Sunday, May 17, 2020

Akuntansi Perusahaan Berbasis Teknologi

Seri Kuliah "Akuntansi Biaya dan Finansial di Perusahaan Berbasis Teknologi Tinggi" oleh Firman Ardiansyah, Alumni Farmasi ITB 98 dan Magister Manajemen Keuangan Universitas Indonesia, Sekarang konsultan di Business Sweden (The Swedish Trade & Invest Council).
Silabus kuliah:
1. Pengantar https://youtu.be/RToWBdih-os
2. Perbedaan Financial Accounting dan Managerial Accounting https://youtu.be/T3OK0ptagxo
3. Strategi perusahaan dan penggolongan biaya https://youtu.be/E05ndPxt9tU
4. Aplikasi pemahaman biaya dalam bisnis https://youtu.be/yhmvLxWgvEg
5. Hubungan antara jenis-jenis biaya https://youtu.be/KMnVEqX-yAk
6. Akuntansi keuangan https://youtu.be/Z9VstbL86-w
7. Aplikasi penerapan analisis laporan keuangan https://youtu.be/uzWWfSgBjs8
8. Studi Kasus https://youtu.be/IEXv-97yUpY
Hatur nuhun Firman Ardiansyah, mudah-mudahan bermanfaat dan barokah sharing ilmu dan pengalamannya 🙏😊
yoberbagi.id
Liberating Knowledge
Ilmu untuk Semua

Sunday, May 10, 2020

New World Leading Currency: China on the way

New World Leading Currency: China on the way
Tadi malam pemerintah Cina mengeluarkan pernyataan resmi akan menggunakan sistem tukar mata uang digital yang dijamin Yuan dan Emas. Singkatnya Cina tidak akan memprioritaskan mata uang dollar dalam sistem pembayaran global mereka. Ini mengkhawatirkan banyak orang.
Bagi sebagian orang di dunia ini sangat mengejutkan, tetapi tidak bagi saiyah. Ini karena kita melihat bagaimana Cina show-off penangangan korona dengan luar biasa sebagaimana pernah kita tuliskan.
Pertama mereka membangun rumah sakit pasien korona dalam waktu singkat menunjukkan betapa super powernya Cina dalam dunia infrastruktur. Ini tentu tidak mengherankan, mereka sudah membangun Tembok Besar dan IstanaTerlarang seluas kota sejak ribuan tahun lalu. Bila sekedar rumah sakit untuk 1000 orang tentu mudah saja.
Kedua, mereka menetapkan batas bawah dari krisis untuk segera rebound dan mengambil kepemimpinan bangkit pasca korona. Cina yang baru saja dilanda wabah berbalik menjadi negara penghasil alat-alat kesehatan dan pengirim duta kesehatan ke seluruh pelosok dunia. Mereka sedang menunjukkan superioritas di sektor kesehatan dan bagaimana pulih untuk mengambil kesempatan pasca krisis.
Pada saat mereka bangkit, eropa dan AS baru menghadapi serangan dan sepertinya mereka gagal membendung korban dan menyentuh angka satu juta kasus di AS saja.
Ketiga, Cina memamerkan bagaimana sistem 5G dalam kontroversi masalah kerahasian publik, transparansi, dan keamanan lainnya membentuktikan sebagai satu sistem ICT yang revolusioner.
Melalui pemindaian integral seluruh kota Wuhan, mereka dapat mengindentifikasi mana warga yang memerlukan pemeriksaan dan bagaimana melacak hubungan-hubungan sosial fisikal mereka sebelum terinfeksi virus covid19. Tetapi itu hal kecilnya, sistem ini mendapatkan panggungnya dalam masa lockdwon dengan menjadi platform sistem pemesanan dan penjualan online, pengiriman online pembayaran non tunai (cashless payment), serta konten-konten lain seperti hiburan dan pendidikan bagi lebih satu milyar warga mereka. Cina berhasil menciptakan ekosistem local dan global bagi 5G sementara eropa dan AS masih berkutat di persoalan hak paten dalam platform 4G.
Saiya hanya mengulang saja pengamatan ini, tetapi krisis ini telah memberikan kedaulatan dan rasa percaya diri yang kuat bagi Cina dan masyarakatnya.
Mereka telah memperingati AS tentang resiko korona dan meminta Trumps untuk mengendurkan perang tarif atas nama prioritas kemanusiaan. AS menggerakkan Eropa dan negara-negara lain untuk "blame it on China" untuk membayar kerugian akibat corona. AS bermaksud menjegal Cina dengan isu anti-sino.
Langkah Cina mengeluarkan digital currency berbasis Yuan dan Emas sebenarnya adalah tit for tat dari kebijakan AS. Pada dasarnya orang Cina adalah trader, mereka sebisa mungkin menghindari konflik bila setiap pihak bisa memperoleh keuntungan. langkah mereka kali ini akan menarik AS ke arah defisit karena hilangnya kepercayaan pada ekonomi AS. Cina faham bahwa administrasi di Washington akan menghindari negosiasi dan selalu akan membuat penyangkalan.
Tinggal kita yang sibuk mencari tas sembako akan menjadi pelanduk.

Proven Smart

Proven Smart
Setiap orang yang ditanya perihal sesuatu yang terkait dengan kepentingan umum mesti memberikan dua temuan:
Bila saiya bertanya apakah sebaiknya demi kepentingan umum maka dunia ini tetap dikondisikan dalam situasi isolasi atau lockdown karena dampak positifnya terhadap kualitas lingkungan. Alasannya virus Covid 19 telah membuat kehidupan dunia menjadi lebih santai, lapisan ozon mulai pulih, udara bersih, alam terkembang, orang lebih perduli dengan kebersihan, dan kualitas hubungan keluarga pun menjadi lebih baik. Tidak dibutuhkan seorang Al Gore dan ribuan trilyun dana SDGs untuk mendapatkan dunia yang pro lingkungan dan kehidupan berkelanjutan.
Tentu tidak semua orang akan menerima pendapat ini sebagai sebuah kebenaran. Bukan karena pernyataan yang saiya berikan itu keliru tetapi ada satu kondisi dimana setiap orang dalam komunitas yang kita sebut masyarakat umum (publik) tidak menemukan kepentingan (interest) mereka di pernyataan itu. Misalnya bagi para pekerja sektor informal atau manufaktur maka kondisi ini benar-benar pukulan bagi mereka. Ada jutaan orang kehilangan mata pencarian dan terancam jatuh di jurang kemiskinan.
Sementara yang setuju terhadap pernyataan di atas pun akan terbagi menjadi dua. Mereka yang memang setuju dan mendukungnya, atau mereka yang setuju tetapi tidak dapat mendukungnya.
Sehingga bila kita buatkan definisi tentang kepentingan umum tadi sebenarnya adalah sesuatu yang sempit saja. Yang hanya menjadi okupansi (garapan) dan isu-isu dari pihak yang melontarkannya. Hanya karena saiya menganggap bahwa isu ini penting bagi saya secara individu maupun kelompok -meskipun di dalam kelompok tadi pun tidak semua berkeinginan serupa- maka perlulah ia didorong dengan label kepentingan umum.
Hanya saja secara seleksi dan juga mental isu kepentingan umum menjadi tidak terdistribusi secara penuh karena barangkali tidak semua mau membayar biaya yang dikeluarkan untuk itu. Para pengusaha manufaktur barangkali setuju dengan pendapat saiya tetapi mereka tentu sungkan untuk mengambil konsekeunsi dari berhentinya kegiatan pabrik. Bila karena korona saja mereka sudah merugi bagaimana jika ini dijadikan sebagai "a new normal"?.
Jadi apa yang saya maksud dengan kepentingan umum atau publik itu bagi satu kelompok lain akan menjadi kepentingan pribadi atau private juga. Sehingga menjadi sangat tergantung bagaimana dan oleh siapa isu ini dikonseptualisasikan dan dimainkan di ranah publik.
Lalu apa hubungan tulisan di atas dengan judul dan gambar Najwa Shihab dengan buku-buku? Tentu saja tidak ada dan hubungan mereka bersifat arbriter saja.
Hanya saja ketika saiya mendapatkan foto Najwa di bawah ini dengan hamparan buku-buku, lapto tertutup, dan tulisan besar entah apa saiya pun melihat hubungan-hubungan yang sama sekali tidak terjadi dengan benar. Ini mirip kisah kasih cinta Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih. Si Siti tetap tidak dapat menerima nasibnya dimadu pria tua, meskipun si pria telah memberikan resolusi finansial bagi keluarga besarnya.
Saiya heran mengapa judul buku-buku itu seperti disusun secara rapi menghadap pemirsa. Seolah-olah itu merupakan satu kesalahan yang terencana.

Harga Anjlog, Ati Ambyaar

Harga Anjlog, Ati Ambyaar
Ini salah satu bagian yang saiya sukai sejak lama, jalan-jalan malam hari melihat pasar segar ikan dan sayur mayur dimana saja. Selain tentunya mendengarkan obrolan ibu-ibu di warung sayur dadakan milik Enjul di ujung jalan.
Hari ini harga cabai dan bawang bombay turun di pasar induk Kramat Jati. Si gadis penjualnya bertanya lepas berapa kwintal yang akan saya ambil. Ia menyebut angka 6, 7, 8, 9 ribu per kilo tergantung berapa banyak kita ambil. Semua jenis cabai turun harga dan dia tidak faham kenapa harga di bulan ramadhan dan di tengah pandemi korona ini bisa murah.
"Biasanya Ramdhan, pedagang tahan harga pak, apalagi ini kan dua minggu lagi lebaran." Ia berkata
"Ya" Jawab saiya
Sementara di Kramat Jati Cililitan, Ibu penjual ayam menyebut harga ayam murah sekali.
"Ayam segar loh pak, bukan bekuan."
Hal ini dapat saya fahami. Korona membuat mall dan toko-toko tutup, pasokan daging segar untuk industri menurun dan daging mesti dilempar ke pasar basah. Sekarang mudah dilihat di youtube dan sosmed lainnya. Pengusaha penggemukan ayam membagi-bagi ayam secara gratis kepada warga.
"Harga telor di Entin, 18 ribu. Kemaren 17 ribu. Dari biasa di depan 24 ribu per kilo."
Nyonyah Seno melaporkan kepada majlis subuh warung sayur Enjul. Nyonyah Dewi, kader Partai Demokrasi Perjuangan yang sedari tadi duduk menyimak menjelaskan.
"Yang beli telor sekarang siapa? Noh, pabrik kue aja pegawainya disuruh pulang kampung."
Ia berkata dan diiyakan majelis emak-emak.
"Iye, kagak ada yang bikin nastar. Tukang kue di pasar juga ga banyak yang belanja."
"Engga, harga ayam daging murah jadi telor sekarang ga ditetesin jadi anak ayam. Semua telor COD sekarang ikut-ikutan dijual ke pasar telor."
Saiya mencoba mengilmiahkan, yang dijawab emak-emak dengan iya-iya saja.
Si Enjul ini biasanya mengedarkan gerobak sayurnya ke jalan dan gang-gang. Pascalokdon, ibu-ibu memutuskan berbelanja di gerobaknya daripada ke pasar. Antusiasme emak-emak untuk mendapatkan sayur terbaik membuatnya tidak perlu lagi menjalankan gerobaknya. Pesanan datang baik via Whatapps atau omongan langsung.
Pada situasi seperti itu dia berkata:
"Kira-kira kalau saya ambil kontrakan bu RW yang didepat buat bikin warung sayur permanen bagaimana menurut pak Andi?"
Ia berkata ketika majelis subuh tadi mulai sirna dan akan berganti dengan majelis pagi yang biasanya akan membeli kekurangan saja. Sambil membagi pesanan dalam beberapa plastik ia meninjau jawaban saiya.
"Tunggu saja sampai Juni, mungkin ibu-ibu belanja begini karena malas ke pasar. Gak tau nanti kalau normal, apa masih begini atau gerak lagi."
"Iya, ya pak. Saya juga ragu-ragu mikir ke sana. Ini dari tadi ngomongin ayam murah, daging murah, cabe murah, segala telor murah. Tapi ya belanjanya segitu-gitu aja. Seledri aja minta, ati ku ambyaar."
Saya tersenyum saja. Sebentar lagi dia akan mengkritik pemerintah kenapa tidak membeli semua daging dan cabe hasil panen petani. Ya, kapan lagi selain di majelis emak-emak orang membicarakan dapur dan cita-cita.

