Ini biasa kan? Ini adalah hukum alam, yang kuat ya pasti akan menguasai yang lemah. Harimau yang kuat akan menjadi pemangsa hewan-hewan macam kuda zebra, kancil, yang memang lebih lemah.
Jadi, mungkin adalah lumrah kalo negara yang lebih kuat pasti bertindak seenaknya kepada negara yang lemah. Indonesia negara lemah, bukan, ya? Dari dulu, kayaknya Indonesia itu gampang ditindas ya. Ngga cuma rakyatnya, negaranya juga. Dan kalo sudah berhadapan dengan hukum, biasanya Indonesia juga kalah. Misalnya kalah dalam perebutan pulau dengan Malaysia. Suaranya juga tidak didengar, meskipun sudah bergerombol dengan negara lain, misalnya dalam OKI teuteup ngga ngaruh sama keputusan Amerika sana.
Tapi kalo cerita ini, bukan pingin bercerita tentang Indonesia, tapi tentang rakyat Indonesia yang sedang merantau di negara tetangganya, Malaysia. Pasti sering denger bagaimana para pekerja Indonesia mendapat perlakuan semena-mena oleh pihak berwenang Malaysia. Ngga cuma pekerja kasar, bahkan pelajar, wasit, dan diplomat pun kena juga dengan perlakuan kasar ini.
Tapi, ada apa dibalik kekasaran itu? Siapakah yang melakukan kekasaran itu? Seperti biasa, kekasaran dilakukan oleh orang-orang yang terdesak, orang-orang yang merasa terancam. Gimana ngga terancam, bayangkan penduduk Malaysia itu cuma 25 juta orang (10% nya Indonesia ya). Nah penduduk asingnya, kalau kata koran sih, bisa sampai 5 juta orang. Banyak tuh, udah 25%.
Dengan banyaknya penduduk asing di Malaysia, tentu saja menimbulkan ancaman, yang mungkin tersembunyi. Katanya sih, penduduk asing itu kadang dipakai oleh partai-partai saat ada pemilihan umum supaya bisa menang (katanya orang Malaysia lho, tapi ini perlu verifikasi). Katanya, pendatang asing itu membawa jenayah (kriminalitas) dan penyakit ke Malaysia (meskipun dalam berita di sebuah koran nasional Malaysia, lebih dari 90% pelaku kejahatan di Malaysia ya penduduk asli, tapi 10% itu banyak juga lho).
Ancaman yang lain lagi, tentu berdasarkan pendapatan para pekerja asing yang dinilai lebih besar daripada pendapatan warga asli. Coba bayangkan, para pekerja asing bisa menabung 1,5 juta rupiah sebulan (bisa dibelikan sawah dan rumah di kampung halaman) sedangkan buat orang Malaysia, uang 5 juta itu ngga cukup buat hidup sekeluarga (ini kata penjaga toko sayuran langganan saya).
Jadi aja, para pencari kerja penghasilan rendah merasa terancam dengan kehadiran pendatang asing ini. Coba saja lihat beritanya, yang melakukan kekasaran itu biasanya pasukan rela, polisi bohongan (maksudnya bukan polisi tapi diperbantukan untuk pekerjaan polisi, di Indonesia juga ada kan ya). Yah, yang jadi pasukan rela siapa sih? Biasanya ya yang kurang pendidikan dan kurang kemauan bekerja keras. Kalo mau kerja keras, tentu mau dong ditawarkan gaji yang sama dengan pekerja asing, hidup di asrama belasan orang, dan bisa nabung 1,5 juta sebulan.
Selain pasukan rela, yang suka kasar itu adalah satpam. Kawan saya masuk rumah sakit, ya yang galak tu satpamnya. Padahal kawan saya itu Ph.D. Student lho. Gaya lah, satpam yang pendidikannya rendah bisa marahin Ph.D. Student.
Ada juga beberapa e-mail yang dikirimkan ke milis-milis selepas peristiwa pemukulan wasit di Malaysia. Isinya pengalaman dia tidak dipercayai polisi karena ngga membawa dokumen perjalanan. Ya jelas dong salah. Di mana-mana peraturannya adalah bawa dokumen perjalanan kalo di tempat asing. Di Jakarta aja, ngga bawa KTP bisa masuk bui, lah ini di negara asing ngga bawa passport, ya cari mati namanya.
Jadi, kalo berhadapan dengan orang kasar, keep in mind that the person is not well educated. Kalo berhadapan dengan orang yang kurang terdidik dan ngga punya kemampuan lain selain fisik, ya harap maklum deh. Mudah-mudahan aja kita ngga ketemu dengan yang kayak gitu. Aamiin.