Entries RSS Comments RSS

Archive for May, 2008

Benturan Budaya

Wednesday, May 28th, 2008

Hari ini, Budiman pergi juga ke Malaysia untuk meneruskan belajarnya. Setelah delapan tahun berkutat di perguruan gajah duduk dengan gelar sarjana dan magister, sekarang waktunya untuk Budiman mengejar doktor filsafat. Banyak harapan digantungkan Budiman di negeri Jiran ini. Pertama, karena dekat. Kedua karena budayanya ngga jauh dengan Indonesia bahkan bahasanya pun hampir mirip. Ketiga, Malaysia dikenal sebagai negara yang penganut Islamnya masih taat. Bahkan menurut cerita temannya, tukang pungut sampah saja akan berhenti shalat di Masjid begitu terdengar adzan.

Sesampainya di Bandara, suasana panas sudah menyapa Budiman dengan garangnya. Beda sekali dengan cuaca di Bandung yang selalu bersahabat. Asli panas, bikin ubun-ubun nyut-nyutan. Dilanjutkan dengan perjalanan dengan bis ke terminal pusat kereta api Kuala Lumpur. Dari sana, katanya bisa naik bis atau kereta ke mana saja. Namanya juga terminal pusat.

Sesampainya di Kuala Lumpur (KL), Budiman menjadi heran melihat papan iklan billboard yang besar-besar itu. Katanya, Malaysia itu negara yang agama Islamnya kuat. Tapi kenapa, iklan supermarket malah menawarkan barang haram? Lihat itu, tulisannya supermarket kami membantu anda berjimat secara cermat. Astaghfirulloh. Ini sudah tidak benar. Masa orang ramai diajak untuk berjimat. Itu kan pekerjaan maksiat, syirik. Seharusnya manusia itu hanya menggantungkan harapannya pada Alloh semata. Bukan pada jimat.

Eh, tapi tunggu dulu. Ternyata selain ada bahasa Malaysianya, ada bahasa Inggrisnya juga. “Help you Save more”. Oh, berjimat itu artinya berhemat toh. Hampir saja Budiman balik ke Bandung gara-gara jimat.

Nah sekarang Budiman siap-siap naik Bis ke terminal puduraya. Tapi Budiman terenyuh, melihat seorang wanita tua kesulitan membawa tasnya yang besar. Maka Budiman membantu wanita ini membawa tasnya sampai ke dalam Bis. Wah, tentu saja wanita ini sangat berterima kasih. Dia bilang “Terima kasih, Payah abang ini”.

Suit, langsung saja wajah Budiman berubah. Ibu ini koq aneh sih, sudah dibantu dan bilang terima kasih, koq bilang aku payah. Aku ini sudah susah payah bantu bawain tas segede gambreng, eh masih diejek juga. Hampir saja Budiman marah besarrrr. Untung si ibu sudah sering nonton film sinetron Indonesia yang ditayangkan di banyak TV Malaysia. Langsung saja dia mengerti dan meralat perkataannya, “Terima kasih, sudah merepotkan abang ini”. Oh oh oh, rupanya payah itu artinya merepotkan. Budiman akhirnya pasang tampang gembira. “Iya Bu, sama-sama”

Sorenya, Budiman sudah sampai di Universitas Harapan yang akan dimasukinya sebagai kawah candradimuka doktor filsafat. Besok paginya Budiman harus ikut briefing dan test matrikulasi. Briefing sih ngga ada masalah, paling yang diomongin gitu-gitu aja. Nah, test matrikulasi ini yang bikin deg-degan. Setiap test, bagi Budiman adalah momen yang menyeramkan. Selalu dilewati dengan perasaan pingin ke belakang untuk buang air. Kali ini juga, sama. Budiman ingin buang air.

