Mungkin waktu sebelum kuliah dulu aku sudah terlalu banyak dicecoki dengan doktrin-doktrin agama. Sebenarnya juga sewaktu kuliah, aku sibuk dengan doktri-doktrin itu sampai akhirnya aku bosan sendiri.
Saat-saat ini, terus terang saja aku sedang malas belajar agama lagi. Cape tidak menemukan tempat belajar yang membawa ketenangan ke hati aku. Bagi aku sekarang, kepasrahan saja terhadap jalan yang diberikan oleh Tuhan untuk aku. Aku jalankan peranku sekarang sebaik-baiknya, sebatas aku mampu untuk menjadi hamba Nya yang baik.
Kalau ditanya, apakah aku termasuk orang yang menjalankan seluruh perintah agama aku harus jujur untuk mengatakan belum. Ada saatnya aku memiliki semangat yang kuat untuk menjalankannya ada juga saat aku sangat malas. Contohnya adalah dalam membaca al quran, kadang aku semangat setiap hari membaca ataupun tidak semangat sampai berminggu-minggu tidak baca. Bukan berarti meninggalkannya sih, cuma malas saja. Termasuk juga untuk ikut pengajian.
Dulu waktu masih berstatus mahasiswa S1, bisa dibilang aku sangat semangat untuk mencari. Bukan orang yang mengajak aku untuk ikut pengajian ini atau itu, tapi aku sendiri yang mencari dan bertanya. Cuma setelah ikut di dalamnya aku tidak menemukan ketenangan yang aku cari. Saat-saat beraktivitas Islami yang paling berkesan hanya aku temukan di Pembinaan Anak-anak Salman, dan itupun belum bisa dikategorikan sebagai tempat pengajian.
Penyebab dari ketidaknyamanan dalam pengajian itu bermacam-macam. Ada yang berasal dari konsep yang tidak masuk akal kalo menurutku atau juga yang berasal dari personal yang ada dalam pengajian itu. Misalnya ada yang terlalu berlebihan dalam menginterpretasi dalil yang dipakai atau interpretasi yang berlawanan dengan dalil-dalil lain. Kadang juga rasanya tidak sesuai kalo diterapkan di masyarakat (aneh ya, belajar agama koq pake rasanya).
Nah kalo yang dari personal sih, mungkin hampir sama dengan pendapat istriku. Tingkat pemahaman seseorang terhadap agama bisa dilihat dari keluarganya. Bisa saja terlihat oleh orang lain dia seperti orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi, tapi sayang dia tidak bisa menjaga keluarganya sendiri. Ini kan sama saja ikut nimbrung sama urusan orang tapi urusan dia sendiri tidak terjaga.
Banyak lho contohnya orang seperti ini. Ada yang sibuk dengan aktivitas dakwah tapi keluarga terlantar. Anak-anak tidak disiapkan makan, tidak diajari agama, tidak diawasi dengan alasan bahwa setiap anak membawa rizki masing-masing dan Tuhan tidak akan membiarkan hamba Nya terlantar. Sering juga aku lihat bapaknya ustadz anaknya jadi preman. Bapaknya asyik berdakwah keluar daerah tapi anaknya tidak diberi makan.
Ada lagi yang sibuk dengan menjaga pemahaman orang lain tetapi tidak sibuk menjaga pemahaman keluarganya. Sibuk mencari kesalahan-kesalahan orang lain, bahkan ikut meng encourage supaya keluarganya pun ikut menyebarluaskan kesalahan orang lain itu. Bahkan dibela mati-matian kalo ada orang yang ngasih tahu akan perilaku salah anggota keluarganya.
Kalo kata istriku sih, orang kayak gini omongannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Ngga ngaruh terhadap keimanan, cuma nambah wacana saja omongannya. Perlu dihindari untuk berargumentasi lewat lisan, karena biasanya omongan tidak bisa dipegang. Satu saat bilang begini tapi di saat lain bilang begitu. Kalau dikonfirmasi tentulah keluar dalil-dalil yang akan membikin bingung orang lain.
Kalo masalah dakwah memang perlu diakui kalo Nabi Muhammad itu jago. Untuk setiap golongan dan tingkatan pendidikan selalu ada jalan yang pas. Ngga marah saat ada orang membuang sesuatu yang kotor dalam masjid karena tahu tingkat pemahaman orang itu. Tapi juga bisa tegas kalau tahu tingkat ilmu orang yang menjadi obyek dakwah. Pokoke hebatlah.
Gitu aja dulu deh, kapan-kapan dilanjutkan lagih.
terkadang orang hanya sedikit memahami tentang konteks agama. buat apasih orang memiliki agama yang pada akhirnya agama itu hanya sebuah simbol kamuflase belaka dan tanpa adanya dalam hati bahwa hatinya pun ikut beragama……….