Entries RSS Comments RSS

Catatan Nikmat Ke-8: Mandi

Baru saja membaca novel “Ayat-ayat Cinta” karya Habiburrahman. Ada satu paragraf yang membuatku teringat kepada nikmat yang telah Allah berikan kepadaku: MANDI. Dalam novel itu diceritakan betapa si peran utama mendapatkan kenikmatan luar biasa dari mandi setelah seharian berpanas-panasan di Mesir. Wah jelas nikmat dong bisa mandi setelah panas-panasan.

Jadi ingat waktu aku masih kecil. Dulu aku masih tinggal di kampung, Dusun Cibunian Desa Margacinta Kecamatan Cijulang, Ciamis Selatan. Daerah yang terkenal dengan dukun santetnya ini jadi tempat persinggahan sementara karena orangtuaku belum mapan berkarir di Jakarta. Aku dititipkan di rumah kakek dari pihak ayah dan ibuku. Cara mandinya ya disesuaikan dengan keadaan masing-masing.

Di rumah kakek dari ayahku kalau mau mandi aku harus jalan kaki dulu sejauh kira-kira dua ratus meter. Jalannya ngga tanggung-tanggung melewati semak belukar dan pepohonan. Di antara semak belukar yang rimbun itu ada sebuah saluran air yang mengalirkan air dari sungai ke sawah. Kalau kata orang kota saluran itu diberi nama selokan. Nah dibagian semak yang paling rimbun selokan itu diberi batu-batu penahan yang membentuk bak air. Dari bak air inilah aku mandi.

Airnya disesuaikan dengan keadaan sungai. Kalau sungai sedang jernih maka aku menikmati air jernih untuk mandi. Kalau sungai sedang “butek” ya terima aja deh air yang kotor itu. Lagipula aku masih sangat kecil, jadi belum terlalu ngeh lah dengan air bersih dan air kotor. Ketika agak besar barulah di rumah kakekku itu dibuatkan sebuah bak mandi. Bak ini dialiri air dari sungai dengan memakai pipa. Meskipun sudah dibuatkan filter sebelum masuk ke pipa kejernihan air tetap mengikuti keadaan di sungai.

Kalau di tempat kakek dari ibuku sudah agak lumayan. Di sana ada sumur timba. Untungnya aku masih kecil jadi ngga perlu susah-susah kalau mau mandi. Tinggal tunggu bak air sudah dipenuhi oleh air yang ditimba oleh entah siapa. Airnya selalu jernih karena sudah disaring oleh dinding-dinding tanah sumur. Airnya juga segar, berbeda dengan air sungai yang kadang adem dan kadang hangat. Air sumur mungkin terkena efek seperti air kendi yang menjadi cukup dingin seperti yang sudah masuk kulkas.

Aku paling senang kalau di ajak mandi ke mata air atau sungai yang besar. Air yang melimpah membuatku senang bukan kepayang. Cuma sayang jarak mata air atau sungai besar dari rumah kakekku cukup jauh. Untuk bisa sampai ke sana aku harus berjalan berkilo-kilo meter melalui jalan batu yang licin dan juga terjal. Samping kiri dan kanan jalan ini adalah jurang yang membuat orang yang menjagaku malas mengantar. Malasnya bukan apa-apa, aku ini anak yang agak aktif sehingga agak sulit untuk dijaga.

Setelah pindah ke Jakarta kebutuhan air dipenuhi oleh sebuah pompa dragon. Segala keperluan air mengharuskan aku yang sudah agak besar ikut memompa. Masak, mencuci, dan juga mandi pasti aku jadi andalan. Kadang pompa ini ngadat tidak mau mengeluarkan air. Kalo sudah seperti ini aku harus memasukkan segayung air dulu ke dalam pompa untuk memancing airnya keluar.

Aku senang mandi air pancuran. Kalau mau mandi pancuran aku meminta orang lain memompa untukku. Sebelnya kalau sudah ngga ada lagi orang yang mau memompakan air aku harus “self service”. Cara melayani diri sendiri ini cukup melelahkan karena aku harus memompa airnya dan terburu-buru berlari ke bawah pompa supaya bisa menikmati air pancuran sebelum aliran air dari pompa itu berhenti.

Setelah keluargaku cukup berada, cie ilee, berada, orangtuaku memasang pompa listrik di rumah. Wah dengan ini aku ngga perlu cape mompa lagi. Pancuran air juga tidak menjadi halangan. Pokoknya senang deh punya pompa listrik. Cuma kalau pulang ke kampung balik lagi deh ke jaman batu menimba dan menikmati air sungai. Listrik di kampungku baru ada ketika aku sudah kuliah. Jadi ya, urusan mandi tetap harus manual untuk menyediakan airnya.

Air dalam bathtub dan shower baru aku nikmati setelah lulus sarjana. Ketika aku mulai ikut proyek-proyek dan sering menginap di hotel barulah aku kenal dua benda ini. Kalau sebelumnya sabun, shampoo, dan handuk harus disediakan sendiri sekarang semua sudah tersedia ketika baru masuk kamar.

Air mandi panas di hotel baru aku kenal ketika menjadi panitia seminar internasional di Bali. Sebagai salah satu panitia inti aku diberi fasilitas kamar di hotel Grand Bali Beach yang berbintang lima. Wah pertama kali merasakan mandi di bathtub dengan air panas aku senyam senyum sendiri. He he he, cuma gini aja toh rasanya. Kayak gini aja mah ngga usah bayar berjuta-juta rupiah. Di rumah juga bisa pakai jolang dan masak air sendiri.

Mandi dimanapun sama. Suatu kegiatan yang menyegarkan setelah penat berkegiatan. Dia membuat badan rileks dan fresh. Bisa mandi dengan air bersih tanpa perlu keluar banyak tenaga memang suatu nikmat yang sangat besar. Istriku pernah cerita dulu pergi ke daerah gunung kidul untuk program sosial. Selama satu bulan di sana tidak bisa mandi dengan benar. Soalnya ngga tega memakai air untuk mandi. Air untuk minum saja di jatah satu hari satu gelas, bagaimana mungkin menyediakan banyak air untuk kegiatan membasuh badan yang dinamakan mandi?

Aku bersyukur atas nikmat mandi yang telah Dia berikan kepadaku. Terima kasih ya Allah untuk kesempatan mandi yang telah Engkau berikan.

  • Share/Bookmark

6 Responses to “Catatan Nikmat Ke-8: Mandi”

  1. waktu kecil dulu kalo mandi saya sering di sungai bersama temen2 sebaya. kalo dah di situ bisanya betah berjam-jam sambil main musik kecipak air. merdu dan indah. walah, masa kecil memang indah, ya, pak iwan. mandi memang perlu disyukuri, pak iwan, dengan begitu kita bisa mengendurkan syaraf2 yang tegang setelah penat bekerja. tubuh menjadi lebih segar, fresh, dan ringan.

  2. Gun N' Roze says:

    Wah jadi ingat pas ke Banjarmasin, KalSel… Cari air bersih buat mandi susah. Memang sih ada sungai gede, tapi airnya udah banyak tercemar gitu. Nikmat banget emang kalau bisa mandi air bersih dan jernih. :(

  3. Gun says:

    Lho kok nama saya ga muncul di komen di atas? Tes…

  4. hadi arr says:

    Air, sekarang sedang tidak bersahabat di sebagian daerah tapi tetap saja kita butuh air, mandi memang nikmat Pak.
    Apalagi mandi hari jumat subuh (haha, ada yang gak ngerti)

  5. Wah iya ya, lupa kalo di Indonesia banyak air yang sudah tercemar. Dan banyak juga daerah yang tidak bersahabat airnya, entah terlalu sedikit atau terlalu banyak.
    Dan saya juga ngga ngerti ada apa dengan mandi hari jum’at subuh? Bukannya sebelum jum’atan mandi lagi?

  6. saifudinhidayat says:

    he he he

Leave a Reply