Untungnya sebelum test dimulai, pembawa acara memberikan kesempatan bagi peserta untuk buang air. Kesempatan ini tidak dilepaskan oleh Budiman untuk segera keluar mencari tempat buang air. Putar-putar, setiap tempat yang ada tanda toilet sedang dalam perbaikan. Bagaimana ini, test sudah dimulai tapi tempat buang air belum ketemu. Nah itu ada juga satu ruangan dengan tanda toilet. Tapi begitu mau masuk, Budiman membaca lagi label di pintu: “Untuk Kaki Tangan Sahaja”. Padahal Budiman cari toilet untuk buang air, ini hanya untuk kaki tangan. Nah itu ada satpam, segera saja Budiman tanya ke Satpam, di mana letak toilet terdekat. Satpam menjawab, “itulah encik, toilet ada di belakang Encik”. “Tapi saya ingin buang air, yang itu hanya untuk kaki tangan, toilet yang lain sedang dalam perbaikan”. Walah, satpam itu tertawa terbahak-bahak. “Encik, kaki tangan itu maksudnya staf, bukan kaki dan tangan ini” sambil menunjuk kaki dan tangan mereka. Waduh, salah lagi si Budiman ini.

Akhirnya selesai juga masalah Budiman, bisa buang air dan mengikuti test matrikulasinya dengan baik. Wassalam.

  • Share/Bookmark

Teman Kuliah

Wednesday, May 28th, 2008

Nostalgia sedikit tentang teman-teman kuliah di Bandung dulu. Waktu itu, harga-harga masih cukup murah. Bensin seliter masih 700 rupiah, makan dengan rendang cukup dengan 1000 rupiah, dan kost-kostan ku hanya 750 ribu rupiah satu tahunnya. Bahkan dekat kampusku, sebelah kebon binatang Bandung, ada kantin yang menawarkan langganan makan 30 ribu rupiah untuk satu bulannya (3 kali makan). Super murah.

Ada seorang teman, yang mungkin bukan dari golongan berada. Kamar kostnya, hanya dalam orde seratus ribuan setahun. Tempatnya di pinggir pasar, bilik, dan tempat tidur melantai dengan kasur super tipis. Lampunya pun hanya 20 watt. Ngga ada lemari dan meja yang cukup baik untuk menaruh baju dan bukunya. Kadang hanya diserakkan saja dengan rapi (berserak tapi rapi, gimana ya?) di depat kasurnya.

Dia ini, ngga bisa hidup nyaman. Soalnya saya lihat sendiri makannya hanya bermodal roti tawar yang sekali beli dipakai berhari-hari. Ganjal perut dengan nasi berlauk hanya bisa dilakukan sekali atau dua kali dalam seminggu. Itupun tunggu sore hari, dimana kantin sudah mau menghabiskan sisa makanan sehingga ambil banyakpun harganya tetap super murah. Mungkin dengan uang seratus atau dua ratus, dia bisa dapat nasi segunung dengan lahar sayur. Ngga pakai telur, apalagi daging. Sudah untung kalau sayurnya sudah dicampur dengan sisa telur atau daging. Untuk pulang pergi ke kampus, dia cukup senang masih bisa berjalan kaki.

Ngga bertahan lama kuliah di Bandung. Hanya 6 bulan saja. Bulan Desember ketika kebanyakan temannya sedang sibuk ujian dan OSPEK jurusan, dia pergi dari kota itu. Tentu saja, untuk penghidupan yang lebih baik karena mendapat beasiswa ke Jepang. Terakhir ketemu, dia sedang mengambil Ph.D, masih di Jepang juga. Wajahnya sudah segar
dan lebih gemuk dibandingkan saya. He he he, nasib memang berubah.

Ada lagi teman saya, yang kamar kost nya saja sudah 250ribu sebulan. Ngga perlu khawatir dengan baju kotor karena ada petugas kebersihan yang siap membereskan kamar dan mencuci pakaiannya. Kamar mandi ngga perlu keluar, karena sudah tersedia di kamarnya. Untuk pulang pergi ke kampus, sudah ada mobil toyota starlet terbaru siap mengantarkannya. Nasib memang berubah, dia juga sama keluar dari kuliah. Entah kemana. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

Ada teman yang menarik buat saya. Ketika tahun pertama dan kedua, kami cukup dekat. Dia keturunan, dan bukan berasal dari keluarga yang kaya. Kuliahnya dibiayai oleh kakaknya. Tapi kamar kostnya sudah cukup mahal, 150ribu sebulannya. Kalau makan, antik. Soalnya selalu menghabiskan makanannya sampai ke remeh-remeh nasinya. Bahkan kalau ada nasi yang tersangkut di garpu, akan dia keluarkan dengan sendok dan dihabiskannya sampai tandas. Ini prinsip ekonomi yang diterapkan keluarganya, dan saya ikut juga sekarang. Kalau makan, jangan ada yang disisakan. Kalau merasa kebanyakan, lain kali ambil sedikit saja. Sekarang dia sudah bergaya, kerja di perusahaan multi nasional.

Aku? Yah jadi PNS sudah cukup memuaskan, yang penting halal dan mencukupi nafkah keluarga. Sekolah, cukup di Indonesia dan Malaysia saja. Kalau benar sekolahnya, insya Alloh akan bermanfaat buat diriku, keluargaku, bangsaku, dan agamaku. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Banyak Cara Mencari Uang

Friday, May 23rd, 2008

Mencari uang, bukannya hal gampang. Apalagi buat anak-anak, orang yang sudah dewasa saja bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkannya. Berikut ini ada cerita dari teman, keluarga, dan orang terkenal bagaimana mereka mencari uang saat masih sekolah. Mereka ini bukan berasal dari keluarga yang kaya, bahkan kalau ngga cari uang sendiri bisa dipastikan mereka tidak akan bisa makan dan berhenti sekolahnya.

Ada seorang kawan, temannya Minah yang sekolah di Yogya itu. Saat sekolah dulu uang kiriman orangtuanya tidak sampai seperlima kiriman yang diterima kawan-kawannya. Tapi dia ini tidak pernah terlihat sebagai orang yang ngga punya uang. Dia masih bisa jajan, masih bisa ikut kegiatan di luar, bahkan ketika ada acara tour ke Bali dengan kawan seangkatannya, dia bisa bayar pakai uangnya sendiri.

Bagaimana cara dia mengumpulkan uang? Pertama, uang kiriman orang tua itu dipakai seperlunya saja. Setelah dibelikan keperluan bulanan, seperti peralatan mandi, bayar kos, dan bayar uang sekolah uangnya langsung ditabungkan. Cukup disisakan saja seperlunya untuk jajan. Jajannya pun, tidak jajan yang mahal. Sekali sekala, ya ikut dengan teman jajan di tempat mentereng. Tapi ngga beli yang mahal-mahal. Biasanya, paling dua hari sekali jajan bubur kacang hijau atau singkong goreng yang harganya murah. Dengan begitu, orang lain tetap melihatnya jajan dan tidak pernah kekurangan uang.

Cara lain yang dilakukannya adalah dengan ikut kegiatan yang menghasilkan uang. Misalnya, ikut kegiatan pramuka yang mengadakan penyuluhan bersama departemen kesehatan. Lumayan lah, sekali penyuluhan bisa dipakai ongkos bis dan sebagian besar ditabungkan.

Cara ketiga, adalah dengan sering-sering silaturahmi. Misalnya kirim surat ke kakek, ke paman, atau ke saudara yang kira-kira suka menyelipkan uang di surat balasan. He he he, dasar.

Cara ke empat diceritakan oleh dosen saya, yang juga direktur SSC, Dimitri Mahayana. Ini cara yang sering dilakukan oleh mahasiswa, yaitu bikin bimbel. Bimbel ini bahkan ada yang berkembang sampai pesat, yang bercabang-cabang di luar kota.

Cara ke lima, adalah dengan jualan. Ini dilakukan oleh teman Minah di Yogya juga. Setiap pagi, dia pergi ke pasar borong untuk membeli kueh-kuehan dengan harga murah. Di sekolah, setiap waktu istirahat kueh-kueh itu dijual lagi dengan harga yang sedikit menguntungkan. Lumayan, selain bisa jajan gratis juga menghasilkan uang tambahan.

Jualan ngga selalu saat sekolah. Seorang pengisi acara di pesantren DT Bandung juga pernah cerita. Setiap kali pulang kampung atau kembali ke Bandung, selalu bawa oleh-oleh. Tapi oleh-oleh ini ngga dikasihkan ke saudara atau teman-temannya, melainkan dijual di atas kereta. Sampai di tujuan biasanya oleh-oleh sudah ngga ada, tinggal uangnya saja.

