Wednesday, December 13, 2017

Ikhwan

Majelis pertemuan itu diliputi keheningan. Semua yang hadir diam membisu. Mereka tampak sedang memikirkan sesuatu. Terlebih Abu Bakar. Itulah pertama kalinya dia mendengar orang yang sangat dikasihinya mengucapkan hal tersebut. Seulas senyuman terukir di bibirnya. Wajahnya yang tenang berubah roman: “Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Abu Bakar melepaskan kecamuk berbagai pertanyaan di kepalanya.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kalian semua adalah sahabat-sahabatku, tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," jawab Rasulullah.
“Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” timpal sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Rasulullah berkata:
"Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman kepadaku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orangtua mereka."
Pada kesempatan lain, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ikhwan beliau: “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah saw.
“Malaikat,” jawab sahabat.
“Bagaimana para malaikat tidak akan beriman kepada Allah, sedangkan mereka senantiasa bersama Allah," jelas Rasulullah. Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”
“Bagaimana para nabi tidak akan beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”
“Mungkin kami,” timpal seorang sahabat.
“Bagaimana kamu tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengahmu,” tandas Rasulullah menjawab perkataan sahabatnya itu.
“Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lainnya.
“Inginkah kalian tahu siapa gerangan mereka? Mereka ialah umatku yang hidup jauh sesudah masaku. Mereka membaca Al-Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman kepadaku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman kepadaku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.
"Aku sungguh sangat rindu ingin bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah sesaat membisu. Alfathri

Tanda Kebenaran

"Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa dikenali dari individu-individunya, tetapi akan bisa dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui siapa saja yang mengikuti kebenaran."
(Ali bin Abi Thalib ra)
________________________________
"Kebenaran tidak diukur berdasarkan rijal (figur), pelajarilah kebenaran itu, niscaya engkau akan tahu siapa sejatinya pemanggul kebenaran."
(Ali bin Abi Thalib ra)
________________________________
Orang-orang yang bodoh salah mengambil uang logam palsu karena tampak seperti asli.
Bila di dunia tidak ada mata uang logam asli yang sah, bagaimana para pemalsu dapat mengedarkan uang palsu.
Kepalsuan tidak ada artinya jika tak ada kebenaran, yang membuatnya sedap dipandang.
Adalah cinta kebenaran yang memikat manusia ’tuk berbuat salah.
Biarkan racun dicampur gula, mereka akan menjejalkannya ke dalam mulutnya.
Oh, janganlah berteriak bahwa seluruh syahadat adalah sia-sia!
Berbagai aroma, sedikit saja bau kebenaran mereka miliki, selanjutnya mereka takkan terpedaya.
Jangan berseru, ”Alangkah sangat fantastis!”
Di dunia ini tiada khayalan yang sama sekali tak benar
Di tengah-tengah kerumunan Darwis, tersembunyilah seorang fakir sejati.
Carilah dengan teliti dan engkau akan menemukannya!
(Maulana Jalaluddin Rumi)
________________________________
Di dunia ini tiada keburukan yang mutlak: keburukan itu nisbi. Sadarilah kenyataan ini.
Di dunia Waktu sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang lainnya.
Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi lainnya merupakan belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi lainnya merupakan manis dan bermanfaat laksana gula.
Bisa ular merupakan kehidupan bagi ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi binatang laut, namun bagi makhluk daratan merupakan luka yang mematikan.
Zayd, meski orangnya sama, bisa jadi setan bagi seseorang dan menjadi Malaikat bagi lainnya:
Bila engkau ingin ia baik padamu, maka pandanglah ia dengan pandangan seorang pencinta.
Janganlah kau pandang Yang Maha Indah dengan matamu sendiri: melihat Yang Dicari itu dengan mata sang pencari.
Sebaliknya, pinjamlah pandangan dari Dia: pandanglah wajah-Nya dengan mata-Nya.
Tuhan berfirman, ”Barangsiapa telah menjadi milik-Ku, Aku menjadi miliknya: Aku adalah matanya, tangannya dan hatinya.”
Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu pada Sang Kekasihmu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Meminta Kepada Allah

Sesungguhnya banyak meminta kepada Allah itu adalah sebentuk kebersyukuran dan bisa mencegah kita dari berkeluh kesah; sedangkan tidak meminta itu adalah sebentuk kesombongan kepada Allah. Setiap insan memiliki masalah, dan yang Allah lihat adalah cara kita menghadapi masalah tersebut. Misalnya, Allah mengizinkan dalam suatu saat kita jatuh sakit, itu agar kita memohon meminta kesembuhan kepada Allah.
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah." (QS At-Taghabun [64]: 11)
Begitulah, semua perkara yang kita hadapi dalam keseharian intinya adalah agar kita meminta kepada Allah. Hendaknya dalam setiap hal kita biasakan memohon kepada Allah, bahkan ide; memohon bimbingan dalam semua hal, karena nanti kita akan dimintai pertanggungjawabannya atas semua hal. Ketahuilah, semua masalah yang kita terima kita sebagai hamba Allah, pastilah dikadar dan ada tujuannya. Dan itu dikatakan berhasil, jika kita mengembalikan semua urusan kepada Allah; itulah dzikir yang sesungguhnya.
Berserah diri adalah berkerja keras untuk memahami kehendak-Nya. Pasrah kepada Allah berarti berserah kepada kehendak-Nya. Nah, yang tidak mudah itu adalah memahami tentang kehendak-Nya; belum lagi terkait perbuatan yang kita lakukan, apakah sesuai dengan kehendak Allah? Berserah diri itu mengalir kepada kehendak-Nya, berbaring pada kehendak-Nya, "sabbaha", bertasbih, berkerja keras untuk memahami kehendak-Nya.
Setiap musibah yang menimpa itu pasti atas izin Allah--jika Allah menghendaki itu terjadi maka ada sebuah perkara besar di baliknya karena setiap manusia berada dalam rancangan Allah Ta'ala. Sesungguhnya kehidupan akan menjadi "megah", jika kita memahami karsa Allah yang menciptakan keadaan. Bukanlah berserah diri itu hanya nrimo tapi hati mengeluh. Itu hanyalah pasrah kepada keadaan; tidak berdaya, itu hanya sebentuk keputusasaan. Semestinya seorang yang beriman itu senantiasa bergembira dalam setiap kondisi karena dia melihat karsa Allah di setiap keadaan. Sesungguhnya yang membuat seseorang menjadi mulia adalah daya perenungannya dalam kehidupan yang dijalani; sebuah kesadaran dalam memahami kehidupan; "daya kunyah"-nya atas semua yang hadir dalam kehidupan ini, baik susah mau pun senang.
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu" (QS Al-Hadiid [57]: 23)
Berserah diri adalah berkerja keras memahami kehendak-Nya; sebuah kesibukan pribadi mencari apa yang Allah kehendaki, hingga kemudian menyelaraskan kehendak pribadi dengan kehendak Allah. Berserah diri itu senantiasa mendudukkan Allah Ta'ala sebagai hal yang "terpenting" di atas segalanya. Sungguh, kehebatan seorang manusia yang beriman adalah mengikatkan antara realitas yang sepertinya sederhana dalam kehidupan keseharian agar senantiasa terkait dengan hal yang tertinggi; hal yang jauh (alam malakut, jabarut, yaumul akhir dlsb). Itulah sebuah kemegahan alam pikiran; suatu cahaya yang memancar di kepalanya; cahaya yang menunjukkan daya renung orang tersebut. Ahwal orang yang beriman adalah menyibukkan diri dengan Allah, membaca kehidupan yang fisik sedari hal yang kecil namun senantiasa biasa melihat karsa Allah dalam setiap hal; senantiasa bolak-balik antara Allah dengan kehidupannya; senantiasa mengharapkan bimbingan Allah dalam kehidupannya.
Adalah tidak mudah untuk memahami karsa Allah Ta'ala. Concern utama seorang yang beriman adalah "perasaan Tuhan"; senantiasa membaca, mencari; seminimalnya menebak apa yang menjadi kehendak-Nya. Kita semua memiliki kesempatan yang sama, yaitu kehidupan ini, yang kita jalani di alam dunia, siapa pun itu; entah nabi, rasul, wali atau kita; hanya bedanya, para nabi dan orang beriman itu memiliki kecerdikan dalam menyikapi kehidupan. Seperti saya katakan tadi, concern orang beriman adalah "perasaan Tuhan"; senantiasa "bergumul" dengan Dia; membangun relasi dengan Yang Maha Tinggi, yang menjadi jalan syafaat baik di alam dunia ini dan juga untuk alam-alam berikutnya.
Kebanyakan para penghuni di alam barzakh itu seperti orang yang tenggelam di lautan. Karena itu berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Jangan takut dengan kematian; yang ditakuti adalah bagaimana kita menjalani sebuah keberadaan setelah kematian. Karena itu, yang harus benar-benar dibangun adalah relasi dengan Yang Maha Tinggi mulai sedari di alam dunia ini, karena baik di dunia maupun di barzakh dan yaumil akhir toh Tuhannya masih Tuhan yang sama.
Ibn ‘Umair berkata, “Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah Saw.”
Maka ‘Aisyah menangis, lalu berkata, “Setiap ihwalnya menakjubkan. Pada malam giliranku, ia datang kepadaku sehingga kulitnya menyentuh kulitku. Beliau berkata, ‘Biarkan aku shalat kepada Tuhanku.’
Maka beliau pergi ke tempat air, lalu berwudhu. Kemudian beliau shalat. Maka beliau menangis sehingga basah janggutnya. Kemudian beliau sujud sehingga air matanya membasahi tanah. Selanjutnya beliau berbaring pada salah satu sisinya hingga datang Bilal menyeru shalat subuh.
Maka Bilal bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.’
Beliau menjawab, ‘Bagaimana kamu ini, wahai Bilal, apa yang mencegahku untuk menangis. Sesungguhnya pada malam ini Allah SWT telah menurunkan wahyu, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. (QS Ali Imran [3]: 190)”
Selanjutnya beliau bersabda, ‘Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya.’”
(Sepenggal nasihat dari Mursyid saya di suatu sore, semoga ada gunanya...) alfathri

mengetuk pintu

Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Dan singgahlah ke hatiku cinta kepada-Mu, lalu ia beranjak pergi dengan riang.
Sekali lagi ia datang, tinggal sejenak, lalu bertolak pergi lagi.
Dengan sopan aku mengundangnya tinggal: "sebentar, barang dua, tiga hari."
Akhirnya ia menetap, tak pernah lagi ia ingin tinggalkan hatiku.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Mengapa bangkit hasadmu di tengah lautan kepemurahan ini?
Mengapa kau tolak datangnya kebahagiaan yang menggelombang?
Tak seekor pun ikan pertahankan secangkir air bagaikan harta karun; ketika dia tahu, samudera luas tak pernah tolak kehadirannya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Wahai insan, kau miliki sebuah negeri di balik petala langit, tapi pada tanah dan debu kau tujukan dirimu.
Telah kau hujamkan citra dirimu pada permukaan bumi; melupakan negeri yang jauh tempat kelahiranmu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Aku masuk ke dalam hatiku untuk melihat bagaimana keadaannya.
Sesuatu di sana membuatku mendengar seluruh dunia menangis.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemahakuasaan Sang Pencipta.
Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin.
Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain?
Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya?
(Maulana Jalaluddin Rumi)

masalah di kalangan umat Islam dalam hal interaksi dan toleransi antar umat beragama

Dalam percakapan dengan om Aphrem Risdo Maulitua Simangunsong, saya ditanya soal apa kira-kira yang menjadi masalah di kalangan umat Islam dalam hal interaksi dan toleransi antar umat beragama. Waktu itu, saya menjawab secara spontan, namun di sini saya akan coba lebih sistematikkan jawabannya.
PERTAMA, hilang atau diabaikannya tashawwuf dalam pemahaman keagamaan kebanyakan umat Islam. Al-Quran melarang kita untuk taklid, karena setiap tindakan, ucapan, pemikiran dan bahkan lintasan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Tak bisa kita berlindung di balik dalih 'kata ustad ana', karena kita semualah yang mempertanggungjawabkan sendiri segala hal terkait diri kita, dan bukan ustad ana. Termasuk ketika ustad ana berkata bahwa tashawwuf itu bid'ah dan tidak diajarkan oleh Rasulullah saw, seharusnya seorang yang serius mencari jalan kembali kepada Allah akan menguji dan membuktikannya sendiri, dengan banyak mengkaji dan membaca, serta memohon tuntunan dan perlindungan kepada Allah Ta'ala dan mengirimkan shalawat kepada Rasulullah saw agar terhindar dari kesesatan dan kesia-siaan dalam belajar apa pun.
Tashawwuf, sebagai syariat batin, akan memperlihatkan wajah Islam yang sebenarnya dan khazanah spiritual Islam yang sangat kaya. Tashawwuf akan mengimbangi wajah jalal atau aspek maskulin dari Islam. Terlebih di masa ini Islam seringkali dipakai sebagai pembenaran bagi berbagai obsesi duniawi, termasuk obsesi politik dan hasrat kekerasan. Tashawwuf akan membantu orang menyelam lebih dalam ketika mempelajari agama, dan dengan menapaki jalan thariqah, orang akan lebih paham bahwa setiap diri ini diciptakan untuk suatu misi hidup indivisual yang berbeda satu sama lain, akan menyadarkan pentingnya ma'rifatun nafs ma'rifatullah, pentingnya penyucian hati. Thariqah akan mengajari orang melakoni apa yang diajarkan dalam khazanah tashawwuf dan bukan cuma mahir ngomong alias teori doang. Dan juga bukan cuma jadi orang yang seolah shalih secara lahiriah, namun busuk di dalam hati karena penuh arogansi merasa paling shalih, paling paham agama, merasa paling benar dalam beragama. Tashawwuf akan memperlihatkan banyak khazanah esoterik dan seperti apa titik temu agama-agama di wilayah esoterik sehingga orang tak sembarangan mengiyakan pembagian agama dunia dan agama langit yang sama sekali tidak pernah dicetuskan oleh Rasulullah saw. Namun sayang, jiwa dari Islam ini, yaitu tashawwuf, malah ditabukan, dibid'ahkan dan diabaikan oleh kebanyakan umat Islam, dan tak jarang itu hanya bermodalkan 'kata ustad ana' yang terkenal itu (namun, herannya, saat saya coba googling, gak ada tuh fotonya ustad ana, kayak apa wajahnya hi hi hi hi hi...)
KEDUA, budaya literasi yang memprihatinkan. Baiklah, di era ini memang sudah sangat jarang sekali kita temui kelisanan primer, namun residual kelisanan teramat sangat banyak. Banyak orang Indonesia telah mengenyam pendidikan, bahkan hingga pendidikan tinggi, bisa baca tulis, namun, ironisnya, mereka tidak punya budaya literasi; tidak suka membaca dan gagap kalau harus menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Bukan hanya itu, budaya literasi yang belum tumbuh dan berakar dengan baik itu, malah dihantam oleh internet dan gadget yang menumbuhsuburkan budaya the shallow, segala hal yang serba dangkal. Seolah banyak tahu tapi hanya permukaan dan mudah lupa serta tidak bermutu. Ini juga efek dari pendidikan di Indonesia yang visinya hanya untuk melanggengkan mentalitas kuli, dan tak menciptakan para peserta didik yang gemar membaca. Lihatlah ke toko-toko buku lalu amati bagaimana yang kini nangkring di toko buku adalah buku-buku kacangan tidak bermutu dan dangkal. Itu merupakan representasi paling gamblang dari selera membaca orang Indonesia secara umum. Di masa ini, orang sekolah hingga tinggi bukan untuk menjadi pemilik ilmu, bukan untuk memiliki wawasan luas dan gemar mengkaji, tapi cuma untuk memiliki ijazah hanya untuk menjadi kuli berdasi, bermacet-macetan dan berlelah badan untuk mencari uang yang tak pernah terpuaskan tanpa tergugah untuk berpikir lebih mendalam: 'untuk inikah saya hidup?'
Budaya literasi memiliki kelebihan dalam memupuk sensitivitas kita dalam memandang suatu permasalahan secara lebih mendasar. Budaya literasi membuat kita bisa menciptakan distansi kritis dalam melihat suatu persoalan. Ini berbeda dengan tradisi lisan dan juga mental residual kelisanan yang cenderung reaktif, asal heboh dulu; auratik alias melihat masalah hanya pada aspek luarannya saja dan mudah heboh oleh sesuatu yang justru bukan merupakan pokok persoalannya; dan partisipatif alias tak bisa menciptakan distansi kritis, selalu dalam posisi terlibat, misalnya begini: saat saya mengkritik aspek tertentu dari fenomena keberislaman mendadak ada yang sewot dan berreaksi 'Anda telah menghina Islam, dan itu berarti menghina umat Islam dan juga menghina saya'... Lalu saya sendiri bagaimana? Apakah tak ada artinya status saya sebagai seorang Muslim juga? Contoh lainnya, pernah dalam suatu bedah buku, sekian orang dari ormas Islam yang doyan kekerasan memprotes dan mengancam dengan kekerasan acara bedah buku itu. Alasannya? Karena buku itu telah menghina Islam. Namun, saat ditanya satu per satu: apakah Anda sudah membaca buku itu?; jawabannya: belum! Jadi, marah-marahnya itu karena apa? Itulah salah satu aspek yang paling memprihatinkan dari salah satu wajah umat Islam Indonesia yang mengaku sebagai umat dari Nabi tertinggi sepanjang masa, yaitu tidak punya budaya literasi yang matang sehingga mudah menjadi massa yang reaktif dan tak bisa memiliki otonomi individu. Lenyap dalam kerumunan. Budaya literasi juga punya keunggulan dalam memupuk individualitas yang matang, yang otonom dan tak mudah asal ikut suara mayoritas. Sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-An’aam [6]: 116: “Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah."
KETIGA, pengetahuan, wawasan dan pemahaman soal sejarah yang memprihatinkan di kalangan umat Islam Indonesia. Banyak anak muda Indonesia malah tumbuh menjadi generasi tuna sejarah, dan dengan mudah menjadi korban doktrin import ahistoris. Bahkan seorang yang berpendidikan tinggi bisa dengan bodohnya melontarkan pernyataan 'saya tidak percaya sejarah'. Itu sama sekali bukan pernyataan yang keren; sama sekali bukan! Itu sangat memprihatinkan malah. Bagaimana seorang muslim berpendidikan tinggi memilih bersikap fatalis seperti itu dan bukannya malah bertarung serta gigih mencari kebenaran sejarah. Seorang yang gemar belajar akan tertantang untuk mencari lebih gigih ketika dia disodorkan berbagai bentuk 'kebenaran' sambil sujud kepada Allah Ta'ala memohon agar ditunjuki mana kiranya jalan yang harus ditempuh dalam mencari dan belajar. Kita tidak tergugah untuk mencari tahu dari kisah pertemuan Rasulullah dengan Bukhara, penerusnya dan Waraqah bin Naufal yang nota bene adalah Nasrani; Nasrani aliran apakah mereka? Kita hanya tahu Katolik dan Protestan lalu berpuas diri dengan pengetahuan sejarah yang memprihatinkan tersebut. Di sisi lain, dengan belajar sejarah, umat Islam akan sadar bahwa di bumi nusantara ini, semua agama pernah masuk, bahwa di bumi nusantara ini ada ratusan etnis dan ratusan bahasa, dan bagaimana semua etnis dan agama di Indonesia berjuang bersama untuk meraih kemerdekaan. Bagaimana para bapak bangsa yang hebat-hebat itu--dan kita belum tentu setanding dengan kebersahajaan, kecerdasan serta pengorbanan mereka--menyusun dasar negara ini dengan pertimbangan yang matang. Mereka adalah orang yang lahir dalam masa penjajahan dan berjuang untuk kemerdekaan bangsanya, dan mereka mengenyampingkan perbedaan dan mencari jalan tengah bersama bagi semua etnis dan agama agar bisa bekerja bersama membangun Indonesia, sekali pun Islam adalah agama mayoritas di Indonesia.
Mursyid saya pernah memberikan pemaparan ihwal pentingnya mempelajari sejarah sebagai berikut:
***************************************
Manusia terlahir di dunia ini tidak lepas dari ordinat ruang dan waktu.
Kapan kita dilahirkan? Peristiwa apa yang mengelilingi kita? Apa zaman yang tengah dihadapi sekarang? Bagaimana masa lalu kita dan orang tua?
Suka atau tidak suka, kita semua terikat dengan sejarah masing-masing. Oleh karenanya tidak bisa menutup mata, cuek terhadap sejarah atau bahkan mencoba memotong sejarah masing-masing dengan alasan 'terlalu kelam untuk diingat', karena sesungguhnya setiap penggal kehidupan kita sangat berharga dan tidak ada yang sia-sia karena semua datang dari desain Sang Maha Pencipta.
Di kitab suci pun kita menemukan banyak kisah tentang Nabi, Rasul dan para Shiddiqin, karena semua itu memberikan bekal dan arahan untuk kita dalam menghadapi kehidupan. Akan tetapi kebanyakan manusia terperangkap oleh urusan per hari ini, kesibukan hari ini, butuh uang hari ini; dan setan pun akan sibuk menutup pandangan kita dari melihat permasalahan secara utuh agar kita pontang-panting menghabiskan usia hanya dengan disibukkan oleh urusan dunia yang tidak ada habis-habisnya.
Penting untuk belajar sejarah, karena itu memberikan visi dan kita bukan sekadar belajar data sejarah, peradaban dan berjuang memperbaiki masyarakat tapi mencari sesuatu yang ada sentuhan Tuhan di dalam sejarah itu. Jadi, target kita adalah Allah-nya, kita berjuang untuk mencintai dan dicintai oleh-Nya.
***************************************
Demikian tiga hal yang terlintas di benak saya ihwal apa permasalahan yang menjadi pangkal dari buruknya interaksi dan toleransi umat beragama di Indonesia, khususnya di umat Islam Indonesia. Tentu saja masih banyak permasalahan lainnya, namun yang baru terpikirkan oleh saya saat ini baru tiga hal ini. Demikian, mohon maaf kalau ada silap kateu. Wallahu'alam bishawwab. alfathri

Hamba di Perbatasan

Seusai menonton film CHRISYE untuk kedua kalinya, mas Panji Siswanto Bin Suparlan berkata kepada saya dan Alex, juga kepada dirinya sendiri: “Badan gede-gede gini, tapi nonton film aja pada nangis”... Well, sebenarnya ‘banjir’ di mata saya tidak seheboh waktu menonton pertama kali, walau masih becek juga sih. Saat menonton pertama kali, saya memang diharu biru oleh berbagai momen mengharukan dalam kehidupan sang penyanyi pujaan hati ini. Namun, dalam kesempatan menonton untuk kedua kalinya ini, saya jadi lebih fokus melihat pada sesuatu yang lain.
Film ini diawali dengan berbagai kesulitan Chrisye untuk bisa memilih serius dalam bermusik. Bahkan saat band Gipsy mendapat kesempatan pergi ke New York, Chrisye nyaris tak bisa pergi karena tak diizinkan oleh Papinya. Namun, dua hari menjelang keberangkatan teman-teman band-nya (tanpa Chrisye), Papinya mendapat mimpi yang mengubah penolakannya tersebut. Maka, Chrisye pun pergi ke New York.
Namun, ‘kegembiraan’ bisa pergi ke New York itu pun disusul dengan berita duka lainnya, yang membuat Chrisye sangat bersedih. Namun, sekembalinya ke Tanah Air, Chrisye mendapat kesempatan tak terduga yang mengubahnya dari pemain bass menjadi penyanyi solo.
Juga kisah percintaannya yang diwarnai pula dengan duka kehilangan. Namun, duka itu disusul pula dengan kegelisahan batinnya yang berujung pada pilihan menjadi mualaf. Kemudian pernikahan yang diwarnai dengan pendapatan sebagai penyanyi solo yang pas-pasan, sementara dia sudah memiliki dua anak perempuan, dan rumah masih menumpang. Lalu itu berubah saat album “Aku Cinta Dia” laku di pasaran. Chrisye pun akhirnya bisa mendapatkan rumah miliknya sendiri, dan saat dia ingin punya anak lelaki, Allah memberinya kembar sekaligus.
Namun, kegembiraan ini kemudian disusul lagi dengan karir musik Chrisye yang mandek, kejenuhan serta rasa malu karena lebih banyak di rumah sebab tak ada pekerjaan. Sebagaimana yang diungkapkannya kepada sang istri, “saya hanya bisa menyanyi”, keadaan memaksa Chrisye mencoba berbisnis di kargo. Dalam kondisi yang terasa suram seperti ini, mendadak datang tawaran untuknya mengadakan konser tunggal di Balai Sidang Senayan. Proyek ambisius dan pertama kali bagi penyanyi Indonesia. Didukung Erwin Gutawa dan Jay Subiakto, Chrisye bersama para pemusiknya tetap latihan walau tak ada kepastian ihwal siapa yang akan menjadi sponsor. Dan, saat mereka akhirnya menyerah, tak diduga, ada sponsor yang akhirnya mau mendanai proyek ambisius tersebut. Apakah setelah adanya sponsor ini, maka semuanya berjalan lancar? Tidak. Tapi, harus bagaimana lagi? Semuanya sudah siap dan tiket pun sudah habis terjual, dan pertunjukan pun harus tetap dilangsungkan walau tanpa ada kepastian apakah memang akan ada lagu yang Chrisye nyanyikan di konser tersebut.
Dan kita semua tahu bahwa konser tunggal pertama seorang penyanyi legendaris Indonesia itu berlangsung sukses. Bahkan menjadi liputan di halaman depan koran. Dalam memoarnya, Chrisye bercerita bahwa saat dia berada di atas panggung dan penonton mengelu-elukannya, dia membatin kepada Allah bahwa betapa kecil dan tak berarti dirinya di hadapan Allah. Lalu, setelah konser ini, Chrisye kembali merasakan kegelisahan. Kepada saudaranya, Chrisye mengungkapkan bahwa dia merasa diangkat oleh Allah lalu kemudian dihempaskan. Dalam kegelisahan ini, lahirlah lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”, sebuah lagu yang dari mulai proses penciptaan hingga rekamannya membuat Chrisye diaduk-aduk oleh pengalaman batin yang mengharu biru.
