Entries RSS Comments RSS

Archive for April, 2008

Bukan Karena Umur

Friday, April 25th, 2008

Alkisah, seorang anak muda datang menghadap khalifah. Anak muda ini mewakili kaumnya untuk membicarakan hal penting kepada khalifah. Tetapi ketika sudah sampai di tempat khalifah, sang khalifah berkata:

“Coba kirimkan orang yang lebih tua sebagai pemimpin perwakilan yang cocok untuk kaummu”

Tentu saja anak muda ini kaget dengan permintaan sang khalifah. Tapi dia tidak putus akal. Lalu berkatalah anak muda itu kepada khalifah:

“Jika umur merupakan suatu kriteria utama bagi seseorang untuk menjadi pemimpin, tentulah banyak orang yang lebih tepat untuk menjadi khalifah dibandingkan tuan”

Itu kan, alkisah. Kenyataannya tidak seperti itu bila berada di tempat di mana feodalisme masih mencengkeram erat. Orang-orang yang lebih tua, bisa dipastikan merasa lebih berhak untuk menjadi pemimpin bagi kelompoknya. Bahkan untuk urusan yang satu ini, jegal menjegal dari cara halus sampai cara supra halus (santet misalnya) sudah biasa dilakukan.

Apalagi bagi lelaki, kadang ngga pingin dipimpin oleh wanita yang bahkan lebih muda dari dia sendiri.

  • Share/Bookmark

Petunjuk Jalan Ke KBRI Kuala Lumpur

Thursday, April 24th, 2008

Dear Teman, mau sharing sedikit buat yang ingin pergi ke KBRI Kuala Lumpur. Ini berdasarkan pengalaman pribadi, bulak-balik ngurus passport dan akta kelahiran.

Kalau mau gampang, apalagi kalau datangnya berkelompok dari Puduraya naik taksi hanya sekitar RM 8 sampai RM 10. Tapi kalau sendiri, ya saya sih prefer yang lebih murah, naik RapidKL. Cukup bayar RM 2, bisa dipake keliling KL kalau sekiranya nyasar, hehehe.

OK, dari Puduraya naik Bis B105 di depan kota raya. Itu ada di seberang perempatan setelah hotel Ancasa. Kelihatan koq plang hotel Ancasa dari Puduraya, di seberangnya Maybank. Naik bis ini dan berhenti di KLCC. Jalan-jalan dulu juga boleh, atau nanti setelah selesai urusan di KBRI malah lebih selesa.

Dari depan KLCC, naik bis B114. Perhatikan bahwa ada dua jurusan yang berbeda. B114 ada yang menuju Titiwangsa dan ada yang menuju Maluri, sama-sama berhenti di depan KLCC. Pilih yang menuju Maluri. Biasanya tertera di plang yang dipasang di dekat sopir. Tiket yang tadi dipakai naik B105 bisa dipakai lagi untuk naik B114. Turun di bus stop setelah keluar dari terowongan. Cuma sekali koq masuk terowongan, jadi ngga akan nyasar. Lalu menyebrang memakai penyebrangan jalan di bus stop tadi dan jalan ke KBRI sekitar 100 meter ke arah terowongan.

Selesai urusan di KBRI, jalan lagi ke arah jembatan penyebrangan tadi sampai ke plang bus stop.  Ngga usah nyebrang. Tunggu saja di situ sebentar karena bis B114 lumayan banyak. Kali ini cuma ada satu saja yang menuju Titi wangsa. Naik lagi sampai ke KLCC. Dari KLCC naik B105 sampai Puduraya dan siap pulang.

Buat yang mau ke Seri Iskandar macam saya ini, cari counternya Plus Liner di dekat counter transnasional. Ngga usah lewat calo, soalnya suka di kasih bis yang transit di Ipoh. Udah harga tiket lebih mahal, sampainya juga lebih lama.

Oh iya, sebelum ini saya pernah posting tentang janji KBRI Kuala Lumpur pengurusan passport hanya 3 jam. Ternyata janji itu bohong. Saya ngurus passport anak, ngga sampai 30 menit sudah selesai. Kali ini, bohongnya lebih baik, karena lebih cepat dari yang dijanjikan hehehe. Bravo deh buat staf KBRI Kuala Lumpur.  Ngurus akte anak dan passport cukup dua kali datang dengan proses yang ngga lama. Paling di total cuma 3 jam, perjalanan ke sananya aja yang lama.

