Entries RSS Comments RSS

Melahirkan di Rumah Sakit

Home

Okeh, sekarang aku mau cerita pengalaman memilih rumah sakit di Bandung dan di Malaysia sini.

Sewaktu kehamilan anak pertama istriku masih bingung memilih tempat melahirkan. Maklumlah, anak pertama. Pinginnya sih melahirkan di tempat di mana orang yang membantu melahirkan adalah orang yang baik buat istriku. Soalnya kadang kata orang, dokter atau bidan anu baik, tapi ada juga orang yang trauma ditangani oleh dokter atau bidan yang sama. Yah, mungkin sama seperti mencari jodoh kali ya.

Akhirnya berkelanalah kami mencari dokter yang tepat. Pertama kali, kami pergi ke seorang dokter laki-laki di poliklinik Islam. Ternyata, perutnya itu dibuka dan dipegang-pegang ya. Istriku merasa ngga nyaman. Terus kami cari dokter wanita, akhirnya dapat deh dokter Anita di Jalan Merdeka, Bandung.

Sebenarnya sih, ada yang cerita dokter ini baik tapi ada juga yang trauma dibantu oleh dia. Misalnya, seorang kawan istriku melahirkan di bidan, tapi setelah melahirkan koq ada rasa ngga enak di perutnya. Akhirnya dia pergi ke dokter Anita. Di sana diperiksa, ternyata ada bagian ari-ari yang masih tertinggal dan harus diobok-obok lagi deh jalan melahirkannya untuk mengeluarkan sisa ari-ari ini. Nah, kan pengalaman baik tuh.

Sedangkan ada kawanku, yang istrinya dibantu melahirkan oleh dokter yang sama malah merasa kebalikannya. Soalnya waktu itu dia sudah hampir melahirkan, tapi ngga ada bidan yang mau membantu sampai dokter itu datang. Sudah keluar kepala bayi, malah dimasukkan lagi karena bidannya takut (takut kenapa ya? takut dimarahin gitu?). Pas datang si dokter cuma ngasih perintah ini itu sama bidan, jadi yang membantu melahirkan ya bidan juga sih. Dokternya cuma dibagian akhir aja, pas si bayinya keluar. Ini pengalaman yang merasa kapok.

Wah, jadi bingung ya? Ah ngga koq. Jadi keyakinan kami tetap sama, itu hanya masalah jodoh-jodohan. Berencana begini begitu, ya hasilnya belum tentu sesuai. Dan memang itulah yang terjadi pada kami.

Kami periksa di dr. Anita hanya untuk memantau perkembangan calon anak kami. Tapi kalo urusan melahirkan kami mau melahirkan di Rumah Sakit Al Islam, Bandung. Sayangnya dokter Anita ini tidak melayani bantu melahirkan di sana. Hanya di RS Hasan Sadikin dan Rumah Bersalin sekitar Jalan Merdeka saja yang bisa dia layani. Di RS HS, bukan menjadi pilihan. Soalnya kan RSHS itu tempat belajar calon dokter. Istri sodaraku ya jadi bahan belajar calon dokter deh sewaktu mau melahiran. Kebayang deh, lagi mules-mules tempat jalan melahirkannya jadi bahan studi mahasiswa (cowok cewek).

Akhirnya, supaya bisa melahirkan di RSAI, kami juga daftar di sana dengan bidan. Bidannya pun sudah dipilih yang direkomendasikan oleh teman. Pas menjelang hari H, sudah keluar darah dari jalan melahirkan istriku. Waktu itu masih kamis pagi, kami berangkat naik taksi ke rumah sakit. Perjalanan lancar, dan bidan yang mau menolong juga ada. Tapi karena tanda-tanda melahirkan yang lain belum terpenuhi, istriku cuma harus menjalani observasi aja semalam di sana. Nginep malam jum’at dan siap untuk melahirkan esok harinya.

Besoknya, si bidan sudah siap datang pagi-pagi. Istriku juga sudah masuk ruang melahirkan sejak selesai shalat subuh. Karena tanda-tanda yang lain belum datang juga, akhirnya istriku di induksi. Aduh kasihan sekali, karena ternyata diinduksi itu membuat perut mulas-mulas.  Dan ternyata, induksi ini tidak menghasilkan apa-apa. Sampai sore si jabang bayi belum juga muncul. Akhirnya si bidan menyerah. Dia pulang dan istrinya jadi tanggung jawab dokter yang tugas jaga.

Oleh dokter, diperkirakan harus dioperasi. Aku udah tanda tangan untuk operasi Caesar. Wah, udah kasihan banget deh sama istriku. Dokternya bilang tunggu habis maghrib baru dia datang, karena baru saja sampai di rumah sore itu. Selepas maghrib, dokter itu datang dan suster melaporkan kalo bukaan sudah nambah. Akhirnya si dokter nyuruh kami bersabar nunggu, siapa tahu bukaannya bertambah lagi. Dokter dari ruang operasi sudah siap, dan menelepon dan akhirnya harus menunggu.

Setelah menunggu sekitar 1,5 jam dokter memutuskan tidak jadi operasi dan dilahirkan normal dengan bantuan vacuum. Wah, proses melahirkan itu ternyata berat ya. Tapi begitu si bayi keluar dengan selamat, aduh bahagia banget. Dokter itu membereskan istriku sementara aku menemani bayiku dibersihkan.

Nah, benerkan kita berencana akhirnya Tuhan juga yang menentukan. Udah susah-susah milih bidan cewek, eh akhirnya dr. Sunardi yang cowok juga yang membantu istriku melahirkan. Tapi it’s ok lah. Anak kedua kami pun dibantu oleh dokter yang sama. Periksa di dr. Anita, periksa juga di RSAI, dan lahir di sana oleh dokter yang sama.

Sekarang nih, yang susah karena kami ada di negeri orang. Ada seorang kawan yang melahirkan di rumah sakit negeri. Wah, kesel banget. Karena ternyata perlakuan karyawan di sana tidak menyenangkan. Apalagi kalo mereka tau yang mau melahirkan itu orang Indonesia, dimarah-marahin habis-habisan deh.

Akhirnya beberapa kawan yang sedang hamil dan akan melahirkan dalam waktu dekat ini, akan mencari rumah sakit swasta. Soalnya dari segi biaya sih, hampir sama. Maklum deh, kita kan ekspatriat. Mudah-mudahan prosesnya lancar dan semuanya sehat. Doakan ya, sobat-sobat.

  • Share/Bookmark

2 Responses to “Melahirkan di Rumah Sakit”

  1. Landy says:

    Amien , semoga semuanya di lancarin , ibu dan anaknya sehat.

  2. Makasih banyak doanya. Mudah-mudahan anda sekeluarga juga diberi kesehatan, kemudahan urusan, keberkahan rizki, dan kebahagiaan dunia akhirat.

Leave a Reply