Saturday, October 20, 2018

Sebuah Doa Ali bin Abu Tholib

Doa Ali bin Abi Thalib:
"Ya Allah, peliharalah kehormatan wajahku dengan kecukupan. Jangan jatuhkan martabatku dengan kemiskinan, sehingga aku terpaksa mengharapkan rizki dari manusia, yang justru mengharapkan rizki-Mu, atau memohon belas kasihan dari hamba-hambamu yang jahat. Atau tertimpa bala' dengan memuji siapa yang memberiku atau mencela siapa yang menolakku. Sedangkan Engkau, Engkaulah yang ada di balik semuanya itu, yang sebenarnya memberi atau menolak. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahakuasa atas segalanya.
Allahumma, Engkaulah yang paling dekat menghibur para wali-Mu, yang paling menjamin kecukupan bagi siapa saja yang bertawakkal kepadamu. Engkau melihat sampai ke lubuk hati mereka, menembus jauh ke dalam nurani mereka. Semua rahasia mereka telanjang dihadapan Engkau, semua bisikan hati mereka mendamba dan mengharap dari-Mu. Bila tersiksa dengan keterasingan, mereka terhibur dengan sebutan-Mu. Dan bila tercurah atas mereka aneka ragam musibah, mereka pun berlindung kepada-Mu. Mereka sungguh-sungguh mengerti bahwa kendali atas segalanya ada di tangan-Mu, sebagaimana pula bahwa segala kemunculannya berasal dari ketentuan-Mu.
Allahumma, bila aku tak mampu mengutarakan permohonanku, atau tak mampu melihat keinginanku, tunjukilah aku sesuatu sejauh yang akan mendatangkan maslahat bagiku. Sebab, itu semua bukanlah hal yang menakjubkan jika ada di antara jalan-jalan hidayah-Mu, bukan pula itu adalah sesuatu yang baru diantara kekuasaan-kekuasaan-Mu.
Allahumma, sikapilah daku dengan ampunan-Mu, dan jangan perlakukan aku dengan keadilan-Mu."
Allahumma amiin...
:::
Diambil dr notes kang Herry Mardian ©2009, foto dr google

Saturday, October 13, 2018

Toleransi

Istilah “toleransi” (Indonesia) atau “toleration” (Inggris) itu berasal dari bahasa Latin “tolerare” yang artinya “menerima dengan sabar”, “persetujuan” atau “membiarkan.” Istilah ini pada umumnya mengacu pada “penerimaan bersyarat dari” atau “non-interferensi” terhadap keyakinan, tindakan atau praktik yang dianggap salah tetapi masih “dapat ditolerir.”
Akan tetapi, apakah toleransi itu identik dengan anarki? Istilah anarki berasal dari bahasa Yunani yaitu “an-arkhe” yang artinya “ketiadaan prinsip” atau “tanpa komando.” Apakah toleransi itu meniscayakan “anything goes” alias “apa pun boleh”?
Tidak. Toleransi adalah “penerimaan bersyarat”, bukan “anarki yang membolehkan apa pun.” Karena itu selalu akan ada batas-batas dalam toleransi. Begitu pula halnya dengan Islam sejauh yang pahami dan anut, sebuah agama yang memiliki aturan dan hukum meliputi seluruh kehidupan umatnya, dari mulai buang hajat, berhubungan suami istri, dalam bertetangga (sehingga terkesan bahwa tetangga pun memiliki hak waris), sesaat bayi keluar dari rahim langsung disambut hukum waris dan sesaat seseorang meninggal berbagai sunnah dan juga hukum waris langsung menyentuhnya, hingga saat ‘beraudiensi’ dengan Tuhan tanpa sepengetahuan siapa pun.
Dalam selorohan dengan sebagian teman, saya kadang berkata bahwa “agama ini (Islam) ‘terlalu nyinyir’ mengatur segenap kehidupan umatnya sehingga sukar untuk dimasuki oleh ide tentang sekularisme.” Namun beda perkaranya jika si muslimnya itu sendiri yang melucuti hukum-hukum Islam dari dirinya. Atau, lagi dan lagi dan lagi saya mengatakan ini berulang-ulang kali, Islam malah dijadikan ‘budak’ bagi berbagai wacana teoretik (post)modern oleh sebagian muslim yang terpesona pada kebebasan sekular dari arus pemikiran tersebut. Sesuatu yang belakang disadari juga oleh Ulil Abshar Abdala dan diistilahkannya sebagai “bias for.”
Adapun untuk diri saya pribadi, toleransi pun merupakan “suatu penerimaan bersyarat yang memiliki batasan.”
Setiap tahun saya selalu mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Paskah kepada kalangan Nasrani secara terbuka di wall FB, dengan resiko yang sama dari tahun ke tahun, mulai dari dikafirkan atau dituduh liberal hingga di-unfriend atau diblokir. Namun, hingga saat ini, sikap saya pernah berubah. Bagi para pengguna FB yang memang ingin menjadi ‘friend’ saya, tunggu saja. Sebentar lagi Natal akan tiba, dan biasanya akan ada beberapa jatah friend yang mendadak kosong. Dua bulan itu tidak lama kok.
Begitu juga saat seorang ustadz menyebut “Salib” sebagai tiang jemuran. Saya ikut marah dan mencoba sebisa saya membela serta menjelaskan apa arti salib itu dan bagaimana itu adalah simbol yang sangat agung bagi agama Nasrani, agama yang saya istilahkan sebagai agamanya para martir. Anda tahu apa arti kata “martir”?
Kata MARTIR berasal dari bahasa Yunani “MARTUS” yang artinya adalah saksi. Istilah ini pertama kali dikenakan kepada para rasul dalam Kisah 1: 8 yang berbunyi “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku (MARTUS) di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”; dan Kisah 1: 22 yang berbunyi “yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”
Kita bisa melihat bahwa kata “SAKSI” atau “MARTUS/MARTIR” itu disandingkan dengan Roh Kudus, dan bagaimana MARTUS dan SYUHADA itu artinya sama, yaitu SAKSI YANG BENAR.
Lebih jauh, coba simak Kisah 2: 1-4 yang berbunyi sebagai berikut:
“(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;(3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.(4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”
Namun, setelah umat Kristen awal mendapat banyak tekanan dan siksaan karena mereka tidak mau meninggalkan agamanya, maka istilah MARTUS pun dilekatkan juga kepada mereka yang mati dalam mempertahankan imannya. Dan orang pertama yang digelari MARTUS karena mati dalam mempertahankan imannya adalah Stefanus, seorang Diakon, yang kita bisa jumpai kisah pembunuhannya oleh orang Yahudi dalam Kisah 6 sampai 8. Dan penyebutan Stefanus sebagai MARTUS atau SYUHADA bisa kita jumpai dalam Kisah 22: 20 yang berbunyi sebagai berikut:
“Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya.”