Kawan istri saya juga ada yang aneh. Padahal dia kuliah di Teknik Mesin ITB, tapi kerjaannya jualan ikan asin. Iya lho beneran. Tapi ya, ngga cuma jualan ikan asin di pasar gitu lho. Jualannya ke pedagang ikan asin se Bandung. Jelas cukup besar hasilnya.

Ada lagi cara yang paling mudah, yaitu dengan belajar sebaik-baiknya dan mendapat nilai setinggi-tingginya. Masukkan aplikasi beasiswa dan terima uang biaya hidup dan sekolah dengan kerja paling minimal hehehe.

Silahkan mencoba.

  • Share/Bookmark

Sekolah Asrama

Thursday, May 22nd, 2008

“Sudahlah sekolah di Bandung saja. Lagi pula kamu kan sudah keterima di SMP Negri. Ngga sampe 5 orang dari sekolah kamu yang diterima di SMP Negri tahun ini, masa kamu mau melepaskan kesempatan ini?” Rayu ibunya Minah.

“Ngga mau, pokoknya Minah mau sekolah asrama di Yogya. Kalau ngga boleh, ya udah Minah kerja aja bantuin Emak dan Bapak cari uang”

“Kamu kan tahu Minah, Bapak kamu itu tidak punya pekerjaan tetap. Mana ada uang untuk sekolah jauh-jauh di Yogya. Di sekolah swasta, lagi”

“Udahlah Mak, sekolahin aja Minah di sana. Minah ngga akan minta macam-macam koq. Ngga minta jajan juga, ngga minta belikan pakaian yang baru dan tas baru. Asal bisa sekolah di sana.”

Akhirnya, jadi juga Minah sekolah di perguruan kader organisasi agama besar di Yogya ini. Awalnya sih, gara-gara baca buku cerita Mallory Towers, yang menceritakan indahnya hidup di sekolah asrama. Ternyata, ada juga yang katanya bagus di Yogya ini. Jadi sekarang Minah sedang menuju Yogya bersama Ibunya.

“Minah, Emak dan Bapak ngga bisa memberi kamu banyak-banyak. Cuma ini saja yang bisa Emak kasihkan untuk bekal kamu selama di sini.”

“Iya, Mak. Tapi Minah sedih kalau Emak pulang sekarang. Dua hari lagi aja deh pulangnya. Minah mau tidur dipeluk Emak dua hari ini.”

Jadilah Emak Minah menambah kunjugannya dua hari, agar anaknya Minah lebih siap menghadapi hidup sendirian di tempat yang jauh dari rumah. Ketika pulang pun, Emak ngga mau pandang belakang. Takut sedih dan nangis, nanti malah ga jadi-jadi pulang.

“Hai, kamu sini. Anak baru ya. Sini dengan teteh. Kamu dari Bandung kan? Teteh juga dari Bandung” kata seorang murid yang sudah senior di asrama Minah.

“Iya teh, teteh sudah lama di sini?”

“Ah baru dua tahun koq. Kamu bawa barang apa saja? Hati-hati kalau bawa barang berharga. Jangan ditaruh sembarangan, apalagi makanan pasti bakalan habis”

“Ngga banyak koq teh, cuma baju saja dua stel”

“Hah, cuma dua stel? Mana cukup? Ya sudah, nih teteh kasihkan baju teteh yang sudah kecil, mudah-mudahan cukup buat kamu. Ngga mungkin kan, pakai baju sekolah yang sama setiap hari. Kalau ada dua atau tiga seperti ini, bisa ganti-ganti”

“Oh iya, makasih teh.” Jadilah Minah dekat dengan teman barunya itu, yang ternyata sama-sama berasal dari Bandung.

  • Share/Bookmark

Handphone Tahan Banting

Thursday, May 22nd, 2008

Ah, ini cuma sekedar ringkasan komentar saya di beberapa blog yang membahas handphone idaman. Banyak orang yang pingin punya handphone tahan banting, bahkan rela sampai berkali-kali ganti handphone untuk mendapatkan yang terbaik.

