Kurikulum Pendidikan Luar Sekolah
Kata Kang Dadang, pendidikan itu tidak harus di sekolah. Bahkan malah pendidikan di luar sekolah itulah yang katanya paling mewarnai seseorang dan menentukan kesuksesan seseorang. Nah kalau di sekolah ada kurikulum pendidikannya, kalau di luar sekolah kurikulumnya seperti apa ya?
Sekolah, tentu yang paling banyak mengurusnya adalah pemerintah. Soalnya itu tanggung jawab pemerintah untuk memberikan pendidikan yang layak bagi rakyatnya. Kalo pendidikan luar sekolah, tanggung jawab siapa? Kayaknya, paling besar tanggung jawab itu ada di pundak orang tua yah.
Kadang bingung juga buat orangtua seperti aku ini untuk memberikan pendidikan luar sekolah yang layak. Seperti apa sih pendidikan luar sekolah yang bagus? Panduannya ada ga ya? Paling banter, yang aku berikan hanya sekedar seperti apa yang orangtuaku berikan kepadaku.
Apakah harus dimulai dari tujuan? Katanya, tujuan adalah roh dari segala kegiatan. Ada tujuan maka ada kegiatan yang baik. Ngga ada tujuan, maka ngga ada kegiatan walau sesibuk apapun. Maka tujuan pendidikan luar sekolah buat anak itu apa ya? Kalau harapan kepada anak-anak sih ada, tapi tujuan?
Yah, daripada ngga ada aku mulai dari harapan aja deh. Harapanku anak-anak sehat, sejahtera, dan mampu bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Mudah-mudahan anakku:
- Mengenal dan menghargai dirinya juga posisinya dikeluarga, masyarakat, dan dihadapan Tuhannya.
- Mampu memilih, membuat keputusan, dan bertanggung jawab dengan keputusannya itu.
- Membawa manfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, dan agamanya.
- Mendapatkan hal-hal terbaik bagi dirinya.
Udah kali ya, segitu dulu. Itu juga sudah banyak dan berat. Apa yang aku lakukan sampai saat ini mungkin baru membiarkan pendidikan anak berjalan apa adanya. Belum ada kurikulum yang dipersiapkan dan juga evaluasinya. Masih bingung juga sih. Kalo istriku sih udah ada yang dilakukan, tapi akunya yang masih jalan di tempat.
Kalau ada yang punya informasi, tolong kasih tahu ya. Terima kasih sebelumnya.



This post has 5 comments
January 6th, 2008
wah pak iwan beberapa kali sedang asyik ngrasani pendidikan, yak! saya kira apa yang dikatakan pak dadang tuh bener, pak. belajar ndak harus di sekolah formal. kita bisa belajar dari “sekolah kehidupan” yang sesungguhnya; keluarga, masyarakat, bahkan juga dari alam. *halah sok tahu ya pak* yang pasti nih pak untuk pendidikan luar sekolah (non formal) kayaknya ndak perlu kurkulum. fenomena yang terjadi secara riil di tengah kehidupan masyarakat itulah kurikulum pendidikan yang sesunguhnya. mudah2an saja anak2 kita bisa belajar nilai kearifan dan kebajikan hidup dari “sekolah kehidupan” itu. *halah*
January 6th, 2008
lho bagaimana kita bisa tau anak itu udah belajar dari nilai kearifan dan kebijakan sekolah kehidupan? Kan sepertinya cuma menjeburkan anak ke sekolah kehidupan saja. Nanti sama dong dengan orang yang menjeburkan anak ke sekolah formal, masa bodo hasilnya gimana, mau dididik apa, dengan cara apa.
Itu yang lagi dicari Pak.
January 6th, 2008
Kalau menurut saya, maaf ini subjektif sekali, pendidikan untuk anak di luar sekolah (non-formal) sebaiknya pendidikan yang mampu beradaptasi dengan anak-anak (misalnya dengan metode permainan) namun mampu menumbuhkan semangat kreatifitas, sosial dan lainnya yang membuat sang anak tumbuh jadi anak yang cerdas, berakhlak dan aktif.
Dulu, saya pernah menerapkan metode art theraphy untuk pendidikan bagi anak-anak jalanan. Karena anak-anak ini kerepotan memang dengan ‘formalitas’, maka itu dibuatlah sekolah seni.
Caranya; anak-anak ini (semuanya dibawah 16 tahun), awalnya agak ekstrim, yaitu diajak untuk belajar menggambar di tembok (rumah teman yang dijadikan project sekolah ini sudah berapa kali di cat ulang). Lalu setelah mereka menyukai itu, anak-anak jalanan ini diajak untuk menggambar di kertas. Lalu diajarkan cara membuat puisi dan belajar drama.
Semuanya kecil-kecilan. Namun alhamdulillah, banyak sekali manfaatnya. Hampir sebagian besar yang ikut program ini mau ikut belajar ‘formal’ dengan tertib.
(*Sayang sekali, sekarang programnya bubar gara-gara ga ada dana… hehe*)
Oh ya, salam kenal, Pak.
October 2nd, 2008
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)
Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).
DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.
Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?
KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).
Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.
Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?
Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).
Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.
Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.
ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).
Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.
Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.
SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).
Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.
BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).
October 21st, 2008
Emang termasuk agak makan hati pak ngurus pendidikan non formal…..
Bukan kami putus asa lho…… dikala masih asiiiknya kami mencari kurikulum yang tepat untuk warga belajar………….. eehhh……. tempat belajarnya di gusur untuk kepentingan formal.
Yang paling mengecewakan tanpa pemberitahuan apapun (memang sangat tidak etis)…. meskipun kami telah punya ijin dari thn 1998, akte notaris dll.
Insya Allah kami masih tegar……..
Ada komentar……! atau bantuan kiriman kurikulum, buku, dll…… nggak nolak dan terima kasih.
Contact donk ke Email : pkbm_tebar@yahoo.co.id
Add a comment