Archive for February, 2008

Salam,

Sudah lama ya ngga nulis di blog ini. Kasihan, sudah mulai banyak rumput-rumputnya. Debu juga sudah menutupi hampir semua permukaannya. Sekarang bebersih dulu, sambil nulis tentang artis.

Kata orang, perjalanan hidup manusia itu bagaikan roda yang berputar. Kadang di bawah dan kadang di atas. Kadang baik dan kadang juga tidak baik. Sekarang kita lihat, artis Gito Rollies.

Sebenarnya, aku bukan penggemar dia. Sudah beda angkatannya Bo. Mungkin kalo ortu sempat ngalami masa jayanya Gito Rollies. Tapi, katanya sih dulu artis yang satu ini sangat dekat dengan dunia hitam. Maksudnya dunia malam gemerlap (dugem kali yee).

Tapi, dalam beberapa tahun terakhir ini ada perubahan. Gito Rollies yang sekarang adalah seorang aktivis Jamaah Tabligh. Itu lho, jamaah yang selalu ingin mengajak orang-orang supaya lebih dekat ke Masjid. Aku juga pernah ikutan dulu, dua atau tiga kali.

Setidaknya Gito Rollies yang sekarang adalah orang yang lebih baik. Mudah-mudahan matinya pun dalam husnul khotimah. Baru saja, beliau meninggal dunia. Mudah-mudahan diampuni dosanya, dimudahkan urusan kubur dan akhiratnya, juga ditegarkan keluarga yang ditinggalkannya.

Ngga cuma Gito Rollies, artis yang berubah jadi baik. Kalau yang aku kenal ada Hari Mukti yang jadi mubaligh jamaah Hizbut Tahrir. Ada lagi Ustadz Jefri, dan mungkin masih banyak lainnya.

Kawan-kawanku juga ada yang seperti itu. Dalam satu masa pernah hidup jauh dari agama. Kemudian ada satu titik yang mengembalikan lagi mereka ke dekat Tuhan. Enak juga ya, pernah nyicip nakal dan akhirnya jadi soleh.

Tapi ada juga yang tadinya soleh, eh taunya malah berantakan di akhirnya. Ada anak ustadz, gara-gara kenal dunia selebriti jadi ngaco. Ada jebolan pesantren tapi ngga keliatan lagi hasil gemblengan pesantrennya.

Mudah-mudahan, semua orang tetap husnul khotimah. Yang sekarang bejat, nanti jadi baik dan akhirnya mati husnul khotimah. Yang sudah baik, ngga usah jadi bejat dulu sebelum husnul khotimah.

Penutupnya: Selamat jalan Gito Rollies, semoga aku juga bisa husnul khotimah. Rindu deh diantar dan didoakan beribu orang ketika aku meninggal nanti.

Tags:

Aku tak tahu

kalau ada sesuatu

akhirnya keluar kata itu

mungkin menyakiti hatimu

maukah kamu memaafkanku?

Tags:

Nama sekolah Minah adalah SD Tikukur. SD ini terletak di tengah kota, bahkan dekat sekali dengan kantor Gubernur Jawa Barat. Lulusannya tidak banyak yang diterima di sekolah negeri. Tapi sekolah ini cukup terkenal dengan prestasi seninya. Sudah beberapa kali utusan SD Tikukur menjadi juara lomba paduan suara dan pentas seni di kota Bandung.

Kali ini Pak Anca, guru seni SD Tikukur, berkeliling ke beberapa kelas untuk memilih utusan baru sekolah. Utusan ini akan tampil ke pentas seni di TV dan kantor Gubernur. Satu persatu murid yang dianggap memiliki bakat diuji menyanyi. Setelah itu beberapa murid yang terbaik dipilih. Minah gembira karena dia juga ikut terpilih tahun ini. Wah terbayang senang dan bangganya Minah bisa tampil di depan TV dan Gubernur.

Pulang sekolah Minah langsung berlari ke rumah dengan wajah tersenyum lebar. Dia harus segera member tahu ibunya kalau dia terpilih menjadi utusan seni sekolahnya.

“Ibu, ibu, assalamu ‘alaikuuum, ibu, ibu, di mana ibu?”

Tak sabar rasanya Minah menunggu jawaban ibunya. Tentu saja ibu Minah kaget. Tidak biasanya Minah pulang sekolah berteriak-teriak seperti itu. Tergopoh-gopoh ibu Minah ke depan untuk membuka pintu rumah.

“alaikumussalam Minah, ada apa nak?”

“Ibu, ibu, dengar ini. Minah terpilih bu, Minah terpilih”, jawab Minah dengan cepat.

“Terpilih apa sayang? “

“Iya, ibu. Minah terpilih jadi utusan seni sekolah bu. Nanti Minah akan tampil di TV dan di kantor Gubernur. Hebat kan Bu?”

“Wah hebat sekali sayang. Keren dong, anak ibu bisa tampil di TV dan di depan Gubernur.”

“Iya bu, nanti setiap pulang sekolah Minah harus ikut latihan bu. “

“Makan siangnya bagaimana? Apa disediakan di sana?”

“Oh tidak bu, semua murid harus pulang dulu ke rumah. Nanti sekitar jam satu siang, semuanya berkumpul di ruang kesenian untuk berlatih bersama.”

“Kalau begitu, kamu harus cepat-cepat pulang ya sayang. Biar sempat makan siang dulu. Kalau latihan tidak makan siang, bisa-bisa kamu sakit dan tidak jadi tampil.”

“Iya bu, beres,” Minah senang sekali karena ibunya pun bangga pada dia.

Sejak keesokan harinya, hari-hari Minah disibukkan dengan latihan kesenian di sekolah. Minah tetap bersemangat meski latihan itu sangat melelahkan. Kadang, Minah terpaksa tidak ikut pengajian sore hari di Masjid karena terlalu lelah. Badan Minah sudah letih dan suaranya juga sudah parau saat pulang dari latihan.

Setelah tiga minggu berturut-turut Minah latihan, akhirnya tibalah saat gladi. Saat itu masih satu minggu lagi dari pementasan di TV dan kantor Gubernur. Pak Anca sudah mengumpulkan murid-murid utusan sekolah di ruangan kesenian. Nampaknya ada pengumuman penting yang ingin disampaikan.

“Anak-anak, hari ini bapak ingin mengumumkan hal penting berkaitan dengan pementasan kita. Untuk memperindah penampilan, maka bapak ingin kalian memakai seragam yang bagus. Kita akan tampil di TV dan depan Gubernur. Tentu kita tidak ingin malu hanya gara-gara pakaian yang kurang menarik.”

“Bapak mengusulkan kepada kepala sekolah, agar utusan kesenian kali ini menyewa kostum pementasan. Sewa ini jauh lebih murah dibandingkan dengan membuat sendiri kostumnya. Selain itu, pihak TV juga ingin kita membayar sejumlah uang untuk keperluan shooting. Biaya ini akan dibagi sama rata kepada seluruh utusan. Kira-kira jumlah yang harus dibayar setiap anak adalah seratus ribu rupiah.”

Minah terkejut dengan pengumuman ini. Bagaimana tidak? Biasanya bila ada sesuatu yang berhubungan dengan uang Minah akan kesulitan. Pasti tidak mudah untuk meminta uang kepada orangtuanya. Hasil menjual cairan balon sebelum ini sudah Minah tabung. Mungkin dengan uang itu Minah bisa minta sedikit tambahan dari orangtuanya.

Minah pulang dengan wajah sedikit tegang. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan pengumuman tadi kepada ibunya. Sesampainya di rumah, ibu Minah sudah melihat gelagat yang kurang baik. Dia pun menanyai Minah.

“Minah sayang, ada apa nak? Koq kayaknya wajah kamu tegang begitu. Ada masalah di sekolah? Bagaimana persiapan pentas seni kamu seminggu lagi? Sudah siap ya tampaknya. Tapi tidak usah tegang seperti itu. Kan kurang bagus kalau terlihat penonton yang pentas tegang.”

“Ehm, begini bu. Tadi Pak Anca memberi pengumuman. Tapi pengumumannya bikin hati Minah tidak tenang.”

“Kenapa bisa begitu? Memangnya Pak Anca mengumumkan apa?”

“Ini bu, kata Pak Anca, semua utusan seni harus bayar iuran. Uangnya akan dipakai sewa kostum dan bayar TV. Besar iurannya seratus ribu rupiah.”

Ibu Minah tersentak kaget mendengar jumlah uang yang besar itu. Bagaimanapun tidak mungkin bagi keluarga mereka mengeluarkan uang sebesar itu. Apalagi hanya untuk keperluan yang sebentar saja. Dengan berat hati ibu menenangkan hati Minah.

“Minah sayang, kamu kan tahu keadaan keluarga kita. Tidak mungkin ayahmu punya uang sebesar itu. Mungkin belum saatnya kamu tampil di depan TV nak. Satu saat nanti, kalau kamu sudah besar mungkin kesempatan itu datang. Tidak apa-apa ya nak?”

“Tapi bu, Minah punya tabungan. Tambahkan sedikit saja lagi. Insya Allah tidak begitu memberatkan koq bu.”

“Dengarkan ibu, sayang. Jumlah uang segitu sangat besar nak. Bisa membayar sekolah kamu dan adik kamu selama setahun. Masa kamu mau habiskan untuk kegiatan sehari. Ibu lihat bagaimana usaha kamu mengumpulkan uang itu. Pergi pagi hari dan kerja memeras keringat sampai siang. Padahal saat itu kamu sedang puasa. Apa rela kamu melepaskan uang yang kamu dapat dengan susah payah?”

Minah termenung. Bagaimanapun dia paham akan perkataan ibunya. Dia masih ingat ketika harus pergi ke tepi sungai untuk memetik daun kembang sepatu setiap pagi. Dia juga masih bisa merasakan pegalnya tangan memeras daun itu sampai kental. Panas udara saat dia berkeliling menjajakan cairan balonnya juga masih terasa di kulitnya.

Akhirnya Minah menyerah. Esok harinya Minah melapor kepada Pak Anca, kalau dia tidak bisa ikut pentas seni. Minah sedih, kawan-kawannya juga sedih. Tapi mau apalagi, keluarga Minah tidak memiliki uang yang diperlukan untuk kegiatan itu.

Dua minggu setelah pentas seni, Minah sudah lupa dengan kekecewaannya. Wali kelas Minah mengumumkan bahwa akan ada seleksi dokter cilik di kelasnya. Minah sangat teruja. Terbayang di mata Minah, bangganya menjadi dokter cilik.

Setiap dokter cilik akan memakai seragam yang berbeda dengan murid lainnya. Seragamnya sudah macam dokter sungguhan. Memakai jas warna putih dan membawa stetoskop di leher. Anggun sekali kelihatannya.
Murid yang dipilih biasanya hanya dari kelas lima, seperti Minah. Hanya murid yang berprestasi saja yang akan dipilih. Dokter cilik akan bertugas membantu kesehatan sekolah. Karena itu hanya yang pintar dan berprestasi saja yang boleh ikut. Alasannya supaya tidak terganggu sekolahnya meskipun ikut bekerja di luar kelas.

Minah masih memiliki harapan. Selama ini dia tidak pernah lewat dari lima besar. Selain itu dia juga aktif dikegiatan olahraga. Minah sering diutus mewakili sekolah ikut pertandingan bola voli antar sekolah. Rasanya kali ini, Minah akan ikut terpilih.

Memang benar perkiraan Minah. Namanya masuk dalam daftar murid yang berkesempatan menjadi dokter cilik. Calon dokter akan diberi pelatihan singkat selama sebulan penuh. Isi pelatihannya adalah P3K dan dasar-dasar kesehatan. Pelatihan akan diberikan oleh dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, di sekolah.

Seperti sebelumnya, Minah berlari pulang ke sekolah dan menceritakan pengumuman itu pada ibunya. Ibunya mendengarkan dengan sepenuh hati. Tapi dia tahu, apa yang dihadapi Minah nanti. Ibu mengatur strategi agar bisa menyampaikan informasi itu secara halus. Dia tidak ingin Minah terlalu kecewa karena tidak bisa menjadi dokter cilik.

“Kalau dokter cilik itu tugasnya apa MInah?” Tanya ibu menyelidik.

“Tugasnya banyak Bu. Setiap hari dokter cilik harus siaga membantu seksi kesehatan sekolah. Kalau ada yang sakit harus siapkan obat dan merawatnya. Karena itu dokter cilik harus pakai seragam setiap hari ke sekolah. Seragamnya bagus lho Bu, seperti dokter sungguhan!”

“Seragamnya itu dikasih Rumah Sakit atau sekolah?”

“Dikasih siapa ya?” Minah mulai berpikir. Pasti harus dibeli oleh murid. Sudah mulai tampak gejala-gejala uang berkeliaran lagi nih, pikirnya.

“Minah tidak tahu Bu. Besok Minah tanyakan ke Pak Guru.”

“Oh iya, dokter cilik tahu obat apa yang harus diberikan dari mana? Bagaimana cara merawat orang sakit, tahu dari siapa?”, tanya ibu Minah lagi.

“Nanti, sebelum bertugas dokter ciliknya akan mendapat pelatihan Bu. Yang melatih dokter dari Rumah Sakit. Pelatihannya sebulan, setiap pulang sekolah.”

“Wah, dokter-dokter yang member pelatihan itu pasti orang yang baik ya. Mereka mau memberi pelatihan gratis ke sekolah-sekolah.”, kata ibu memuji.

Tapi Minah tahu, itu adalah pertanda banyak hal yang harus dia tanyakan ke sekolah. Setahu Minah, kalau ada pelatihan biasanya juga ada biaya. Hal ini belum disampaikan oleh gurunya. Esok Minah akan tanyakan semua hal itu.

Keesokan harinya, sepulang sekolah Minah menanyakan perihal seragam dan pelatihan. Memang benar perkiraan Minah, semua itu memerlukan biaya. Dan biaya itu harus ditanggung oleh murid yang mengikutinya. Bahkan jumlahnya tiga kali lipat dari pentas seni dahulu.

Minah tahu diri, tidak mungkin bagi dirinya ikut serta. Pada akhirnya, kawan Minah yang kurang berprestasi tapi banyak uanglah yang bisa ikut. Memang sedih kalau tidak punya uang, pikir Minah. Tekad Minah, tidak akan menjadi orang susah kalau nanti sudah besar. Minah tidak ingin kekecewaan hanya karena tidak punya uang terulang lagi. Dia akan pikirkan cara supaya bisa mendapatkan uang seperti sewaktu menjual cairan balon dulu.

Tags:

Lagi belajar menulis cerpen, tolong komentari ya apa yang kurang pas dengan cerpennya. Ini adalah cerpen kedua terpanjang yang pernah aku buat. Ini sebenarnya diambil dari kisah nyata. 

Mulai hari ini sampai satu bulan ke depan Minah tidak masuk sekolah karena liburan bulan Ramadhan. Untungnya ada program pengajian Ramadhan di Masjid dekat rumah Minah. Sayangnya program pengajian ini hanya diadakan sore hari saja. Pagi sampai siang tidak ada kegiatan lain yang berarti. Lagi pula bermain di bulan Ramadhan biasanya membuat tubuh anak-anak aktif seperti Minah cepat lelah dan berpengaruh kepada semangat menjaga puasa.

Biasanya, kalau ibu dan bapak Minah punya uang, Minah akan mendapatkan uang jajan setiap tiga hari sekali. Meskipun hanya mendapat lima puluh rupiah setiap kali diberi bagi Minah itu cukup berarti. Karena biasanya keluarganya sering kekurangan uang sehingga Minah tidak mendapat uang jajan. Tapi karena bulan puasa, maka tidak ada jajanan yang bisa dibeli siang hari jadi Minah tidak akan mendapatkan uang jajan selama satu bulan.

Setiap kali keluar, Minah sedih juga karena teman-temannya masih mendapat uang jajan dan membelikan mainan penunggu waktu berbuka. Biasanya mereka membeli layangan atau balon-balonan. Asyik juga sih walau cuma bisa melihat mereka bermain. Kalau ada teman yang meniup balon-balonan Minah suka ikut menepuki balon itu sampai pecah.

Hari ketiga Ramadhan Minah tak tahan lagi. Dia juga ingin punya balon-balonan sendiri seperti teman-temannya. Dia mendekati ibunya untuk meminta uang jajan. Lima puluh rupiah, sebenarnya tidak cukup untuk membeli satu paket balon-balonan. Setidaknya harga satu paket berharga dua ratus rupiah. Maka dia mengatur kata-kata agar bisa mendapatkan uang jajan lebih kali ini.

“Ibu, minta uang jajan dong. Minah pingin beli balon-balonan. Kan tidak ada kegiatan nih di pagi hari puasa. Kan kalau main balon-balonan Minah bisa lupa kalau sedang puasa”

“Sayang, kamu tahu kan sekarang bulan puasa dan liburan? Semua sekolah libur, termasuk universitas yang mahasiswanya menjadi langganan Bapak. Sekarang Bapak kesulitan mencari uang.Setiap hari Bapak harus pergi ke Pasar Baru untuk membeli sarung dan berjalan kaki ke Masjid Agung untuk menjualnya. Kamu lihat sendiri, kan. Bapakmu pergi dari pagi dan baru pulang malam hari.”

“Tapi Bu, lima puluh rupiaaaah saja. Ngga akan minta lagi koq sampai lebaran nanti, Minah janji deh.”

“Maaf sayang, ibu juga tidak punya uang. Hanya ada dua ratus rupiah untuk membeli telor ayam buat berbuka nanti,” Jawab Ibunya Minah sambil berkaca-kaca matanya. Hati ibu mana yang tidak sedih, ketika tidak bisa memberikan permintaan anaknya. Padahal anaknya itu tidak meminta uang yang banyak atau barang yang mahal. Tapi karena memang keluarga itu tidak punya uang banyak, sehingga banyak keinginan yang harus diabaikan agar tetap bisa sekedar meneruskan hidup.

Minahpun mengerti. Dia tidak ingin membuat ibunya sedih karena permintaannya. Hatinya memang kecewa tidak bisa mendapatkan uang jajan hari ini. Sebenarnya dia masih memiliki tabungan hasil menyewakan buku-buku sebelumnya. Tapi dia ingin menyimpan uang itu untuk keperluan yang lebih besar nanti.

“Minah sayang, kamu ingin main balon-balonan ya,” tiba-tiba ibu Minah bertanya.

“Iya Bu”

“Bagaimana kalau kita buat sendiri balon-balonannya?”

“Bisa Bu?”

“Iya bisa, coba kamu cari daun kembang sepatu di dekat sungai sana. Nanti ibu siapkan air dan sabun untuk campuran balon-balonan. Kalau bisa, sekalian saja cari sedotan untuk balonnya nanti kalau sudah jadi.”

“Baik bu, Minah segera cari.”

Segera saja Minah berlari ke sungai dekat rumahnya. Di sana memang banyak tumbuh bunga kembang sepatu liar. Bunga-bunga itu menjalar begitu saja di pinggir sungai. Bunganya yang berwarna merah cukup menambah indah pemandangan di sekitar sungai. Karena itulah, tidak ada yang menebang atau mengganggu pepohonan kembang sepatu itu dari sungai.

Untungnya banyak daun pohon bunga itu yang berada dekat pinggir sungai. Seandainya lebih banyak yang menjorok ke sungai tentu akan menyulitkan Minah. Sungai itu tidaklah besar dan airnya tidak deras tapi cukup dalam. Tingginya mungkin sekitar tiga meter. Sulit bagi Minah untuk keluar dari sungai kalau sampai terjatuh ke dalamnya.

Minah mengambil dua genggam daun kembang sepatu dan membawanya ke rumah. Di rumah ibunya sudah menunggu dengan sabun cuci dan air.

“Mari sini, cuci dulu daunnya. Selepas itu kamu peras daunnya dengan air ini ya.” Begitu pinta ibu kepada Minah.

Lalu Minah mencuci dan memeras daun itu dengan air, sampai airnya mengental. Setelah kental ibu Minah mencampurkan sedikit sabun cuci ke sana. Dengan sedikit sedotan ternyata cairan itu bisa menghasilkan busa balon yang banyak sekali. Wah hati Minah sangat senang, setelah diberi bungkus dia bisa mendapatkan tiga bungkus cairan balon-balonan.

Ketika Minah membawanya ke tempat bermain, di sana sudah banyak teman-teman berkumpul. Bersama-sama mereka bermain balon-balonan bawaan masing-masing. Ternyata, balon-balonan Minah menghasilkan buih balon yang paling banyak. Teman-teman Minah kagum melihat cairan balon-balonan yang dibawa Minah. Mereka mau tahu, di mana Minah membeli cairan itu.

Wah buat Minah ini adalah suatu kesempatan yang bagus. Dia menawarkan kepada kawan-kawannya untuk membeli cairan balon-balonan yang dia bawa dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga tukang mainan. Setiap satu paket dia jual seratus rupiah. Setidaknya dia bisa mendapatkan modal dua ratus rupiah hari itu.

Sepulang mengaji di Masjid sore itu dalam perjalanan pulang Minah membeli sabun cuci seharga seratus rupiah, plastik lima puluh rupiah, dan sedotan lima puluh rupiah. Minah akan membuat cairan balon-balonan untuk dijual ke teman-temannya esok.

Pagi hari, setelah mengikuti pengajian subuh Minah langsung pergi ke tepi sungai. Dengan menggunakan kantong plastik yang dia bawa dari rumah Minah mengumpulkan daun kembang sepatu yang cukup banyak. Sampai di rumah Minah merendam daun-daun itu agar bersih sementara dia mandi dan sarapan pagi.

Ibunya hanya tersenyum ketika melihat Minah membuat cairan balon-balon itu. Dia tidak tahu kalau Minah membuat banyak sekali cairan balon untuk dijual. Minah semangat sekali mengerjakannya. Setelah selesai sarapan pagi dan mandi Minah langsung bekerja membersihkan daun-daun dan kemudian meremasnya sampai kental. Kemudian dia masukkan sabun cuci bubuk ke dalam cairan kental itu dan mengaduknya sampai rata.

Setelah itu cairan itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kecil. Isi kantong itu lebih banyak daripada cairan yang dijual di tempat mainan. Rencananya satu kantong plastik akan dijual dengan harga seratus lima puluh rupiah. Ada empat puluh kantong plastik yang bisa dihasilkan Minah dari modal dua ratus rupiahnya.

Sekitar pukul sepuluh pagi Minah pergi ke tempat berkumpul teman-temannya. Di sana dia menata plastik cairan balonnya supaya menarik. Kali ini dia cuma membawa tiga puluh buah kantong plastik cairan balon. Mudah-mudahan bisa terjual semua. Sebelum berjualan tidak lupa dia berdoa agar jualannya laku dan membawa berkah.

Satu per satu teman Minah datang. Mereka tertarik membeli cairan balon yang dibawa Minah. Selain harganya lebih murah isinya juga lebih banyak. Menjelang siang sudah dua puluh empat kantong yang terjual. Minah senang sekali.Dari modal dua ratus rupiah kini ia mendapatkan uang tiga ribu enam ratus rupiah. Dia bisa memakai dua ratus rupiah untuk membeli bahan-bahan cairan balonnya lagi.

Selama bulan Ramadhan, Minah mampu menjual rata-rata dua puluh kantong cairan balon setiap hari. Uang tabungan Minah sudah bertambah tujuh puluh lima ribu sekarang. Menjelang akhir bulan Ramadhan penjualan cairan balon makin menurun. Tampaknya teman-teman Minah sudah mulai bosan bermain balon-balonan. Sudah saatnya Minah menghentikan usaha cairan balonnya untuk berusaha yang lain lagi.

Tags: