Entries RSS Comments RSS

Children of Heaven

Pernah nonton film Children of Heaven? Film ini memenangkan beberapa penghargaan internasional karena memang, menurut saya juga, bagus. Aku nonton film ini sebelum nikah. Cerita di bawah ini adalah versi sakainget dan sakahayang dari film tersebut.

Alkisah, di Iran hidup sebuah keluarga miskin dengan dua orang anak. Kakaknya laki-laki sangat sayang kepada adiknya yang perempuan. Mereka tetap sekolah meskipun fasilitas yang mereka miliki terbatas. Kakaknya sekolah pagi hari sedangkan adiknya sekolah siang hari.

Suatu hari, sepatu sang adik dijemur karena basah. Tapi ketika akan dipakai sepatu itu telah hilang dari tempat jemurnya. Wah tentu saja si adik sangat sedih. Kakaknya pun tidak ingin melihat adiknya sedih. Kalau mau beli yang baru tentu tidak mungkin karena orang tua mereka miskin.

Akhirnya kakak beradik ini pergi mencari sepatu yang hilang tersebut. Setelah dicari-cari sepatu itu ternyata ditemukan! Tapi sayang sepatu itu ditemukan telah dipakai oleh anak yang jauh lebih miskin lagi daripada keluarga mereka. Mereka merasa tidak tega untuk mengambil kembali sepatu itu.

Setelah kejadian itu, maka kakak dan adik ini bergantian memakai sepatu ke sekolah. Karena si kakak sekolah pagi, maka dia akan pulang cepat-cepat ke rumah agar adiknya bisa memakai sepatunya dan tidak terlambat ke sekolah. Segera setelah lonceng sekolah usai berbunyi, si kakak akan berlari sekencang-kencangnya ke rumah.

Suatu hari, di sekolah diumumkan akan diadakan perlombaan lari antar sekolah. Si kakak melihat salah satu hadiahnya adalah sepatu. Wah ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk memberikan adiknya sepatu yang baru. Kemudian dia mendaftar ke guru olahraga agar menjadi perwakilan sekolah.

Tapi dia terlambat, pendaftaran sudah ditutup dan kawan-kawannya sudah diuji kecepatan berlarinya. Dia memohon kepada gurunya agar diikutsertakan karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bisa mendapatkan sepatu tanpa keluar uang. Si guru akhirnya mengalah dan memberikan kesempatan si kakak untuk berlari. Ternyata setelah diuji, lari si kakak adalah yang paling cepat diantara murid-murid sekolah itu. Akhirnya dia dijadikan utusan untuk mengikuti lomba.

Ketika lomba dimulai, si kakak tidak mau menjadi nomor satu. Dia hanya ingin menjadi juara dua yang akan mendapatkan hadiah sepatu. Juara satu, tidak mendapatkan sepatu tapi hadiah yang lain. Setiap kali dia menjadi yang pertama, dia akan melambatkan larinya dan membiarkan satu orang lawan di depannya.

Menjelang garis akhir, si kakak sudah senang karena dia akan menjadi juara dua. Tapi tiba-tiba dia terjatuh! Dia terlewati oleh beberapa orang lain. Wah si kakak ngga mau kalah. Dia bangkit dan berlari sekencang-kencangnya. Karena sudah terlatih berlari kencang setiap hari, maka dia pun berhasil melewati lawan-lawannya.

Tapi ternyata dia menjadi juara satu. Padahal yang dia incar adalah juara dua. Meskipun kawan-kawan dan gurunya senang dia menang, dia tetap sedih karena tidak bisa memberikan hadiah sepatu baru untuk adiknya.

Menurutku film ini sangat bagus karena mengajarkan beberapa nilai luhur kepadaku. Yang pertama adalah empathy. Ketika melihat sepatunya dipakai oleh keluarga yang lebih miskin mereka tidak memaksa mengambil sepatunya itu kembali. Koq ya anak kecil bisa seperti itu? Kalau aku mungkin ngga mau barangku diambil oleh siapapun. Apalagi barang yang masih aku pakai. Biasanya yang aku kasihkan ke orang lain ya barang bekas yang sudah tidak aku pakai lagi.

Yang kedua adalah tahu tujuan hidup dan mau memperjuangkannya. Si kakak tahu dia ingin mendapatkan sepatu baru untuk adiknya. Tetapi ketika ada halangan yang bisa membuat dia tidak bisa berjuang untuk mendapatkan sepatu itu dia memperjuangkannya sekuat tenaga.

Yang ketiga, konsisten. Meskipun dia menjadi juara satu tidak merasa bahagia karena bukan juara satu yang menjadi tujuannya. Kalo aku pingin sesuatu dan ternyata dapat yang lebih besar atau lebih baik, tentu aku sangat bahagia. Mungkin tujuanku hanya sekedar menjadi juara tanpa pernah memikirkan apa yang ada dibalik juaranya. Tidak ada niatan lain seperti misalnya ingin melalui proses mendapatkan yang kecil dulu sebelum mendapatkan yang besar sehingga bisa memanage nya dengan baik.

Aah, memang masih banyak yang harus ku pelajari, bahkan dari anak kecil sekalipun.

Aah akhirnya nulis lagi setelah hampir dua minggu vakum.

Alhamdulillah.

  • Share/Bookmark

7 Responses to “Children of Heaven”

  1. Khoirunnisa Istiqomah says:

    Subhanallah…
    Film Children of Heaven ini memang sungguh mengharukan dan dpt dijadikan sebagai bahan renungan untuk qt smw
    SmAnGaT!!!

  2. alfa says:

    ne jadi bahan renungan bt a, yg kesehariannya kurang bisa m’syukurin ap yang dah a dapet..
    thanks God,

  3. Intan says:

    Setelah bertahun2 gak pernah liat film ini,siang tadi saat mengganti2 chanel,aku menemukan film ini lagi.dan kembali tak bisa mengganti ke chanel yg lain.
    Aku paling tersentuh di saat2 ada adegan ayah ali.yang tetap berusaha melindungi ali meskipun dia terlihat lemah,apalagi saat terjatuh dari sepeda.kasihan sekali rasanya.aku memang gampang kasihan jika melihat sosok ayah yang masih terlihat kuat,dan tetap merasa harus dan bisa melindungi keluarganya,namun sebenarnya lemah.
    Terharu sekali saat melihat ayah ali mendekap anaknya di bak mobil tumpangan dengan keadaan yang sedang terluka2.saat mengayuh sepeda dengan terengah2,juga saat ia sedang membuatkan teh di masjid.
    Film Iran memang menyentuh sekali.tatapan sedih seorang ali berjuta kali lebih membuat air mata menetes daripada teriakan histeris aktris2 di sinetron2 bullshit Indonesia

  4. cupZ says:

    Iya,, kemarin siang saya liat juga sekilas di rcti!

    film yg penuh makna,, udah beberapa kali lihat. cuma versi yg disetel di rcti senin siang kemarin (mungkin dlm memperingati maulid nabi ceritanya) sudah di dubbing dalam bahasa Indonesia. Tapi seru juga versi dubbingnya,, ngga menghilangkan makna asli filmnya.

    sayangnya kmrn lagi penasaran liat Slumdog Millonaire yg dari India itu. jd ngga liat full Children of Heaven nya :D

  5. Himawan Pradipta says:

    iya bener. filmnya menggugah anak muda jaman sekarang untuk lebih mengetahui makna dan tujuan hidup seseorang!
    padahal tuh filmnya udah lama banget
    tapi masih seru buat ditonton dan dibahas :)

  6. mina says:

    mas, boleh copas ya reviewnya.. perlu neh.. thnx..

  7. theblackjack says:

    q sering juga nonton d TV, film yang bagus. tp jd pengen punya koleksi dvd-nya.
    two thumbs up !!

Leave a Reply