Entries RSS Comments RSS

Archive for December, 2007

Itu Tergantung Pada Siapa Yang Melihat

Saturday, December 29th, 2007

Belum bosen ya, membicarakan tentang hubungan Indonesia dan Malaysia. Soalnya aku masih ada di Malaysia sih. Jadi ya kalo ada yang nyentil-nyentil dikit masalah Indonesia dan Malaysia, gatel deh rasanya pengen ngomong.

Sesuai judul, ini adalah tentang penilaian terhadap suatu bangsa. Misalnya bagaimana orang Indonesia melihat orang Malaysia dan orang Malaysia melihat orang Indonesia. Ternyata, tergantung orangnya juga sih. Ya itu berarti siapa yang membesarkannya, bagaimana dibesarkannya, siapa orang-orang sekelilingnya, dan juga tingkat pendidikannya.

Misalnya, ada orang Indonesia yang berfikir orang Malaysia itu malas-malas. Ngga mau kerja yang susah-susah. Maunya dapat uang banyak dengan kerja sedikit atau memperlakukan pekerja Indonesia dengan tidak semena-mena. Nah ini memang tergantung pada siapa yang melihat dan siapa yang dilihat.

Kalau orang dengan sifat malas kerja yang susah dan pengen dapat uang banyak dengan kerja sedikit, ngga cuma ada di Malaysia. Di Indonesia pun banyak. Aku juga mau kerja sedikit, gampang, dan dapat uang banyak.  Siapa yang ngga mau? Aku lihat setidaknya di sekitar tempat tinggalku, banyak juga koq orang Malaysia yang mau kerja kasar dan bahkan waktu kerjanya dari pagi hari sampai jam 12 tengah malam. Apalagi yang kerjanya di kantin. Di kantin kampusku saja, pekerjanya sudah mulai dari jam 6 pagi untuk beberes. FYI, jam 6 pagi di sini baru saja adzan subuh. Ngga mungkin kan mereka bangun langsung beberes di kantin. Pasti udah beberes dulu di rumahnya. Dan pekerja itu baru akan selesai pukul 11 malam, bahkan kadang sampai jam 12 malam. Dari hari Senin sampai Minggu. Bayangkan kerasnya pekerjaan mereka itu.

Kalo di Indonesia, atau setidaknya di Bandung, aku ngga pernah lihat orang keturunan Cina yang bukan jadi pedagang atau pemilik perusahaan. Di sini, yang jadi pelayan di supermarket dan department store itu mereka juga. Bahkan ada yang pekerjaannya jadi kuli bangunan. Yang jadi supir, kenek, dan pengemis juga ada.

Oh iya, yang suka pake pembantu atau pakai pekerja dari Indonesia kayaknya juga bukan orang Melayu. Banyaknya sih yang keturunan gitulah. Kalo orang Melayunya sendiri, tetanggaku yang mayoritas orang Melayu dan punya anak lebih dari 4 hampir ngga ada yang pake pembantu tuh. Orang di sini harus sudah masuk kerja dari jam 8 pagi (jam 7 WIB) dan pulang jam 5 sore. Tapi ternyata ada juga tuh yang ngga langsung beli saja makanan jadi. Mereka tetap masak sendiri untuk sarapan dan makan malamnya. Kebayang ngga? Untuk menghidupi sekeluarga dengan anak lebih dari 4 dua-duanya bekerja, ga punya pembantu, dan masih harus menyiapkan sendiri masakannya.

Dan, untuk melihat setinggi apa sih level seseorang mudah saja. Tetangga kanan kawan saya yang mungkin kawannya banyak pembantu atau pekerja kasar dari Indonesia, selalu memandang rendah orang Indonesia karena ya dikiranya semua orang Indonesia yang datang ke Malaysia itu jadi pekerja rendahan. Tapi tetangga kanannya selalu ketemu dengan orang Indonesia yang jadi Mahasiswa postgraduate atau yang jadi dosen, selalu ngira orang Indonesia yang datang ke Malaysia itu pendidikannya tinggi-tinggi dan pintar-pintar.

Ada lagi seorang ustadz di sini yang sekolahnya di Indonesia dan kebetulan dulu bergaulnya dengan aktivis kegiatan Islam, selalu berfikir bahwa sekolah di Indonesia itu mendidik anak menjadi tangguh dan jiwa pejuang Islamnya tinggi. Sampai-sampai diapun ingin menyekolahkan anaknya di Indonesia. Tapi teman dosen dari Indonesia, malah melihat sekolah di Malaysia itu bisa menghalang anak dari pergaulan yang kurang baik, jadinya malah pindah ke sini sekalian menyekolahkan anaknya.

Jadi memang, tergantung pada siapa yang melihat. Low level person, selalu melihat orang lain banyak kekurangannya. Sedangkan high level person, selalu ingin melihat apa yang bisa dia capai lebih dari orang lain dengan melihat kelebihan orang lain.

