• This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.

Saturday, April 20, 2019

Beda Jenis Motor untuk Mobil Listrik

Hampir semua mobil listrik di saat ini menggunakan motor listrik sinkron magnet permanen. Motor listrik ini kecepatannya dikendalikan dengan menggunakan inverter (pengubah listrik dc batere menjadi teganga/arus ac).
Semakin tinggi kecepatan motor, semakin tinggi tegangan yang dibangkitkan motor. Agar tegangan motor tidak terlalu tinggi, inverter akan menyuntikkan arus yang memperlemah medan magnet yang dihasilkan motor (field weakening region). Semakin tinggi kecepatan motor yang diinginkan, semakin besar arus pelemah yang disuntikkan oleh inverter.
Di sinilah masalah terjadi. Saat motor berada pada kecepatan tinggi dan inverter mengalami kerusakan sistem kendali, maka inverter akan otomatis bekerja sebagai penyearah dioda yang tak terkendali. Karena arus pelemah magnetnya hilang, maka motor akan menghasilkan tegangan yang sangat tinggi. Tegangan yang sangat tinggi ini jika disearahkan akan menghasilkan tegangan dc yang sangat tinggi yang akhirnya bisa merusak batere, inverter, dan motornya.
Ini berbeda dengan jika menggunakan motor induksi atau motor reluctance. Saat kendali inverter rusak, motor induksi dan reluctance akan kehilangan sumber magnet dan tidak menghasilkan tegangan yang tinggi.

Tuesday, April 16, 2019

tanggung jawab atas diri kita masing-masing

Herry Mardian
PINGIN nanya kang, apakah mungkin saat ini kita bisa memastikan bahwa "ad din" yang dijalankan sekarang sepenuhnya benar sehingga saya mengajak orang lain ke jalan saya? Dan sya seringkali bingung menyikapi orang lain yang teguh dengan ad dinnya tapi bertolak belakang dg ad din persepsi saya. Apa sya tdk punya hak terhadap org yang "yakin"?
: :
Sebenarnya gini.
Pada prinsipnya, kita hanya akan dimintai tanggung jawab atas diri kita masing-masing, termasuk bagaimana kita menentukan jalan untuk memahami ad-Diin kita sendiri. Itu yang paling penting. Kita akan dihakimi dan dimintai pertanggung jawaban atas diri kita sendiri, bukan orang lain (baca saja di Q. S. 6 : 164).
Tentu, seorang ayah akan dimintai pertanggungjawaban atas anaknya, suami atas istrinya, istri atas anaknya, dsb, bukan berarti sama sekali tidak mau tau, elu elu gua gua, ya. Tapi apakah agama orang tersebut ada dalam tanggung jawab kita nggak, sementara kita sendiri belum merasa firm dengan apa yang kita pegang.
Tidak semua yang berbeda dengan apa yang kita yakini itu pasti salah, dan tidak semua yang berbeda dengan kita itu harus ikut kita sehingga sama keyakinannya. Sebab, perbedaan adalah sesuatu yang niscaya, sudah ditetapkan. Mustahil semua harus jadi satu pemahaman.
==
"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu."
(Q. S. [5] : 48).
==
Berbeda pemahaman, sudut pandang, ya boleh saja. Tidak ada masalah. Asal jangan saling memaksa. Allah menghendaki kita 'work the difference out', bukan 'eliminate all the differences'. Sama seperti menikah kan.
Sekali lagi, yang akan dimintai pertanggungan jawab adalah 'diri sendiri'. Gimana kamu sampai meyakini itu? Sejauh mana upayanya? Gimana sampai kamu memutuskan itu? Gimana prosesnya? Bukan, 'kenapa dia nggak juga meyakini apa yang kamu yakini?'
Bahkan tugas seorang Rasul pun hanya menyampaikan, bukan memaksa (5 : 99).
Menyampaikan pun, hanya pada yang butuh, yang mau. Bukan semua orang dipaksa harus menerima dan mendengarkan. Itu menzalimi namanya. Kalau tidak haus, jangan dipaksa minum dong 
Nah, di saat yang sama, kita diwajibkan-Nya memahami dulu, dengan kokoh, apapun yang akan kita ikuti. Kita tidak boleh taklid, asal ikut, tidak cross check, tidak meneliti/mengkonfirmasi, cuma beragama dengan 'katanya'. Itu tidak boleh, sebenarnya, jika kita sudah mulai ingin melangkah ke pemahaman ad-Diin yang lebih hakiki.
Kita harus paham dengan apa yang akan kita ikuti. Tidak boleh tidak.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" (17 : 36)
Artinya,
(1) kita tidak dimintai pertanggung jawaban atas jalan orang lain. Orang lain boleh berbeda, dan masing-masing akan mempertanggungjawabkan jalannya sendiri.
Tapi, (2) kita harus punya sekian kadar pemahaman atas apa yang akan kita ikuti. apapun yang kita ikuti, masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan pilihan kita sendiri.
Bukan berarti tidak perlu berdakwah, ya. Tapi itu bahasan lain.
Jadi, sebenarnya Allah menghendaki masing-masing kita itu punya pemahaman yang firm, yang kokoh, atas ad-Diin masing-masing. Setiap orang akan punya sekian kadar pemahaman, kadar kebenaran. Jadi, kita akan jadi masyarakat yang saling mengisi. Kalau semua pemahaman harus sama dan standar, kita akan saling memerangi.
Jadi perlu nggak mengajak-ngajak orang lain?
Sikap paling utama, hargailah proses orang lain yang juga sedang berusaha memahami agamanya, memahami kehidupannya. Jangan menganggap 'semua belum setinggi saya pemahamannya', tapi hargailah bahwa Allah mengajari setiap orang dengan proses yang berbeda, dengan kadar pemahaman yang berbeda pula.
Fokus pada titik temu, bukan pada perbedaan.
Jangan tebas semua perbedaan, jangan anggap bahwa yang sedang kita yakini sekarang adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti semua orang 
Toh yang akan ditanya nanti, kita dan apa yang kita yakini, bukan 'dia dan keyakinan dia'.
(Herry Mardian)
: :

