Entries RSS Comments RSS

Masjid, Surganya Dunia

Assalamu alaikum wr wb
Seringkali, ketika ikut pengajian di Masjid atau sekedar di rumah kita merasa terganggu oleh berisiknya anak-anak. Mereka menjadikan Masjid sebagai surga bermainnya di dunia. Kenapa? Ya maklum saja, Masjid memberikan ruang yang lapang untuk berlari dan bermain untuk mereka. aku bisa membayangkannya. Sebagai orang yang besar di Jakarta, memang sangat sulit mencari tempat yang aman dan cukup lapang untuk bermain. Dulu sih sewaktu kecil, masih ada sawah dan lapangan yang bisa dipakai melepaskan ketegangan dengan bermain. Tetapi lama-kelamaan semua itu habis, menjadi lantai beton yang tersekat kecil-kecil. Sumpek dan ngga enak dijadikan tempat bermain. Belum lagi kalau main di jalan depan rumah harus selalu waspada dengan berseliwerannya sepeda motor dan mobil yang kadang berlari sangat kencang.

Seorang kawan aku yang berada di Amerika bercerita, bahwa mereka sering kerepotan mengurus anak-anak ketika sedang ada kegiatan seperti pengajian atau khutbah. Soalnya, suara pemberi materi kalah keras dengan suara anak-anak. Dan selalu, si pemberi materi memberi arahan kepada jamaah “Sisters, please take care of your children”. Pake sister gitu lho, kesannya anak-anak hanyalah tanggung jawab ibunya. Akhirnya, dipakailah strategi agar si anak tidak berisik, dengan membuat gambar-gambar yang harus diwarnai selama pengajian.

Kawan yang lain, seorang lelaki membiarkan saja anaknya untuk bermain di Masjid. Dalam pertimbangannya, dulu juga sewaktu dia kecil ya begitulah pekerjaan anak-anak. Tetapi begitu ada orang yang memarahi anaknya, dia tidak mau lagi membawa anaknya ke Masjid. Masjid bukan lagi surga atau bahkan sekedar menjadi tempat yang baik bagi perkembangan anaknya.

Kawan aku yang sedang berada di negara arab sana juga melihat, Masjid hanya menjadi tempat shalat tidak ada kegiatan yang baik untuk keluarga. Setelah satu jam lewat waktu shalat, Masjid selalu dikunci. Kecuali di Masjidil Haram dan Nabawi yang selalu jadi tempat kongkow keluarga.

Masjid pun hanya tempat kegiatan orang tua. Karena pengajian dan kegiatan lainnya hanya disediakan untuk orang tua. Anak-anak menjadi bagian yang terpinggirkan. Mereka menjadi golongan yang tidak dianggap ada, bahkan kalaupun dianggap ada hanya karena mereka mengganggu kegiatan orang tua dengan suara dan permainan mereka.

Lalu, dimana lagi anak-anak harus mencari surga dunia? Ketika pengajian bukan lagi membawa mereka mendekat pada tempat ibadah. Ketika shalatnya anak-anak hanya boleh berada di belakang tidak boleh sejajar dengan yang sudah dewasa ?

  • Share/Bookmark

2 Responses to “Masjid, Surganya Dunia”

  1. zal says:

    Assalamu’alaikum Pak Iwan…
    Pernahkah Pak Iwan, terbacakan di AQ, mengenai percakapan Allah dengan Malaikat sbb (maaf saya lupa ayatnya):
    “Mengapa Engkau ciptakan orang yg akan membuat kerusuhan dan pertumpahan darah dimuka bumi” yg selanjutnya Allah berkata “bukankah telah KUkatakan bahwa AKU lebih tahu dari apa yg tdk kau ketahui”

    selanjutnya sebuah hadis, (maaf saya kalau baca hadist tdk terlalu berfikir pada sanad), “bahwa tanda-tanda akhir zaman, salah satunya adalah dimana mesjid dibangun dengan besar dan indah, namun jemaahnya sedikit sekali”

    Jika disandingkan 2 hal ini, menurut Pak Iwan, apa titik kritis, yang tersampaikan…? apakah tebakan Malaikat yg akan benar, ataukah ….????

    Wassalamu’alaikum ww

  2. ‘alaikumussalam wr wb
    Mr. Zal, justru pertanyaan seperti itu yang ingin aku hindari. Soale dulu pernah pusing sewaktu belajar Tauhid otodidak (salahnya aku sendiri belajar otodidak :) ). Takutnya, apa yang menjadi keyakinanku, malah merusak iman orang lain. Meskipun sebenarnya sudah ada tulisan mengenai keyakinanku di blog ini hehehe (dasar ngga konsisten).
    Intinya Allah Maha Tahu, semua ciptaan Nya, ya tahu dari apa yang diajarkan Nya. Bagaimana Malaikat bisa nebak ? (/tahu?). Jadi aku sih percaya, semua yang ada di dunia ini membawa rahasia Allah. Kewajibanku cuma menjalani peran yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Tuntunannya sudah ada, tapi aku baru bisa menjalankan sebatas aku mampu.
    Jadi titik kritisnya adalah, kalau benar hadist nya sahih, ya jadi kayak judul film: “Kiamat sudah dekat”. Sorri kalo ngga memuaskan jawabannya.

Leave a Reply