Hidup Berdampingan Dengan Korona?

Hidup Berdampingan Dengan Korona?
Antara gagal mengatasi atau Mencari Batas Bawah
0.1
Jokowi mengatakan apapun caranya wabah korona harus selesai satu dua bulan ke depan. Ia menambahkan bahwa kita harus mulai hidup berdampingan dengan Korona.
Soal inkonsistensi antara pikiran dan perbuatan dalam menjalankan urusan pemerintahan hari ini adalah sesuatu yang harus kita terima sebagai konsekuensi demokrasi pra-bayar hari ini.
Setelah publik diajak kepada wacana perdebatan mulai dari terminologi korona sebagai pandemi global, bencana nasional, atau wabah biasa maka publik dibawa kepada perdebatan apakah lebih efektif lockdown versus self-isolasi, dan social distancing versus physical distancing. Meskipun demikian setelah menghabiskan waktu dan energi besar serta lebih dari 60 peraturan perundang-undangannya turunannya kita kemudian mendapatkan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Yang sama sekali tidak memiliki rujukannya dan berakhir kembali kepada perdebatan apakah itu tugas pemerintah pusat atau daerah. Tidak ketinggalan pula perdebatan antar menteri yang kini mempersoalkan mana yang dilarang: pulang kampung atau mudik.
Lalu setelah korban terus berjatuhan dan masyarakat yang dipaksa untuk bekerja di rumah mulai gelisah karena alasan ekonomi, maka dengan mudah saja predisen berkata;
"...sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan covid19 untuk beberapa waktu ke depan."
0.2
Baiklah sejak awal kita tidak tertarik dengan sirkus kebijakan publik seperti ini. Kita memahami bila pemerintah kita memang tidak mempunyai kompetensi cukup menghadapi virus yang mengerikan ini. Hanya saja bila ketidakmampuan ini dimunculkan sejak awal tentu tidak perlu menunggu sampai terjadi spekulasi harga masker, langkanya alkes dan vitamin C, melambungnya harga APD, tewasnya puluhan tenaga medis, dan ribuan korban jiwa lainnya.
Biarkan saja. Tokh masyarakat dan pasar alat kesehatan menyesuaikan diri dengan caranya masing-masing. Buktinya tanpa keterlibatan pemerintah harga masker kembali normal, obat-obatan kembali ke harga pasarnya. Bahkan sekarang setiap RT, RW di Jakarta membagikan masker buatan rumah secara gratis tanpa sepeser pun membayar. Begitu juga himbauan untuk merenggangkan PSBB yang nantinya masyarakat akan bergerak sendiri mencari penghidupan. Pilihannya bagi masyarakat sederhana saja, lebih baik mati mencari nafkah kena korona daripada kelaparan menunggu korona.
0.3
Jadi apa reasoning (penalaran) pemerintah yang mencoba menetapkan puncak penyebaran korona bulandepan dan hidup berdampingan dengan covid 19 dalam pidato yang diunduh biro Humas Setneg itu?
Tidak lain dan tidak bukan adalah, pertama pemerintah gagal dan melempar handuk putih untuk bagaimana cara efektif efisien dalam mengatasi wabah korona. Mereka tentu tidak merasa punya malu membandingkan dengan pemerintah Philipina, Vietnam, Thailand, dan Singapura yang jelas model penanganan dan capaian dari kebijakan yang diterapkan. Mereka berani berkata telah menang satu kosong melawan corona.
Kedua, dan ini yang paling penting adalah pemerintah pada akhirnya akan jatuh kepada kondisi berdarah-darah dari segi anggaran dan keuangan karena gagal menetapkan batas bawah dari krisis korona. Batas bawah (bottom of crisis) ini adalah titik dasar dimana nantinya pemerintah dapat mengambil kebijakan rebound. Mundurnya prediksi titik puncak penyebaran ini berkonsekuensi dari semakin apa yang kita sebut sebagai prolongasi krisis yang mesti melemahkan perekonomian negara dan masyarakat.
Bila kita melihat apa yang dilakukan Cina, Vietnam, dan Singapura masing-masing langsung menetapkan batas bawah dari krisis. Korea dan Jepang mencontoh apa yang dikerjakan Vietnam yang mengunci pasien zero dan wilayah paling kecil (desa) untuk menghindari penyebaran. Mereka memperbaharuinya sesuai kondisi masyarakat dengan menjalankan prosedur rapid test langsung turun ke masyarakat tanpa menunggu adanya keluhan pasien ke rumah sakit.
Baik Korea dan Jepang menyadari sebagai salah satu motor ekonomi dunia, perpanjangan krisis akan merusak posisi mereka sebagai leaders.
Cina malah lebih ekstrim lagi menetapkan batas bawah. Mereka membuat rumah sakit dan memobilisasi tenaga medis seluruh negeri untuk skenario terburuk, yaitu 10.000 pasien dalam satu hari. Satu rumah sakit dibuat khusus di kota Wuhan untuk menampung hingga 1000 korban kondisi darurat dan puluhan stadion untuk pasien kondisi menengah dan ringan. Artinya usaha meratakan kurva dikerjakan dengan sangat-sangat serius. Hasilnya dalam dua bulan, kota Wuhan dan kota-kota di Cina dinyatakan normal.
Sementara pada kasus kita, batas bawah itu sama sekali tidak pernah dibuat peta jalannya. Sejak awal publik hanya melihat menteri-menteri yang berguyon tentang korona, lalu perdebatan terminologi, kemudian sengketa kewenangan antara pusat versus daerah, belum lagi pernik-pernik staf khusus yang menang tender tutorial sampai 5,6 Trilyun.
Sekarang batas bawah itu mesti ditetapkan juga setelah perdebatan antara boleh tidak mudik atau pulkan dan berkumpul. Kita bisa hidup damai dengan Covid 19 kata Presiden. Jika ini benar tentu ia mesti diusulkan mendapat hadiah nobel perdamaian dunia.

Friday, April 24, 2020

Amalan Super

Amalan super ada 3:  
1. Memaafkan Memaafkan orang2 yg berbuat dzalim terhadap kita dan serahkan pada Allah (ambil hikmah mengapa orang mendzalimi kita, merasa bahwa mungkin saja ini sebagai bentuk balasan kedzaliman kita terhadap Allah yg tidak kita sadari, sehingga kita sadar itu sebagai bentuk penggugur dosa kita, sebagai pengingat kita untuk tidak berbuat dzalim terhadap orang lain)  
2. Bersabar Tingkatan sabar - Sabar dalam taat (cnth: sabar dalam menuntut ilmu jadi ilmu paling tinggi adalah ilmu mendengarkan) -Sabar dalam mencegah dosa -Sabar dalam ujian (tingkatan yg paling rendah) Hikmah dalam menggembala kambing yaitu tentang kesabaran, jadi yg ingin melatih kesabaran bisa untuk menggembala kambing (canda Ustadz, ehehehh) 
 3. Puasa Puasa yang diterima oleh Allah, maka kelak Allah lah yg akan memberi langsung pahala tersebut. Sedangkan pahala solat, sedekah, umrah, haji akan menjadi pengganti untuk membayar kedzoliman yg kita lakukan, sedangkan puasa yg diterima pahalanya terjaga dan tidak akan dijadikan sebagai pengganti kedzoliman (dosa).

