Entries RSS Comments RSS

Balon

Lagi belajar menulis cerpen, tolong komentari ya apa yang kurang pas dengan cerpennya. Ini adalah cerpen kedua terpanjang yang pernah aku buat. Ini sebenarnya diambil dari kisah nyata. 

Mulai hari ini sampai satu bulan ke depan Minah tidak masuk sekolah karena liburan bulan Ramadhan. Untungnya ada program pengajian Ramadhan di Masjid dekat rumah Minah. Sayangnya program pengajian ini hanya diadakan sore hari saja. Pagi sampai siang tidak ada kegiatan lain yang berarti. Lagi pula bermain di bulan Ramadhan biasanya membuat tubuh anak-anak aktif seperti Minah cepat lelah dan berpengaruh kepada semangat menjaga puasa.

Biasanya, kalau ibu dan bapak Minah punya uang, Minah akan mendapatkan uang jajan setiap tiga hari sekali. Meskipun hanya mendapat lima puluh rupiah setiap kali diberi bagi Minah itu cukup berarti. Karena biasanya keluarganya sering kekurangan uang sehingga Minah tidak mendapat uang jajan. Tapi karena bulan puasa, maka tidak ada jajanan yang bisa dibeli siang hari jadi Minah tidak akan mendapatkan uang jajan selama satu bulan.

Setiap kali keluar, Minah sedih juga karena teman-temannya masih mendapat uang jajan dan membelikan mainan penunggu waktu berbuka. Biasanya mereka membeli layangan atau balon-balonan. Asyik juga sih walau cuma bisa melihat mereka bermain. Kalau ada teman yang meniup balon-balonan Minah suka ikut menepuki balon itu sampai pecah.

Hari ketiga Ramadhan Minah tak tahan lagi. Dia juga ingin punya balon-balonan sendiri seperti teman-temannya. Dia mendekati ibunya untuk meminta uang jajan. Lima puluh rupiah, sebenarnya tidak cukup untuk membeli satu paket balon-balonan. Setidaknya harga satu paket berharga dua ratus rupiah. Maka dia mengatur kata-kata agar bisa mendapatkan uang jajan lebih kali ini.

“Ibu, minta uang jajan dong. Minah pingin beli balon-balonan. Kan tidak ada kegiatan nih di pagi hari puasa. Kan kalau main balon-balonan Minah bisa lupa kalau sedang puasa”

“Sayang, kamu tahu kan sekarang bulan puasa dan liburan? Semua sekolah libur, termasuk universitas yang mahasiswanya menjadi langganan Bapak. Sekarang Bapak kesulitan mencari uang.Setiap hari Bapak harus pergi ke Pasar Baru untuk membeli sarung dan berjalan kaki ke Masjid Agung untuk menjualnya. Kamu lihat sendiri, kan. Bapakmu pergi dari pagi dan baru pulang malam hari.”

“Tapi Bu, lima puluh rupiaaaah saja. Ngga akan minta lagi koq sampai lebaran nanti, Minah janji deh.”

“Maaf sayang, ibu juga tidak punya uang. Hanya ada dua ratus rupiah untuk membeli telor ayam buat berbuka nanti,” Jawab Ibunya Minah sambil berkaca-kaca matanya. Hati ibu mana yang tidak sedih, ketika tidak bisa memberikan permintaan anaknya. Padahal anaknya itu tidak meminta uang yang banyak atau barang yang mahal. Tapi karena memang keluarga itu tidak punya uang banyak, sehingga banyak keinginan yang harus diabaikan agar tetap bisa sekedar meneruskan hidup.

Minahpun mengerti. Dia tidak ingin membuat ibunya sedih karena permintaannya. Hatinya memang kecewa tidak bisa mendapatkan uang jajan hari ini. Sebenarnya dia masih memiliki tabungan hasil menyewakan buku-buku sebelumnya. Tapi dia ingin menyimpan uang itu untuk keperluan yang lebih besar nanti.

“Minah sayang, kamu ingin main balon-balonan ya,” tiba-tiba ibu Minah bertanya.

“Iya Bu”

“Bagaimana kalau kita buat sendiri balon-balonannya?”

“Bisa Bu?”

“Iya bisa, coba kamu cari daun kembang sepatu di dekat sungai sana. Nanti ibu siapkan air dan sabun untuk campuran balon-balonan. Kalau bisa, sekalian saja cari sedotan untuk balonnya nanti kalau sudah jadi.”

“Baik bu, Minah segera cari.”

Segera saja Minah berlari ke sungai dekat rumahnya. Di sana memang banyak tumbuh bunga kembang sepatu liar. Bunga-bunga itu menjalar begitu saja di pinggir sungai. Bunganya yang berwarna merah cukup menambah indah pemandangan di sekitar sungai. Karena itulah, tidak ada yang menebang atau mengganggu pepohonan kembang sepatu itu dari sungai.

Untungnya banyak daun pohon bunga itu yang berada dekat pinggir sungai. Seandainya lebih banyak yang menjorok ke sungai tentu akan menyulitkan Minah. Sungai itu tidaklah besar dan airnya tidak deras tapi cukup dalam. Tingginya mungkin sekitar tiga meter. Sulit bagi Minah untuk keluar dari sungai kalau sampai terjatuh ke dalamnya.

Minah mengambil dua genggam daun kembang sepatu dan membawanya ke rumah. Di rumah ibunya sudah menunggu dengan sabun cuci dan air.

“Mari sini, cuci dulu daunnya. Selepas itu kamu peras daunnya dengan air ini ya.” Begitu pinta ibu kepada Minah.

Lalu Minah mencuci dan memeras daun itu dengan air, sampai airnya mengental. Setelah kental ibu Minah mencampurkan sedikit sabun cuci ke sana. Dengan sedikit sedotan ternyata cairan itu bisa menghasilkan busa balon yang banyak sekali. Wah hati Minah sangat senang, setelah diberi bungkus dia bisa mendapatkan tiga bungkus cairan balon-balonan.

Ketika Minah membawanya ke tempat bermain, di sana sudah banyak teman-teman berkumpul. Bersama-sama mereka bermain balon-balonan bawaan masing-masing. Ternyata, balon-balonan Minah menghasilkan buih balon yang paling banyak. Teman-teman Minah kagum melihat cairan balon-balonan yang dibawa Minah. Mereka mau tahu, di mana Minah membeli cairan itu.

Wah buat Minah ini adalah suatu kesempatan yang bagus. Dia menawarkan kepada kawan-kawannya untuk membeli cairan balon-balonan yang dia bawa dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga tukang mainan. Setiap satu paket dia jual seratus rupiah. Setidaknya dia bisa mendapatkan modal dua ratus rupiah hari itu.

Sepulang mengaji di Masjid sore itu dalam perjalanan pulang Minah membeli sabun cuci seharga seratus rupiah, plastik lima puluh rupiah, dan sedotan lima puluh rupiah. Minah akan membuat cairan balon-balonan untuk dijual ke teman-temannya esok.

Pagi hari, setelah mengikuti pengajian subuh Minah langsung pergi ke tepi sungai. Dengan menggunakan kantong plastik yang dia bawa dari rumah Minah mengumpulkan daun kembang sepatu yang cukup banyak. Sampai di rumah Minah merendam daun-daun itu agar bersih sementara dia mandi dan sarapan pagi.

Ibunya hanya tersenyum ketika melihat Minah membuat cairan balon-balon itu. Dia tidak tahu kalau Minah membuat banyak sekali cairan balon untuk dijual. Minah semangat sekali mengerjakannya. Setelah selesai sarapan pagi dan mandi Minah langsung bekerja membersihkan daun-daun dan kemudian meremasnya sampai kental. Kemudian dia masukkan sabun cuci bubuk ke dalam cairan kental itu dan mengaduknya sampai rata.

Setelah itu cairan itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kecil. Isi kantong itu lebih banyak daripada cairan yang dijual di tempat mainan. Rencananya satu kantong plastik akan dijual dengan harga seratus lima puluh rupiah. Ada empat puluh kantong plastik yang bisa dihasilkan Minah dari modal dua ratus rupiahnya.

Sekitar pukul sepuluh pagi Minah pergi ke tempat berkumpul teman-temannya. Di sana dia menata plastik cairan balonnya supaya menarik. Kali ini dia cuma membawa tiga puluh buah kantong plastik cairan balon. Mudah-mudahan bisa terjual semua. Sebelum berjualan tidak lupa dia berdoa agar jualannya laku dan membawa berkah.

Satu per satu teman Minah datang. Mereka tertarik membeli cairan balon yang dibawa Minah. Selain harganya lebih murah isinya juga lebih banyak. Menjelang siang sudah dua puluh empat kantong yang terjual. Minah senang sekali.Dari modal dua ratus rupiah kini ia mendapatkan uang tiga ribu enam ratus rupiah. Dia bisa memakai dua ratus rupiah untuk membeli bahan-bahan cairan balonnya lagi.

Selama bulan Ramadhan, Minah mampu menjual rata-rata dua puluh kantong cairan balon setiap hari. Uang tabungan Minah sudah bertambah tujuh puluh lima ribu sekarang. Menjelang akhir bulan Ramadhan penjualan cairan balon makin menurun. Tampaknya teman-teman Minah sudah mulai bosan bermain balon-balonan. Sudah saatnya Minah menghentikan usaha cairan balonnya untuk berusaha yang lain lagi.

  • Share/Bookmark

14 Responses to “Balon”

  1. ceritanya menarik pak iwan. punya pesan oral yang sangat kuat untuk membangun kemandirian dan tidak harus melulu bergantung pada orang tua. Kalimat bagus dan runtut, tapi agaknya masih saya jumpai kalimat yang terlalu panjang, pak, hehehehehe :lol: kalo yang baca anak2 bisa dipastikan mereka akan kedodoran mengatur napas, hiks. Diksinya juga udah oke, kok pak, hanya mungkin perlu diperbanyak dengan diksi yang bermakna konotatif sehingga idiom-idomnya menarik dan enak dibaca. sukses buat pak iwan, saya tunggu cerita2 selanjutnya, pak iwan.

  2. wah, komentarku sebelumnya belum diselamatkan dari cekikan akismet ya, pak? tapi sekarang kayaknya dah terbebas dari siksannya. Iseng2 menyampaikan keluhan ke mr. mark-akisme lewat cintacts-nya akismet dengan bahasa linggis yang kacau. ah, ternyata direspon juga dan telah di-fixed. Halah, ternyata enak juga ya, pak iwan, bisa “nyampah” di mana-mana tanpa diganggu aksimet, hiks. Ini juga atas info pak iwan. terima kasih pak iwan. Pak iwan memang bloger yang baik. ndak pelit ilmu, hehehehehe :lol: terima kasih juga mr. mark.

  3. Pak Iwan, komentarku yang masih di ruang karantinanya akismet khusus membahas ttg cerpen ini loh, pak, hehehehe :lol: kalo ada waktu tolong diselamatkan dulu, pak. trims.

  4. Oke Pak, dicatat. Tapi baru kebayang sedikit tentang diksi. Barusan lihat definisi diksi di id.wikipedia.org ga ada. Lihat yang en.wikipedia.org pakai kata diction, ada. Cuma sayangnya baru kebayang sedikit-sedikit.
    Mungkin seperti menambahkan emosi pada kalimat melalui pemilihan kata-kata ya? memang tulisan di atas masih kurang eksplorasi emosi melalui kata. Maklum, baru belajar mengekspresikan pikiran nih.

  5. Yap … Minah dan kita … sebaiknya selalu berpikir dan berusaha, berusaha lebih baik.

  6. fitra says:

    Mau tanya, Minah hidup di jaman kapan? Hihi… soalnya kok telor cuma 200 perak? FYI telor sekarang 12 rebu/kilo, jadi harga satuannya itung sendiri deh (ngeles, sebenernya ga tau juga sekilo berapa biji, tapi kurleb sepuluh deh kayaknyah)

  7. Pan diambil dari kisah nyata. Ya, sekarang mungkin umur Minah sudah tiga puluhan. Bisa ditrace back, kira-kira kelas lima SD nya Minah tahun kapan.
    Kayaknya ane ngga ngomongin telor deh. Kenapa jadi telor?

  8. Hair says:

    cerita yang amat menarik. Tidak ada sesuatu yang dipaksakan disini, tidak seperti cerpen2 lainnya yang cenderung dipaksakan. penggunaan bahasanya juga bagus, sangat mudah untuk dipahami.

  9. Saya bukan ahli bahasa, Pak. Tidak seperti Pak Sawali. Hehe. Beliau mah guru bahasa beneran. Jadi kalau soal tata bahasa, tidak bisa banyak berkomentar.

    Tapi saya bolak-balik membaca tulisan ini. Tiga kali Pak, saya baca. Udah kaya minum obat saja. :)

    Setelah tiga kali membaca, saya baru dapat menangkap pesan dari tulisan ini. Yaitu minat usaha usia dini dan keuletan dalam menabung. (*itupun masih belum yakin, hehe*)

    Yang jadi masalah, kenapa saya baru mengerti setelah membaca tiga kali bolak-balik. Jawabannya beragam:

    a. Karena logika penulisan yang tidak saya mengerti
    b. Karena saya terlalu bodoh dan awam untuk mengerti tulisan cerpen di atas. Jadi harus membaca berulang-ulang untuk memahami apakah ada pesan moral dalam tulisan ini atau hanya sekedar ‘cerpen’ hiburan belaka.

    Nampaknya saya cenderung memilih jawaban b. :)

    Maaf yaa Pak kalau komen saya tidak menyenangkan untuk dibaca.
    Saya berdoa semoga bapak tetap rajin menulis dan membuat tulisan-tulisan lainnya.

    Yang pasti, Pak. Tulisannya anda saya baca. Dan saya perhatikan.

  10. verlita says:

    aku susah banget bisa nulis cerpen yang bagus…
    tulisan mas, bagus sekali…mudah dimengerti…

  11. @ aiptop, tentang logika penulisan: Memang baru belajar. Terus terang tidak terbiasa dengan ekspresi pikiran dan pendapat baik melalui lisan dan tulisan. Makanya agak tertatih-tatih belajar memperbaiki cara penyampaian lewat banyak menulis dan membaca. Yang ini salah satunya. Maaf kalo belum berhasil. Mudah-mudahan lain kali lebih bagus.
    Intinya sih, cerita tentang kawan dekat yang dulu waktu kecil harus mutar otak agar mendapatkan yang dia inginkan. Ceritanya tidak cuma usaha aja sih, ada juga yang tentang kekecewaan dan kegagalan. Sementara ini belum dimasukkan ke dalam blog semua. Insya Allah dalam waktu dekat.
    Oke, makasih buat komentarnya.

  12. bagus..
    kadang kita ga perlu terlalu terpaku di logika tentang harga telornya ;P tapi kuatkan di keinginan untuk berusahanya. mungkin disitulah letak motivasi dari tulisan ini..
    dan di ending ini harus ditekankan.. pada rasa syukur kali ya, agar menjadi inspirasi tuk usaha lain di lain kesempatan..
    atau kalau mau seru,
    tiba-tiba ketika akan mengambil kembang sepatu di tepi sungai pake acara kejebur dulu.. hehe, iseng.
    bagus pak iwan, lanjutkan kembali tuk tema berusaha dan berkarya ini di anak-anak..
    semoga sukses..

  13. anis says:

    bagus..
    kadang kita ga perlu terlalu terpaku di logika tentang harga telornya ;P tapi kuatkan di keinginan untuk berusahanya. mungkin disitulah letak motivasi dari tulisan ini..
    dan di ending ini harus ditekankan.. pada rasa syukur kali ya, agar menjadi inspirasi tuk usaha lain di lain kesempatan..
    atau kalau mau seru,
    tiba-tiba ketika akan mengambil kembang sepatu di tepi sungai pake acara kejebur dulu.. hehe, iseng.
    bagus pak iwan, lanjutkan kembali tuk tema berusaha dan berkarya ini di anak-anak..
    semoga sukses..

  14. Eh, ternyata ada ya tulisan tentang telor. Jaman dulu sih memang masih murah telor itu. Waktu kuliah saja, makan nasi dengan telor hanya lima ratus rupiah. Bayangkan waktu SD tentu lebih murah lagi harga telor.

Leave a Reply