Lho koq, sakit dibilang nikmat? Sakitnya sih memang tidak nikmat. Tapi apa yang dibawa sakitnya itu yang bisa nikmat. Kayak film sandy nayoan dulu itu lho, sakit sengsara membawa nikmat. Nikmat apa yang bisa dibawa penyakit ya?
Awal-awal pernikahanku, aku sering berhubungan dengan yang namanya penyakit. Baru dua bulan nikah, aku terkena cacar air. Wah, sekujur tubuhku meriang dan ngga bisa pergi kemana-mana. Pada saat yang sama mertuaku masuk rumah sakit. Ternyata ada untungnya juga aku sakit, karena sementara yang lain bergantian menjaga mertua di RS, ada orang di rumah (aku) yang bisa menjaga adik istriku yang paling kecil.
Setelah itu, ada beberapa kali anakku ke rumah sakit untuk dirawat dan juga sakit berat yang kalo ikut pengobatan modern ya harus diobati dalam jangka waktu yang lama. Akhirnya aku bertandang ke pengobatan alternatif. Ternyata ada hikmahnya juga silaturahmi ke tempat berkumpulnya orang sakit ya. Apa tuh?
Biasanya, orang yang mendapatkan penyakit merasa dialah orang paling sial sedunia. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang lebih sakit dibandingkan dia. Begitu juga aku dan istri, ketika keluarga sakit rasanya beban seluruh dunia itu ada di atas pundak kami berdua. Resah gelisah dan rasa menyerah datang begitu saja.
Tapi ketika berkunjung ke tempat berkumpulnya orang sakit kami mendapatkan hikmah yang luar biasa. Ternyata, masih banyak orang lain yang sakitnya jauh lebih parah. Bahkan kalo kata dokter, ya sudah menghitung hari deh. Tinggal ngukur ukuran kamar abadi istilah kerennya. Nyatanya, orang-orang itu banyak juga yang bertahan hidup lebih lama dari yang diperkirakan. Bahkan banyak juga yang akhirnya sembuh.
Kata pengobat alternatif yang aku kunjungi, si pesakit dan keluarganya seringkali lebih ingat kepada penyakitnya dibandingkan kepada si pemberi sakit/kesembuhan. Seharusnya kita ini lebih sering mengingat Dia yang memberi kesembuhan. Kesembuhan itu memang harus ada usaha untuk mencarinya, misalnya lewat pengobatan. Tetapi kesembuhan itu semacam rizki deh, sudah ditentukan takarannya oleh Dia. Juga kesembuhan itu macam nasib, yang bisa berubah dengan do’a.
Kalo misalnya aku dan keluargaku tidak ada yang sakit, mungkin penghargaan kepada kesehatan tidak akan begitu besar. Sehat itu nikmat yang sangat mahal harganya. Salah seorang kawan dari Sumut pernah bilang, “Sehat itu mahal, tapi sakit itu jaaauuuh lebih mahal”. Aku menghargai kesehatan lebih baik daripada sebelumnya. Aku juga jadi lebih ingat kepada Dia yang maha menjaga dan menyembuhkan. Dan juga, bukankah lebih baik keluar uang untuk beli buah dan olahraga dibandingkan keluar uang untuk ke Rumah Sakit bukan? Punya asuransi askes buatku biarlah menjadi amal saja. Mudah-mudahan aku ngga perlu pakai askes (alias selalu sehat) daripada harus memakai askes kelas VIP sekalipun.
Di tempat pengobatan alternatif juga aku melihat betapa do’a dan keyakinan akan pertolongan Allah itu bisa menyembuhkan. Kami berdo’a bersama-sama, menangis bersama-sama, dan juga berharap bersama-sama. Bimbingan do’a yang penuh kesungguhan terbukti membawa kesembuhan bagi beberapa pasien.
Kalau lihat acara di televisi juga seperti itu. Misalnya penyembuhan dengan Reiki (eh katanya pakai jin ya?). Para pasien dikumpulkan dan dibimbing untuk berdo’a menurut keyakinan masing-masing untuk meminta kesembuhan dengan sungguh-sungguh. Mungkin do’a bersama-sama juga punya efek seperti shalat berjama’ah atau pengajian bareng-bareng.
Cuma kenapa ya, di rumah sakit orang cenderung sendiri-sendiri meratapi sakit? Kenapa ngga ada program doa bersama gitu antara pasien dan penunggu pasien. Aku kebayang dahsyatnya, doa orang-orang yang sakit dan yang menunggu pasien bersama-sama. Wah pasti energi penyembuhannya itu sangat besar. Coba para ustadz seperti KH Ram mengadakan doa bersama di rumah sakit. Setidaknya bisa mengajak pasien dan penunggunya untuk lebih banyak mengingat pemberi kesehatan daripada pusing dengan penyakitnya.
Akhir tulisan, terima kasih ya Allah atas nikmat sehat dan penjagaan dari Mu. Mudah-mudahan kami selalu punya rizki dan waktu untuk menghargai kesehatan yang telah Engkau berikan. Mudah-mudahan juga nikmat ini membawa manfaat bagiku dan orang-orang disekitarku. Aamiin.
Kata orang bijak, sakit itu juga bisa ditafsirkan sebagai wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, Pak Iwan, supaya bisa bersyukur. Untuk doa bersama sebenarnya itu therapi jiwa yang luar biasa, Pak. Sayangnya, bener seperti yang dinyatakan Pak Iwan, belum banyak RS yang menggunakan therapi semacam itu, hanya mengandalkan medisnya aja.
Could you recommend any specific resources, books, or other blogs on this topic?