Hari ini, Budiman pergi juga ke Malaysia untuk meneruskan belajarnya. Setelah delapan tahun berkutat di perguruan gajah duduk dengan gelar sarjana dan magister, sekarang waktunya untuk Budiman mengejar doktor filsafat. Banyak harapan digantungkan Budiman di negeri Jiran ini. Pertama, karena dekat. Kedua karena budayanya ngga jauh dengan Indonesia bahkan bahasanya pun hampir mirip. Ketiga, Malaysia dikenal sebagai negara yang penganut Islamnya masih taat. Bahkan menurut cerita temannya, tukang pungut sampah saja akan berhenti shalat di Masjid begitu terdengar adzan.
Sesampainya di Bandara, suasana panas sudah menyapa Budiman dengan garangnya. Beda sekali dengan cuaca di Bandung yang selalu bersahabat. Asli panas, bikin ubun-ubun nyut-nyutan. Dilanjutkan dengan perjalanan dengan bis ke terminal pusat kereta api Kuala Lumpur. Dari sana, katanya bisa naik bis atau kereta ke mana saja. Namanya juga terminal pusat.
Sesampainya di Kuala Lumpur (KL), Budiman menjadi heran melihat papan iklan billboard yang besar-besar itu. Katanya, Malaysia itu negara yang agama Islamnya kuat. Tapi kenapa, iklan supermarket malah menawarkan barang haram? Lihat itu, tulisannya supermarket kami membantu anda berjimat secara cermat. Astaghfirulloh. Ini sudah tidak benar. Masa orang ramai diajak untuk berjimat. Itu kan pekerjaan maksiat, syirik. Seharusnya manusia itu hanya menggantungkan harapannya pada Alloh semata. Bukan pada jimat.
Eh, tapi tunggu dulu. Ternyata selain ada bahasa Malaysianya, ada bahasa Inggrisnya juga. “Help you Save more”. Oh, berjimat itu artinya berhemat toh. Hampir saja Budiman balik ke Bandung gara-gara jimat.
Nah sekarang Budiman siap-siap naik Bis ke terminal puduraya. Tapi Budiman terenyuh, melihat seorang wanita tua kesulitan membawa tasnya yang besar. Maka Budiman membantu wanita ini membawa tasnya sampai ke dalam Bis. Wah, tentu saja wanita ini sangat berterima kasih. Dia bilang “Terima kasih, Payah abang ini”.
Suit, langsung saja wajah Budiman berubah. Ibu ini koq aneh sih, sudah dibantu dan bilang terima kasih, koq bilang aku payah. Aku ini sudah susah payah bantu bawain tas segede gambreng, eh masih diejek juga. Hampir saja Budiman marah besarrrr. Untung si ibu sudah sering nonton film sinetron Indonesia yang ditayangkan di banyak TV Malaysia. Langsung saja dia mengerti dan meralat perkataannya, “Terima kasih, sudah merepotkan abang ini”. Oh oh oh, rupanya payah itu artinya merepotkan. Budiman akhirnya pasang tampang gembira. “Iya Bu, sama-sama”
Sorenya, Budiman sudah sampai di Universitas Harapan yang akan dimasukinya sebagai kawah candradimuka doktor filsafat. Besok paginya Budiman harus ikut briefing dan test matrikulasi. Briefing sih ngga ada masalah, paling yang diomongin gitu-gitu aja. Nah, test matrikulasi ini yang bikin deg-degan. Setiap test, bagi Budiman adalah momen yang menyeramkan. Selalu dilewati dengan perasaan pingin ke belakang untuk buang air. Kali ini juga, sama. Budiman ingin buang air.
Untungnya sebelum test dimulai, pembawa acara memberikan kesempatan bagi peserta untuk buang air. Kesempatan ini tidak dilepaskan oleh Budiman untuk segera keluar mencari tempat buang air. Putar-putar, setiap tempat yang ada tanda toilet sedang dalam perbaikan. Bagaimana ini, test sudah dimulai tapi tempat buang air belum ketemu. Nah itu ada juga satu ruangan dengan tanda toilet. Tapi begitu mau masuk, Budiman membaca lagi label di pintu: “Untuk Kaki Tangan Sahaja”. Padahal Budiman cari toilet untuk buang air, ini hanya untuk kaki tangan. Nah itu ada satpam, segera saja Budiman tanya ke Satpam, di mana letak toilet terdekat. Satpam menjawab, “itulah encik, toilet ada di belakang Encik”. “Tapi saya ingin buang air, yang itu hanya untuk kaki tangan, toilet yang lain sedang dalam perbaikan”. Walah, satpam itu tertawa terbahak-bahak. “Encik, kaki tangan itu maksudnya staf, bukan kaki dan tangan ini” sambil menunjuk kaki dan tangan mereka. Waduh, salah lagi si Budiman ini.
Akhirnya selesai juga masalah Budiman, bisa buang air dan mengikuti test matrikulasinya dengan baik. Wassalam.