Handphone pertama saya bermerek ericsson dibeli tahun 2001, tipenya sudah lupa. Dia belikan oleh teman saya karena perlu bantuan untuk mengerjakan proyeknya. Waktu itu pilih berdua dengan istri baru saya (baru nikah soalnya). Warnanya biru dengan antena menonjol sedikit.

Handphone ini benar-benar tahan banting. Soalnya sering sekali jatuh dari saku baju tapi ngga pecah dan masih bisa dipakai. Setelah ada anak, ketahanannya lebih teruji karena meskipun dibanting oleh anak berkali-kali, paling cuma antenanya aja yang patah. Malas juga mau menggantinya, karena sudah ngga ada lagi yang jual. Kalaupun ada, harganya mahal.

Cukup lama bertahan dengan handphone ini, karena mungkin kualitasnya yang bagus. Ngga pernah saya membuangnya. Dia pergi dari haribaan saya, gara-gara dicuri oleh maling yang merampok rumah saya. Hilang bersama-sama dengan komputer, printer, radio tape, dan beberapa perhiasan emas.

Bisa dibayangkan kan, betapa bagusnya handphone ini. Sudah patah antenanya aja masih diambil orang. Apalagi yang bagusnya. Iya ngga?

HP kedua, merek nokia seri 3110. Wah, ini juga tahan banting. Karena meski sudah dibanting dan dikowet sama anak, masih bisa dipake nelepon dan sms. Memang sih, perlu bantuan pulpen atau pensil untuk menekan tombolnya yang sudah hilang. Tapi masih bisa dipakai dengan baik.

Handphone ini menemani selama 3 tahun sampai akhirnya mati ketika belajar berenang. Jelas mati lah, wong casingnya sudah pecah dan tombolnya sudah pada hilang. Akhirnya diganti dengan handphone Samsung C 120 yang berwarna layarnya.  Sayang ngga ada gamenya, jadi tukeran aja dengan punya istri yang meskipun sudah tua, handphone ini masih ada gamenya hehehe.

  • Share/Bookmark

Tersesat Jalan

Thursday, May 22nd, 2008

Mas Joni sangat beruntung. Meskipun berasal dari keluarga yang miskin dia dapat melanjutkan sekolah sampai lulus sekolah menengah. Untuk urusan bekerja, dia pun sangat beruntung. Memang sih, pekerjaannya bukan sebagai karyawan berkerah atau tingkat manajemen. Setidaknya dengan pekerjaan sekarang dia bisa menghidupi dirinya sendiri dan menafkahi keluarga.

Berawal dari menjadi tukang sapu di kantor kereta api, Mas Joni bertemu dengan seorang boss yang sangat baik. Pendidikannya ditanggung oleh si Boss, sampai akhirnya dia bisa diterima sebagai karyawan honorer di perusahaan yang mengendalikan perjalanan kereta api se Indonesia ini.

Menjadi karyawan honorer menambah keberuntungan Mas Joni. Ternyata banyak kesempatan untuk ikut pelatihan-pelatihan yang bisa membawa Mas Joni pada jabatan tertinggi di dalam kereta: Masinis.

Hari ini Mas Joni mulai bertugas. Hebatnya lagi, Mas Joni mulai bertugas di Jakarta, tempat segala keruwetan bertumpuk. Mas Joni yang terbiasa hidup di kota kecil sangat deg-degan dengan tugas pertamanya ini. Rute pertamanya adalah dari Jakarta menuju Surabaya. Targetnya adalah hanya terlambat 2 jam saja.

Memulai pekerjaan tidaklah sulit bagi Mas Joni, karena semua sudah diberikan di pelatihan. Dari men-start mesin kereta api, sampai menjalankannya sudah dilalui dengan lancar. Masalah timbul ketika Mas Joni hampir sampai di persimpangan kereta yang sangat padat. Masalahnya adalah Mas Joni ngga tau jalan Jakarta. Ketika hampir sampai ke pintu persimpangan, Mas Joni malah memperlambat keretanya, dan berhenti di depan antrian kendaraan yang sudah tak sabar menunggu giliran jalan. Mas Joni mengeluarkan kepalanya dari dalam lokomotif dan menyapa salah satu pengendara motor:

“Mas – mas, numpang tanya yah. Kalau jalan yang Surabaya lewat jalur yang mana?”

Tentu saja pengendara motor itu bengong. Jelas bengong karena cerita ini bohongan saja. Lah jalur kereta kan sudah ditentukan, memangnya si kereta mau belok-belok sendiri, hehehe. Ga mungkin kan.

  • Share/Bookmark

Subsidi untuk Pahlawan Devisa

Thursday, May 22nd, 2008

Pemerintah memang sibuk mengurusi rakyatnya yang nomor empat terbanyak sedunia. Sudah itu, kebanyakan ngumpul di Pulau Jawa. Sisanya tersebar di wilayah yang begitu luasnya. Bikin pusing, sampai-sampai harus kehilangan beberapa pulaunya ke negara tetangga.

Oke, kalau dilihat pendapatan negara Indonesia itu cukup besar lho. Misalnya dibandingkan dengan negara Malaysia sini. Tapi karena jumlah penduduknya banyak dan tersebar luas, jadi kebagiannya sedikit-sedikit. Untuk menambah kemampuan beli dari pendapatan yang sedikit itu, ya pemerintah nombokin sebagian dalam bentuk subsidi.

Makanya ada subsidi BBM, subsidi pendidikan, subsidi kesehatan dll. Kalo ngga dikasih subsidi, makin tidak terjangkau saja harganya.

Kalau dipikir-pikir, subsidi itu kan dinikmati oleh orang yang berada di wilayah Republik Indonesia. Contohnya, yang menikmati subsidi BBM ya orang yang beli BBM di Indonesia (kecuali yang diselundupkan ya). Kalau warga negara Indonesia yang ada di luar negeri ya ngga menikmati subsidi.

Nah, jadi keidean sesuatu untuk mengurangi subsidi. Kalau terlalu banyak yang ditanggung subsidinya di dalam negeri, kenapa ngga disuruh keluar aja tuh orangnya. Misalnya seperti program transmigrasi, yang mau transmigrasi dikasih dana awal sehingga mereka bisa menghidupi diri sendiri nanti dan berkontribusi kepada pendapatan negara. Kenapa ngga mensubsidi orang-orang yang mau kerja di luar negeri?

TKI-TKI itu dipermudah urusan keluarnya. Dikasih subsidi bikin passport, dibebaskan dari fiskal, dan dikasih uang untuk jaga-jaga di luar negeri. Kan enak, cuma sekali ngasih bisa jadi sumber devisa juga buat negara. Dari pada mereka di dalam negeri harus dikasih subsidi BBM dan pendidikan, suruh aja mereka ke luar negeri. Ngga usah dikasih subsidi lagi kan? Biar aja subsidi BBM dan bahan makanannya ditanggung oleh negara lain. Biar saja setiap bulan mereka kirim uang ke Indonesia.
Takut TKI nya diperlakukan semena-mena di luar negeri? Wah kan sudah saya kasih tahu, di dalam negeri juga ngga sedikit yang memperlakukan pekerjanya dengan semena-mena. Jadi apa bedanya? Malah kalau di luar negeri besar harapan dapat uang lebih banyak dari pada kerja di Indonesia.

Tul ga?

  • Share/Bookmark

Bahas Agak Detail Tentang Subsidi BBM

Tuesday, May 20th, 2008

Sori ngga ada tulisan. Cuma sambung tulisan aja dari milis yang saya ikuti. Mudah-mudahan bisa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang subsidi BBM yang sekarang ini sedang rame.

Saya sendiri, sedang tidak berada di Indonesia. Tidak juga menerima pendapatan dari Indonesia untuk membeli BBM. Karena itu ngga bisa cerita banyak tentang pengaruh kenaikan BBM terhadap kehidupan saya. Sekarang sedang menikmati uang subsidi dari negara tetangga. Masih bisa hidup dengan layak, meskipun seadanya saja.

Tulisan di attachment ini adalah dari Bapak Hanan Nugroho, perencana bidang energi di bappenas. Tulisannya berjudul:

Apakah persoalannya pada subsidi BBM?
Tinjauan terhadap masalah subsidi BBM, ketergantungan pada minyak bumi, manajemen energi nasional, dan pembangunan infrastruktur energi 

  • Share/Bookmark