Entries RSS Comments RSS

Teman Kuliah

Nostalgia sedikit tentang teman-teman kuliah di Bandung dulu. Waktu itu, harga-harga masih cukup murah. Bensin seliter masih 700 rupiah, makan dengan rendang cukup dengan 1000 rupiah, dan kost-kostan ku hanya 750 ribu rupiah satu tahunnya. Bahkan dekat kampusku, sebelah kebon binatang Bandung, ada kantin yang menawarkan langganan makan 30 ribu rupiah untuk satu bulannya (3 kali makan). Super murah.

Ada seorang teman, yang mungkin bukan dari golongan berada. Kamar kostnya, hanya dalam orde seratus ribuan setahun. Tempatnya di pinggir pasar, bilik, dan tempat tidur melantai dengan kasur super tipis. Lampunya pun hanya 20 watt. Ngga ada lemari dan meja yang cukup baik untuk menaruh baju dan bukunya. Kadang hanya diserakkan saja dengan rapi (berserak tapi rapi, gimana ya?) di depat kasurnya.

Dia ini, ngga bisa hidup nyaman. Soalnya saya lihat sendiri makannya hanya bermodal roti tawar yang sekali beli dipakai berhari-hari. Ganjal perut dengan nasi berlauk hanya bisa dilakukan sekali atau dua kali dalam seminggu. Itupun tunggu sore hari, dimana kantin sudah mau menghabiskan sisa makanan sehingga ambil banyakpun harganya tetap super murah. Mungkin dengan uang seratus atau dua ratus, dia bisa dapat nasi segunung dengan lahar sayur. Ngga pakai telur, apalagi daging. Sudah untung kalau sayurnya sudah dicampur dengan sisa telur atau daging. Untuk pulang pergi ke kampus, dia cukup senang masih bisa berjalan kaki.

Ngga bertahan lama kuliah di Bandung. Hanya 6 bulan saja. Bulan Desember ketika kebanyakan temannya sedang sibuk ujian dan OSPEK jurusan, dia pergi dari kota itu. Tentu saja, untuk penghidupan yang lebih baik karena mendapat beasiswa ke Jepang. Terakhir ketemu, dia sedang mengambil Ph.D, masih di Jepang juga. Wajahnya sudah segar
dan lebih gemuk dibandingkan saya. He he he, nasib memang berubah.

Ada lagi teman saya, yang kamar kost nya saja sudah 250ribu sebulan. Ngga perlu khawatir dengan baju kotor karena ada petugas kebersihan yang siap membereskan kamar dan mencuci pakaiannya. Kamar mandi ngga perlu keluar, karena sudah tersedia di kamarnya. Untuk pulang pergi ke kampus, sudah ada mobil toyota starlet terbaru siap mengantarkannya. Nasib memang berubah, dia juga sama keluar dari kuliah. Entah kemana. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

Ada teman yang menarik buat saya. Ketika tahun pertama dan kedua, kami cukup dekat. Dia keturunan, dan bukan berasal dari keluarga yang kaya. Kuliahnya dibiayai oleh kakaknya. Tapi kamar kostnya sudah cukup mahal, 150ribu sebulannya. Kalau makan, antik. Soalnya selalu menghabiskan makanannya sampai ke remeh-remeh nasinya. Bahkan kalau ada nasi yang tersangkut di garpu, akan dia keluarkan dengan sendok dan dihabiskannya sampai tandas. Ini prinsip ekonomi yang diterapkan keluarganya, dan saya ikut juga sekarang. Kalau makan, jangan ada yang disisakan. Kalau merasa kebanyakan, lain kali ambil sedikit saja. Sekarang dia sudah bergaya, kerja di perusahaan multi nasional.

Aku? Yah jadi PNS sudah cukup memuaskan, yang penting halal dan mencukupi nafkah keluarga. Sekolah, cukup di Indonesia dan Malaysia saja. Kalau benar sekolahnya, insya Alloh akan bermanfaat buat diriku, keluargaku, bangsaku, dan agamaku. Aamiin.

  • Share/Bookmark

5 Responses to “Teman Kuliah”

  1. hehehehehe :lol: saya malah hanya kuliah dari dalam negeri aja, pak. jadi PNS juga sudah bersyukur. gaji sedikit tapi kalau disyukuri akan banyak membawa berkah, apalagi bisa sambil ngeblog. jadi banyak temen. kalau nggak ngeblog, mana mungkin saya bisa kenal pak iwan? bener nggak, pak?

  2. Iya Pak. Alhamdulillah bisa banyak kenal orang dari blog.
    Gajinya ngga sedikit Pak, tapi cukup :)

  3. Yari NK says:

    Dulu waktu saya masih di UNPAD uang kuliah saya per semester cuma Rp. 27.500,-. Lantas harga sepiring nasi ayam cuma Rp. 800,- per porsi. Sekarang ?? harga nasi ayam pasti nggak dapet hanya dengan Rp. 5000,- saja. Sedangkan uang kuliah per semester di UNPAD bikin saya ngeri untuk melihatnya. Dan lebih ngeri lagi, kala mengetahui bahwa lulusan UNPAD kini yang biaya kuliahnya berjut-jut per semester ternyata kualitas lulusannya tidak lebih bagus secara signifikan dengan lulusannya terdahulu……….

  4. edratna says:

    Kost saya termasuk mahal, karena persis di sebelah IPB, sebulan Rp.5000,- plus makan, sekamar bertiga. Bapak ibu yang guru terpaksa merelakan 50% uang gajinya dikirimkan kepada saya.. Namun setelah tingkat Sarjana Muda (dulu kuliah 6 tahun, Periapan 2 tahun Sarjana Muda 2 tahun, Sarjana 2 tahun, kemudian baru penelitian), saya masuk asrama, dan membantu dosen mengolah data, membuat Feasibility Study (yang nanti sangat berguna saat bekerja)….
    Tapi buku dikasih oleh IPB, dan bebas pinjam di perpustakaan, maklum satu angkatan cuma 50 orang, dan yang terus (tidak DO) tak lebih dari 50% nya. Jika ada praktek lapangan, IPB telah menyediakan bus untuk Bogor-Darmaga, Bogor-Ciawi pp. Dan kalau ada kegiatan penelitian (setahun sekali diterjunkan ke pelosok), mendapat uang saku….thesis, dari biaya penelitian sampai biaya kertas dibayari IPB. Kedua adikku akhirnya mengikuti meneruskan ke Bogor. Namun setelah lulus kuliah, kami sepakat, nggak boleh ketiganya punya pekerjaan yang sama, karena ada risiko nggak bisa saling bantu jika ada salah satu yang banckrupcy (heran juga kenapa dulu punya pikiran ini). Jadi akhirnya saya bekerja di lembaga keuangan, adik nomor dua dosen di UNDIP dan yang kecil di BPPT merangkap dosen di Binus dan Paramadina.

  5. rachma says:

    aq sangat suka dengan kisah2 yang seperti ini,,,
    tentang akhir dari nasib yang selalu menjadi rahasia Allah..
    yang membuat saya makin percaya bahwa Allah Maha Segalanya,, raja dari semua raja..
    Dialah yang Maha Berkuasa atasku…

Leave a Reply