Entries RSS Comments RSS

Setelah Masuk ITB = Sukses ???

Welcome back my great buddy. Wilujeng sumping di sambungan cerita sebelumnya. Setelah masuk ke ITB aku serasa sudah memiliki dunia. Tapi apakah benar kesuksesan sudah ada di tanganku? Mari kita ikuti bersama kelanjutannya

Ternyata setelah ada di Teknik Elektro ITB, aku ke gilas. Dulu sih cukup bersaing dengan dua tiga orang aja di SMA. Sekarang seluruh kelas kayaknya minimal sejago aku. Waaaaaa. Rasanya koq jadi stress ya?. Tiba-tiba, aku merasa lebih enak waktu dulu SMA ngga perlu banyak mikir. Tiba-tiba merasa lebih enak di SMA, eh lebih enak SD ding. Mmmmh kayaknya paling enak memang jadi anak kecil.

Bener lho! Paling enak memang jadi anak kecil. Ngga usah mikir susah-susah. Pingin ini tinggal bilang. Pingin anu tinggal minta. Ngga dikasih, tinggal nangis. Ngga dapet juga walaupun sudah nangis kencang, ya tunggu aja 5 menit lagi juga lupa hehehehe.

Jadi orang yang bertambah besar memang bertambah besar juga tuntutannya. Harus mikir cari uang sendiri. Harus mikir bikin keluarga dan membiayainya. Buat yang punya anak harus bisa menjaga supaya menjadi anak yang terhormat di dunia ini. Wah pokoknya tambah tua makin tambah berat aja deh bebannya. Ups, kenapa aku jadi teringat sama puisi buat Nadya punyanya masfaiz ya?

Dan ternyata, masuk sekolah yang keyen-keyen seperti yang telah aku lalui bukanlah jaminan aku akan sukses. Tapi aku tetap yakin dong aku sukses. Yang paling sukses adalah orang yang ketika meninggalnya banyak yang sedih dan banyak yang mendoakan kebaikannya. Memang orang dilihat dari pas meninggalnya ya. Seperti gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Apa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal adalah lambang dari kesuksesannya. Contohnya siapa? Kalo buat aku salah satu orang yang sukses adalah Taufik Savalas. Gile bener nih orang, banyak banget yang kehilangan ketika dia meninggal.

Meskipun menjadi sesuatu di masa ini bukanlah jaminan kesuksesan di masa depan, apa yang kita dapatkan bisa kita jadikan modal untuk mengejar kesuksesan selanjutnya. Misalnya dari masuknya aku ke sekolah favorit banyak pengaruhnya kepada rasa percaya diri aku. Suer, aku jadi super pede karena aku pernah masuk sekolah SMP 49, SMA 39, dan Teknik Elektro ITB. Kalo di bukunya Bobby dePorter, “Quantum Learning“, masa-masa itu adalah masa puncak dan dapat kita gunakan untuk melambungkan sikap mental kita kepada sikap mental juara.

Kita dapat menggunakan masa-masa keemasan kita sebagai trigger untuk mencapai kesuksesan selanjutnya. Bawa kembali segala ingatan kita pada kesuksesan kita dimasa lalu untuk mempercepat mental juara kita muncul. Sayangnya, saya ngga ada tanda mata masa keemasan itu, misalnya foto atau video. Wah seandainya ada tentu sudah saya gantungkan di dinding sekolah dan dinding rumah supaya semangat saya tetap tinggi.

Hmm, maklumlah bukan berasal dari golongan berada. Baru bisa beli kamera sendiri setelah menikah hehehe. Tapi ngga apa-apa, masih banyak kenangan yang bisa diingat untuk membuat saya tetap bersemangat tinggi. Termasuk juga semangat untuk segera menyelesaikan riset saya di Universiti Teknologi Petronas ini.

Ayolah bersemangat !!! Biar bisa cepat pulang dan merentas kesuksesan di Indonesia. Bangsa Indonesia sudah menunggu kiprahku. Huhuy :)

Sementara ini, dihabiskan dulu kisah saya dalam beberapa seri tulisan di schoolofuniverse. Semoga senang bacanya. Wassalam

  • Share/Bookmark

Leave a Reply