Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah milis yang aku ikuti diramaikan dengan diskusi tentang TKI. Ada kawan yang ngga senang dengan banyaknya rakyat Indonesia merantau hanya untuk jadi buruh atau pembantu rumah tangga di negeri asing. Katanya sih, kasihan menjadi seperti budak. Ada juga yang menyalahkan pemerintah Indonesia yang tidak mampu melindungi rakyatnya yang ada di tempat lain. Sebenarnya gimana pendapatku?
Aku punya pendapat yang lain. Ini juga dipengaruhi dengan hasil perbincanganku dengan istriku. Istriku ini lahir dari ibu yang memiliki jumlah saudara kandung yang banyak. Istriku sendiri sih cuma tiga bersaudara. Ibunya itu lebih dari 9 bersaudara. Ada perbedaan antara keluarga dengan jumlah anak sedikit dan jumlah anak banyak. Perbedaannya? Jadi begini ….
Kalau dalam keluarga kecil, hampir dalam semua hal tetek bengek keluarga bisa terkendali dengan baik. Contohnya, banyak kawanku yang baru memiliki satu orang anak, bisa membuat anaknya menjadi anak yang alim, penurut, dan tidak kasar. Kenapa? Ya karena baru punya satu anak, mudah saja memberikan dunia sempurna kepada dia sehingga dia bisa menjadi seperti yang kita inginkan.
Aku, pada waktu yang berdekatan sudah diberikan dua anak (ngga sampe 2 tahun bedanya). Keduanya besar hampir bersamaan. Tentu saja, memberikan dunia sempurna kepada dua orang anak, sangat susah. Melarang jangan kasar kepada orang lain, tapi dikasari oleh saudaranya sendiri. Jadi, setiap dikasari oleh orang lain aku dan istri selalu bilang, bales jangan diam aja, hehehe. Dan memang dunia nyata seperti itulah, anak-anak temanku yang alim-alim itu, sering hanya menjadi korban kenakalan anak-anak lain tanpa bisa melawan. Kalo anakku sih, mudah-mudahan bisa melawan. Ayo Balas, jangan mau dikasari oleh orang lain, begitulah yang selalu kami tanamkan kepada anak-anak.
Lho, apa hubungannya dengan TKI yah? Oke deh, kembali lagi ke masalah anak banyak dan anak sedikit. Sekarang anak banyak, seperti yang sudah aku utarakan di atas, sangat susah menyediakan dunia sempurna. Yah, akhirnya sebuah keluarga dengan anak banyak harus tampil apa adanya. Bahkan mungkin cenderung mengikuti saja, apa kata nasib.
Ada anaknya yang jadi baik, ada anaknya yang jadi berhasil, ada yang shaleh, dan ada juga yang tidak. Tetanggaku di Bandung juga bilang begitu, ngga ngajarin apa-apa ke anaknya. Tau-tau ada yang jadi Doktor lulusan Jepang dan jadi dosen di ITB, eh ada juga anaknya yang hanya jadi makelar dan kalo disuruh shalat susahnya minta ampun.
Bibi dari istriku juga begitu dibiarkan mengikuti nasib. Ketika ada seorang lelaki melamar salah seorang anaknya, ternyata si anak ini menolak. Lalu ditawarkanlah kepada anak yang lain, apa ada yang mau menikah dengan lelaki ini. Akhirnya malah yang belum lulus sekolah yang mau menikah. Ngga susah-susah mikirnya. Anak 9, bagaimana mungkin anak yang di bawah harus menunggu kakaknya yang belum nikah? Ya kalau sudah ada yang mau, nikah sajalah. Masalah nanti bahagia atau tidak, mungkin mengikuti nasib saja. Mau kaya atau miskin, ya gimana nasib aja deh.
Tetanggaku yang lain, hanya punya 3 anak. Anak pertama yang perempuan belum nikah padahal umurnya sudah 37 tahun. Kasihan adik-adiknya terhalang, karena ibunya tidak mengijinkan yang lain menikah sebelum yang pertama ini menikah. (Ini satu tips buat yang belum nikah dan ingin cepat menikah, carilah yang punya banyak sodara, hehehe).
Indonesia, adalah ibu pertiwi. Si ibu ini sudah punya banyak anak. 230 juta. Itu orang semua. Semuanya harus diberi pertanggungan oleh sang ibu. Tapi, seperti halnya keluarga yang punya banyak anak, kadang berserah pada nasib adalah pilihan yang terbaik. Kalau mau nasib apa adanya, ya hiduplah seperti biasa. Ada yang memilih mengubah nasib, menjadi pengemis, menjadi pengusaha, atau pergi ke luar negeri menjadi buruh, itu adalah suatu pilihan yang sangat bagus. Kenapa? Ngga merugikan orang lain koq. Lagi pula, siapa yang mau menanggung nasib orang-orang itu? Orang yang banyak berkoar tentang TKI pun kayaknya ngga mau, jadi biarlah orang mencari nasibnya sendiri.
Siapa tahu, dari sekian banyak orang yang mengadu nasib, ada juga yang berhasil menjadi “orang”. Indonesia, seperti halnya keluarga yang punya anak, tentu akan berbangga bila ada anaknya yang berhasil, apalagi di negeri orang. Kalo anaknya bisa bantu keluarga yang lain, ya alhamdulillah. Kalo ngga bisa, ya tetap alhamdulillah sudah bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa memberatkan keluarga.
Jadi, ngga usah takut pergi merantau keluar negeri, meskipun hanya menjadi buruh. Buruh-buruh di Silibin Malaysia itu, bahkan punya HP dan barang yang lebih bagus dari aku yang PNS dan sekolah tinggi ini. Lah, gimana ngga bagus, bisa nabung 1,5 juta sebulan yang artinya sama dengan pendapatan PNS seperti aku, hehehe.

Hahaha kebanyakan anak benar!, tapi banyak juga kan suku cadangnya alam yang nganggur, SDM yang tiap tahun keluar dari Akademi/kampus elit, tapi banyak yang jarinya kegigit.
Entahlah sampe kapan Indonesia yang banyak anak ini bisa berbagi buat keluarga lain seperti para TKW yang makmur itu. Sebab rupanya mengurusi keluarga sendiri saja susahnya minta ampun.. anak yang 230 juta itu mau di kasih makan apaa kata orang2 kota
*saatnya keberanian munjul*
iya mas, sama kayak orang kaya di kampung. Sawahnya banyak tapi anaknya milih jadi tukang ojek. Soale nyawah tuh cape dan hasilnya ngga seberapa. Tukang ojek, cuma duduk aja bisa dapat uang. Akhirnya sawah kejual untuk beli motor.
Sama kayak Indonesia, kekayaan alamnya kejual untuk beli…beli apa ya saya ngga tau. Yang pasti kekayaan alamnya udah kejual ajah