Entries RSS Comments RSS

Catatan Nikmat Ke-5: Rambut

Home

Semua bagian tubuh manusia itu adalah karunia dari Allah, termasuk rambut. Benda yang satu ini ada di seluruh badan manusia. Tumbuhnya mudah dari yang pendek tipis-tipis, sampai yang tebal panjang. Ada yang keriting dan juga ada yang lurus.

Fungsi rambut banyak sekali. Dia bisa menjadi sensor perasa dunia luar bagi tubuh manusia. Bulu hidung menjadi penyaring debu yang masuk ke hidung. Alis dan bulu mata menjadi pelindung bola mata dari benda-benda asing. Bahkan dia juga menjadi hiasan.

Dulu sewaktu masih kecil aku sering takjub melihat kumis dan jenggot yang lebat. Sampai-sampai aku kepingin memiliki jenggot dan kumis juga. Setelah baligh jenggot dan kumis mulai tumbuh di mukaku. Tapi ternyata mengurus jenggot dan kumis itu cukup merepotkan juga. Ah dasar manusia yang satu ini, sudah diberi apa yang diinginkan malah mengeluh.

Rambut di kepala, ternyata menjadi perekat cinta aku dengan istriku. Kalau rambutku sudah panjang, mulailah keluar ketombe. Untungnya keluar ketombe ini tidak merusak kebahagiaan, malah menambah keakraban. Aku paling suka kalau istriku membelai kepalaku dan mengambili ketombe besar itu satu persatu. Sungguh suatu kegiatan yang membuatku bahagia.

Buat kebanyakan orang rambut itu adalah mahkota. Bukan cuma mahkota untuk wanita saja lho. Rambut juga mahkota bagi laki-laki, apalagi dijaman sekarang. Pria-pria metropolis selalu ingin terlihat bagus rambutnya. Ada yang ke salon sampai seminggu dua kali untuk memperbaiki penampilan rambut mereka dengan biaya yang mungkin lebih besar dari gaji PNSku.

Ada yang suka rambutnya panjang. Ada juga yang memang mengharuskan rambutnya pendek seperti tentara. Beberapa orang menyukai rambut yang berwarna. Mereka bahkan kadang mengganti-ganti warna rambutnya untuk disesuaikan dengan pakaian atau aksesori yang mereka pakai.

Salah satu mahasiswa Master yang sedang menimba ilmu di tempatku pun begitu juga. Sepertinya dia senang mengganti warna rambutnya. Mungkin terbawa dari tuntutan pekerjaannya sebagai MC sewaktu dulu masih di Indonesia. Sepenglihatanku, dia selalu memakai warna rambut emas dihari Jum’at. Entah memang warna rambut aslinya emas atau disapuh emas. Kata orang kalo warna rambut emas, artinya siempunya rambut itu kurang gizi. Tapi dengan bentuk badan seperti dia, ngga mungkin deh kurang gizi.

Aku sendiri cukup beruntung diberi karunia oleh Dia rambut yang berwarna tanpa perlu susah-susah pergi ke salon. Setelah mencecah umur 30-an, rambutku mulai berubah warna. Kini, kata istriku, rambutku sudah mulai terlihat warna putihnya. Iya, itu namanya uban. Entah karena cuaca panas di sini yang menyebabkan kulit kepalaku kurang sehat sampe ketombean dan uban mulai tumbuh. Atau bisa jadi karena aku banyak fikiran. Anehnya si uban ini lebih banyak berada di kepala bagian kanan.

Bagian kepala kanan kan katanya lebih banyak berhubungan dengan imajinasi. Apa aku terlalu banyak imajinasi menyelesaikan risetku dan segera pulang ke Indonesia ya? Atau ini juga tanda-tanda mulai berkurangnya imajinasi dan inovasiku? Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan ini memang karena aku makin tua saja.

Yah, tetap saja rambut dan uban ini adalah karunia dari Dia. Mungkin menjadi pertanda kalau aku tuh harus selalu ingat bahwa kematian makin dekat. Harus selalu menjaga image orang yang sudah tua. Harus segera selesai riset dan segera pulang ke Indonesia supaya (mungkin) rambutnya bisa hitam kembali.

Untuk karunia rambut ini, aku ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Penciptaku. Dia telah karuniakan rambut terbaik dan yang paling cocok untukku. Rambut ini sudah banyak jasanya, tidak hanya untukku tapi juga untuk para tukang cukur, para penjual shampoo, dan juga para karyawan pabrik shampoo. Aku mewakili mereka semua mengucapkan Alhamdulillah.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply