nya, maka Dia akan bukakan pintu-pintu khazanah dunia. Semua hal dibuat mudah, mencari rezeki mudah, bisnis untung terus. Manusia tertentu akan dibuat tenggelam dalam dunianya masing-masing, entah apakah itu dalam bisnis, dalam karir akademis, dalam kehidupan sosial atau bahkan yang dalam dunia seolah-olah berbau spiritual.
Tapi, semua yang dilakoninya bukan membuat hatinya semakin dekat dengan Allah Ta'ala, dan tanpa disadarinya tiba-tiba maut datang menjemput.
Na'udzubillahi min dzalik.
Bukti bahwa hatinya masih berjarak dengan Allah Ta'ala adalah ketidakmengertiannya atas banyak fenomena kehidupan atau berbagai peristiwa yang menimpa dirinya, keraguannya dalam perjalanan, kecemasannya akan masa depan, ketakutannya terhadap masa lalu, ketidaksabarannya menghadapi ujian, kesombongannya menikmati limpahan karunia-Nya, keterputusannya dengan Al-Quran, bahkan hingga memaki-maki Allah, baik di lisan maupun dalam hati, serta menuduh bahwa “Dia tidak adil! Dia membuat aku sengsara! Dia tidak mengabulkan doaku!”
Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah Ta'ala berkenan mengangkat segenap hijab dalam hati kita.
(Secuplik paparan dalam Pengajian Hikmah Al Quran yang diampu oleh Mursyidku.)

Tasawuf atau Sufisme

Herry Alfathri 22 Juli 2018
Banyak yang mengklaim bahwa tasawuf, atau sufisme, tidak ada dasarnya. Mana dalilnya, katanya. Tanpa dalil, lalu dikatakan bid'ah. Atau bahkan kafir.
Well, kalau ditelaah, dalil atau hukum fiqh, bukan pertimbangan yang paling dasar -- kalau tidak mau dikatakan tidak selalu menjadi sudut pandang paling dasar -- dalam agama. Ada hukum atau pertimbangan lain yang lebih mendasar dari hukum fiqh atau syariat, namun 'hukum' ini tidak selalu bisa didalilkan.
Sebagai contoh pertama: aurat pria. Batasan aurat bagi pria adalah semua bagian tubuh antara pusar hingga lutut. Itu wajib ditutup terhadap semua orang yang bukan muhrimnya.
Lalu, syarat sah shalat adalah menutup aurat. Secara fiqh, jika saya shalat hanya mengenakan celana tiga perempat dari pusar sampai lutut dan tak mengenakan baju atasan, shalat saya jelas sah. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat hal ini.
Kemudian, saya pergi ke masjid, lalu dan menjadi khatib dan imam shalat Jum'at -- dengan pakaian yang sama: celana selutut dan tanpa baju atasan. Sahkah shalat Jum'at saya? Sah, jika hanya fiqh, atau syariat lahiriah, yang jadi pertimbangannya.
Tapi maukah Anda menjadi ma'mum saya? "Jadi imam kok pakaiannya begitu," Anda akan marah. Tapi kalau saya tanya, coba sebutkan dalilnya, mana riwayat yang melarang seseorang menjadi khatib atau imam jika ia hanya mengenakan celana tiga perempat, Anda tak akan bisa menjawab. Memang tidak ada.
Sah, secara fiqh. Tapi bagaimana mungkin ada seseorang menghadap Allah ta'ala dengan pakaian sedemikian?
Ada hal yang lebih mendasar dalam agama, dari 'sekadar' (dalam tanda kutip) hukum fiqh atau syariat.
Contoh kedua. Hukum fiqh menyebutkan, pernikahan seorang pria tanpa ada walinya, sah. Wali hanya diwajibkan bagi pihak wanita. Jika Anda seorang mahasiswa yang jatuh cinta pada seorang wanita, Anda boleh mendatangi rumah seorang wanita untuk menemui orangtuanya dan melamarnya. Jika sang Ayah menikahkan Anda dengan putrinya, dan ada saksinya, maka Anda berdua sudah menjadi suami istri yang sah, secara hukum syariat.
Tapi bagaimana jika Anda adalah seorang ayah atau ibu? Anda sudah membesarkannya, membanting tulang, bersusah payah agar putra Anda berpendidikan sebaik yang ia bisa Anda usahakan. Dan suatu hari, putra Anda datang menemui Anda dengan membawa seorang istri dan dua orang anaknya. Tanpa kabar apa pun sebelumnya.
Apakah rumah tangganya batal dan pernikahannya tidak sah? Tidak. Pernikahannya sah. Tapi bagaimana hati Anda sebagai seorang Ayah atau ibunya? Atau, bagaimana perasaan ayah Anda, atau ibu Anda, jika Anda melakukan itu terhadapnya?
Atau, jika Anda seorang istri. Secara fiqh sangat sah jika suami Anda memutuskan untuk menikah lagi tanpa memberi tahu Anda terlebih dahulu. Tapi bagaimana perasaan Anda?
Nah. Itu hanya contoh saja. Selalu ada hal lain yang lebih mendasar dari sekadar hukum syariat atau hukum fiqh. Karena itu, agama tidak identik dengan hukum syariat atau fiqh. Agama bukanlah sekadar hafalan dalil dan hukum fiqh. Agama tidak akan utuh sebagai rahmat, jika hanya diidentikkan dengan sederet dalil dan hafalan hukum fiqh.
Agama sesungguhnya jauh lebih dalam dari itu.
Dan tentu, karena hanya persoalan permukaan, maka perbedaan landasan fiqh maupun madzhab sangat tidak ada gunanya untuk jadi bahan keributan.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Agama, atau ad-Diin, sesungguhnya terdiri dari tiga komponen: Iman, Islam dan Ihsan. 'Iman' terkait dengan cahaya iman dan keyakinan. 'Islam' terkait dengan ibadah formal, hukum syariat dan fiqh. 'Ihsan' terkait dengan kesempurnaan 'iman' dan 'islam'-nya, sejauh mana seseorang melihat Allah dalam perilakunya, atau dilihat Allah dalam perilakunya, sehingga perbuatannya sesempurna mungkin.
Aspek ihsan inilah yang jauh lebih dalam dari sekadar syariat, yang memagari seseorang untuk shalat sekenanya dengan bertelanjang dada dan bercelana selutut, atau menikah tanpa memberi tahu Ayah atau Ibunya, meski secara hukum syariat perbuatan itu sah-sah saja.
Dalam tasawuf atau sufisme, ini disebut 'syariat batiniah'. Ada hukum lain yang lebih dalam dari sekadar hukum lahiriah, yang kadang hukum ini tidak bisa dirumuskan. Ada aspek rasa, adab dan kepatutan yang sangat dominan di sini: sejauh mana Allah akan suka pada perbuatan seseorang.
Pada awalnya, di masa Rasulullah, ketiga aspek ini menyatu, utuh, tidak terpisah-pisah dalam satu label yang dibawa oleh beliau saw: Diin Al-Islam; agama keberserahdirian (bukan sekadar 'pasrah') pada Allah.
Lama kelamaan, karena terkait studi dan budaya, ketiga aspek ini terpisah satu sama lain. Sayangnya, kebanyakan penganutnya bahkan lupa bahwa Diin Al-Islam tadinya terdiri dari tiga aspek yang menyatu utuh.
Belakangan, di usia-usia termuda peradaban, muncullah golongan yang bersikukuh bahwa Ad-Diin Al-Islam sesungguhnya hanya terkait ibadah, syariat lahiriah dan ilmu fiqh saja. Lalu, aspek 'iman' direduksi menjadi hanya sekadar percaya, atau cuma implikasi dari mengucapkan kalimat syahadat. Dua aspek inti lainnya, (cahaya) Iman dan Ihsan, yang tadinya menyatu, tidak lagi dilihat sebagai bagian dari agama Islam. Dan golongan yang masih memegang teguh dua aspek itu 'dikeluarkan' dari bendera Islam, dan diberi label sufi atau tasawuf, agar benar-benar terpisah dari 'Islam'.