Oh iya, pada saat pengambilan passport ternyata ditanya macam-macam. Dari mulai tempat lahir, tanggal lahir, tempat tinggal di Indonesia, sampai agak detil. Katanya untuk mencegah orang mengambil passport milik orang lain. Wah kayaknya ngga bisa nitip-nitipan lagi nih buat urusan pindah alamat dan lainnya. Tapi ga papa sih, dengan cara seperti itu passport akan lebih dijamin sampai kepada yang punya. Kayaknya juga untuk mengeliminir calo, hehehe.

Selamat berjalan-jalan ke KBRI Kuala Lumpur.

  • Share/Bookmark

KBRI Malaysia

Wednesday, April 16th, 2008

Selasa 15 April 2008 saya ke Kuala Lumpur dalam rangka mengantar adik ipar pulang ke Indonesia dan mengurus surat-surat anak ketiga saya. Perjalanan dari rumah dimulai dari jam 00.30 pagi karena mengejar bis paling pagi yang menuju Low Cost Carrier Terminal KLIA.

Dari perkiraan perjalanan ke terminal bis Ipoh yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam ternyata hanya menghabiskan waktu 45 menit. Terlalu pagi untuk menunggu keberangkatan bis jam 2.30. Tapi daripada terlambat, lebih baik datang lebih awal bukan?

Bis berangkat tepat pukul 2.30. Harapannya bisa sampai di bandara sekitar pukul 6. Selepas masuk jalan tol jam 3 pagi saya tertidur. Terbangun lagi karena merasa bis goyang-goyang. Saya lihat jam, masih 4.25 pagi. Wah masih lama sampainya nih ke bandara. Tapi saya lihat di luar, ternyata sudah sampai jalan tol menuju bandara. Dahsyat, dalam waktu 2,5 jam perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu 4 jam lebih sudah bisa diselesaikan. Berarti bis itu ngebut banget ya. Pantas saja, kecelakaan lalu lintas dikatakan sebagai pembunuh nomor satu di Malaysia.

Jam 5 pagi sudah sampai membuat kami harus menunggu lebih lama lagi di bandara. Check in memang dijadwalkan mulai jam 7 pagi. Selesai shalat subuh bergantian, akhirnya selesai sudah tugas saya mengantar sampai bandara. Selanjutnya pergi ke KBRI.

Menunggu bis yang menuju KL Sentral, pusat kereta api di Malaysia, tidak seberapa lama. Cukup setengah jam, bis berangkat sesuai jadwal. Sampai di stasiun jam 9 dan segera saja naik kereta ke Ampang. Kata teman saya, kalau mau ke KBRI bisa naik LRT ke Ampang dan jalan kaki. Wah ternyata jauh juga jalannya. Kalau dihitung, saya berjalan selama satu jam sampai menemukan KBRI. Mana panas lagi cuacanya.

KBRI di Malaysia, belum punya duta besar katanya. Duta besar yang lama sedang berkasus dan disidang di Indonesia. Tapi pemangku jabatan ad interim yang paling tinggi di Malaysia, Bapak Tatang, sudah melakukan perbaikan yang sangat signifikan. Bayangkan saja, saya mengurus akte kelahiran di Indonesia bisa habis waktu satu bulan. Di sini saya datang, kasihkan fotokopi passport, buku nikah, dan akte kelahiran Malaysia proses sudah selesai. Ga ada isi formulir segala macam. Ambil resit dan katanya bisa diambil satu hari kerja. Cepat sekali bukan? Memang belum secepat bikin akte kelahiran Malaysia. Saat bikin akte kelahiran Malaysia, cuma dua puluh menit aktenya sudah jadi. Tapi bila dibandingkan dengan bikin akte di Indonesia, di KBRI Malaysia sudah sangat jauh lebih baik.

Kemudian saya harus bikin passport. Tau ga berapa lama waktu yang saya butuhkan sewaktu bikin passport keluarga di Bandung? Hari pertama saya masukkan data pribadi, kemudian tunggu satu bulan lagi untuk foto dan wawancara. Kalau cepat setelah foto dan wawancara bisa dapatkan passportnya.  Kecuali kalau mau bayar lebih, mungkin bisa dapatkan lebih cepat. Di Tasikmalaya, memang lebih cepat karena yang bikin passport sedikit. Dalam satu hari sudah jadi. Di KBRI Malaysia, hanya tiga jam. Wah wah wah, ini hebat banget. Coba seandainya di Indonesia juga bisa dijadikan tiga jam. Menghemat waktu dan biaya. Padahal, banyak juga lho yang bikin urusan dokumen passport di KBRI.

Kalau kayak begini, saya mau deh merekomendasikan Pak Tatang ini jadi Duta Besar, atau jadi Mentri Luar Negri sekalian. Banyak sekali perubahan bagus yang telah dibuatnya. Bravo, untuk Pak Tatang dan juga staf KBRI Malaysia..

  • Share/Bookmark