Menonton film Chrisye untuk kedua kalinya ini, membuat saya fokus pada hal lain, yaitu pada pola bagaimana Dia berulang kali membawa sang hamba dari suatu keadaan nyaris ke keadaan nyaris lainnya, untuk menegaskan pada sang hamba bahwa “Akulah jalan keluar itu, Akulah yang menyelamatkanmu”...
Saya teringat pada nasihat Mursyid Penerus minggu lalu tentang ciri-ciri orang yang banyak disebut di berbagai ayat Al-Qur‘an, yaitu “orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas perbatasan”, yaitu “di perbatasan antara baik dan buruk”. Saat Allah memberinya nikmat dan berbagai hal baik yang menyenangkan, dia tidak bertambah baik. Seharusnya, setiap kali mendapatkan nikmat dan kebaikan itu, dia melangkah semakin jauh ke dalam “wilayah kebaikan”. Ternyata, dia hanya diam saja di atas “perbatasan” tersebut. Tak bergerak sama sekali. Maka, saat dia mendapatkan ujian, fitnah dan musibah, karena berada di atas perbatasan, dengan mudah ketika mundur satu langkah saja karena ujian, fitnah dan musibah tersebut, dia sudah “berpaling” dan masuk ke wilayah keburukan. Seandainya, setiap kali mendapatkan nikmat dan berbagai kebaikan itu dia melangkah lebih jauh ke wilayah kebaikan, maka saat mendapatkan ujian, fitnah dan musibah lalu dia mundur selangkah, toh dia masih tetap berada di wilayah kebaikan, karena dia sudah berada jauh di dalamnya. Sementara, jika dia tetap bertahan di atas perbatasan walau Allah telah memberinya nikmat dan berbagai kebaikan, maka datangnya ujian, fitnah dan musibah yang membuatnya mundur “satu langkah” saja, sudah menjerumuskan keadaannya jadi lebih buruk dari sebelumnya. Dan bagaimanakah sabda Rasulullah ihwal orang yang keadaan hari ininya lebih buruk daripada hari kemarin?
Kembali kepada film Chrisye tersebut, pola menaik lalu turun hingga ke “nyaris” untuk kemudian Dia selamatkan lagi dan lagi—dibarengi dengan Chrisye yang religius, reflektif dan rendah hati—membuat saya bisa merasakan bahwa spiritualitas itu universal dan hak siapa pun serta hadir di bidang apa pun, bukan hanya milik segelintir orang dengan berbagai atribut maupun simbol keagamaan serta lingkungan eksklusifnya. Bahwa kerinduan kepada-Nya itu adalah rahasia hati seseorang dengan Tuhannya, dan bisa hadir di “dunia” yang tak terduga, dunia musik dan selebritis. Pola dari satu nyaris ke nyaris ini mengingatkan pada percakapan saya dengan Mursyid Penerus. Suatu ketika, saya berkata kepada beliau ihwal betapa hancur leburnya hidup saya yang selalu terjatuh dalam kesalahan yang sama berulang kali dan tampaknya hanya akan memiliki akhir hidup yang tragis.
Lalu beliau pun menjawabnya sebagai berikut:
# # # # # # # # # # # # # # # # #
KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah SWT untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah SWT akan membukakan laut bagi mereka? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah SWT akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.
Musa as dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak di antara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.
Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa as, berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus diarahkannya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.
Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.
Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.
Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekadar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur. *
Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.
Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu kegaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan, semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah SWT mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.
Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.
Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati kita semua ada diantara permainan dua Jemari-Nya.
Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.***
# # # # # # # # # # # # # # # # #
[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS Al-Mu‘mîn [40]: 61)
(Jawaban beliau ini diedit dan diperbaiki seperlunya oleh sahabat saya, Herry Mardian)


Thursday, December 7, 2017

Membagi Shalat

Saat shalat, kita memulainya dengan gerakan berdiri. Posisinya, kepala (sebagai simbol pikiran, fungsi otak kita) berada di atas hati (seringkali disimbolkan dengan jantung yang menyerupai buah shanaubar, dan memunculkan istilah ‘hati sanubari’). Saat berdiri itu, kita diwajibkan membaca Al-Fatihah, dan sebagaimana dinyatakan dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876), Rasulullah saw bersabda:
Allah Ta‘ala berfirman: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) antara Diri-Ku dengan hamba-Ku dua bagian. Tatkala insan mengucapkan, ‘Alhamdulillahi Rabbil Alamin’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Ar-Rahmani Rahim’, Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan Diri-Ku.’ ‘Maliki yaumiddin’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan Diri-Ku.’ Di lain kesempatan Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.’ Manakala ia mengucapkan, ‘Iyyakana‘ budu wa iyyakanasta‘in’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Ini antara Aku dengan hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’ Dan ketika ia mengucapkan,‘Ihdina shirathal mustaqim, shirathal ladzina an‘am ta‘alaihim, ghairil maghdubi ‘alaihim waladhaalin’, Allah Ta’ala menjawab, ‘Inilah milik hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’”
Jadi, mudahnya, Al-Fatihah itu terbagi dari satu bagian milik Allah, satu bagian terbagi menjadi milik Allah dan milik hamba-Nya, serta satu bagian lagi milik sang hamba.
Lalu, kita pun ruku‘ dengan posisi badan yang benar adalah lurus. Nenek saya pernah bercerita bahwa saat beliau muda, di Padangpanjang, para santri dilatih agar ruku‘ dengan posisi badan yang lurus menggunakan papan sebagai media latihannya. Posisi lurus ini akan membuat ‘kepala’ dan ‘hati’ kita jadi sejajar. Dan saat ruku‘ ini, kita membaca ‘Subhana Rabbiyal Adzim’. Dalam QS Al-Qalam [68]: 4 dinyatakan ihwal Rasulullah saw bahwa “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (khuluqul adzim).” Al-Adzim adalah salah satu asma (nama) Allah. Sebagai umat beliau saw, kita harus menjadikan beliau saw sebagai ‘uswatun hasanah’, dan sebagaimana halnya beliau saw, kita pun harus memiliki ‘khuluqul adzim’. Posisi ruku‘ ini menunjukkan bahwa sebagai hamba, kita masih bisa disematkan asma Al-Adzim dalam kaitan dengan akhlaq sebagai umat Rasulullah Muhammad saw.
Lalu, kita pun sujud, yang merupakan gerakan paling agung dan mulia dalam shalat, yaitu saat ‘kepala’ kita berada di bawah ‘hati’, lalu kita pun membaca ‘Subhana Rabbiyal A‘la’, yang menunjukkan Dia sebagai Yang Maha Tinggi, dan sama sekali tak ada yang menyamai apalagi menyerupai-Nya. Di hadapan Dia Yang Maha Tinggi ini, kita ‘meniadakan diri’ dengan sujud sedalam-dalamnya, meringkuk nyaris menyerupai angka nol. Dan bahkan saat sujud akhir kita dianjurkan berdoa dan meminta kepada Dia Yang Maha Tinggi ini. Demikian yang Mursyid Penerus ajarkan kepada saya.
Nah, dengan melihat rangkaian gerakan shalat ini, semoga kita bisa lebih menyiapkan diri dalam momen perjumpaan dengan-Nya tersebut. Setidaknya secara pakaian saja dulu, sebelum ke masalah khusyu dan berbagai hal yang lebih dalam lagi. Seandainya kita diundang untuk bertemu dengan selebritis idola atau pejabat, maka kita akan ‘berdandan’ sedemikian heboh dan wangi. Lalu, kenapa saat hendak ‘menjumpai’ yang telah menciptakan kita dan memberi kita banyak kebaikan (dengan janji bahwa ‘rahmat-Ku mendahului murka-Ku’), kita malah seperti sekenanya saja. Setelah tidur semalaman, badan berkeringat dan menempel di baju tidur, kusut, lalu bangun untuk kemudian mengerjakan shalat subuh dengan masih mengenakan pakaian saat tidur yang kondisinya entah bagaimana. Seperti itukah penghargaan kita untuk momen perjumpaan dengan-Nya? Sungguh, jika kita menghargai momen perjumpaan dengan-Nya melalui penghormatan sebagaimana yang kita berikan kepada selebritis atau pejabat, atau bahkan lebih, pastilah Dia akan menghargai upaya kita tersebut. “Shalatlah dengan pakaian yang khusus”, demikian yang Mursyid (alm.) ajarkan kepada saya.