Belum bosen ya, membicarakan tentang hubungan Indonesia dan Malaysia. Soalnya aku masih ada di Malaysia sih. Jadi ya kalo ada yang nyentil-nyentil dikit masalah Indonesia dan Malaysia, gatel deh rasanya pengen ngomong.
Sesuai judul, ini adalah tentang penilaian terhadap suatu bangsa. Misalnya bagaimana orang Indonesia melihat orang Malaysia dan orang Malaysia melihat orang Indonesia. Ternyata, tergantung orangnya juga sih. Ya itu berarti siapa yang membesarkannya, bagaimana dibesarkannya, siapa orang-orang sekelilingnya, dan juga tingkat pendidikannya.
Misalnya, ada orang Indonesia yang berfikir orang Malaysia itu malas-malas. Ngga mau kerja yang susah-susah. Maunya dapat uang banyak dengan kerja sedikit atau memperlakukan pekerja Indonesia dengan tidak semena-mena. Nah ini memang tergantung pada siapa yang melihat dan siapa yang dilihat.
Kalau orang dengan sifat malas kerja yang susah dan pengen dapat uang banyak dengan kerja sedikit, ngga cuma ada di Malaysia. Di Indonesia pun banyak. Aku juga mau kerja sedikit, gampang, dan dapat uang banyak. Siapa yang ngga mau? Aku lihat setidaknya di sekitar tempat tinggalku, banyak juga koq orang Malaysia yang mau kerja kasar dan bahkan waktu kerjanya dari pagi hari sampai jam 12 tengah malam. Apalagi yang kerjanya di kantin. Di kantin kampusku saja, pekerjanya sudah mulai dari jam 6 pagi untuk beberes. FYI, jam 6 pagi di sini baru saja adzan subuh. Ngga mungkin kan mereka bangun langsung beberes di kantin. Pasti udah beberes dulu di rumahnya. Dan pekerja itu baru akan selesai pukul 11 malam, bahkan kadang sampai jam 12 malam. Dari hari Senin sampai Minggu. Bayangkan kerasnya pekerjaan mereka itu.
Kalo di Indonesia, atau setidaknya di Bandung, aku ngga pernah lihat orang keturunan Cina yang bukan jadi pedagang atau pemilik perusahaan. Di sini, yang jadi pelayan di supermarket dan department store itu mereka juga. Bahkan ada yang pekerjaannya jadi kuli bangunan. Yang jadi supir, kenek, dan pengemis juga ada.
Oh iya, yang suka pake pembantu atau pakai pekerja dari Indonesia kayaknya juga bukan orang Melayu. Banyaknya sih yang keturunan gitulah. Kalo orang Melayunya sendiri, tetanggaku yang mayoritas orang Melayu dan punya anak lebih dari 4 hampir ngga ada yang pake pembantu tuh. Orang di sini harus sudah masuk kerja dari jam 8 pagi (jam 7 WIB) dan pulang jam 5 sore. Tapi ternyata ada juga tuh yang ngga langsung beli saja makanan jadi. Mereka tetap masak sendiri untuk sarapan dan makan malamnya. Kebayang ngga? Untuk menghidupi sekeluarga dengan anak lebih dari 4 dua-duanya bekerja, ga punya pembantu, dan masih harus menyiapkan sendiri masakannya.
Dan, untuk melihat setinggi apa sih level seseorang mudah saja. Tetangga kanan kawan saya yang mungkin kawannya banyak pembantu atau pekerja kasar dari Indonesia, selalu memandang rendah orang Indonesia karena ya dikiranya semua orang Indonesia yang datang ke Malaysia itu jadi pekerja rendahan. Tapi tetangga kanannya selalu ketemu dengan orang Indonesia yang jadi Mahasiswa postgraduate atau yang jadi dosen, selalu ngira orang Indonesia yang datang ke Malaysia itu pendidikannya tinggi-tinggi dan pintar-pintar.
Ada lagi seorang ustadz di sini yang sekolahnya di Indonesia dan kebetulan dulu bergaulnya dengan aktivis kegiatan Islam, selalu berfikir bahwa sekolah di Indonesia itu mendidik anak menjadi tangguh dan jiwa pejuang Islamnya tinggi. Sampai-sampai diapun ingin menyekolahkan anaknya di Indonesia. Tapi teman dosen dari Indonesia, malah melihat sekolah di Malaysia itu bisa menghalang anak dari pergaulan yang kurang baik, jadinya malah pindah ke sini sekalian menyekolahkan anaknya.
Jadi memang, tergantung pada siapa yang melihat. Low level person, selalu melihat orang lain banyak kekurangannya. Sedangkan high level person, selalu ingin melihat apa yang bisa dia capai lebih dari orang lain dengan melihat kelebihan orang lain.
Btw, artis Malaysia merasa industri musiknya terjajah oleh pemusik Indonesia lho.
Sepakat Pak Iwan. Karakter orang saya kira juga beragam, Pak. Rajin dan pemalas saya kira semua ada di semua bangsa. Di negara yang terkenal pemalas pun saya kira ada juga yang rajin. mengenai hubungan indonesia-malaysia yang sempat memanas karena masalah kebudayaan, kalo menurut hemat saya sih, harus ditumbuhkan kesadaran kolektif sesama bangsa bertetangga. mulai dulu dari pemerintah melalui hubungan diplomatik *halah sok tahu, yak*. saya yakin rakyat juga akan tumbuh kesadarannya utk saling menghargai antarbangsa bertetangga. itu harus segera dimulai.
Jadi sudut pandang itu penting yaa..
saya suka kata2 ini:
Bener lho begitu… Bukankah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri.
Sori, baru bales sekarang. Terputus hubungan dari dunia luar, gara-gara proxy servernya mati dan adminnya liburan.
Eh, kata-kata yang di kutip Mas Kurtubi memang jadinya seperti melihat rumput tetangga lebih hijau ya?
Sifat kebanyakan manusia termasuk saya mungkin, seringkali kita merasa benar atas tindakan salah kita kepada orang lain begitu juga sebaliknya, kita salahkan tindakan orang yang benar. Memang tergantung siapa yang melihat atau dari sudut mana melihatnya dan apa dampaknya pada yang bersangkutan, salam kenal.
Setuju banget. Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang dalam melihat sesuatu. Terima kasih atas artikel yang mencerahkan.
Salam.