Entries RSS Comments RSS

Ospek di ITB 1994 dan 1995

Home

Mau cerita dikit nih tentang pengalaman ospek aku, di ITB tahun 1994. Menurut rencana, ospek ini akan diadakan selama seminggu. Resmi lho, soale dibuka oleh petinggi ITB juga. Yah, inilah pengalaman pertamaku di ospek.

Setiap hari, kami harus datang pukul 6 pagi dan pulang pukul 11 malam. Tidak boleh terlihat diantar memakai kendaraan pribadi. Kalau terlihat, ya siap-siap aja dihukum. Karena aku tinggal bersama saudara di Sarijadi, maka setiap hari pasti diantar pakai kendaraan pribadi. Yah tinggal pintar-pintar cari tempat turun aja deh.

Seluruh peserta ospek dibagi dalam beberapa peleton, setiap peleton dibagi dalam beberapa regu. Aku udah lupa deh ada berapa peleton dan ada berapa regu dalam satu peleton.

Pagi hari pertama, langsung dikasih tugas untuk jadi ketua regu. Kenapa ya aku mau jadi ketua regu? Soalnya saat itu semua orang ditantang untuk jadi ketua regu, tapi ngga ada yang berani maju ke depan. Jadi akhirnya aku mengorbankan diri untuk menjadi ketua regu. Siang hari dikit, ternyata ketua peletonku sakit dan harus diganti. Semua ketua regu peletonku disuruh maju ke depan untuk ditantang jadi ketua peleton. Sama halnya seperti waktu memilih ketua regu, ngga ada yang berani maju akhirnya aku maju juga jadi ketua peleton. Wah dalam satu hari aku naik pangkat dua kali. Tapi hari ketiga aku hampir dikudeta dari ketua peleton, ngga tau juga apa masalahnya. Cuma ngga jadi diganti sih, tetep aku juga yang jadi ketua. Padahal kayaknya enak juga ya jadi orang biasa.

Ospeknya standar lah. Cuma harus pake pakaian khusus, tas khusus, dan atribut khusus. Selain itu ya cuma pekerjaan lari, push up, scout jump, dan sedikit diskusi. Manfaatnya apa ya ikutan ospek ITB? Banyak juga sih yang ngga ikutan karena ngga merasa ada manfaat. Mereka lebih memilih nanti aja ikutan ospek jurusan. Karena memang ada konsekuensinya kalo ngga ikut ospek jurusan.

Ospek jurusan sendiri, terus terang lebih berat dibandingkan ospek ITB. Beberapa bulan sebelum ospek sesungguhnya diadakan, setiap hari Minggu para calon peserta ospek sudah harus ikut pra ospek. Acaranya sih, standar aja. Cuma lari bareng, push-up, dan olahraga deh. Ada juga sedikit tugas yang berhubungan dengan Elektro.

Nah, ceritanya ospek jurusan ini diadakan di awal bulan Januari. Saat itu, sekitar seminggu sebelum acara ospek dimulai kami sudah mulai disuruh membuat peralatan, pakaian, dan atribut lainnya. Sayangnya pada saat aku menyiapkan kebutuhan ospek, sinusitis ku kambuh. Akhirnya setelah dari dokter, aku langsung pulang ke Jakarta. Setelah itu ngga balik untuk ikut ospek. Padahal saat itu semua peralatan udah siap.

Nah, setelah berada di tempat panas cukup lama, aku merasa perlu ikut ospek jurusan. Akhirnya aku berangkat sore-sore supaya bisa sampai malam hari dan besok paginya bisa ikut hari pertama ospek. Ternyata, kawan-kawanku sudah ikut dari beberapa hari sebelum hari H. Ada pemeriksaan kesehatan, tugas-tugas, yang aku lewati. Wah proses supaya aku bisa ikut tuh, lumayan lama. Soalnya kan memang sudah telat datangnya.

Udah deh, aku kena hukuman fisik dan tugas bejibun sebelum akhirnya diperbolehkan ikut. Untungnya saat pra ospek aku cukup rajin, sehingga ngga ada keraguan kalo aku ini memang berniat ikut ospek jurusan.

Ospek jurusan memang lebih lama. Jam setengah lima pagi harus sudah berkumpul untuk mulai. Shalat subuh pun biasanya dikerjakan di dekat tempat ospek. Acara harian biasanya berakhir lewat tengah malam. Itupun sudah ditambah lagi dengan tugas ketikan yang harus diserahkan esok harinya.

Setiap pagi, minuman wajib yang selalu dibawa adalah oralit. Mungkin untuk menghindari peserta terkena diare kali ya. Maklumlah, pas acara ospek kotor-kotoran. Mana lagi musim hujan lagi. Minuman oralitnya juga diwajibkan memiliki rasa tertentu. Kadang disuruh rasa orange, lemon, dll. Ngga ada yang aneh sih, cuma aku masuk barisan busuk gara-gara aku telat daftar karena sakit. Isinya ya peserta yang memiliki riwayat sakit berat yang mungkin bisa kambuh kalo terlalu diforsir. Padahal badanku cukup kekar lho, cuma hidung ini aja yang kadang ngga bisa kompromi.

Menjelang tiga hari terakhir, kami dipersiapkan untuk long march. Selain bawa barang-barang keperluan dasar, kami juga disuruh membawa keresek asoy dan korek api cap durian. Wah, gile aje aku udah ngider ke beberapa pasar ngga ada tuh yang jual asoy sama durian. Akhirnya beli aja yang ada, terus ditulis asoy dan durian, hehehe.Ternyata ngga ngaruh juga, ngga diperiksa dan ngga ada konsekuensi apa-apa.

Selepas shalat jum’at, kami bersiap untuk berangkat ke daerah Ciwidey selepas ashar. Dengan menaiki truk sewaan, kami sempat tertidur cukup lama di atas truk sebelum sampai ke tempat tujuan. Maklumlah, sudah beberapa hari kurang tidur. Baru bangun pas akan sampai, karena dibangunkan. Sampai di sana ternyata sudah maghrib. Selepas melakukan shalat maghrib dan isya di jama’, kami makan dan bersiap untuk pergi lagi.

Kali ini, kami cuma jalan aja. Ngga tau jalannya ke mana dan kapan sampainya. Beberapa teman malah ada yang kesurupan diperjalanan. Wah, bekal yang cuma seadanya sudah semakin menipis saja. Kami kira, kami mau dibawa ke camp atau semacamnya. Tapi sampai subuh tiba, ngga juga sampai. Selepas shalat subuh dan sarapan kami jalan lagi.

Entah sudah berapa puluh kilo perjalanan yang dilakukan. Tapi sepanjang perjalanan beberapa teman dan aku sendiri merasa pernah ke tempat itu. Pernah melakukan hal yang sama malah. Katanya sih, yang kayak gini namanya Dejavu. Teuing tah naon artinya.

Siangnya, kami masih jalan. Sebagian besar peserta sudah kehabisan bekal air dan terpaksa mengambil air dari mata air yang ada di pinggir jalan. Ada yang jalannya sudah sempoyongan karena ngga tahan melek terus selama perjalanan. Ada juga sih, yang sampai harus ditandu karena kakinya sudah pada rusak. Gimana ngga rusak, berjalan sehari semalam dalam kondisi hujan?

Sorenya, kami sampai di camp. Selain jurusan kami, ada satu jurusan lain yang mengadakan ospek di tempat yang sama. Wah, dikirain bakalan istirahat dulu. Ternyata ngga, langsung diteruskan ospeknya di tempat itu.

Sekarang bener-bener fisik yang sudah kelelahan ini ngga tahan. Bayangkan aja, disuruh olahraga ditengah hujan di tempat yang dingin. Kadang juga kami disetrum (tegangan aman sih). Sampai akhirnya aku ngelindur. Aku merasa ada di kampus dan melakukan aktivitas ospek di sana. Padahal aku ada di Ciwidey. Udah rada gelo kali yee.

Menjelang subuh, barulah acaranya selesai. Nah pas acaranya selesai inilah baru aku sadar lagi sedang ada di Ciwidey. Ampun deh, cape banget. Pagi habis sarapan langsung siap-siap pulang. Lepas sampai rumah, aku langsung mandi dan istirahat. Seingatku, jam 5 sore aku berleha-leha dan ketiduran. Aku baru terbangun jam 5 pagi. Kelewat deh shalat maghrib dan isya. Bener-bener cape deh kayaknya.

Kalo dari acara ospek jurusan ini, memang terasa sih antar kawan seangkatan semakin dekat. Kompaknya masih terbawa sampai sekarang. Cerita beratnya ospek, akhirnya cuma jadi cerita kenangan indah aja setelah acara itu selesai.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply