Hai sahabat baikku. Selamat datang di blog ku yang masih bayi ini. Mudah-mudahan senang baca ceritanya ya. Ceritanya adalah tentang anak-anak yang tidak peka atau tidak punya empathy pada kesulitan orang tuanya. Bagaimana cerita lengkapnya? Begini ceritanya:
Sejak tahun 1999 sampai tahun 2000 istri aku mendapatkan beasiswa dari Yayasan Orbit, itu tuh yang dibidani oleh B. J. Habibie. Satu waktu istriku mendapatkan tugas untuk mengikuti pelatihan orang tua dan guru efektif di Jakarta, mewakili YAAB Orbit Bandung. Peserta pelatihan ini berasal dari seluruh Indonesia, ada yang sudah tua dan ada juga yang masih muda bahkan belum menikah seperti istri saya.
Salah satu pengisi materi adalah Dr. H. Arief Rahman yang dulu pernah menjadi kepala Labschool, Jakarta. Pada saat acara tanya jawab seorang peserta, seorang ibu, bertanya kenapa anak-anaknya tidak ada yang peka pada saat ibunya membutuhkan pertolongan. Seolah-olah semua pekerjaan harus dikerjakan oleh ibunya sendiri, bahkan walaupun ibunya itu sedang sakit.
Perlu diketahui, ibu ini adalah orang tua tunggal. Suaminya meninggal ketika anak-anaknya masih kecil. Anaknya dua orang, saat itu yang pertama seorang laki-laki sudah duduk di SMU dan yang kedua, perempuan, masih di Sekolah Dasar.
Karena menjadi orang tua tunggal, si ibu harus bisa mengurus semua keperluan keluarga sendiri. Mungkin kita istilahkan SUPER MOM. Dari mulai cari nafkah, beberes rumah, mendidik anak, dan semua pekerjaan dikerjakan sendiri. Ngga pakai pembantu lho.
Nah, Dr. H. Arief kemudian mencoba menggali keadaan si ibu ini. Perkiraan Dr. H. Arief si ibu sudah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Bahkan ibu ini juga tidak meminta anaknya menolong membantu. Padahal, mungkin namanya juga anak-anak, kalau mereka tidak diberitahu apa yang harus dilakukan maka mereka cenderung tidak tahu. Kalau ibu ingin melihat anak mau membantu ibu beberes rumah, maka mintalah tolong kepada mereka. Ibu ingin anak-anak ibu memperhatikan kesehatan ibunya, mintalah mereka memijat ibu kalau sedang pegal.
Dengan demikian si anak akan belajar mengenal kebutuhan orang lain akan dirinya. Mereka juga tahu apa yang mereka bisa lakukan untuk orang lain. Mereka akhirnya akan terlatih untuk peka atau empathy kepada orang lain.
Bener ga sih kayak gitu? Nah kita lanjutkan lagi ceritanya. Si ibu (juga istri saya) pulang ke daerah masing-masing setelah pelatihan itu. Dan ketika ada pelatihan lanjutan, ibu itu bilang kepada istri saya bahwa dia sudah melaksanakan apa yang disarankan Dr. H. Arief kepada anak-anaknya. Ternyata memang benar, setelah dilaksanakan seperti yang disarankan sekarang anak-anaknya menjadi lebih aware untuk membantu ibunya. Mereka memang sangat sayang kepada ibu yang sudah lama menjadi orang tua tunggal ini. Dan ibu itupun jadi lebih bahagia, karena anak-anaknya ternyata perduli pada perjuangan hidupnya.
Cerita selesai. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa kita ambil dari cerita ini. Amiin. Wah kalau kayak gitu gampang juga ya ngajarin anak peka lingkungan. Tapi kasihan juga sama keluarga yang punya pembantu, hihihi, jadi ngga peka gitu lho. Mudah-mudahan semua keluarga bisa menemukan jalan kebahagiaan masing-masing. Dan juga mudah-mudahan semua keluarga bisa membawa manfaat bagi orang lain.
Amiin Ya Alloh, berilah kami kesehatan, keteguhan berjuang hidup, dan kemudahan segala urusan.
[...] Juli 30th, 2007 · No Comments Bagaimana cara melatih anak-anak untuk peka atau berempathy kepada perjuangan hidup orangtuanya? Ternyata gampang. Istri saya pernah ikut pelatihan orangtua dan guru efektif. Dalam pelatihan ini ada seorang ibu yang mengajukan pertanyaan tentang anak-anaknya yang kurang peka bahwa ibunya perlu bantuan mereka. Ibu ini adalah orangtua tunggal yang sudah lama ditinggal suaminya. Ikuti cerita lengkapnya di Keep reading –> [...]
Wah, thanks udah share pengalaman ibu tsb, jd bisa ikutan ambil pelajaran nih.. Mngkn klo mendidik anak ketika qt di rantau/LN bisa lebih mudah ngelatih anak mandiri kali ya..soalnya jauh dr keluarga besar yg biasanya siap membantu kesulitan qt..
Kalo kata teman saya, ejatmiko.multiply , mendidik anak di Indonesia si anak bisa bilang “aku rindu kampung halaman”. Tapi kalau anak sudah terbiasa di LN, si anak menjadi “child of universe” yang ngga ada rindu kampung halaman lagi. Masalah mandiri, mungkin ortunya yang jadi lebih mandiri karena ngga ada lagi yang bantuin
.
Bagus sekali ceritanya. Sebenarnya tanpa sadar banyak juga orang tua yang melarang-larang anaknya ketika sang ibu kerja di dapur atau sang bapak lagi asyik ngerjain sesuatu di rumah.
Mereka ingin “bantu” atau terlibat cuman memang mereka belum tahu caranya.
Anak-anak yang masih kecil sering dianggap mengganggu ketika ikutan “pekerjaan” kita. Padahal justru saat itulah kesempatan kita untuk “mengembangkan” sikap dia.
Akibatnya setelah mereka besar, jangan heran kalau anak-anak kita ngga suka dengan kerjaan dapur atau nggak mau diminta tolong. Awalnya karena banyak larangan di masa-masa ia masih kecil.
Salam …