<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kurikulum Pendidikan Luar Sekolah</title>
	<atom:link href="http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
	<description>Semoga Allah memberikan Rahmat, Rejeki, Perlindungan, Kemudahan, Kesehatan, dan Kebahagiaan kepada Iwan Awaludin</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 04:56:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Yayasan Sempoa Binta</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-2026</link>
		<dc:creator>Yayasan Sempoa Binta</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 07:56:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-2026</guid>
		<description>Mau Punya Usaha Sendiri..?? 
BISNIS PENDIDIKAN AJA...
Investasi Kecil,Resiko Kecil,Untung Dunia&amp;Akhirat,,Kembali Modal Cepat,, 
Hanya 3,9jt  Langsung punya Lembaga Kursus

Yayasan Sempoa Binta</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mau Punya Usaha Sendiri..??<br />
BISNIS PENDIDIKAN AJA&#8230;<br />
Investasi Kecil,Resiko Kecil,Untung Dunia&amp;Akhirat,,Kembali Modal Cepat,,<br />
Hanya 3,9jt  Langsung punya Lembaga Kursus</p>
<p>Yayasan Sempoa Binta</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Healthy Wealthy</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-933</link>
		<dc:creator>Healthy Wealthy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 05:17:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-933</guid>
		<description>@heryanto, pak namanya juga pendidikan informal yang mau masuk institusi formal. ya susah disambungkan. akhirnya memang harus lewat formalisasi, seperti kejar paket a, b, dan c.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@heryanto, pak namanya juga pendidikan informal yang mau masuk institusi formal. ya susah disambungkan. akhirnya memang harus lewat formalisasi, seperti kejar paket a, b, dan c.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Heryanto Susilo</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-930</link>
		<dc:creator>Heryanto Susilo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 03:44:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-930</guid>
		<description>Saya sangat senang dengan adanya komunikasi terutama informasi dalam bidang pendidikan luar sekolah. Saya dosen PLS dan pemerhati pendidikan luar sekolah. Saya merasa prihatin atas sulitnya lulusan PLS untuk menjadi pegawan negeri atau diserap oleh lembaga pendidikan lain karena tidak adanya formasi. Mudah-mudahan ini menjadi pembuka mata dan hati pemerintah pusat maupun daerah membuka peluang lulusan PLS menjadi pegawai. Terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat senang dengan adanya komunikasi terutama informasi dalam bidang pendidikan luar sekolah. Saya dosen PLS dan pemerhati pendidikan luar sekolah. Saya merasa prihatin atas sulitnya lulusan PLS untuk menjadi pegawan negeri atau diserap oleh lembaga pendidikan lain karena tidak adanya formasi. Mudah-mudahan ini menjadi pembuka mata dan hati pemerintah pusat maupun daerah membuka peluang lulusan PLS menjadi pegawai. Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mulyadi</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-853</link>
		<dc:creator>mulyadi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 12:14:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-853</guid>
		<description>prihatin dengan pengenalan diri masing-masing... banyak yang mengatasnamakan pendidikan luar sekolah/ non formal tapi kita tidak tau dan yang tau pun seakan tutup mata dengan pendidikan luar sekolah. cetaklah lulusan pendidikan luar sekolah menjadi menjadi orang yang tangguh, yang mampu membaca peluang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>prihatin dengan pengenalan diri masing-masing&#8230; banyak yang mengatasnamakan pendidikan luar sekolah/ non formal tapi kita tidak tau dan yang tau pun seakan tutup mata dengan pendidikan luar sekolah. cetaklah lulusan pendidikan luar sekolah menjadi menjadi orang yang tangguh, yang mampu membaca peluang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mustar</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-845</link>
		<dc:creator>mustar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 14:55:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-845</guid>
		<description>maaf pak, saya mau tanya gimana cara mengajukan proposal untuk pengadaan komputer karena kita sangat membutuhkan lab kom untuk mengembangkan pelatihan life skill komputer. kita sudah punya rencana tapi belum bisa berjalan karena belum ada labkomnya..terimakasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maaf pak, saya mau tanya gimana cara mengajukan proposal untuk pengadaan komputer karena kita sangat membutuhkan lab kom untuk mengembangkan pelatihan life skill komputer. kita sudah punya rencana tapi belum bisa berjalan karena belum ada labkomnya..terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Edy Purwono</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-759</link>
		<dc:creator>Edy Purwono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 04:18:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-759</guid>
		<description>Emang termasuk agak makan hati pak ngurus pendidikan non formal.....  
Bukan kami putus asa lho...... dikala masih asiiiknya kami mencari kurikulum yang tepat untuk warga belajar..............   eehhh.......   tempat belajarnya di gusur untuk kepentingan formal.
Yang paling mengecewakan tanpa pemberitahuan apapun (memang sangat tidak etis).... meskipun kami telah punya ijin dari thn 1998, akte notaris dll.
Insya Allah kami masih tegar........
Ada komentar......! atau bantuan kiriman kurikulum, buku, dll...... nggak nolak dan terima kasih.  
Contact donk ke          Email : pkbm_tebar@yahoo.co.id</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Emang termasuk agak makan hati pak ngurus pendidikan non formal&#8230;..<br />
Bukan kami putus asa lho&#8230;&#8230; dikala masih asiiiknya kami mencari kurikulum yang tepat untuk warga belajar&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..   eehhh&#8230;&#8230;.   tempat belajarnya di gusur untuk kepentingan formal.<br />
Yang paling mengecewakan tanpa pemberitahuan apapun (memang sangat tidak etis)&#8230;. meskipun kami telah punya ijin dari thn 1998, akte notaris dll.<br />
Insya Allah kami masih tegar&#8230;&#8230;..<br />
Ada komentar&#8230;&#8230;! atau bantuan kiriman kurikulum, buku, dll&#8230;&#8230; nggak nolak dan terima kasih.<br />
Contact donk ke          Email : <a href="mailto:pkbm_tebar@yahoo.co.id">pkbm_tebar@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-726</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 00:18:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-726</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? 

KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
 
WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. 

Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka. 

SUMBER  daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. 

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)</p>
<p>Strategi Pendidikan Milenium III<br />
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).</p>
<p>DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.</p>
<p>Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? </p>
<p>KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).</p>
<p>Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.</p>
<p>Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun &#8211; seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?</p>
<p>Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.</p>
<p>WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).</p>
<p>Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. </p>
<p>Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.</p>
<p>ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).</p>
<p>Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.</p>
<p>Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka. </p>
<p>SUMBER  daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).</p>
<p>Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. </p>
<p>BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arifkurniawan as bangaiptop</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-167</link>
		<dc:creator>arifkurniawan as bangaiptop</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 14:09:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-167</guid>
		<description>Kalau menurut saya, maaf ini subjektif sekali, pendidikan untuk anak di luar sekolah (non-formal) sebaiknya pendidikan yang mampu beradaptasi dengan anak-anak (misalnya dengan metode permainan) namun mampu menumbuhkan semangat kreatifitas, sosial dan lainnya yang membuat sang anak tumbuh jadi anak yang cerdas, berakhlak dan aktif.

Dulu, saya pernah menerapkan metode &lt;i&gt;art theraphy&lt;/i&gt; untuk pendidikan bagi anak-anak jalanan. Karena anak-anak ini kerepotan memang dengan &#039;formalitas&#039;, maka itu dibuatlah sekolah seni.

Caranya; anak-anak ini (semuanya dibawah 16 tahun), awalnya agak ekstrim, yaitu diajak untuk belajar menggambar di tembok (rumah teman yang dijadikan project sekolah ini sudah berapa kali di cat ulang). Lalu setelah mereka menyukai itu, anak-anak jalanan ini diajak untuk menggambar di kertas. Lalu diajarkan cara membuat puisi dan belajar drama. 

Semuanya kecil-kecilan. Namun alhamdulillah, banyak sekali manfaatnya. Hampir sebagian besar yang ikut program ini mau ikut belajar &#039;formal&#039; dengan tertib.

