Trauma adalah luka. Biasanya orang awam seperti aku ini menghubungkannya dengan psikologi. Padahal, ya trauma itu adalah luka. Ada luka fisik dan juga psikologi. Kali ini yang akan dibicarakan adalah trauma psikologi.

Aku punya trauma sendiri dalam berkomunikasi dengan orang lain. Terutama kalau aku harus berhadapan dengan orang banyak. Gara-garanya dulu sewaktu TK aku ditertawakan ketika sedang tampil dimuka umum. Sejak saat itu kalau harus tampil di muka umum, selalu deh timbul awan mendung disekitar lingkunganku.

Temanku juga punya trauma. Ketika dia berpindah agama, kebetulan ikut kelompok pengajian yang mungkin menimbulkan luka jiwa. Akhirnya sampai sekarang, katanya bawaannya agak ngga suka saja dengan kelompok itu.

Trauma itu memang luka yang sulit disembuhkan. Salah satu cerita tentang presiden Amerika menggambarkan bagaimana luka itu sulit untuk disembuhkan, bagaikan kayu yang telah dipaku. Pakunya boleh diambil, tapi lukanya tetap akan ada. Dalam tulisan yang lain juga disebutkan, orang akan lupa pada perkataan, orang akan lupa pada perbuatan, tapi orang tidak akan lupa pada perasaan yang telah ditinggalkan.

Mengobati trauma seperti milikku ini juga tidak mudah. Sudah bertahun-tahun diobati masih juga belum sembuh benar. Dulu sewaktu awal kuliah aku tahu aku harus bisa mengatasi rasa takut itu. Bagaimana mungkin aku bisa sukses dalam hidup kalau tidak berani menghadapi orang lain? Bagaimana mungkin aku bisa membela keluargaku kalau aku sendiri tidak bisa menghadapi ketakutan diriku?

Seharusnya, mengobati trauma itu didampingi oleh ahlinya ya. Soalnya terasa sekali koq lama pengobatannya kalau pakai usaha sendiri. Bahkan sampai sekarang belum pernah berhasil meningkatkan level kepercayaan diri.  Siapa ya kira-kira yang ahli terapi fobia orang banyak?