Hemat Energi Hemat Biaya
Sewaktu kuliah di Bandung, aku pernah ambil mata kuliah Ekonomi Energi. Isinya adalah analisa tentang kondisi energi di Indonesia. Sedih banget deh ngikuti kuliah ini. Koq bangsa yang kaya raya dengan sumber alamnya ini ngga mampu menikmati kekayaannya. Banyak sekali sumber daya atau uang yang keluar untuk biaya energi yang sebenarnya bisa didapat dengan harga yang lebih murah. Belum lagi kekayaan alam seperti kayu, ikan, emas, dan lainnya yang diambil oleh bukan rakyat Indonesia, secara legal maupun illegal.
Sewaktu aku kecil dulu, aku sering lihat iklan layanan masyarakat tentang hemat energi hemat biaya. Jaman dulu, rasanya supply energi masih lebih banyak untuk memenuhi permintaan. Jadi ajakan hemat energi ini cenderung untuk mengedukasi masyarakat supaya mengubah pola hidup. Jaman sekarang juga sering ada ajakan hemat energi. Tapi ajakan ini dilakukan saat supply energi lebih sedikit dari permintaan. Sampai-sampai listrik saja dijatah. Ini bukan mengubah pola hidup, cuma jadi pembenaran saja terhadap kekurangan supply energi.
Aku kagum terhadap usaha segelintir orang yang meskipun kontribusinya sedikit tapi bisa dijadikan contoh yang baik. Dan rasanya kalau usaha mereka diikuti oleh banyak orang, upaya penghematan energi bisa dilakukan dengan lebih baik dan kontribusinya sangat besar. Contohnya adalah orang-orang yang pergi kerja dengan memakai sepeda. Ada lagi orang-orang yang meskipun mampu membeli kendaraan dan bahan bakar sendiri, tapi mereka memilih untuk share kendaraan dan ongkos bahan bakar. Memang ada juga sih, yang karena ngga bisa beli kendaran dan bahan bakar, akhirnya nebeng. Tapi setidaknya usaha seperti ini dan juga penggunaan kendaraan publik akan mengurangi penggunaan energi.
Rasanya nanti kalau pulang, aku akan beli sepeda untuk pergi kerja. Walaupun tidak seberapa, mudah-mudahan bisa bantu mengurangi penggunaan energi terutama yang memakai bahan bakar tak terbarukan. Selain usaha ini, ada juga yang mengganti Air Conditioner dengan tumbuh-tumbuhan yang sudah dilaksanakan di sebuah kampung di Jakarta. Bisa juga melalui edukasi yang membentuk kesadaran masyarakat tentang biaya yang harus mereka keluarkan untuk mendapatkan energi, seperti misalnya listrik.
Ayo kita hemat energi.



This post has 7 comments
March 28th, 2008
sayangnya, saya masih belum bisa hemat energi pak! jadi malu sendiri…
March 28th, 2008
sebenarnya hemat energi itu dah seharusnya menjadi kebutuhan, pak iwan. tapi, kayaknya busaya instan benar2 sdh menjadi gaya hidup. gimana tidak, pak? jarak ratusan meter yang seharusnya bisa ditempuh jalan kaki aja mesti pakek mobil. btw, boros energi kayaknya juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup itu sendiri, pak!
March 29th, 2008
Ini memang tantangan Pak Sawali, ngga cuma sastra saja yang punya masalah. Bidang yang lain juga ada masalah. Coba ya kita bisa sinergi untuk menghilangkan masalah satu demi satu dari yang kecil-kecil.
April 3rd, 2008
hemat cermat dan mantap.. tantangan yg tidak sederhana, tidak bisa sesederhana itu utk merealisasikan idealisme ttg penghematan, betul kan pak?
April 3rd, 2008
Kalau melihatnya dari sudut yang besar, misalnya kalau anda presiden RI tentu penghematan itu bukan hal sederhana. Anda harus perhatikan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, dan lainnya.
Kalau melihatnya dari sisi pribadi, tentu bisa sederhana. Contohnya, mau hemat energi listrik tinggal pakai lampu hemat energi, tidak pakai kulkas dan AC, sedikit nonton. Kan namanya juga cuma mengendalikan diri sendiri.
April 12th, 2008
Assalaamu ‘alaikum pak…
Saya tertarik soal mengganti AC dengan tumbuh-tumbuhan… Sepertinya bagus untuk dikampanyekan.
Boros dalam menggunakan energi yang yang berakibat pada pemborosan biaya, hal ini sebenarnya adalah perilaku tabdzir yang dicela oleh agama.
Saya sudah punya sepeda, tapi masih enggan memakainya…
Salam buat keluarga pak…
April 15th, 2008
bahkan setelah sadar, utk mulai mengubah perilaku ternyata susah sekali.. ini pengalaman saya pribadi hehehe..
jadi tetep harus sering-sering saling mengingatkan
thx
Add a comment