Terima Kasih Allah
Dalam beberapa bulan terakhir ini aku sering lihat iklan pelatihan jual beli saham (stocks trading). Kalau dilihat tawarannya, sangat menggiurkan. Bayangkan ada yang bisa untung sampai 1300% dalam satu tahun. Deposito Mu’amalat yang paling gede hasilnya se Indonesia aja (menurutku lho paling besar), cuma sekitar 10% dalam setahun. Apa tidak bikin ngiler tuh?
Tapi beberapa tulisan di internet mengatakan kalau jual beli saham itu haram. Contohnya adalah tulisan di blog syiarislam. Tulisan itu ternyata tulisan yang sama di blog atau jurnal lain yang menyatakan jual beli saham itu haram. Wah, gimana ya, padahal aku juga pingin jadi kaya nih. Kalau memang jual beli saham bisa bikin kaya, kenapa tidak dilakukan? Sayangnya koq dibilang haram.
Untungnya ada lagi tulisan yang menyatakan kalau ada jual beli saham yang tidak haram. Contohnya adalah fatwa dari MUI. Ini membuka jalan buatku untuk belajar saham. Memang ada sih disebutkan transaksi saham yang haram. Aku tuliskan di bawah ini ya:
Yang lain aku belum tahu. Nanti deh aku periksa lagi. Setelah cari punya cari, ternyata jual beli saham itu tidak mudah. Pertama, perlu modal besar. Bayangkan bila satu saham harganya Rp. 5000. Kita ngga bisa beli hanya 100 lembar saham. Biasanya sih dijual dalam kelipatan satu lot (sekitar 500 lembar saham). Dan katanya ngga bisa cuma beli satu lot. Berarti harus punya banyak uang yah.
Lagi pula, jual beli saham itu harus punya waktu dan kemampuan khusus untuk melihat pergerakan saham. Wah, orang kayak aku gini mana sempat. Wong ngurus kerjaan sehari-hari saja sudah kekurangan waktu. Akhirnya dapat kesimpulan, jangan main saham dulu. Kalau mau belajar investasi mendingan beli reksadana dulu. Ini cara yang lebih aman dan lebih mudah buat berinvestasi dibandingkan saham.
Gimana caranya investasi reksadana? Nanti dulu deh, aku juga masih belajar. Kapan-kapan disambung lagi tulisannya.
Catatan harian sederhana hidup di negeri orang mencari sesuap nasi sebutir berlian dan segenggam emas.
sawali tuhusetya
March 22nd, 2008 at 6:43 am
bener2 menggiurkan tuh pak iwan ttg keuntungan yang iddapat melalui jual-beli saham. wah, jangan2 harus berani bermain spekulasi, pak. bisa jadi analisis rasionalnya *halah sok tahu* karena ada unsur spekulasi itu sehingga ada fatwa ttg pengharaman jual beli saham. ini kayaknya juga makin membuktikan bahwa bisnis konvensional itu ternyata lebih aman dan nyaman ketimbang yang bersifat kontemporer. sayangnya bisnis konvensional ndak bisa membikin seseorang cepat kaya, hahahaha
Healthy Wealthy
March 22nd, 2008 at 7:03 am
Nah, kata pemain saham sungguhan yang spekulasi itu adalah pemain yang ngga tau apa-apa bahkan jadi sumber pendapatan pemain saham sungguhan. Kemungkinan gagalnya spekulan sangat besar.
Lagi pula, sunnahnya ngga ada sesuatu yang bikin jadi cepat kaya dengan cara yang benar. Mau dapetin beras saja harus nanam berbulan-bulan, ya ga?
Yari NK
March 23rd, 2008 at 12:49 am
Wah…. kalau deposito shariah sudah dipatok pada angka tertentu, misalnya sekitar 10% seperti di atas, jadinya secara praktek apa bedanya dengan deposito biasa yang berbunga ‘riba’ ya?? Hehehe….
Btw, terims telah mampir di blogku dan salam kenal ya!
Edi Psw
March 25th, 2008 at 3:57 am
Informasi yang bagus nih. Tapi untuk saat ini saya masih belum kepikiran untuk membeli saham. Disamping masih belum ada modal, pengetahuan tentang jual-beli saham ini masih kurang. Takut nanti rugi.
Iwan Awaludin
March 26th, 2008 at 4:27 am
@yari, kalau di bank syariah biasanya disebutkan bagi hasilnya. Sekarang buat penabung makin kecil bagi hasilnya, mungkin sekitar 55%. Tapi yang kecil itu juga kalau disetarakan dengan yang konvensional masih sekitar 10%. Contoh saya depositokan Rp. 5 juta, maka sebulan dapat 40rb sampai 50rb, tergantung pendapatan si Bank. Artinya kalau disetahunkan dapat sekitar 600rb, yang sudah lebih besar dari 10%. Padahal sudah dipotong zakat juga lho.
Ersis Warmansyah Abbas
March 26th, 2008 at 3:49 pm
Wah wah gitu ya …
Budi Wiyono
April 2nd, 2008 at 12:27 pm
Memang betul pak bisa sampai 100%++.
Saya ada koleksi pembelajaran dari pakar-pakarnya, silakan simak: http://ilmusaham.co.cc
Semoga berguna,
Budi Wiyono
Budi Wiyono
April 3rd, 2008 at 12:12 am
Koreksi: untuk yang ahli bisa 500 s/d 1000%++ setahun (bukan 100%++)
harun
April 15th, 2008 at 5:52 am
kata bosnya danareksa, pemain saham di indonesia sangat sedikit, makanya keuntungan perusahaan publik ketarik ke asing semua. contohnya telkom yang notabene penyetor pajak tertinggi setelah pertamina, sahamnya 45% dikuasai asing. sedangkan punya pemerintah 51%, lha pemain indonesia cuman kebagian 4% doang wang wang wang!!!
kalau yang saya tahu, saham bisa menjadi haram kalau spekulasi saja tanpa mempelajari perusahaan yg dibeli sahamnya (cashflow, laporan tahunan dst)
dengan tahu perusahaan tsb, maka unsur spekulasi bisa dihilangkan.
kalau masalah seberapa untuknya ya memang fluktuatif, apalagi kalau gonta-ganti saham.
ihtatho
April 22nd, 2008 at 1:26 pm
ayo, pak Iwan belajar reksadana. Nanti saya tanya2 ya =) Lagi baca2 ttg reksadana juga, cuma perlu masukan dari yg pernah nyobain.
hery ociet
April 26th, 2008 at 5:48 am
gmn tuh kelanjutannya ?? dah berhasil blm dengan “Reksadana
wishbeukhti
May 23rd, 2008 at 5:42 am
sekarang untuk main saham nggak harus modal gede kok…
sekarang dengan modal 10 jt aja dah bisa beli ikutan main..
dan beli sahamnya pun boleh 1 lot ajah