Jika Anda mempelajari sejarah awal kalangan Nasrani, Anda akan mendapati bagaimana umatnya, dari yang masih kecil hingga yang tua renta, ibu beserta bayinya, dengan gagah berani menyambut kematian. Entah itu dimasukkan ke dalam sumur lalu dilempari batu hingga mati, atau diikat di sebuah tiang lalu dibalut kain kemudian dilumuri minyak untuk dibakar menjadi obor penerangan jalan di malam hari, atau diumpankan kepada singa-singa lapar sambil disaksikan sebagai pertunjukan bagi orang banyak, atau dijadikan ‘mangsa’ para gladiator, lain sebagainya. Kenapa mereka bisa sedemikian gagah beraninya menyambut kematian? Karena inspirasi dari Yesus yang mati di tiang salib! Jika Anda membaca juga sejarah tokoh-tokoh kudus di kalangan Nasrani, Anda bisa melihat sendiri bagaimana sebagian besar dari mereka itu mati sebagai martir.
Berbeda dengan sejarah Nasrani di masa awal yang tidak diwarnai dengan peperangan, Islam adalah agama yang di masa awalnya memiliki sejumlah sejarah perang yang dilakoni langsung oleh Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya. Lalu, apa kata Rasulullah Muhammad ihwal kemartiran di kalangan umat muslim?
“Kebanyakan syuhada dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyak pula orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Maha Mengetahui apa niat sebenarnya.” (HR Ahmad dari Ibnu Mas’ud)
Bahkan Khalid bin Walid, sahabat Rasulullah saw yang berperang dengan gagah berani di banyak peperangan, yang pada saat jenazahnya dimandikan memperlihatkan bagaimana berbagai luka bekas senjata tajam tersebar di segenap tubuhnya, justru mati di atas tikar tidurnya, dan bukan di medan perang. Karenanya, janganlah seorang muslim itu menghina simbol agung milik kalangan Nasrani tersebut.
Namun, sekali lagi, bagi saya pribadi, toleransi itu memiliki batas. Saya sering diajak bicara oleh kalangan non-muslim ihwal poligami dalam nada nyinyir dan terkadang mengejek, bahkan menyiratkan bahwa itu adalah ‘pelacuran yang dilegalkan melalui hukum agama.’ Mungkin karena kegemaran saya kepada wacana teoretik cultural studies dan filsafat memberi kesan bahwa saya adalah seorang yang berpikiran terbuka (bisa juga dibaca “liberal”) dan menolak hal tersebut. Jika percakapan itu terjadi dengan kalangan Katolik, misalnya, saya akan bersikap dengan tegas dengan mengatakan bahwa “Bukankah di agama Anda yang dianggap utama itu adalah mereka yang tak menikah? Lalu dengan modal apa Anda bisa mengkritisi seluk beluk hukum pernikahan dalam agama saya yang bukan hanya memperbolehkan poligami, tapi juga mengatur soal perceraian, sehingga memang berbeda sama sekali dengan hukum dalam agama Anda? Tak usahlah jahil mengurusi hukum agama orang lain. Bukankah di agama Anda pun banyak masalah yang harus ditangani? Biarkanlah ini jadi keributan tersendiri di kalangan umat muslim saja. Anda tak perlu repot-repot ikut mengurusi.”
Namun, jika ada sebagian dari kalangan umat muslim ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi Islamisme, misalnya, maka saya adalah salah satu yang akan bangkit melawan mereka. Selain menerjemahkan buku “Islam and Islamism” karya Bassam Tibi, saya pun pernah menulis artikel berjudul “Tata Negara dan Peradaban Islam: Antara Cita-cita dan Ilusi” yang dimuat di sebuah jurnal milik UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Itu salah bentuk toleransi lainnya bagi saya pribadi, bahwa di negara yang semua agama pernah masuk, bukan berarti agama mayoritas boleh seenaknya menentukan ideologi bernegara yang menjadi pijakan tata kehidupan bersama atau politik.
Demikian pula halnya dengan LGBT. Saya tak ambil pusing jika para penganut agama lain bersikap lebih longgar atau bahkan cenderung menerima hal tersebut dengan embel-embel toleransi, keberagaman, hak azasi manusia, urusan privat yang bebas selama tidak kriminil, dan lain sebagainya. Silakan, itu urusan para penganut agama tersebut, bukan urusan saya. Namun, sebagai seorang muslim yang mempunyai dua guru pemikir terkenal di negeri ini dan mempunyai dua mursyid di sebuah thariqah, saya akan bangkit menolong agama-Nya dari penggerusan Islam melalui kemahiran akrobat logika yang disalurkan melalui lidah dan jari jemarinya. Semoga Allah berkenan menolong saya.

IMF dan Buruh

Satu klausul yang selalu mengambang dalam pembahasan Kerjasama Pembangunan Global adalah seberapa besar alokasi hutang akan memberikan peluang bagi kelompok tenaga kerja.
Nona Erni dari Buruh Migran tidak dapat membayangkan jika persoalan hutang sama selalu belum dihitung detail karena menurutnya resiko-resiko tadi tidak masuk hitungan. Kami bertemu terakhir di Nairobi pada acara Pertemuan Tingkat Tinggi Kerjasama Yang Effectif (GDPEC). Seberapa besar investasi/hutang Cina, US, Jepang, dan OECD misalnya membuka lapangan pekerjaan dengan bayaran layak bagi buruh lokal Hari ini orang berteriak tentang hilangnya kesempatan kerja karena bersama investasi asing selalu hadir tenaga kerja import.
Vietnam, Indonesia, dan Malaysia mulai mengeluh dengan kehadiran TKA Cina. Yang terjadi di ketiga negara ASEAN tadi adalah munculnya isu politik identitas, yaitu nasionalisme populis. Beberapa negara Afrika juga demikian dengan intensitas yang lebih ringan. Sementara di eropa, Jerman mulai khawatir investasi Cina di manufaktur. Mereka ditakutkan akan akan membawa-alih atau reverse industri
enjinering Jerman ke Cina.
Tentu kita tidak dapat menyalahkan Cina, mereka pun punya hitungannya tetapi isu kepentingan nasional adalah yang paling utama adalah klausul terpenting dari seluruh bentuk kerjasama dunia.
Berbeda dengan antisipasi yang telah dilakukan negara-negara reseptor, sepertinya Indonesia belum memiliki formula menghadapi shifting dari model kerjasama hari ini. Sebagian menganggap kecurigaan kita kepada pekerja migran cina itu tidak beralasan seraya membandingkan TKI import kita di Malaysia, Hongkong, atau Arab Saudi. Kedua kasus ini tentu saja berbeda, sebab TKI kita tidak datang karena Indonesia berinvestasi di LN, namun karena sulitnya lapangan kerja DN. Mereka pun umumnya menjadi pekerja kasar, buruh rumah tangga, layanan di rumah jompo, atau proyek-proyek yang penduduk lokalnya tidak lagi mau bekerja di sana.
Minggu ini di Bali dilaksanakan pertemuan tahunan IMF-WB. Perihal seberapa besar ia akan memberikan kemanfaatan kepada kelompok buruh juga belum atau sama sekali tidak menyentuh pembicaraan ini. Sekali lagi, kelompok pekerja dan pembukaan lapangan kerja masih akan dianggap bagian tidak penting dari kerjasama ini.
Kita dapat melihat pada beberapa kasus di tanah air. Misalnya kebermanfaatan proyek-proyek infrastruktur yang memanfaatkan dana-dana ini kecil sekali kontribusinya kepada kelompok buruh. Belum lagi kepada operator lokal seperti asosiasi-asosiasi kontraktor. Hal yang sama dengan kebijakan di sektor kelautan -tol laut-, kebijakan penangkapan ikan, dll., yang semakin jauh dari menghadirkan kesejahteraan bagi pekerja nelayan.
Siang tadi saiya berbincang dengan beberapa peserta aksi di Taman Monas depan Patung Arjuna, mereka dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia -KSPI dan beberapa lainnya barangkali. Mereka melaksanakan aksi untuk mengkritis perhelatan mahal IMF-WB Annual Meeting.
"Belum ada tindakan maupun sekedar kebijakan yang jelas dari pemerintah pada event ini mas. Terutama keberpihakan kepada kepentingan pekerja lokal."
Saiya mengangguk dan jika tidak keliru dua minggu lalu KSPI melakukan aksi di depan Kementerian Kelautan dan Perlaukan Nasional. Yang membuat saiya sedikit kagum adalah, bahwa kedua anak muda tadi berbicara dengan bahasa yang bagus dan paparan yang tertib. Saiya tidak kepikiran bahwa mereka itu adalah pekerja logam yang apa pentingnya memikirkan persoalan IMF-WB.
Ya, saiya mengatakan ya setelah berkata kemana para peserta aksi.
"Yang lain masih menjalankan shalat jum'at pak. Di sana di gedung-gedung di depan pak."
Saiya tidak heran, jika anggota KSPI ini cerdas dan di sisi lain mereka orang yang hormat dalam menyimbangkan urusan politik jalanan dengan menjalankan kewajiban agamanya. Ada transformasi besar dari model aksi-aksi buruh dalam kurun lima-sepuluh tahun ke belakang. Itu tentu karena faktor-faktor followershipness yang digagas para tokohnya.
Satu diantaranya yang saiya kenal rendah hati tetapi cerdik adalah Tuan Muhammad Rusdi. Ia cukup serius menggarap perkaderan sebagai wakil presiden di serikat pekerja itu.
"...perubahan itu mungkin tidak dalam lima atau sepuluh tahun ke depan ya Bung. Tetapi sedikit banyak kita sudah melakukan usaha ke arah yang lurus. Ya, kita butuh training yang mengkombinasikan kepentingan dengan nilai-nilai/values"
Begitu katanya ketika kami bertemu im promtu di sebuah Taman untuk berolahraga.
Yang olahraganya sendiri akhirnya kandas karena olah perut, tetapi itu pembicaraan yang menarik di pagi hari. Apakah kerjasama internasional dan organisasi seperti IMF-WB ini sudah pula memasukkan values di dalam klausul model kerjasamanya, itu kita faham belum ada buktinya. Hutang adalah hutang, jika anda tidak membayar kami ambil yang kami inginkan.

