Kalo ditanya, tempat mana yang lebih menarik untuk berwisata, Indonesia atau Malaysia maka jawabanku agak panjang. Di lihat dari luas wilayahnya saja, Indonesia itu enam kali lebih besar daripada Malaysia. Maka kalo dari sisi jumlah tempat wisata sudah jelas lebih banyak di Indonesia. Dari sisi lain gimana?
Sebelumnya aku mau kasih informasi hal-hal yang ngga berhubungan langsung dengan wisata. Kalau di kota-kota besar, standar aja deh. Karena space nya terbatas, tentu tempat parkir juga terbatas. Karena itulah baik di Indonesia maupun Malaysia, di kota besar paling ribet urusan parkir. Ditambah lagi dengan biaya parkirnya yang sudah gila-gilaan. Contohnya di beberapa tempat di Kuala Lumpur aku temukan tempat parkir yang men charge pemakainya sampai RM 2 setiap jamnya. Di Jakarta juga sama aja, dulu tahun 2005 an parkir sejam di dekat stasiun kereta api Jatinegara sudah Rp. 2500.
Nah, kalo di Indonesia, Pangandaran dekat kampung tempat lahirku itu, atau Keusik Luhur yang ada rumah sodara jauhku, begitu masuk ente sudah harus bayar parkir plus bayar uang masuk pantai yang jumlahlah cukup besar. Kalo di Malaysia sini (setidaknya ditempat yang pernah aku kunjungi) tempat wisata alam seperti pantai atau air terjun orang bebas saja masuk tanpa harus bayar (kalo parkir sih kayaknya kena juga, tapi ngga seberapa besar).
Makanya orang Malaysia juga bilang, hidup di Malaysia itu enak, tinggal keluar isi bensin dan masuk tol maka sudah bisa bersenang-senang. Kalau bensin sama tol naik tarifnya maka kelimpunganlah orang Malaysia.
Terus, di Indonesia yang namanya tempat wisata itu pasti banyak yang jualan. Entah yang pakai kedai, pakai kendaraan, atau yang digotong. Kalo lihat Bandung di hari Minggu, wah rame deh mobil yang jualan tinggal buka pintu belakang dan yang beli. Yang parkir juga ngga jelas, atas wewenang siapa bisa mintain uang parkir. Kalo di Malaysia sini, kayaknya lebih tertib. Soalnya yang jualan itu harus punya lesen (lisensi). Ngga bisa jualan sembarangan. Di Indonesia kan, rumah dibikin warung juga ngga akan ada yang protes. Yang jual bakwan gorengnya batuk-batuk juga tetap aja banyak yang beli, ngga tau kalo si penjual sakit TBC kali.
Malaysia juga pandai menjual tempat wisatanya. Dengan penjagaan super ketat dari polisinya kayaknya tempat seperti Kuala Lumpur pun cenderung aman. Aku biasa lihat orang-orang asing berseliweran di pasar malam atau lagi jogging di taman KLCC. Kalo di Jakarta? Wah aku ngga jamin deh bisa seaman itu. Kalo di Bandung, mana ada taman lagi. Habis semua hahaha.
Promosinya juga aktif. Waktu tempat kuliahku bikin acara seminar internasional di Kuala Lumpur, padahal sudah hampir habis lho visit Malaysia Year 2007nya, peserta seminar disuguhi pertunjukan kesenian Malaysia. Sekalian promosi untuk berwisata. (eh lagu rasa sayange masih dipake lho hehehe). Kalo yang Indonesia, hmmm belum tahu. Tapi sudah ada websitenya.
Nah, sekarang balik ke tempat wisata. Temanku ada yang pernah usul bikin T Shirt dengan tulisan dan gambar Beautiful Langkawi Island, tapi ada tulisan lagi di sampingnya Bali is more beautiful. He he he, dasar iseng. Atau ada juga promo Malaysia Truly Asia, nah di belakangnya ada lagi tulisan Sidoarjo Truly Kuala Lumpur. Ini lebih iseng lagi.
Hmm, memang sih Indonesia lebih Indah. Cameron highland yang sangat terkenal itu, ngga ada apa-apanya dibanding dengan Cihideung dekat rumahku di Bandung. Apalagi kalau dibandingkan dengan kebun teh di Jayabaya, Subang, atau Puncak. Yah ngga ada apa-apanya deh. Aku juga heran, koq yang kayak Cameron Highland gitu santer banget ya namanya. Perasaan yang di Subang itu lebih indah tapi ngga kedengeran apa-apa, bahkan sama orang yang dekat. Jadi memang, orang Malaysia lebih jago menjual wisatanya dibandingkan Indonesia.
Herannya, koq banyak ya orang Indonesia yang wisata ke Malaysia? Tapi memang harga elektronik di sini lebih murah daripada Indonesia. Kalo cuma nyari baju, mending ke Bandung tempat aku deh. Kalo mau ada tulisannya Kuala Lumpur, pesan aja sama sodaraku di Hotel Cihampelas, Bandung. Minta bikinin T Shirt dengan tulisan Kuala Lumpur hehehe.
Dari sisi budaya, tentu saja budaya Indonesia lebih kaya. Ada budaya Aceh, Batak, Minang, Wong Kito, Betawi, Sunda, Bali, Yogya, Jawa Timuran, Papua, wah ngga keitung deh. Kalo di Malaysia, ya hampir mirip dengan yang Indonesia. Dayak, sama deh dengan Kalimantan. Di Negeri Sembilan mirip dengan Minang. Nama batik pun sama. Cuma mungkin ngga sekaya Indonesia. Di tambah budaya turunan India dan Cina (Indonesia juga ada ya).
Masalah yang sama, budayanya sudah makin terkikis oleh budaya global. He he he. Yah, sama-sama berjuang deh mempertahankan budayanya yang baik dan menarik, biar bisa jadi tarikan wisata. Cuma soal jualnya aja nih Indonesia masih kalah.

Wisata Malaysia dan Indonesia kayaknya nggak jauh beda ya, Pak. Hanya kuantitasnya mungkin yang lebih banyak di negeri kita. Tapi soal managemen kepariwisataan dan budaya kayaknya kok Malaysia lebih peduli, bahkan yang bukan budaya aslinya sendiri hehehehehe
mau diklaim juga, hehehehe :l: itu menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia, kalau mau jujur nih, lebih peduli dibanding pemerintah kita yang sering membiarkan tempat2 wisata potensial mangkrak, nggak keurus.
*Maaf numpang OOT, Pak Iwan. Berkat doa Pak Iwan, akhirnya domainku dah OL kembali. Makasih doanya ya Pak*
Jelas, soalnya apa lagi yang mau ditawarkan? Mungkin kita terbiasa sudah banyak orang datang tanpa di undang. Jadi ya cuek aja mau datang mau ngga datang. Padahal …..
Selamat online kembali blog nya.