(*Sayang sekali, sekarang programnya bubar gara-gara ga ada dana... hehe*)

Oh ya, salam kenal, Pak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau menurut saya, maaf ini subjektif sekali, pendidikan untuk anak di luar sekolah (non-formal) sebaiknya pendidikan yang mampu beradaptasi dengan anak-anak (misalnya dengan metode permainan) namun mampu menumbuhkan semangat kreatifitas, sosial dan lainnya yang membuat sang anak tumbuh jadi anak yang cerdas, berakhlak dan aktif.</p>
<p>Dulu, saya pernah menerapkan metode <i>art theraphy</i> untuk pendidikan bagi anak-anak jalanan. Karena anak-anak ini kerepotan memang dengan &#8216;formalitas&#8217;, maka itu dibuatlah sekolah seni.</p>
<p>Caranya; anak-anak ini (semuanya dibawah 16 tahun), awalnya agak ekstrim, yaitu diajak untuk belajar menggambar di tembok (rumah teman yang dijadikan project sekolah ini sudah berapa kali di cat ulang). Lalu setelah mereka menyukai itu, anak-anak jalanan ini diajak untuk menggambar di kertas. Lalu diajarkan cara membuat puisi dan belajar drama. </p>
<p>Semuanya kecil-kecilan. Namun alhamdulillah, banyak sekali manfaatnya. Hampir sebagian besar yang ikut program ini mau ikut belajar &#8216;formal&#8217; dengan tertib.</p>
<p>(*Sayang sekali, sekarang programnya bubar gara-gara ga ada dana&#8230; hehe*)</p>
<p>Oh ya, salam kenal, Pak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Healthy Wealthy</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-164</link>
		<dc:creator>Healthy Wealthy</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 08:49:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-164</guid>
		<description>lho bagaimana kita bisa tau anak itu udah belajar dari nilai kearifan dan kebijakan sekolah kehidupan? Kan sepertinya cuma menjeburkan anak ke sekolah kehidupan saja. Nanti sama dong dengan orang yang menjeburkan anak ke sekolah formal, masa bodo hasilnya gimana, mau dididik apa, dengan cara apa.
Itu yang lagi dicari Pak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lho bagaimana kita bisa tau anak itu udah belajar dari nilai kearifan dan kebijakan sekolah kehidupan? Kan sepertinya cuma menjeburkan anak ke sekolah kehidupan saja. Nanti sama dong dengan orang yang menjeburkan anak ke sekolah formal, masa bodo hasilnya gimana, mau dididik apa, dengan cara apa.<br />
Itu yang lagi dicari Pak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sawali tuhusetya</title>
		<link>http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/comment-page-1/#comment-163</link>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 08:31:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.schoolofuniverse.com/2008/01/06/kurikulum-pendidikan-luar-sekolah/#comment-163</guid>
		<description>wah pak iwan beberapa kali sedang asyik ngrasani pendidikan, yak! saya kira apa yang dikatakan pak dadang tuh bener, pak. belajar ndak harus di sekolah formal. kita bisa belajar dari &quot;sekolah kehidupan&quot; yang sesungguhnya; keluarga, masyarakat, bahkan juga dari alam. *halah sok tahu ya pak*  yang pasti nih pak untuk pendidikan luar sekolah (non formal) kayaknya ndak perlu kurkulum. fenomena yang terjadi secara riil di tengah kehidupan masyarakat itulah kurikulum pendidikan yang sesunguhnya. mudah2an saja anak2 kita bisa belajar nilai kearifan dan kebajikan hidup dari &quot;sekolah kehidupan&quot; itu. *halah*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah pak iwan beberapa kali sedang asyik ngrasani pendidikan, yak! saya kira apa yang dikatakan pak dadang tuh bener, pak. belajar ndak harus di sekolah formal. kita bisa belajar dari &#8220;sekolah kehidupan&#8221; yang sesungguhnya; keluarga, masyarakat, bahkan juga dari alam. *halah sok tahu ya pak*  yang pasti nih pak untuk pendidikan luar sekolah (non formal) kayaknya ndak perlu kurkulum. fenomena yang terjadi secara riil di tengah kehidupan masyarakat itulah kurikulum pendidikan yang sesunguhnya. mudah2an saja anak2 kita bisa belajar nilai kearifan dan kebajikan hidup dari &#8220;sekolah kehidupan&#8221; itu. *halah*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