Intoleran

INTOLERAN!!! Tampaknya ada tendensi bahwa label semacam ini jadi lebih ‘mematikan’ daripada ‘kafir’ atau ‘murtad’ atau ‘pendosa besar’... Tak jarang label ini diikuti juga dengan berbagai isu canggih lainnya seperti toleransi (tentu saja), lalu pluralisme, keberagaman (diversity), hak azasi manusia, pemisahan ranah privat dan publik, kebebasan dan berbagai isu keren lainnya.
Saya sering merasa ‘terbakar’ ketika melihat orang-orang yang hanya ingin hidup bersahaja dalam ketaatan menjalankan agamanya itu malah ditantang dan dihantam dengan berbagai pelintiran lidah yang memuntahkan omongan-omongan canggih tersebut dari kalangan yang merasa dirinya toleran lagi terpelajar.
Apakah memang ada jaminan bahwa kalangan yang toleran lagi terpelajar itu memang setoleran klaim mereka? Bagaimana dengan ungkapan ‘bigot’ atau ‘onta Arab’ dan berbagai ejekan lainnya yang diobral dalam percakapan sesamanya, entah saat di kantor, saat nongkrong, atau di media sosial? Bagaimana dengan kebencian yang langsung muncul begitu saja saat melihat orang yang memakai sorban, gamis, berjanggut, bercadar lalu diiringi ucapan-ucapan paranoid? Benarkah ada objektivitas dalam berbagai sentimen dan kenyinyirannya saat mempermasalahkan berbagai sepak terjang politikus atau kalangan yang tak disukainya (baca: ‘dibenci’, tapi saya tak memakai kata ini secara langsung karena maknanya yang intoleran he he he he he...).
Begitu juga dengan isu El Ge Be Te (sengaja ditulis begini biar nggak di-banned oleh FB). Saya sudah berulang kali menjelaskan dalam berbagai tulisan, baik di jurnal maupun artikel koran, dan juga status FB, bahwa Islam itu agama yang resis terhadap sekularisme. Gagasan semacam itu sukar untuk masuk ke kesadaran umat dari agama yang memiliki hukum sedemikian rinci dalam mengatur seluruh kehidupan mereka, dari perkara paling remeh hingga saat ‘berdua’ bersama Tuhannya. Kecuali jika si muslimnya sendiri yang mengenyahkan itu semua lalu memilih hidup sekehendaknya, atau, yang agak lebih canggih, menjadikan Islam sebagai ‘keset’ bagi berbagai wacana teoretik Barat sekular.
Dalam tulisan di Majalah Basis dan juga di Journal of Tasawwuf Studies, saya mengutip penjelasan dari Ibn ‘arabi dan anak angkatnya, Sadruddin Al-Qunawi, ihwal kenapa memperturutkan syahwat dan hawa nafsu itu dosa terutama sekali adalah karena si pelakunya memposisikan dirinya sejajar dengan Allah serta mengambil asma “Iradah” (Maha Berkehendak) milik Allah untuk berbuat semaunya, padahal hanya Allah yang boleh berbuat semaunya, dan manusia adalah hamba yang seharusnya tunduk pada kemauan Tuannya.
Perkara hukum “tak boleh membebaskan hasrat” semacam ini tentu sulit untuk dipahami dalam bingkai sekularisme atau dalam teologi agama-agama yang tak memposisikan hubungan Tuhan sebagai Tuan dan manusia sebagai hamba seketat agama Islam. Maunya sih, Islam di(post)modernkan sesuai standar Barat sekular, yang kebetulan saat ini trendnya sedang mengembalikan hasrat, si anak hilang dalam dunia filsafat, ke kancah wacana humanisme yang tengah mengalami kebuntuan setelah manusia itu sendiri 'dibunuh' oleh kalangan post-strukturalis Prancis.
Kembali ke masalah intoleran tadi, secara pribadi saya sudah sangat sering menyaksikan sendiri secara langsung bahwa klaim “toleran” yang diusung kalangan terpelajar lagi terbuka itu tidaklah seindah yang mereka gaungkan. Nada-nada paranoid, kenyinyiran, kebencian, ejekan merendahkan, arogansi dan sejenisnya tak berhasil disembunyikan secara rapi dalam berbagai perkataan dan tulisannya.
Begitu juga dengan isu El Ge Be Te. Saya adalah seorang bapak dari dua anak, yang sulung perempuan dan si bungsunya lelaki. Saya akan melindungi kedua buah hati tersebut dengan segenap kemampuan dari perusakan orientasi seks semacam itu. Saya akan melawan dengan segenap daya pikir saya, dengan jari jemari saya, dan dengan iman yang Allah pinjamkan ke hati ini. Jika Dia Ta‘ala memang memberi saya kemudahan untuk mengunyah bacaan filosofis teoretik yang ampuh untuk menakut-nakuti kalangan awam agar tunduk dan menerima isu-isu yang mengikis Islam, agama saya, maka semoga Dia pun berkenan memberi saya kekuatan buat memanfaatkan kemampuan itu untuk balik melawan guna menolong agama-Nya.
Sudah berulang kali saya mengalami kejadian nyaris mati, dan mungkin umur saya pun tak akan lama. Semoga tak terlambat bagi saya untuk berbuat sesuatu guna menolong agama-Nya. Karena jika terlambat, maka saya akan menempuh perjalanan sesudah kematian dalam keadaan tak tertolong lagi. Perkara besar ini membuat label “intoleran” yang ditempelkan kepada saya sama sekali bukan sesuatu yang menakutkan.

Saturday, October 6, 2018

Petunjuk

Wahai manusia! Kalian memiliki petunjuk, maka ikutilah petunjuk-petunjuk kalian. Dan kalian memiliki batas, maka capailah batas-batas kalian.
Sesungguhnya orang mu'min itu berada di antara dua ketakutan, yakni di antara batas waktu yang telah berlalu yang ia tidak tahu apa yang telah Allah lakukan padanya dan batas waktu tersisa yang ia tidak tahu apa yang akan Allah putuskan baginya.
Hendaklah seorang hamba mengambil kemaslahatan untuk dirinya sendiri, mengambil dunianya untuk akhiratnya, mengambil masa mudanya sebelum tiba masa tuanya, dan mengambil kesempatan hidupnya sebelum kematiannya tiba.
Demi jiwa Muhammad yang ada di dalam genggaman Tangan-Nya, sungguh setelah kematian tidak ada lagi kesempatan untuk meminta kerelaan, dan tidak ada setelah dunia ini negeri selain surga dan neraka ...
- Rasulullah Muhammad saw -

Saturday, August 11, 2018

Nasehat Yang Baik dan Betoel di Pilpres 2019

Sebagaimana ajaran hikmah maka saiya akan memberikan nasehat yang baik dan betoel kepada rekan pemirsa pendukung #2019GantiPresiden. Bagi pendukung #2019DuaPeriode nasehatnya besok lagi.
1) Jadi bagi kalian para pendukung geraan #2019GantiPresiden, hendaknya mereka terpumpun (fokus) saja pada isu ganti presiden.
Jangan mau tertipu untuk menghabiskan amunisi menyerang cawapres. Tokh target utamanya ganti presiden bukan ganti wapres.
2) Percayalah, pilihan Ma'ruf Amien adalah jalan tengah bagi mandegnya pembahasan antara Elit Relawan versus Elit Partai. Ini bukan soal ulama atau kesolehan. This is about money. Relawan di periode ini cukup nyaman dengan menjadi komisaris atau direksi perusahaan nagari. Tetapi elit partai tidak terlalu beruntung.
Naiknya Mahfud MD bagi Relawan Jokowi jauh lebih aman tetapi ia ancaman bagi kepentingan elit partai.
Jokowi ada pada satu titik dimana ia harus menyingkirkan Mahfud yang sudah pede menjadi cawapres. Jika tidak beberapa -partai sore kemaren- akan menarik dukungan.
Maruf Amin adalah the best alternative choice, pilihan alternatif dari kondisi terburuk bagi kelompok pendukung Jokowi. Jadi MA adalah produk dari sebuah krisis
3) Anda pendukung #2019GantiPresiden harus mengambil pelajaran besar pada kasus Mahfud MD dan belajar tentang nilai followershipness (Kepengikutan dan Kesetiaan) dari Prabowo.
Pada pilpres 2014, Prabowo memuliakan Mahfud MD yang dulu disingkirkan dari pentas politik sebagai sebagai Ketua Tim Nas Pemenangan Prabowo-Hatta.
Mahfud mengkhianati penghargaan tadi dengan bersilat lidah dan menimbangnya secara pragmatis saja. Ia berpikir dengan menyeberang akan memberikan padanya peluang.
