Seorang teman menyatakan kekesalannya kepada Pak Harto melalui e-mail. Katanya Pak Harto ini ngga hidup ngga mati nyusahin orang saja. Jakarta jadi macet gara-gara iringan pengantar Pak Harto.
Aku sendiri sebagai orang yang masih hidup menganggap pernyataan itu tidak pada tempatnya. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa menyusahkan orang lain? Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bahkan sekedar untuk menyelamatkan dirinya dari semua pertanggungjawaban perbuatan selama di dunia.
Bukankah kita semua tahu, kalau sudah mati amal kita tidak akan bertambah kecuali dari yang tiga. Amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan. Dan tidak ada yang bisa menghapus dosa kecuali doa. Siapa yang mendoakan? Tentu saja orang-orang yang mengiringi dan mendoakan sampai kita dikubur.
Betapa senangnya menjadi orang meninggal yang banyak mengantar dan mendoakan di kubur. Karena setelah kita dikubur, empat puluh langkah orang keluar dari kubur kita sudah habislah kesempatan mendapatkan pengampunan.
Kalau aku meninggal, aku pingin banyak orang yang mengiringi dan mendoakan aku sampai ke kubur. Ngga peduli dengan macet yang diakibatkan oleh pengiringku. Karena, macet akan berlalu sedangkan apa yang berlangsung di kubur akan berlangsung terus sampai hari akhir nanti. Doa dari pengiring ke kubur itulah mungkin saat terakhir orang-orang yang kenal dengan kita akan mendoakan. Setelah dikubur, paling hanya keluarga saja yang mendoakan.
Karena itulah, kalau ada kemacetan karena ada yang mengiringi ke kubur saya mengucapkan selamat kepada yang meninggal. Karena ternyata banyak orang yang cinta dan ingin mendoakan dia.
So, Pak Harto ternyata hidup dan kematianmu banyak sekali kenikmatannya. Setidaknya, sampai engkau dikuburkan. Mudah-mudahan engkau juga mendapat nikmat sesuai dengan amal-amalmu. Mudah-mudahan lebih banyak amal baikmu dibandingkan amal tidak baikmu. Aamiin.

Ya ya ya, kita doakanlah dan memaafkan. Keputusan akhir Allah SWT yang Mahatahu. Memaafkan berarti doa, dan berpahala. Amin.
setuju banget pak iwan, semakin banyak yang mentar ke tempat pemakaman dan mendoakan almarhum, semakin lapang jalan menuju ke jalan Allah. Mudah2an saja kelak kita semua meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan khusnul khatimah, amiin.
“Setelah dikubur, paling hanya keluarga saja yang mendoakan.”
Hm…jangan lupa pak, kan ada doa sapu jagat jatah untuk semua orang Islam.
….wal mukminina wal mukminat, wal muslimina wal muslimat, al ahya iminhum wal amwat…..
Iya, sapu jagad. He he he. Tapi saat berdoa seperti itu, siapa ya yang dipikirkan? Atau jangan-jangan cuma ucapan doang kali ya, ngga sampe di hati. Ah mudah-mudahan memang berdoa untuk semua ummat Islam.