Thursday, April 16, 2020

Tuhan memang bisa sekehendak hati

Aku tahu Tuhan memang bisa sekehendak hati. Ia Maha dengan Segalanya Segala. Bebas tanpa kungkungan definisi. Begitu diikat pada satu makna, lepaslah lagi dari ketepatan memahami. Maka berpura-pura bego adalah jalan satu-satunya memahami Tuhan, buatku.
Termasuk ketika memposisikan seseorang atau sekelompok orang di tingginya tinggi. Bak burung rajawail atau aneka hewan bermigrasi lintas benua. Tembus apa saja, cueki sesukanya, asal sampai tujuan. Mereka memisahkan diri dari realitas yang tak berkaitan diri secara langsung. Betul-betul samikna wa atokna pada kebutuhan.
Barangkali Firaun begitu juga di pucuk pimpinannya. Penguasa benua Hitam, pemegang kunci pengetahuan dan teknologi, bahkan teologi. Wajar jika Ramses II bersikap bosan dan memproklamirkan diri sebagai tuhan. Meski kebijakan itu bukan dia yang memulai. Ribuan tahun sebelumnya sudah ada leluhurnya yang senyeleneh itu.
Bayangkan saja, sisi kemanusiaan macam apa yang menghalalkan pembantaian jutaan bayi laki-laki? Kalau bukan karena si Ramses beriman pada takwil mimpinya, tak mungkin kebijakan biadab itu terlaksana. Apalagi kala itu malah sebenarnya klan Firaun masih minoritas dibanding keturunan Nabi Yusuf yang sudah menembus angka jutaan nyawa, menurut Kitab Perjanjian Lama.
Bikin gegerlah si Ramses berhubung kawan seperguruannya, Musa, enggan ikut menikmati kekuasaan. Aneka klaim dan bukti nyata dia lakukan. Semata hanya agar bisa adu pendapat dengan Musa, sosok yang oleh ayah si Ramses dianggap lebih bijaksana jadi seorang raja dibanding anak kandungnya. Untung saja Gusti Allah yang Maha Bebas itu membuat skenario nana-nini hingga akhirnya jiwa homo homini lupusnya terpanggil. Belasan tahun sejak ia hidup di ala anak punk.
Kebetulan juga lakon si Musa bisa dibilang paling suka nego. Bahkan pada Tuhan pun di bukit Tursina. Kelak, mungkin saja solat yang dibebankan pada Nabi Muhammad dapat kortingan berkat bisikan si Musa. Konon lho ya, konon. Tapi toh meski sudah move on, pria yang sekali gampar bisa bikin orang mati itu tetap kembali ke tanah ia dibesarkan.
Daripada mbulet kepanjangan, sebab ini obrolan ngopi, dipotong saja. Intinya, si Firaun bisa bosen di kursi kuasanya karena nikmat mencecap "jenak" sudah dicabut oleh Gusti Allah. Kemampuan merasakan ketenteraman itu dihilangkan, maka percuma saja jungkir balik dengan logika dan kimiawi. Sebuah fase yang mengerikan. Seekor garuda terbang di angkasa tanpa kawan, ia bisa melihat ke semesta, bisa jadi apa saja, tapi ia hanya terbang saja.
Katak di bawah ingin terbang, garuda bosan pada segala yang dipuja dunia. Naasnya, hatinya pun sudah kebas dari ketakjuban. Ia menunggu momen diperjalankan yang barangkali tetes air mata tertampung olehnya.