Sunday, April 7, 2019

James Barbers dan Peluang Pilpres ke Konflik

James Barbers dan Peluang Pilpres ke Konflik
Apa yang disampaikan Jokowi di Stadion Kridosono 23 Maret lalu dalam acara reuni pendukungnya dari Yogyakarta sebetulnya menunjukkan jika Jokowi bukanlah orang yang faham akan peluang terjadinya konflik.
Pernyataannya yang akan melawan aneka fitnah, celaan, dan tudingan kepada dirinya (secara personal) akan dilawannya sebenarnya pernah ditelaah James Davir Barber dalam The Pulse of Politics".
Bila kita membaca James muatan kampanye dengan mengarahkan persoalan personal menjadi luka bagi publik -pendukungnya- merupakan satu dari tiga titik bakar terjadinya konflik. The so called para kandidat dan para peluncurnya (negosiator) terpaku pada tiga narasi pokok yang dibentuk secara tidak langsung oleh media massa.
James memaparkan geneologi detak-detik perubahan konstelasi politik dalam kampanye beberapa presiden di AS dari sudut pandang komunikasi media massa. Ia menyimpulkan jika secara umum, masyarakat dibentuk untuk memahami jika politik itu adalah melulu persoalan konflik, penyadaran publik (conscience), dan sebuah rekonsiliasi dalam aneka bentuknya seperti perdamaian, aliansi, koalisi, atau persekongkolan.
Apa dan bagaimana ketiga tema tadi diolah dan didefinisikan untuk meledak sebagai konflik sangat bergantung dengan apa yang kita sebut sebagai preferensi dan kecenderungan kepentingan.
Seandainya kita menggunakan analisa James bahwa politik adalah persoalan konflik, perang, pertikaian, dan saling serang saja, maka hari ini memang sudah terjadi di perhelatan pemilu kita. Bahkan sejak beberapa waktu lalu. Ancaman yang disampaikan Wiranto untuk menggunakan UU Terorisme pada pihak-pihak yang mengajak untuk Golput (tidak memilih) adalah sebuah serangan keras.
Sementara sebelumnya Moeldoko dengan gamblang berkata jika ia akan melakukan "Perang Total". Apa alasan dia menggunakan terminologi kata perang dan bukan kompetisi, atau usaha, tentu akan memberikan pandangan yang berbeda baik kepada masing-masing pendukung dan kandidat lawan.
Kedua lanjut James, kita melihat politik sebagai sebuah kesadaran atau gerakan akal sehat. Melalui kampanye politik, publik diberi kesadaran dan akhirnya mengkonversi kesadaran tadi sebagai suara. Meskipun pada kenyataannya tetap saja kedua pihak kita ketahui sama-sama mengklaim sebagai pemilik akal sehat tadi . Mereka adalah yang terbaik dalam melaksanakan pemilu ini dengan cara paling bermoral dan benar.
Pendukung Petahana misalnya mengatakan jika semua kritik yang sifatnya negatif kepada pemerintah adalah sebuah fitnah, kebohongan, dan hoaks. Mereka pun mendukung usaha memerangi dan menangkapi pelakunya. Bahwa kritik tadi merupakan bagian inheren dari kehidupan demokrasi dan hak dasar publik itu semua harus dianggap sebagai ucaran kebencian saja.
Demikian pula di pihak lawan. Adalah Rocky Gerung yang memanfaatkan perbaikan akal agar sehat melalui redefinisi dan kontekstualisasinya pada pemahaman awam. Ia membalikan jika hoaks adalah paling mungkin dilakukan oleh negara. Negara menurutnya mempunyai aparatus dari birokrasi sampai media untuk menciptakan hoaks dan imajinasi tentang pembangunan.
Ketiga adalah terjadinya letupan-letupan berulang (beats) yang sadar atau tidak diciptakan untuk mendeskreditkan lawan.
Bila dulu isu yang diangkat adalah persoalan pri-non pri, elit versus wong cilik, lalu islam tradisional bersus modern, sekarang isu yang dimunculkan adalah radikal versus toleran, Dimana pihak yang paling sering diserang adalah umat Islam. Baik itu serangan kepada pemahaman, praktik, dan politik keagamaannya.
Jadi ketika hari ini kita melihat bahwa masyarakat semakin terbelah bahkan di beberapa tempat sudah terjadi saling serang secara fisik dan ucapan maka itu adalah satu dari syarat terciptanya konflik. Saiya hanya tidak faham, bagaimana hal ini berulang-ulang seperti sengaja dipolakan untuk akhirnya kita sama-sama berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan penyelenggara pemerintahan kita sekarang.

Pecah dan Hancurkan

Pecah dan Hancurkan
Seseorang yang saya kenal lama sebagai ustadznya yayasan tasayu atau Syiah mengirimi saiya pesan; bahayanya khilafah terhadap pancasila. Ia mengiyakan omongan Hendropriyono, orang intel yang dikenal karena pembantaian TalangSari Lampung 1989.
Saiya balas saja, sebaiknya ia melakukan rekonsiliasi internal. Problem lembaga-lembaga Islam seperti Ahmadyah, Syiah, Tabligh, atau kini tarekat-tarekat dzikir baik yang lokal maupun yang bersyekh luar negeri adalah urusan keorganisasian.
Pada saat mereka gagal bergerak sebagai organisasi karena ribut antar pengurus atau rebutan jamaah maka biasa berakhir dengan saling caci serta memecah-belah yayasan. Demi.menutupi program internal yang gagal jalan akhirnya kebanyakan lembaga tadi mencari-cari musuh eksternal.
Beberapa kasus saiya temui ketika memediasi konflik warga dgn lembaga ini. Di NTB misalnya sudah tahunan warga Ahmadiyah terusir dari kampungnya. Bukan karena gagal berasimilasi tetapi karena ada pengurus yang maunya konflik tadi terus dieksploitasi untuk mendapat perhatian.
Persoalan pribadi yang diproyeksikan sebagai urusan tingkat negara inilah yang mendasari omongan-omongan seperti disampaikan Priyono. Hendropriyono sendiri adalah spesialis eska yang ikut bertanggungjawab atas pembunuhan Talang Sari 89 dengan puluhan warga tewas, ratusan cacat dan hilang.
Sebagian dari anggota Warsidi menyebut jika awal konflik adalah persoalan pengambil alihan lahan warga untuk lahan industri Sawit atau gula. Belakangan ada usaha-usaha menutup kasus pelanggaran HAM Talang Sari untuk kepentingan pilpres 2019. Hendropriyono memang ada dipihak petahana.
Jadi kembali kepada pecah dan hancurkan, setelah Suriah nisasi untuk membendung isu Ahok yang gagal kini muncul lagi versi Khilafahisasi.

Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan hadits, “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya,” dan sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Quran, “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, agar mereka tahu bahwa itu adalah al-haqq.” (QS Fushshilat [41]: 53)
Tidak ada yang lebih dekat kepada Anda kecuali diri Anda sendiri. Jika Anda tidak mengenal diri Anda sendiri, bagaimana Anda bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. Jika Anda berkata” “Saya mengenal diri saya” — yang berarti bentuk luar Anda; badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya — pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan.
Demikian pula halnya jika pengetahuan Anda hanyalah sekadar bahwa kalau lapar Anda makan, dan kalau marah Anda menyerang seseorang; akankah Anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan Anda?
Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya itu ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini:
Siapakah Anda, dan dari mana Anda datang? Kemana Anda pergi, apa tujuan Anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan Anda dan kesedihan Anda yang sebenarnya berada?
Sebagian sifat Anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Mesti Anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yang aksidental dan mana yang esensial (pokok).
Sebelum Anda ketahui hal ini, tak akan bisa Anda temukan letak kebahagiaan Anda yang sebenarnya.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Oleh karena itu, jika Anda seekor hewan, sibukkan diri Anda dengan pekerjaan-pekerjaan ini.
Syaithan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, akal bulus dan kebohongan. Jika Anda termasuk dalam kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka.
Malaikat-malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan. Jika Anda punya sifat-sifat malaikat, maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat asal Anda agar bisa Anda kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi, serta merdeka dari perbudakan hawa nafsu dan amarah.
Juga mesti Anda temukan sebab-sebab Anda diciptakan dengan kedua insting hewan ini: mestikah keduanya menundukkan dan memerangkap Anda, ataukah Anda yang mesti menundukkan mereka dan — dalam kemajuan Anda — menjadikan salah satu di antaranya sebagai kuda tunggangan serta yang lainnya sebagai senjata.
(Imam Al-Ghazali, dalam kitab “Al-Kimiya’ As-Sa‘adah” atau “Kimia Kebahagiaan.”) alfathri

UANG-UANGAN

(oleh: Watung Budiman)
“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Situ Gintung, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.
Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dunia adalah taman bermain, 
di mana anak-anak bermain jual-jualan.
Saling bertukar uang-uangan.
Ketika malam tiba, mereka pun pulang
kelelahan, dan tangan mereka
tetap tak membawa apa-apa.
(diterjemahkan oleh Herry Mardian)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.
Dan ngomong-ngomong soal ‘uang-uangan' (imaginary money) di puisinya Rumi, itu persis permainan monopoli waktu kecil dulu. Ada duit-duitan, ada bank-bankan. Kita bisa beli tanah, rumah, sampai hotel dan mengutip pajak dari lawan. Kita sorak sorai begitu dapat “rejeki” kartu dana umum atau si lawan mendarat di tanah kita. Kita depresi kalau disuruh bayar atau kena kartu masuk penjara (dan paling sebel kalau nggak keluar-keluar). Sedih, murung, riang, excited, bahkan keributan, otot-ototan dengan lawan, namanya juga permainan: kadang kita terbawa suasana.
Tapi begitu maghrib tiba, ibunda tercinta memanggil di bawah, kita pun sadar: permainan musti selesai. Duit-duitan yang terkumpul dengan “jerih payah” itu, rumah, hotel, semua properti musti masuk lagi ke kotaknya. Papan ditutup. Nggak ada yang dibawa. “...dan mereka pun pulang kelelahan, dan tangan mereka tetap tak membawa apa-apa.”
Terus apa maksudnya ini semua kalau cuma buat dolanan?
Mari kita minggir barang sebentar, merenung sejenak. Kita main monopoli, kita having fun, kita nyari rumah sebanyak-banyaknya, hotel sebanyak-banyaknya, bikin lawan sebangkrut-bangkrutnya, dan begitu papan ditutup, semuanya selesai, wusss… bak kapas ditiup angin. Ada refleksi menarik sebenarnya di sana: apa sebenarnya tujuan permainan monopoli ini?
Flashback ke abad 19. Permainan monopoli ini tercipta di sebuah lingkungan pergolakan politik dan ekonomi yang ruwet di masa itu di Virginia, Amrik sono, yang panjang kalau diceritakan (jadi detilnya baca sendiri).
Tapi intinya begini. Permainan yang dulu bernama Landlord’s Game (atau Dolanan Tuan Tanah) ini didesain oleh seorang wanita Quaker bernama Elizabeth Magie dengan satu tujuan: memudahkan orang mengerti tentang single-tax theory, tentang bagaimana tuan-tuan tanah memperkaya dirinya dan mempermiskin para penyewa.
Nah, itu. Itu tujuan awalnya: supaya para pemain belajar sesuatu. Tapi kemudian apa yang terjadi sekarang, berabad-abad kemudian? Landlord’s Game ini jadi permainan monopoli, dolanan yang pure entertainment, yang masing-masing pemain berusaha menjadi sekaya-kayanya dengan memiskinkan lawan semiskin-miskinnya. The richer, the winner. Kita main, beli sana-sini, menang atau kalah, selesai. Sementara tujuan asalinya? Tentang single-tax theory? Kebanyakan anak-anak kita, mungkin juga kita, nggak lagi tahu.
And sadly, it happens also with our life… don’t you think? What is this life? What is the purpose of this game of life?
Elizabeth Magie, sang pencipta monopoli, telah mendesain sedemikian rupa agar para pemain memperoleh sesuatu yang tentu lebih berharga dari pernak-pernik aksesori permainan itu sendiri, sesuatu yang mungkin akan senantiasa tinggal bahkan setelah papan permainan ditutup: sebuah pelajaran.
Dan hidup ini tentulah lebih kompleks, lebih warna-warni dari permainan monopoli. But again, what have we learned from this “game of life”, sesuatu yang akan senantiasa melekat bahkan ketika papan kehidupan kita ditutup? What do you think The Creator has in mind? Telling us to collect imaginary money, lands and houses… as much as you can?
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS Al-An'am [6]: 32)

Tuesday, March 5, 2019

Tutup Mata Atas Kesalahan Pasangan

"Sampeyan belajarlah menutup mata dari kesalahan-kesalahan pasangan. Gak usah sok bisa mengubah. Mustahil. Itu urusan Gusti Allah. Sampeyan cuma dituntut sabar dan terus berbuat baik. Toh kekeliruan itu gak fatal soal syariat, cuma sikap." saran Kang Sabar pada Kang Kuat.
"Lho katanya disuruh buka mata lebar-lebar sebelum nikah? Kok sekarang disarankan merem. Wah, ra konsisten ik!" sahut Kang Kuat yang baru menikah sekian bulan belakangan.
"Yo kan beda tujuan. Buka mata biar gak kaget banget pas sudah lewat malam pertama. Tutup mata biar tetap bisa bersyukur." balas Kang Sabar.
"Lha mosok dibiarin gitu aja kekurangan istri. Rumus saling melengkapi kan artinya kutambal." kilah Kang Kuat.
"Boleh, tapi tetap ingat Gusti Allah penentu hadirnya perubahan. Bukan Sampeyan. Ingat, Sayyidina Umar saja diam seribu bahasa saat dimarahi istri kok. Bahkan Kanjeng Nabi biarkan Sayyidatina Aisyah pecahkan piring di depan tamu suaminya. Kedua sosok sangar itu ya menutup mulut rapat. Sabar." tutur bapak berjenggot beranak dua.
"Korelasinya ke kasusku?" kejar mantan jomblo itu.
"Jadikan sikap istri yang Sampeyan anggap buruk itu jadi tungku dan palu. Gunanya untuk menempa spiritual Sampeyan. Berat, kan? Itu kenapa nikah senilai separuh agama." tandas Kang Sabar.