Entries RSS Comments RSS

Memilih Cara Meninggal

Satu hal yang pasti akan dirasai oleh makhluk bernyawa, adalah meninggal. Cepat atau lambat, diperkirakan atau tidak, dikejar atau dihindari, dia akan datang. Ada orang yang katanya meninggalnya beruntung ada juga yang meninggalnya dibilang sial. Padahal cara kita meninggal bisa dipilih sesuai keinginan kita. Bagaimana caranya?

Kebanyakan orang meninggal disebabkan kegiatan yang paling dia cintai. Misalnya, ada orang yang doyan makan sembarangan atau senang merokok, maka matilah dia gara-gara makanan atau rokok.

Istri saya pernah cerita, sewaktu sekolah di Yogyakarta dulu ada seorang kondektur bis yang meregang nyawa sambil menyebut-nyebut nama jurusan bisnya. Sewaktu saya kecil juga banyak buku yang bercerita tentang orang meninggal sambil tangannya seolah-olah menghitung uang dan mulut komat-kamit menyebut jumlah uang.

Kembali lagi mengingat selebritis, yang namanya Gito Rollies. Katanya dia senang banget melakukan dakwah. Sampai-sampai berdoa pingin mati ketika sedang berdakwah. Ternyata memang benar, dia sedang berdakwah ke Sumatera. Selesai menyampaikan dakwahnya di mimbar, tiba-tiba penyakitnya kambuh dan langsung di bawa ke Rumah Sakit. Sampai di RS, dia meninggal dunia. Ini mungkin kata orang meninggal husnul khotimah.

Baru-baru ini juga ada, selebriti yang meninggal ketika sedang konvoi motor gede (moge) HD. Bisa jadi, dia sangat cinta dengan kegiatan konvoi ini sehingga meninggalnya pun didahului dengan kegiatan yang dicintainya.

Nah, kayaknya kita bisa menduga akan meninggal seperti apa kita nanti. Lihat saja, kegiatan apa yang paling kita cintai. Mungkin, kegiatan itulah yang akan membuka pintu kematian buat kita.

Buat yang senang nge blog, kira-kira matinya sehabis ngeblog ngga ya? Eh tapi udah ada contohnya lho, yang mati setelah ngeblog. Nah yang ini, husnul khotimal atau suul khotimah ya?

  • Share/Bookmark

8 Responses to “Memilih Cara Meninggal”

  1. waduh, apa memang bener sih, pak, kematian seseorang itu seringkali didasarkan pada aktivitas yang dicintainya? ah, pak iwan bikin saya deg2an. saya itu suka nulis. apakah kelak saya akan mati juga ketika sedang menulis?

  2. jimmy says:

    we’ll see what we believe…

  3. Arya says:

    Wah, kesamaan yg menarik. Mungkin ada benarnya, yah,kita lebih mencurahkan perhatian ke urusan duniawi sampai lupa urusan akhirat saat akan mati pun masih tebawa keduniaanya. :D Artikelnya bgs pa’

  4. waterlily says:

    Salam kenal Bapak,

    Sesungguhnya tulisan bapak buat saya berfikir dan menerung diri.

    Saya dari Kuala Lumpur M’sia.

    Terima kasih kerna tulisan ini.

  5. gajahkurus says:

    Tulisan yang menarik pak.
    Saya berdoa semoga kita meninggal dalam keadaan husnul khotimah. “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul-khatimah (akhir yang baik), dan jangan Kau akhiri hidup kami dengan suu-ul-khatimah (akhir yang buruk).” Amin

  6. Makanya selingi nulis blog dengan baca Quran. Siapa tahu, bisa menyelamatkan. He he he, siga ustadz wae. Padahal mah sufi (suka film)

  7. gajahkurus says:

    pengen yang husnul khotimah ah, Amin :-)

  8. Aamiiin. Tapi Pak, ada tapi nya lho hehehe. Bisa ngga ya kita mengucap syahadat menjelang sakratul maut kalau di saat hidup, bukan ucapan itu yang biasa mengisi hati kita? Itu kan, meureun semacam refleks ajah. Kalau orang Bandung, meureun saat sakratul maut bilang Anjrit!!!, hehehe. Na’udzubillah deh.
    Mudah-mudahan kita semua husnul khotimah

Leave a Reply