'Sayangnya' (dalam tanda kutip), golongan yang masih memelihara aspek ihsan dalam dirinya tentu berkembang menjadi golongan yang toleran, penuh pemakluman, lembut, dan tidak menyukai keributan, sehingga cenderung diam dengan labelisasi ini. Mereka tentu masih merasa ber-Islam secara utuh dengan tiga aspeknya, sementara oleh golongan lain mereka justru dikatakan sebagai kaum yang bukan Islam lagi. [*]
Sebaliknya, golongan yang tumbuh tanpa aspek ke-ihsan-an (baca: tanpa mempertimbangkan faktor-faktor selain hukum fiqh dan syariat dalam dua contoh di atas), tentu saja kemudian tumbuh menjadi golongan yang keras, penuh penghakiman, dan tidak lentur menyikapi perbedaan. Padahal, perbedaan di antara umat manusia adalah sebuah keniscayaan yang sudah Allah tetapkan.
"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS Al-Mâidah [5]: 48)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
[*] Ada memang, sebagian kecil golongan yang mengaku tasawuf dan sufi, tapi justru meninggalkan aspek syariat lahiriah sama sekali. Tidak shalat lagi, misalnya. Tapi ini hanya sebagian kecil yang terlepas dari gagasan inti agama, dan tidak bisa digeneralisasikan.
(Herry Mardian)

Siang berbincang dengan penceramah pengajian.

Andi Hakim 25 Juli 2018
Ia pengurus NU dan menurutnya medsos mengkhawatirkan karena memproduksi manusia-manusia yang mudah memfitnah dan berbohong.
Kami berbincang sampai ia berkata bahwa Islam Nusantara ada penemuan bangsa Indonesia dalam mengapresiasi syariah dan adat-istiadat. Yang membuat dunia Islam di luar kita ingin belajar dan mengadopsi praktik sosialnya seperti di Indonesia.
"...para ulama terdahulu kita itu begitu visioner. Mereka misalnya mengadapsi ajaran silaturahim menjadi halal bi halal."
Ia berkata dan melanjutkan.
"Bayangkan bagaimana silaturahim hari ini kalau tidak ada halal bi halal. Ratusan orang berkumpul, bertemu dan saling memaafkan. Jika tidak di halal bi halal maka berapa lama itu silaturahim dari rumah ke rumah."
Ya, baginya itu mungkin sebuah artefak mulia yang digali dari khasanah praktik Islam di tanah air kita. Tetapi setiap waktu dan tempat memiliki ekspresinya masing-masing yang juga mulia bagi orang di sana.
Di Irak anda bisa menemukan jika di bulan Muharram warga memasak dan bersedekah kepada siapa saja yang berziarah dalam seremonial Karbala. Mereka memuliakan para tamu tanpa meminta bayaran. Di Pakistan atau Iran jika anda dalam kesempitan mereka akan memberi anda cukup perbekalan. Sementara muslim di Uighur atau Kadzhaktan akan mengundang orang yang baru mereka kenal untuk makan di rumahnya.
Belum lagi di Lebanon atau Suriah, keramahtamahan ini juga punya cara tampilnya masing-masing nan unik.
Tidak perlu membanggakan sebuah ekspresi atau artefak kebudayaan. Bahwa milik kita lebih baik daripada misalnya yang dari Arab atau Eropah sana. Semua punya kelebihan dan kekurangannya bila diperbandingkan. Lagi pula jangan pula ber halal bi halal kalau nantinya saling menilai di belakang dari cara berpakaian, berkendaraan, bertanya gaji atau status pernikahan anda sekarang.
#IslamSaleroNusantara, tamboh ciek.