Pada pilpres 2019 ini, tepat tiga puluh menit menjelang dipastikan dan dengan keyakinan mendalam, Mahfud ditendang tanpa reserve. Ia langsung hilang dari pembicaraan, berikut harga diri dan kebanggaan-kebanggaan lainnya. Rupanya setelah diangkat dan dikipas-kipas, ia betul-betul dibanting kena dikibulin.
4) Anda harus bangga pada pilihan Anda. Prabowo adalah orang yang mau tidak mau harus kita angkat topi memberikan penghormatan.
Ia seorang pemimpin dengan corak perkader yang matang. Kita ingat bagaimana ia menerima dan mendorong Anies Baswedan ke posisi elit sebagai seorang Gubernur sebuah Daerah Khusus bersama Sandi Uno. Posisi setingkat Menteri dengan anggaran lebih kurang 70 Trilyun dan ratusan program siap di implementasikan maka Anies memiliki peluang terbesar maju di pilpres 2024. Ia akan menjadi bahan pemberitaan lima tahun ke depan.
Dulunya ,pada 2014 Anies adalah jubir Jokowi-JK yang pandai memproduksi kata-kata untuk menyerang sisi pribadi Prabowo. Prabowo dikuliti dari persoalan rumah tangga sampai karir yang sial.
Tetapi setelah Anies dicampakkan dari posisi Mendikbud, oleh Jokowi setelah sebelumnya ia mengorbankan integritas keilmuannya sebagai jubir Jokowi, maka Prabowo juga yang mengantarnya kembali kepada posisinya sekarang.
Anda para pendukung #2019GantiPresiden, ada di satu pilihan yang dibenarkan akal sehat, nalar, dan budi pekerti.

Friday, August 10, 2018

Law Kana Bainana

Wahai Tuhanku, kami telah lalai lupa,
Namun setiap orang daripada kami tetap harapkan,
Keampunan-Mu, dan sifat pemurah-Mu dan
kebebasan daripada neraka-Mu,
Dan juga kami harapkan syurga, 
yang dimasuki bersama-sama penghulu seluruh manusia.
Kami mohon pada-Mu...
Mohon dengan sangat, wahai Tuhanku,
Dari sudut hati kami yang paling dalam...
Kalaulah Kekasih-Mu,
masih berada bersama-sama kami,
Akan terlunaslah segala hutang
dan semakin hampirlah dengan haruman Baginda,
sebelum hilangnya,rasa yang meronta-ronta
untuk berada hampir dengan Kekasih-Mu.
Berada berhampiran Baginda, jiwa turut menjadi harum
Dan apa jua yang kalian doakan kepada Allah, akan diperkenankan,
Cahaya Nabi Muhammad tidak akan pernah sirna,
Sempatkanlah kami bertemu dengan Baginda,
Wahai Tuhan yang Maha Memperkenankan doa hamba...
Hidayahmu kepada alam merata meluas,
Tanda hampirnya kasih sayang Tuhan pemberi hidayah,
Hadith-hadithmu ibarat sungai mengalir jernih,
Berada di sisimu bagaikan dahan yang tumbuh segar dan basah.
Kutebus diriku dengan dirimu, wahai Kekasihku,
Nabi Muhammad yang mulia, yang asing,
Berada berhampiranmu, jiwa menjadi harum,
Wahai yang diutuskan sebagai tanda kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam....
Wahai Kekasihku, wahai Nabi Muhammad
Wahai doktor hatiku, wahai yang dipuji dipuja
Dirimu memiliki kelebihan yang diakui
Oleh Tuhan yang turut berselawat ke atasmu.