Ini suatu pertanyaan bagi yang sudah menikah. Dulu, pernahkah punya kekhawatiran tentang jodoh? Misalnya, kapan akan bertemu jodoh dan menikah dengannya? Apakah orangnya baik atau tidak? Apakah dia sayang pada kita atau tidak? Apakah dia bisa menjadi istri/suami dan orangtua yang baik bagi anak-anak kita?
Kalo aku, tentu saja ya. Apalagi buat yang perempuan kali ya. Soalnya kita akan menyerahkan hidup kita pada pasangan kita. Buat yang perempuan, ya dibawa kemana dan melakukan apa juga akan banyak dipengaruhi oleh suaminya. Berbahagialah orang-orang yang menemukan jodoh yang baik bagi dirinya. Dan beruntunglah orang-orang sepertiku yang menemukan istri yang lebih baik dari yang aku perlukan.
Ternyata, kekhawatiran itu tidak hanya menjadi milik kita lho. Kekhawatiran kita dulu sewaktu mencari jodoh juga menjadi kekhawatiran orangtua kita. Dan juga jadi kekhawatiran aku sekarang. Terus terang aku memiliki kekhawatiran tentang jodoh anak-anakku.
Sebagai orangtua, tentu saja aku sanggup berbuat yang terbaik untuk anak-anakku. Kerja keras, kadang sampai siang malam, kadang harus pergi jauh, kadang sampai sakit untuk memberikan yang terbaik buat keluarga. Beberapa orangtua sanggup untuk menahan keinginannya hanya untuk memenuhi keinginan anak. Misalnya ada yang rela ngga beli laptop karena anaknya pingin beli mobil-mobilan. Bahkan ada yang rela hidup seadanya biar bisa nabung beli rumah buat anak-anaknya kalau sudah besar nanti.
Lalu kenapa jadi khawatir? Lha jelas khawatir dong. Anak yang sudah dibesarkan susah payah itu, ternyata ketika sudah menikah banyak dipengaruhi oleh pasangannya. Bahkan sebelum menikahpun, ada anak yang tega meninggalkan ortunya demi bisa bersama dengan pasangannya.
Ada kasus, dimana seorang anak merongrong orangtua untuk membelikan si anak rumah lah, mobil lah, perhiasan lah. Padahal si anak itu dulunya ngga pernah punya keinginan macam-macam. Tapi karena dipengaruhi oleh pasangannya dengan berbagai cara, akhirnya si anak jadi perongrong. Tentu sudah bukan aneh lagi kalo ada pejabat yang korupsi karena didesak istrinya untuk mencari uang yang banyak.
Karena itulah, aku sudah berdoa dari sekarang. Mudah-mudahan anakku menjadi anak yang baik dan juga mendapat jodoh yang baik. Tentu bahagia kalau dimasa tua nanti ada anak-anak dan pasangan mereka yang masih mau menemani dan mengurusku. Ada anak-anak yang memberikan hal-hal terbaik untuk orangtuanya dan juga mendoakan ketika kita sudah tidak ada lagi.
Contoh anak yang baik sudah aku lihat. Ketika masih di Bandung dulu ada seorang ibu teman anakku yang sudah memiliki cucu tapi mengasuh mertuanya di rumah. Meskipun kesel karena masih suka dipapatahan oleh mertuanya, tapi si ibu tetap sabar mengasuh mertuanya. Sebab, dia juga ingin diasuh seperti itu kalo sudah tua nanti. Biar anaknya lihat dan juga menantunya lihat, kalo dia sayang kepada mertuanya. Padahal mertuanya itu punya beberapa anak perempuan tapi mereka malah ngga suka mengasuh ibunya.
Ada lagi, kawanku yang sedang menuntut ilmu di Malaysia sini, ketika sudah membawa keluarga di sini eh ayahnya meninggal. Akhirnya diambillah keputusan istri dan anak-anaknya pulang lagi ke Indonesia untuk menemani ibunya (mertua istrinya). Nah itu contoh anak dan menantu yang baik.
Gimana, pengen kan anaknya dapat jodoh yang baik? Mulailah berdoa dari sekarang.
Bener sekali, Pak Iwan. Orang tua pun mana pun pasti menginginkan anak-anaknya dapat jodoh yang tepat. Sebuah kebahagiaan bagi orang tua bisa melihat anak dan menantunya hidup rukun dan bahagia. Namun, seringkali harapan itu tidak berbuah kenyataan. Tidak sedikit anak2 yang –barangkali belum dapat jodoh yang tepat, yak–rumah tangganya berantakan.
Kalau menurutku, Pak, *halah* agaknya memang sudah tiba saatnya orang tua memberikan kebebasan kepada anak2nya untuk menentukan jodoh. Yang penting kita tetap *halah sok tahu nih* memberikan bimbingan jangan sampai anak2 kita salah pilih.
Iya, kayak guru juga akhirnya. Eh fasilitator kali ya yang lebih tepat. Biar dia cari sendiri pilihan terbaik bagi dirinya, kita memfasilitasi supaya mereka PD dengan pilihannya dan mudah-mudahan juga baik bagi kita.