Selasa 15 April 2008 saya ke Kuala Lumpur dalam rangka mengantar adik ipar pulang ke Indonesia dan mengurus surat-surat anak ketiga saya. Perjalanan dari rumah dimulai dari jam 00.30 pagi karena mengejar bis paling pagi yang menuju Low Cost Carrier Terminal KLIA.
Dari perkiraan perjalanan ke terminal bis Ipoh yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam ternyata hanya menghabiskan waktu 45 menit. Terlalu pagi untuk menunggu keberangkatan bis jam 2.30. Tapi daripada terlambat, lebih baik datang lebih awal bukan?
Bis berangkat tepat pukul 2.30. Harapannya bisa sampai di bandara sekitar pukul 6. Selepas masuk jalan tol jam 3 pagi saya tertidur. Terbangun lagi karena merasa bis goyang-goyang. Saya lihat jam, masih 4.25 pagi. Wah masih lama sampainya nih ke bandara. Tapi saya lihat di luar, ternyata sudah sampai jalan tol menuju bandara. Dahsyat, dalam waktu 2,5 jam perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu 4 jam lebih sudah bisa diselesaikan. Berarti bis itu ngebut banget ya. Pantas saja, kecelakaan lalu lintas dikatakan sebagai pembunuh nomor satu di Malaysia.
Jam 5 pagi sudah sampai membuat kami harus menunggu lebih lama lagi di bandara. Check in memang dijadwalkan mulai jam 7 pagi. Selesai shalat subuh bergantian, akhirnya selesai sudah tugas saya mengantar sampai bandara. Selanjutnya pergi ke KBRI.
Menunggu bis yang menuju KL Sentral, pusat kereta api di Malaysia, tidak seberapa lama. Cukup setengah jam, bis berangkat sesuai jadwal. Sampai di stasiun jam 9 dan segera saja naik kereta ke Ampang. Kata teman saya, kalau mau ke KBRI bisa naik LRT ke Ampang dan jalan kaki. Wah ternyata jauh juga jalannya. Kalau dihitung, saya berjalan selama satu jam sampai menemukan KBRI. Mana panas lagi cuacanya.
KBRI di Malaysia, belum punya duta besar katanya. Duta besar yang lama sedang berkasus dan disidang di Indonesia. Tapi pemangku jabatan ad interim yang paling tinggi di Malaysia, Bapak Tatang, sudah melakukan perbaikan yang sangat signifikan. Bayangkan saja, saya mengurus akte kelahiran di Indonesia bisa habis waktu satu bulan. Di sini saya datang, kasihkan fotokopi passport, buku nikah, dan akte kelahiran Malaysia proses sudah selesai. Ga ada isi formulir segala macam. Ambil resit dan katanya bisa diambil satu hari kerja. Cepat sekali bukan? Memang belum secepat bikin akte kelahiran Malaysia. Saat bikin akte kelahiran Malaysia, cuma dua puluh menit aktenya sudah jadi. Tapi bila dibandingkan dengan bikin akte di Indonesia, di KBRI Malaysia sudah sangat jauh lebih baik.
Kemudian saya harus bikin passport. Tau ga berapa lama waktu yang saya butuhkan sewaktu bikin passport keluarga di Bandung? Hari pertama saya masukkan data pribadi, kemudian tunggu satu bulan lagi untuk foto dan wawancara. Kalau cepat setelah foto dan wawancara bisa dapatkan passportnya. Kecuali kalau mau bayar lebih, mungkin bisa dapatkan lebih cepat. Di Tasikmalaya, memang lebih cepat karena yang bikin passport sedikit. Dalam satu hari sudah jadi. Di KBRI Malaysia, hanya tiga jam. Wah wah wah, ini hebat banget. Coba seandainya di Indonesia juga bisa dijadikan tiga jam. Menghemat waktu dan biaya. Padahal, banyak juga lho yang bikin urusan dokumen passport di KBRI.
Kalau kayak begini, saya mau deh merekomendasikan Pak Tatang ini jadi Duta Besar, atau jadi Mentri Luar Negri sekalian. Banyak sekali perubahan bagus yang telah dibuatnya. Bravo, untuk Pak Tatang dan juga staf KBRI Malaysia..
andai saja pelayanan publik di negeri kita seperti yang dilakukan oleh pak tatang itu, wah, bisa jadi rakyat akan merasa nyaman, tidak ada pungli dan pungutan macem2. aneh juga ya, pak iwan. sama2 orang indonesia kok beda2 dalam memberikan fasilitas pelayanan publik. waduh, repot juga!