Btw, artis Malaysia merasa industri musiknya terjajah oleh pemusik Indonesia lho. :)

  • Share/Bookmark

Acer Aspire 4520 dan Permasalahannya

Friday, December 28th, 2007

Setelah mengirit pengeluaran selama beberapa bulan (dan ternyata masih harus ngirit sampe sekarang ditambah lagi belum tahu sampai kapan harus mengirit) akhirnya aku berhasil membeli sebuah laptop bermerek Acer, tipe Aspire 4520. Harganya termasuk murah saat itu, hanya RM 2000. Kalo di Indonesiakan berapa ya sekarang? Dengan kurs RM 1 = Rp 2500, ya jadi 5 juta deh.

Spesifikasinya adalah prosesor AMD Turion 64X2 1.9 GHz, RAM 512 MB, HD 120 GB, Wireless B/G, DVD Writer DL, Express Card, 5 in 1 reader, Monitor 14.1 inch. Modem, LAN, USB itu sudah standar lah ngga ada yang hebat banget.

Okeh, dari katalog Acer, laptop ini dikasih OS Linux Linpus. Tapi sama yang jualnya ternyata dikasih Windows XP bajakan. Karena bajakan, ngga bisa deh dipake untuk update software. Wah sedih. Setelah itu aku coba install Acer Empowering Technology, berdasarkan petunjuk dari web.

Setelah itu, aku juga pasang software lain yang kebanyakan gratisan (free software) seperti wise registry cleaner, firefox, free download manager, dan mainan anak-anak. Ternyata setelah dipake beberapa kali, mulai ngadat nih komputer. Masa mau nampilin isi my computer aja bisa sampe 2 menit. Saatnya bebersih.

Akhirnya aku bisa dapatkan Windows asli yang bisa diupdate. Ngga perlu ditanya gimana caranya, pokoknya jadi bisa terupdate aja nih windows XP. Terus mulai deh pasang software yang lainnya. Untungnya, Acerku ini sudah dilengkapi dengan CD driver. Ngga ada masalah tuh dengan instalasi hardware di XP. Padahal kata orang Acer ini banyak masalah. Ternyata semua hardware terdeteksi dengan baik.

Caranya? ya seperti biasa deh, begitu ada hardware yang terdeteksi atau lewat hardware manager, dia akan minta driver untuk hardware. Sudah tunjukkan saja tempat CD drivernya. Dia nyari sendiri driver mana yang dibutuhkan. Semua beres sampe selesai. Saatnya mencoba software lain.

Seperti biasa, software gratisan lain seperti avast anti virus home edition, firefox, wise registry cleaner, aku pasang. Ndak ada masalah berarti. Besoknya langsung aku bawa ke kampus. Dengan koneksi wireless, dimulailah proses update. Eh iya harus validate windows nya dulu yah. Proses validasi ini mudah aja koq kalo terhubung ke internet. Hati-hati, kalo windows XP kamu sudah pernah divalidasi mungkin ngga akan bisa dipake untuk validasi lewat internet lagi. Lho koq aku bisa tau? He he he, ini ada ceritanya sendiri.

Validasi berhasil dengan baik. Kemudian update anti virus dan program-program yang aku butuhkan. Semua berjalan dengan baik. Setelah itu aku cari Acer Empowering Technology yang terbaru. Dapat dari kampus, dan bisa jalan dengan baik. Mungkin ini versi untuk Vista kali ya. Tapi ternyata jalan semua tuh dengan baik di XP ku. Memang sih, pertama kali harus install Microsoft Framework 1.1. Tapi setelah itu terpasang, semua bisa jalan dengan baik. Untuk yang ngga punya XP yang tidak bisa diupdate (means terdeteksi illegal) tenang aja, Framework ini bisa di download dari microsoft tanpa harus memeriksa validasi.

Jadilah sekarang komputerku berjalan dengan sangat mulus. Insya Allah ngga ada problem. Paling kalo udah dipake maen game aja bisa lambat. Tapi bukan karena ada masalah sih. Biasanya kan kalo batere udah penuh, colokan aku matikan. Nah pas dimatikan ini si laptop ngatur sendiri penggunaan memori, monitor, dan CPU. Ini kadang bikin lambat dan layar agak gelap. Tapi bisa disetting dari Acer Empowering Technology nya sih.

So, sekarang setiap sabtu dan minggu, si Acer sayang ini aku bawa ke kantor untuk auto update. Bahkan udah dipake install Visual Studio Express dari websitenya langsung. Sudah diregistrasi pula.

Eh baru sebulan aku pake, ternyata sudah ada yang baru di pasaran. Sekarang prosesornya 2.0 GHz. Yang lainnya hampir mirip. Harga punyaku, yang barunya aja sekarang udah turun RM 200. Wah sedih juga nih, dalam sebulan udah turun segitu banyak harganya. Tapi ga papa deh, udah banyak juga pengalaman yang aku dapatkan selama sebulan itu.

Sekarang Acerku melaju terus. Mudah-mudahan awet. Oh iya, driver dan empowering technology nya ngga bisa aku upload ke website ini. Maklum bayarnya cuma lima ribuan sebulan, ngga akan cukup untuk naruh file yang gede segede gambreng. Kalo ada yang mau dapat filenya, yah silahkan cari sendiri deh di luar sono. Soalnya kalo ngirim lewat mail juga ngga akan bisa, diblok kalo ada file exenya.

Ada permasalahan dengan Acer ku? Sekarang sudah tidak ada lagi.


Google


  • Share/Bookmark

Bencana dan Kekerasan

Friday, December 28th, 2007

Tahun 2004 ketika SBY terpilih menjadi presiden, Indonesia sudah mulai dirundung bencana. Bahkan dimulai dengan bencana yang sangat dahsyat, dimana ratusan ribu orang meninggal dunia dan kerugian yang mungkin mencapai trilyunan rupiah. Beberapa orang yang percaya mistis bilang, ini gara-gara naiknya SBY meminta korban.

Setelah itu, bahkan sampai sekarang bencana masih menimpa Indonesia. Tapi menurutku bukan karena naiknya SBY minta kurban. Ya memang sedang terjadi bencana di mana-mana di seluruh dunia. Masa naiknya SBY menimbulkan korban di seluruh dunia? Ngga mungkin kan?

Yang kena tsunami, ngga cuma Indonesia. Ada lagi korban Topan badai Katrina di negara yang malah katanya Adidaya super duper kelas dunia, Amerika. Di Cina ada banjir. Bahkan di Malaysia sini pun, ternyata banjir juga jadi bencana. Yang mengungsi itu sampe puluhan ribu lho.

Kalo penanganannya, ya tergantung kemampuan dong. Ngga mungkin mengharapkan Indonesia mampu menangani korban bencana seperti Amerika atau bahkan Malaysia menangani bencana. Beda kemampuan, juga beda sumber daya keuangan.

Kalo dari segi keterampilan para pekerja sosial yang memberi bantuan, ya mungkin sama atau malah di Indonesia lebih baik. Tapi dengan dukungan peralatan dan keuangan yang lebih baik, tentu terjadi peningkatan efek yang cukup besar terhadap hasilnya.

Kalo dari segi kemampuan melihat peluang gimana? Ya sama aja deh, ngga di Indonesia doang yang terjadi perebutan harta ghonimah (emangnya perang ). Ada aja deh yang ngambilin alias menjarah barang orang lain yang sedang kesusahan, bahkan di Amerika sana.

Oh iya, tadi pagi baru saja lihat berita tentang meninggalnya Benazir Butho di Pakistan akibat terbunuh. Wah, dulu ya waktu jaman Pak Harto paling kita lihat berita kayak gini terjadi di luar negeri. Perang antar Irak-Iran, perang saudara di Irlandia, dll. Dulu sih cuma jadi tontonan aja, ngga terlalu terasa miris melihatnya.

Eh, ternyata kejadian juga di Indonesia. Perang Ambon, perang Madura-Dayak, ternyata ada juga di Indonesia. Korbannya juga ngga tanggung-tanggung, sampai ribuan. Nah mungkin satu saat, yang kayak Benazir itu ada di Indonesia. Entah karena persaingan politik atau alat agama.

Sekarang sih, kalo perang elit politik di Indonesia ngga kelihatan. Maklum deh, perangnya pake dukun santet hehehe. Pakuat-kuat dukun deh. Satu saat nanti, mungkin sudah pake senjata. Naudzubillah.

  • Share/Bookmark

Ramalan Joyoboyo

Thursday, December 27th, 2007
Besuk yen
wis ana kreta tanpa jaran.

One day there will be a cart without a horse.

Tanah Jawa kalungan wesi.

The island of Java will be circled by an iron necklace.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.

There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.

The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhange.

There will be markets without crowds.

Iku tandane yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.

These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.

The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.

Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.

Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakaian lanang.

Women will dress in men's clothes.

Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.

These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.

Akeh janji ora ditetepi.

Many promises unkept.

Akeh wong  wani nglanggar sumpahe dhewe.

Many break their oath.

Manungsa pada seneng nyalah.

People will tend to blame on each other.

Ora ngindahake hukum Allah.

They will ignore God's law.

Barang jahat diangkat-angkat.

Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.

Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamakne dhuwit.

Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.

Ignoring humanity.

Lali kabecikan.

Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.

Abandoning their families.

Akeh Bapa lali anak.

Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.

Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.

And battle against their fathers.

Sedulur pada cidra.

Siblings will collide violently.

Kulawarga pada curiga.

Family
 members will become suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.

Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.

People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.

The queen's judgements will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.

There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.

Many will behave strangely.

Wong apik-apik pada kepencil.

Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin.

Many people will be    too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.

Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.

Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.

Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.

They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.

The honest will be confused.

Wong salah bungah.

The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.

The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.

The evil ones will rise to the top.

Wong agung kesinggung.

Noble people will be wounded by unjust criticism.

Wong ala kepuja.

Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.

Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.

Men will loose their courage.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.

Men will choose not to get married.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.

Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu pada ngedol anake.

Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.

Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.

Couples    will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.

Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.

Men will be carried in a
 stretcher.

Randa seuang loro.

A divorcee will be valued at 17    cents.

Prawan seaga lima.

A virgin will be valued at 10 cents.

Duda pincang laku sembilan uang.

A crippled men will be valued at 75 cents.

Akeh wong ngedol ngelmu.

Many will earn their living by trading their knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.

Many will claims other's merits as their own.

Njabane putih njerone dadu.

It is only a cover for the dice.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.

They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.

Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.

Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.

Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randa nglairake anak.

Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.

Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.

Religions will be attacked.

Perikamanungsan saya ilang.

Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.

Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.

They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing
 ngendi-endi.

Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.

There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkhianat.

There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.

Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.

Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.

Friends will become enemies.

Guru disatru.

Students will show hostility toward teachers.

Tangga pada curiga.

Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.

And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.

The
 eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.

The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.

One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.

In the east, in the west, in the south, and in the north.

Akeh wong becik saya sengsara.

Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.

Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul.

When this happens, a rice cooker will be said to be an egret.

Wong salah dianggep bener.

The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat
 nikmat.

Betrayers will live in the utmost of material    comfort.

Durjono saya sempurna.

The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.

The evil persons will rise to the    top.

Wong lugu kebelenggu.

The modest will be trapped.

Wong mulyo dikunjoro.

The noble will be imprisoned.

Sing curang garang.

The fraudulent will be ferocious.

Sing jujur kojur.

The honest will unlucky.

Pedagang akeh sing keplarang.

Many merchants will fly in a mess.

Wong main akeh sing ndadi.

Gamblers will become more addicted to gambling.

Akeh
 barang haram.

Illegal things will be everywhere.

Akeh anak haram.

Many babies will be born outside of legal marriage.

Wong wadon nglamar wong lanang.

Women will propose marriage.

Wong lanang ngasorake drajate dhewe.

Men will lower their own status.

Akeh barang-barang mlebu luang.

The merchandise will be left unsold.

Akeh wong kaliren lan wuda.

Many people will suffer from starvation and inability to afford clothing.

Wong tuku nglenik sing dodol.

Buyers will become more sophisticated.

Sing dodol akal okol.

Sellers will have to use their brains and muscle to do business.

Wong golek
 pangan kaya gabah diinteri.

In the way they earn a living, people will be as rice paddies being swung around and blown up.

Sing kebat kliwat.

Some will go wild out of control.

Sing telah sambat.

Those who are not ambitious will complaint of being left behind.

Sing gede kesasar.

The ones on the top will get lost.

Sing cilik kepleset.

The ordinary people will slip.

Sing anggak ketunggak.

The arrogant ones will be impaled.

Sing wedi mati.

The fearful ones will not survive.

Sing nekat mbrekat.

The risk takers will be successful.

Sing jerih ketindhih.

The ones who are afraid of
 taking the risks will be crushed under foot.

Sing ngawur makmur.

The careless ones will be wealthy.

Sing ngati-ati ngrintih.

The careful ones will whine about their suffering.

Sing ngedan keduman.

The crazy ones will get their portion.

Sing waras nggagas.

The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.

Wong tani ditaleni.

The farmers will be controlled.

Wong dora ura-ura.

Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.

Ratu ora netepi janji, musna kekuasaane.

The queen who does not keep her promises will lose her power.

Bupati dadi rakyat.

The leaders will
 become ordinary persons.

Wong cilik dadi priyayi.

The ordinary people will become leaders.

Sing mendele dadi gede.

The dishonest persons will rise to the top.

Sing jujur kojur.

The honest ones will be unlucky.

Akeh omah ing nduwur jaran.

There will be many people own a house on horseback.

Wong mangan wong.

People will attack other people.

Anak lali bapak.

Children will ignore their fathers.

Wong tuwa lali tuwane.

Parents will not want to take their responsibility as parents.

Pedagang adol barang saya laris.

Merchants will sell out of their    merchandise.

Bandane saya ludes.

Yet, they will lose money.

Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.

Many people will die from starvation in prosperous times.

Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara.

Many people will have lots of money yet, be unhappy in their lives.

Sing edan bisa dandan.

The crazy one will be beautifully attired.

Sing bengkong bisa nggalang gedong.

The insane will be able to build a lavish estate.

Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.

The ones who are fair and sane will suffer in their lives and will be isolated.

Ana peperangan ing njero.

There will be internal wars.

Timbul amarga para pangkat akeh
 sing pada salah paham.

This is a result of misunderstandings between those at the top.

Durjana saya ngambra-ambra.

The numbers of evil doers will increase sharply.

Penjahat saya tambah.

There will be more criminals.

Wong apik saya sengsara.

The good people will live in misery.

Akeh wong mati jalaran saka peperangan.

There will be many people die in a war.

Kebingungan lan kobongan.

Others will be disoriented, and their property burnt.

Wong bener saya tenger-tenger.

The honest will be confused.

Wong salah saya bungah-bungah.

The dishonest will be joyful.

Akeh banda musna ora karuan
 lungane. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.

There will be disappearance of great riches, titles, and jobs.

Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.

There will be many illegal goods and many babies born without fathers.

Bejane sing lali, bejane sing eling.

Those people who forget God's Will may be happy on earth.

Nanging sauntung-untunge sing lali isih untung sing waspada.

But those who are remember God's will are destined to be happier still.

Angkara murka saya ndadi.

Ruthlessness will become worse.

Kana-kene saya bingung.

Everywhere the situation will be chaotic.

Pedagang akeh alangane.

Doing business will be moredifficult.

Akeh buruh nantang juragan.

Workers will challenge their employers.

Juragan dadi umpan.

The employers will become bait for their employees.

Sing suwarane seru oleh pengaruh.

Those who speak out will be more influential.

Wong pinter diingar-ingar.

The wise ones will be ridiculed.

Wong ala diuja.

The evil ones will be worshipped.

Wong ngerti mangan ati.

The knowledgeable ones will show no compassion.

Banda dadi memala.

The pursuit of material comfort will incite crime.

Pangkat dadi pemikat.

Job titles will become
 enticing.

Sing sawenang-wenang rumangsa menang.

Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.

Sing ngalah rumangsa kabeh salah.

Those who act wisely will feel as if everything is wrong.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.

There will be leaders who are weak in their faith.

Patihe kepala judi.

Their vice regent will be selected from among the ranks of the gamblers.

Wong sing atine suci dibenci.

Those who have a holy heart will be rejected.

Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.

Those who are evil, and know how to flatter their boss, will be promoted.

Pemerasan saya ndadra.

Human exploitation will be
 worse.

Maling lungguh wetenge mblenduk.

The corpulent thieves will be able to sit back and relax.

Pitik angkrem saduwurane pikulan.

The hen will hacth eggs in a carrying pole.

Maling wani nantang sing duwe omah.

Thieves will not be afraid to challenge the target.

Begal pada ndugal.

Robbers will dissent into greater evil.

Rampok pada keplok-keplok.

Looters will give applause.

Wong momong mitenah sing diemong.

People will slander their caregivers.

Wong jaga nyolong sing dijaga.

Guards will steal the very things they are to protect.

Wong njamin njaluk dijamin.

Guarantors will ask for
 collateral.

Akeh wong mendem donga.

Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.

Everybody will compete for personal victory.

Angkara murka ngombro-ombro.

Ruthlessness will be everywhere.

Agama ditantang.

Religions will be questioned.

Akeh wong angkara murka.

Many people will be greedy for power, wealth and position.

Nggedeake duraka.

Rebelliousness will increase.

Ukum agama dilanggar.

Religious law will be broken.

Perikamanungsan diiles-iles.

Human rights will be violated.

Kasusilan ditinggal.

Ethics will left behind.

Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.

Many will be insane, cruel and immoral.

Wong cilik akeh sing kepencil.

Ordinary people will be segregated.

Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.

They will become the victims of evil and cruel persons.

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.

Then there will come a queen who is influential.

Lan duwe prajurit.

She will have her own armies.

Negarane ambane sapra-walon.

Her country will measured one-eighth the circumference of the world.

Tukang mangan suap saya ndadra.

The number of people who commit bribery will increase.

Wong jahat ditampa.

The
 evil ones will be accepted.

Wong suci dibenci.

The innocent ones will be rejected.

Timah dianggep perak.

Tin will be thought to be silver.

Emas diarani tembaga.

Gold will be thought to be copper

Dandang diandakake kuntul.

A rice cooker will be thought to be an egret.

Wong dosa sentosa.

The sinful ones will be safe and live in tranquility.

Wong cilik disalahake.

The poor will be blamed.

Wong nganggur kesungkur.

The unemployed will be rooted up.

Wong sregep krungkep.

The diligent ones will be forced down.

Wong nyengit kesengit.

The people
 will seek revenge against the fiercely violent ones.

Buruh mangluh.

Workers will suffer from overwork.

Wong sugih krasa wedi.

The rich will feel unsafe.

Wong wedi dadi priyayi.

People who belong to the upper class will feel insecure.

Senenge wong jahat.

Happiness will belong to evil persons.

Susahe wong cilik.

Trouble will belong to the poor.

Akeh wong dakwa dinakwa.

Many will sue each other.

Tindake menungsa saya kuciwa.

Human behaviour will fall short of moral enlightenment.

Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.

Leaders will discuss and choose which
 countries are their favourites and which ones are not.

Hore! hore!

Hurrah! Hurrah!

Wong Jawa kari separo.

The Javanese will remain half.

Landa-Cina kari sejodo.

The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

Akeh wong ijir, akeh wong cethil.

Many become stingy.

Sing eman ora keduman.

The stingy ones will not get their portion.

Sing keduman ora eman.

The ones who receive their portion will be generous.

Akeh wong mbambung.

Street beggars will be everywhere.

Akeh wong limbung.

Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk
wolak-waliking jaman teka.

These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.
  • Share/Bookmark

Musik Gratisan

Wednesday, December 26th, 2007

Aku senang mendengarkan musik. Apalagi setelah aku tinggal di negeri orang ternyata aku kangen sekali dengan musik-musik Indonesia. Selain karena memang kata-katanya mudah aku mengerti, iramanya juga lumayan menenangkan hati. Setidaknya bisa mengobati kerinduan akan tanah airku.

Biasanya, musik-musik itu aku bawa dari Indonesia berupa file mp3. Ya, ini adalah musik bajakan yang tentu saja menguras rejeki para pemusik, produsen kaset/CD, dan juga penjualnya. Gimana ngga menguras rejeki, tanpa modal apapun aku dengan mudahnya mengkopi musik yang aku inginkan. Ngga pake cape tinggal klik kanan dan klik send to my external harddisk. Beres.

Selain membawa kopian dari Indonesia, beberapa file mp3 juga aku temukan di server yang file sharing di kampus. Ternyata orang Malaysia juga senang musik Indonesia. Kalau kata artis Malaysia, kita ini dijajah oleh pemusik Indonesia. Lagu Indonesia sangat ngetop di sini. Masih ingat dulu waktu pertama kali datang, lagu pecinta wanita disetel di setiap bis yang aku tumpangi, dinyanyikan oleh anak-anak, bahkan disetel disetiap acara kawinan atau sunatan.

Biasanya, kalo ngga ada dikoleksi pribadiku atau di server kampus, aku tinggal akses multiply. Search music, lalu dapatkan file mp3nya. Pokoknya lagu-lagu aneh yang ngga pernah ada di penjual mp3, sering ketemunya malah di sini.

Tapi, hari ini ketika aku mau cari mp3 nya Benyamin Sueb, koq udah ngga ada ya fitur pencarian musik di multiply? Wah, kayaknya udah ketauan deh kalo multiply itu sering dijadikan tempat bertukar file mp3.

Anyway, meskipun saya masih melakukan pembajakan dengan mengkopi file mp3 saya sarankan belilah kaset atau CD asli (jangan yang bajakan ya). Terutama yang sudah punya uang, masa sih masih mengkopi seperti kami yang belum banyak uang. Malu dong. Maunya musik gratis aja.

  • Share/Bookmark

Bandingan Wisata Indonesia dan Malaysia

Sunday, December 23rd, 2007

Kalo ditanya, tempat mana yang lebih menarik untuk berwisata, Indonesia atau Malaysia maka jawabanku agak panjang. Di lihat dari luas wilayahnya saja, Indonesia itu enam kali lebih besar daripada Malaysia. Maka kalo dari sisi jumlah tempat wisata sudah jelas lebih banyak di Indonesia. Dari sisi lain gimana?

Sebelumnya aku mau kasih informasi hal-hal yang ngga berhubungan langsung dengan wisata. Kalau di kota-kota besar, standar aja deh. Karena space nya terbatas, tentu tempat parkir juga terbatas. Karena itulah baik di Indonesia maupun Malaysia, di kota besar paling ribet urusan parkir. Ditambah lagi dengan biaya parkirnya yang sudah gila-gilaan. Contohnya di beberapa tempat di Kuala Lumpur aku temukan tempat parkir yang men charge pemakainya sampai RM 2 setiap jamnya. Di Jakarta juga sama aja, dulu tahun 2005 an parkir sejam di dekat stasiun kereta api Jatinegara sudah Rp. 2500.

Nah, kalo di Indonesia, Pangandaran dekat kampung tempat lahirku itu, atau Keusik Luhur yang ada rumah sodara jauhku, begitu masuk ente sudah harus bayar parkir plus bayar uang masuk pantai yang jumlahlah cukup besar. Kalo di Malaysia sini (setidaknya ditempat yang pernah aku kunjungi) tempat wisata alam seperti pantai atau air terjun orang bebas saja masuk tanpa harus bayar (kalo parkir sih kayaknya kena juga, tapi ngga seberapa besar).

Makanya orang Malaysia juga bilang, hidup di Malaysia itu enak, tinggal keluar isi bensin dan masuk tol maka sudah bisa bersenang-senang. Kalau bensin sama tol naik tarifnya maka kelimpunganlah orang Malaysia.

Terus, di Indonesia yang namanya tempat wisata itu pasti banyak yang jualan. Entah yang pakai kedai, pakai kendaraan, atau yang digotong. Kalo lihat Bandung di hari Minggu, wah rame deh mobil yang jualan tinggal buka pintu belakang dan yang beli. Yang parkir juga ngga jelas, atas wewenang siapa bisa mintain uang parkir. Kalo di Malaysia sini, kayaknya lebih tertib. Soalnya yang jualan itu harus punya lesen (lisensi). Ngga bisa jualan sembarangan. Di Indonesia kan, rumah dibikin warung juga ngga akan ada yang protes. Yang jual bakwan gorengnya batuk-batuk juga tetap aja banyak yang beli, ngga tau kalo si penjual sakit TBC kali.

Malaysia juga pandai menjual tempat wisatanya. Dengan penjagaan super ketat dari polisinya kayaknya tempat seperti Kuala Lumpur pun cenderung aman. Aku biasa lihat orang-orang asing berseliweran di pasar malam atau lagi jogging di taman KLCC. Kalo di Jakarta? Wah aku ngga jamin deh bisa seaman itu. Kalo di Bandung, mana ada taman lagi. Habis semua hahaha.

Promosinya juga aktif. Waktu tempat kuliahku bikin acara seminar internasional di Kuala Lumpur, padahal sudah hampir habis lho visit Malaysia Year 2007nya, peserta seminar disuguhi pertunjukan kesenian Malaysia. Sekalian promosi untuk berwisata. (eh lagu rasa sayange masih dipake lho hehehe). Kalo yang Indonesia, hmmm belum tahu. Tapi sudah ada websitenya.

Nah, sekarang balik ke tempat wisata. Temanku ada yang pernah usul bikin T Shirt dengan tulisan dan gambar Beautiful Langkawi Island, tapi ada tulisan lagi di sampingnya Bali is more beautiful. He he he, dasar iseng. Atau ada juga promo Malaysia Truly Asia, nah di belakangnya ada lagi tulisan Sidoarjo Truly Kuala Lumpur. Ini lebih iseng lagi.

Hmm, memang sih Indonesia lebih Indah. Cameron highland yang sangat terkenal itu, ngga ada apa-apanya dibanding dengan Cihideung dekat rumahku di Bandung. Apalagi kalau dibandingkan dengan kebun teh di Jayabaya, Subang, atau Puncak. Yah ngga ada apa-apanya deh. Aku juga heran, koq yang kayak Cameron Highland gitu santer banget ya namanya. Perasaan yang di Subang itu lebih indah tapi ngga kedengeran apa-apa, bahkan sama orang yang dekat. Jadi memang, orang Malaysia lebih jago menjual wisatanya dibandingkan Indonesia.

Herannya, koq banyak ya orang Indonesia yang wisata ke Malaysia? Tapi memang harga elektronik di sini lebih murah daripada Indonesia. Kalo cuma nyari baju, mending ke Bandung tempat aku deh. Kalo mau ada tulisannya Kuala Lumpur, pesan aja sama sodaraku di Hotel Cihampelas, Bandung. Minta bikinin T Shirt dengan tulisan Kuala Lumpur hehehe.

Dari sisi budaya, tentu saja budaya Indonesia lebih kaya. Ada budaya Aceh, Batak, Minang, Wong Kito, Betawi, Sunda, Bali, Yogya, Jawa Timuran, Papua, wah ngga keitung deh. Kalo di Malaysia, ya hampir mirip dengan yang Indonesia. Dayak, sama deh dengan Kalimantan. Di Negeri Sembilan mirip dengan Minang. Nama batik pun sama. Cuma mungkin ngga sekaya Indonesia. Di tambah budaya turunan India dan Cina (Indonesia juga ada ya).

Masalah yang sama, budayanya sudah makin terkikis oleh budaya global. He he he. Yah, sama-sama berjuang deh mempertahankan budayanya yang baik dan menarik, biar bisa jadi tarikan wisata. Cuma soal jualnya aja nih Indonesia masih kalah.

  • Share/Bookmark

Mencari Jodoh Terbaik

Saturday, December 22nd, 2007

Ini suatu pertanyaan bagi yang sudah menikah. Dulu, pernahkah punya kekhawatiran tentang jodoh? Misalnya, kapan akan bertemu jodoh dan menikah dengannya? Apakah orangnya baik atau tidak? Apakah dia sayang pada kita atau tidak? Apakah dia bisa menjadi istri/suami dan orangtua yang baik bagi anak-anak kita?

Kalo aku, tentu saja ya. Apalagi buat yang perempuan kali ya. Soalnya kita akan menyerahkan hidup kita pada pasangan kita. Buat yang perempuan, ya dibawa kemana dan melakukan apa juga akan banyak dipengaruhi oleh suaminya. Berbahagialah orang-orang yang menemukan jodoh yang baik bagi dirinya. Dan beruntunglah orang-orang sepertiku yang menemukan istri yang lebih baik dari yang aku perlukan.

Ternyata, kekhawatiran itu tidak hanya menjadi milik kita lho. Kekhawatiran kita dulu sewaktu mencari jodoh juga menjadi kekhawatiran orangtua kita. Dan juga jadi kekhawatiran aku sekarang. Terus terang aku memiliki kekhawatiran tentang jodoh anak-anakku.

Sebagai orangtua, tentu saja aku sanggup berbuat yang terbaik untuk anak-anakku. Kerja keras, kadang sampai siang malam, kadang harus pergi jauh, kadang sampai sakit untuk memberikan yang terbaik buat keluarga. Beberapa orangtua sanggup untuk menahan keinginannya hanya untuk memenuhi keinginan anak. Misalnya ada yang rela ngga beli laptop karena anaknya pingin beli mobil-mobilan. Bahkan ada yang rela hidup seadanya biar bisa nabung beli rumah buat anak-anaknya kalau sudah besar nanti.

Lalu kenapa jadi khawatir? Lha jelas khawatir dong. Anak yang sudah dibesarkan susah payah itu, ternyata ketika sudah menikah banyak dipengaruhi oleh pasangannya. Bahkan sebelum menikahpun, ada anak yang tega meninggalkan ortunya demi bisa bersama dengan pasangannya.

Ada kasus, dimana seorang anak merongrong orangtua untuk membelikan si anak rumah lah, mobil lah, perhiasan lah. Padahal si anak itu dulunya ngga pernah punya keinginan macam-macam. Tapi karena dipengaruhi oleh pasangannya dengan berbagai cara, akhirnya si anak jadi perongrong. Tentu sudah bukan aneh lagi kalo ada pejabat yang korupsi karena didesak istrinya untuk mencari uang yang banyak.

Karena itulah, aku sudah berdoa dari sekarang. Mudah-mudahan anakku menjadi anak yang baik dan juga mendapat jodoh yang baik. Tentu bahagia kalau dimasa tua nanti ada anak-anak dan pasangan mereka yang masih mau menemani dan mengurusku. Ada anak-anak yang memberikan hal-hal terbaik untuk orangtuanya dan juga mendoakan ketika kita sudah tidak ada lagi.

Contoh anak yang baik sudah aku lihat. Ketika masih di Bandung dulu ada seorang ibu teman anakku yang sudah memiliki cucu tapi mengasuh mertuanya di rumah. Meskipun kesel karena masih suka dipapatahan oleh mertuanya, tapi si ibu tetap sabar mengasuh mertuanya. Sebab, dia juga ingin diasuh seperti itu kalo sudah tua nanti. Biar anaknya lihat dan juga menantunya lihat, kalo dia sayang kepada mertuanya. Padahal mertuanya itu punya beberapa anak perempuan tapi mereka malah ngga suka mengasuh ibunya.

Ada lagi, kawanku yang sedang menuntut ilmu di Malaysia sini, ketika sudah membawa keluarga di sini eh ayahnya meninggal. Akhirnya diambillah keputusan istri dan anak-anaknya pulang lagi ke Indonesia untuk menemani ibunya (mertua istrinya). Nah itu contoh anak dan menantu yang baik.

Gimana, pengen kan anaknya dapat jodoh yang baik? Mulailah berdoa dari sekarang.

  • Share/Bookmark

Kurban

Friday, December 21st, 2007

Sampai tahun kemarin aku belum pernah bisa berkurban memakai hasil jerih payahku sendiri. Biasanya sih, ikutan fasilitas ortu. Nebeng, pan anaknya. Tapi malu juga nih, masa dari tahun ke tahun cuma nebeng. Emangnya ngga mampu beli kurban sendiri? Padahal penghasilan sekarang sudah tiga kali lipat penghasilan di Indonesia lho.

Sebenarnya sih, penghasilan bertambah pengeluaran juga bertambah. Maklumlah namanya juga hidup di negeri orang. Ya standar hidupnya pake standar hidup di sini lah. Tapi tetap sebenarnya tahun kemarin sudah berikrar untuk bisa berkurban tahun ini.

Yah, namanya ikrar tetap menjadi ikrar sampai ikrar itu dijalankan. Menjelang hari raya Idul Adha datang, uang untuk beli kurban belum tersedia. Malah hampir lupa kalo pernah niat keras akan berkurban tahun ini. Uangnya sudah ditemplokkan menjadi hiasan meja berupa sebuah laptop bermerek Acer tipe 4520 yang aku beli dengan harga sekitar 5 juta rupah.

Huh, akhirnya aku paksakan juga berkurban. Meskipun cuma sedikit mudah-mudahan menjadi amal yang baik. Kali ini aku kirimkan langsung ke Indonesia begitu dapat uang allowance bulanan. Pesen sama mertua, ngga apa deh yang kecil juga. Habis baru bisa segitu. Mudah-mudahan tahun depan bisa yang lebih gede, atau malah ikutan patungan sapi.

Perayaan Idul Adha di kompleks perumahan tempat kost keluargaku sederhana saja. Malah cenderung sepi. Tadinya aku kira banyak mahasiswa Indonesia yang akan pergi ke kampus untuk shalat ied di sana. Ternyata tidak, kebanyakan mahasiswa yang tinggal di kompleks memilih untuk shalat di Masjid dekat rumahku. Yah ngga sepi banget deh ada teman yang kenal.

Cuma yang aneh, kurban di Masjid ini hanya satu ekor sapi. Itupun tidak besar. Padahal penduduk di kompleks ku itu bisa dibilang cukup berada lah. Mungkin bisa dibilang warga negara Malaysia cukup berada bila dibandingkan orang Indonesia.

Bayangkan saja, tetanggaku yang pekerjaannya jadi supir truk punya rumah yang harganya 200 an juta. Rumahnya dihiasi dengan tiga buah AC merek ternama. Mobilnya pun yang sekelas Mitsubishi Galant. Tetangga yang lain lagi cuma jadi supir mobil derek. Tapi sama juga mobilnya dua sekelas Pajero. Anak tetanggaku hanya jualan martabak di pasar malam, tapi mobilnya sekelas Lancer. Tapi kenapa kurban di Masjid hanya satu sapi saja?

Atau mungkin mereka kurban di kampungnya kali ya? Soalnya akupun lebih memilih kurban di Indonesia. Lebih terasa manfaatnya. Titip ke Aisyiah Bandung, supaya disebarkan ke tempat yang lebih membutuhkannya dibandingkan Bandung. Mudah-mudahan jadi amal baik yang diterima. Aamiin.

  • Share/Bookmark