Entries RSS Comments RSS

Archive for June, 2008

Lawan dan Balas

Sunday, June 29th, 2008

“Hu hu hu hu, hiks hiks”

“Kenapa Cu, koq pulang sekolah malah nangis”

“Tadi di sekolah dipukulin sama teman”

“Teman laki atau perempuan”

“Teman laki-laki”

“Lho koq, anak laki-laki mukul anak perempuan”

“Iya, dia emang orangnya nakal, suka mukul dan nendang orang lain. Apalagi sama perempuan”

“Jangan diam aja atuh, dilawan dan dibalas”

“Aku kan perempuan, kalah tenaga sama anak laki-laki”

“Alah, pake cara apa aja deh. Pokoknya dilawan. Teriak yang kencang, biar jadi perhatian. Sini kakek ajarin cara mukul dan nendangnya”

Selama seminggu si cucu di ajarin berkelahi oleh kakeknya. Kali ini saat istirahat, dia diganggu lagi oleh teman pembulinya.

Ctak, dijitak.

“Heeeh, elo berani-beraninya ya ngejitak pala gue. Bokap gue aja ngga pernah nyentil apalagi mukul. Kurang ajar loe ye”

Keluarlah semua jurus yang dipelajari dari kakeknya. Tidak lupa juga teriakan-teriakan yang lantang dari mulut perempuan. Jelas saja jadi perhatian semua orang. Ternyata si pembuli tidak bisa melawan karena ngga konsentrasi dengan pukulan, tendangan, teriakan, dan perhatian orang ramai.

Gubrakkkk, dia terjengkang kena pintu.

Gubrakk lagi, dia terlempar ke lapangan sampai berdarah tangannya terkenal semen keras.

“Ampun-ampun” Akhirnya dia menyerah kalah. Setelah itu dia ngga pernah berani lagi mengganggu cucu si kakek. Kalo ke orang lain sih masih, karena ternyata pembuli selalu bisa menemukan orang yang ngga berani melawan.

Maka itu: LAWAN dan BALASLAH !!!

  • Share/Bookmark

Hidup Tanpa Masalah Bagian 2

Friday, June 27th, 2008

“Uwak Semar sih enak hidupnya. Anak sudah lepas dan bisa cari makan sendiri. Rumah bertebaran di mana-mana. Mau pergi sudah ada mobil mewah dengan supir yang siap mengantarkan. Pokoknya, uang sudah ngga jadi masalah. Ngga kaya saya ini, hidup masih susah”

“Wah, ya ngga gitu lho Mas Iman. Kata siapa hidup Mas Iman masih susah. Kelihatannya sih, masih baik-baik saja.”

“Baik-baik saja gimana? Sekarang hidup saya tambah susah wak. Semenjak kenaikan BBM. Dulu saya biasanya bisa seminggu sekali jalan-jalan dengan keluarga. Makan daging setiap hari. Sekarang? Jangankan seminggu sekali. Sebulan sekali juga belum tentu bisa jalan-jalan Wak. Makan daging cuma tiga hari sekali. Hidup tambah susah.”

“Mas Iman baru melihat saya sekarang saja sih. Kalau melihat saya dulu sewaktu seumuran mas Iman, pasti merasa bersyukur dengan yang udah ada sekarang.”

“Ah, ngga mungkin Wak Semar hidup susah.”

“Eh ngga percaya. Dulu, saya jarang-jarang dapat uang banyak. Begitu dapat uang yang cukup banyak, saya belikan minyak tanah dan beras. Mikirnya, ya kalo ngga dapat uang lagi setidaknya masih bisa makan pakai beras. Kalau untuk lauknya, nyari lagi setiap hari.”

“Bohong nih Wak Semar”

“Bener mas. Jaman dulu tuh lebih susah dari jaman sekarang. Coba saja, baca novel-novel terbitan jadul. Sudah dari dulu bangsa ini menderita. Rakyatnya melarat di tengah kekayaan negerinya.”

“Tapi kan, ngga seganas sekarang Wak. Korupsi di mana-mana”

“Kata siapa? Coba kamu cari novel-novel yang dulu dibreidel. Isinya ya gitu, menceritakan kebobrokan para penguasa. Dari mulai korupsi, main perempuan, dan main kayu. Makanya, sekarang mas Iman harus bersyukur. Hidup susah aja, masih bisa makan pakai lauk. Masih bisa jalan-jalan sebulan sekali. Dulu mana bisa”

“Tapi tetep wak, hidup ini makin susah”

“Tenang saja Mas. Buat yang mau berusaha, insya Alloh ada jalannya. Tapi memang harus pasrah. Pertolongan Tuhan itu, kadang-kadang ngga tau dari mana datangnya. Tapi selalu ada di saat yang paling kita butuhkan.”

“Oh gitu ya Wak. Baiklah akan saya coba berjuang”

“Begitu dong, itu baru namanya anak muda. Insya Alloh nanti sudah tua bisa hidup senang macam saya ini, hehehe”

Semar mesem lagi.

  • Share/Bookmark

Pentas Seni

Wednesday, June 25th, 2008

Pusing ah, dapet kelompok yang isinya kebanyakan anak kecil. Kalau kelompok lain sih mayoritas isinya kelas 5 dan 6. Lha ini, di kelompok yang aku pegang cuma tiga orang yang sudah cukup besar. Lainnya kelas 4 ke bawah. Jadi gimana dong, persiapan pentas seninya?

“Gimana kalau menyanyikan lagu?”

“Wah kalau lagu itu, siapa yang megang musiknya? Terus sudah dua kelompok lain akan pentas nyanyi. Ngga kreatif ah”

“Kalau gitu, kita bikin drama aja”

“Drama itu, perlu naskah. Perlu latihan. Perlu kostum. Apa ngga jadi ribet?”

“Lalu pentas apa dong?”

“Hmm, gimana ya. Kita pikirkan dulu deh. Yang kira-kira latihannya sebentar tapi bisa mengikutsertakan seluruh anggota kelompok”

Akhirnya setelah bertirakat satu malam, datanglah ide cemerlang. Mungkin ini yang pertama kali dalam sejarah pesantren kilat yang sudah belasan kali diadakan ini, kalau pentas seninya adalah seni memasak hehehe.

“Bikin apa nih masakannya? Terus bahan dan kompornya gimana? Siapa yang bagian masak dan siapa yang bagian MC?”

“Gampang, bikin mie goreng skutel aja. Mie yang sudah di rebus, campur dengan telur dan bumbu mie. Lalu kocok-kocok dan goreng. Semua dapat peran. Yang paling besar bagian bawa kompor dan peralatan masak. Dua orang bagian nyiapin bahan. Yang paling kecil jadi MC. Sisanya bagian membagikan hasil masakan ke penonton. Gimana?”

“Setuju!! Kita mulai latihan, saya ngelatih yang masak. Ente ngelatih MC. OK?”

“Oke deh”

Selesai juga tugas melatih adik-adik peserta pesantren kilat PAS ke 10 di Cipanas. Ternyata luar biasa, pentas seni memasak ini mendapat applaus paling meriah. Alhamdulillah.

  • Share/Bookmark

Ketika Orang Bermasalah Tidak Bersatu

Wednesday, June 25th, 2008

“Cepot, kemana sodara kamu si Dawala, sudah tiga hari ini tidak kelihatan”

“Maaf abah, saya lupa kasih tahu kalau si Dawala teh sedang menunggu anaknya di rumah sakit. Anaknya terkena demam berdarah”

“Eleuh-eleuh, kamu teh gimana. Urusan Gawad Darudad macam gitu tidak kasih tau ke abah. Hayu antarkan abah ke rumah sakit.”

Semar dan anaknya, si Cepot, buru-buru pergi ke rumah sakit untuk menengok cucunya yang terkena demam berdarah. Biasanya kalo musim sakit demam berdarah, cadangan darah di semua tempat pasti menipis. Kalaupun ada, harus antri mendapatkannya. Sayang, ngga banyak orang yang mau donor darah. Takut lihat jarum katanya, padahal banyak orang meregang maut gara-gara ga mendapatkan darah.

Sesampainya di rumah sakit, Semar melihat pemandangan yang sama dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Di banyak tempat banyak orang bergerombol, dan tidur-tiduran. Itu biasanya keluarga pasien yang bergantian menjaga. Tapi ada yang bikin Semar heran dengan perilaku keluarga pasien itu. Sepertinya semua orang yang kesusahan itu menghadapi sendiri masalah mereka. Padahal, ada cara yang mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bagus.

Akhirnya Semar bertemu dengan anak nya Dawala dan cucunya yang sedang sakit. Selepas memberikan doa dan bekal untuk penunggu, Semar mengajak Dawala untuk pergi ke ruang tunggu keluarga.

“Hayu Dawala, ikut abah. Kita harus melakukan sesuatu di ruang tunggu keluarga pasien”

“Ada apa bah? Nanti siapa yang jaga anak saya?”

“Eta mah gampang atuh. Pan ada si Cepot. Biarin dia yang jaga, sementara kamu ikut abah”

Bergegaslah Semar dan Dawala ke ruang tunggu pasien yang ternyata penuh juga. Si Semar langsung ke bagian depan ruangan dan berteriak.

“Assalamu ‘alaikum bapak ibu juragan sekalian. Sedang apa di sini?”

Orang-orang pada kaget, tapi menjawab juga.

“‘Alaikumussalam, kami sedang menunggu giliran jaga, Pak”

“Kenapa menunggu giliran jaga tidak optimal? Koq malah ngobrol ngalor ngidul sharing penderitaan. Mau ga saya ajak melakukan sesuatu yang lebih baik. Insya Allah bisa membuat keluarga kita bisa sembuh lebih cepat”

“Ngapain Pak?”

“Kita berdoa bareng-bareng di sini. Semuanya harus nangis dan minta sekuat-kuatnya kepada Tuhan, supaya keluarga kita yang sedang sakit dapat diberikan kesembuhan. Kita ini kan orang yang sedang mendapat cobaan. Orang seperti kita, doanya lebih makbul. Apalagi kalau doanya berjamaah”

Dan akhirnya di rumah sakit itu, acara berdoa bersama untuk kesembuhan yang sakit menjadi acara rutin dan dilakukan terus menerus. Memang benar, dengan bersatu maka kekuatan doa akan menjadi lebih besar dan mudah dikabulkan. Itu yang juga sering dilakukan di acara pengobatan-pengobatan alternatif massal.

Seandainya saja orang bermasalah bersatu…entah apa yang sudah bisa dihasilkan.

Gambar-gambar Thumbnail diambil dari redcross.org dan redcross.int

  • Share/Bookmark

Hidup Tanpa Masalah

Wednesday, June 25th, 2008

“Wak Semar, ada waktu ngga?”

“Kenapa memangnya?”

“Ngga koq, saya cuma mau curhat sedikit. Biasalah manusia macam saya ini penuh masalah”

“Ada masalah apa mas Iman?”

“Begini wak, semenjak BBM naik hidup saya semakin susah. Biasanya narik angkot dari pagi sampai sore itu sudah cukup untuk keluarga satu hari. Sekarang ngga bisa lagi wak. Gara-garanya, ongkos kerja naik, setoran naik, sedangkan kita ngga bisa naikin ongkos ke penumpang. Saya harus gimana lagi ya? Kan makan dan kegiatan anggota keluarga ga ada yang bisa dikurangi jatahnya”

“Mas Iman, masalah uang memang begitu. Setiap saat, kebutuhan kita pasti bertambah banyak. Kita memenuhi kebutuhan itu dari pendapatan kerja kita. Ada dua cara yang bisa dipakai, yang pertama mengurangi kualitas hidup. Misalnya dengan membeli beras yang lebih murah, makan daging dibatasi, ngga jajan, dan penghematan lainnya.”

“Wah Uwak ini bagaimana. Saya sudah hidup sangat hemat Wak. Ketemu daging cuma kalau idul adha aja atau kalo ada kendurian. Boro-boro buat jajan, buat beli beras yang paling murah aja masih suka ngutang. Apalagi yang mau dihemat”

“Nah mungkin harus pakai cara kedua, yaitu dengan menambah penghasilan.”

“Saya sudah kerja cape dari pagi sampai sore. Bagaimana lagi harus nambah penghasilan? Masa saya harus tambah kerja lagi?”

“Lha iya mas. Mau bagaimana lagi. Saya pernah lihat di TV, ada kepala sekolah yang nyambi mulung sampah selewat waktu kerja. Orang-orang hebat di Amerika itu juga ortunya dulu kerja dua-tiga buah dalam sehari supaya anaknya bisa sekolah dan ga jadi kayak ortunya, miskin”

“Ah, saya mah masih ngga kebayang wak.”

“Ya sudah, sekarang kamu tenangkan fikiran aja dulu. Nanti kalo siap untuk membayangkan, kita ngobrol lagi”

“Iya, Wak. Uwak sih enak hidupnya ngga banyak masalah. Bisa aja ngomong ini ngomong itu. Padahal kan ngejalaninya ngga mudah wak.”

“Jangan ngomong begitu mas, semua orang itu punya masalah masing-masing. Bahkan orang yang kaya raya itu juga punya masalah. Kalo saya, memang terlihat seperti tidak punya masalah. Tapi orang datang ke sini minta nasihat untuk memecahkan masalahnya. Artinya saya jadi ikutan mikirin masalah orang lain. Mas sendiri, ngga mikirin saya punya masalah. Iya, kan?”

“Iya deh wak, maaf. Nanti kita sambung lagi”

  • Share/Bookmark

Semar Mesem

Wednesday, June 25th, 2008

Ups, jangan diplesetin ya. Ceritanya wak Semar nikah lagi. E la dalah. Sudah tua, banyak cucu, koq masih mau menikah. Padahal sudah lebih dari sepuluh tahun wak Semar menduda. Sudah biasa kedinginan, sekarang malah mau anget-angetan. Tapi anehnya koq menikah dengan orang tua juga ya? Apa perempuan itu semakin tua semakin hangat? Istri saya sih selalu kelihatan mudah, jadi so pasti hangat. Hu huy.

Setelah nikah, banyak orang datang ke wak Semar. Ya, sebagai selebritis banyak orang pingin tau perkembangan keluarga wak Semar. Termasuk pingin tau juga, kenapa nikah lagi setelah tua? Apa sih yang dicari?

“Assalamu ‘alaikum wak Semar”

“‘Alaikumussalam, eh ada Pak Harto, Om Susilo, Bang Habibi, Dek Agus Dur, Tuan Karno, dan Tante Mega, silahkan masuk. Ada apa nih, ramai-ramai datang?”

“Ah ngga koq wak, cuma mau silaturahmi aja. Sudah lama sejak wak Semar menikah, kami ngga sempat ngobrol dengan uwak. Ngga pernah keliatan, di rumah saja Wak?”

“Iya nih, di rumah saja. Maklum sudah tua. Setelah kerja berat menikah, ngga bisa langsung fit”

“Maaf nih Wak, saya ngga bisa basa basi, langsung saja ya. Kenapa sih Uwak menikah lagi? Kan uwak sudah tua, sudah punya cucu, sudah lama menduda pula. Kira-kira, alasan apa yang sangat kuat sehingga uwak menikah lagi?”

“Nah ini pertanyaan yang sudah saya duga pasti akan banyak yang bertanya” Kata si wak Semar sambil mesem.

“Yah, kalo untuk orang seperti saya sih, memang sudah ngga pantas lagi menikah. Sudah tua, ngga mikirin masalah seks. Sudah lama menduda, ngga mikirin teman kelonan. Anak sudah besar dan punya cucu. Tapi saya kasihan melihat bu Meneer. Sudah lama berdiri sendirian, katanya takut di rumah. Dari pada memberi pertolongan jadi omongan, mending sekalian dikawinkan.”

“Tapi wak, kenapa jadi jarang kelihatan. Muka uwak juga seperti yang kurang tidur. Mata nya merah’

Si Uwak Semar diam saja, tapi mukanya tambah mesem mesem.

(Untuk mengenal lebih jauh mengenai semar, silahkan periksa link berikut ini. Gambar juga diolah dari sana)

  • Share/Bookmark

E-learning ala Indonesia

Tuesday, June 17th, 2008

Beberapa bulan lalu, ketika TV murahan saya masih sehat wal afiat, saya melihat acara teknologi untuk pembelajaran di suatu negara Eropa. Ada dua teknologi yang dibahas waktu itu. Pertama teknologi remote control dan yang kedua adalah Apple Ipod.

Remote control itu digunakan sebagai media evaluasi proses belajar mengajar. Caranya begini, si pengajar menyiapkan materi kuliah bertingkat-tingkat untuk satu pertemuan. Selesai menyampaikan satu tingkat, misalnya setelah 10 menit, dia akan mengeluarkan soalan singkat yang dipakai untuk mengukur sejauh mana materi yang disampaikan sudah dipahami. Siswa menjawab soalan itu dengan menekan tombol remote controlnya. Dari jawaban lewat remote control itulah sipengajar memutuskan apakah harus mengkaji ulang materi yang tadi diberikan atau bisa melanjutkan ke tingkatan materi selanjutnya.

Kalau apple ipod, itu digunakan untuk mencatat kuliah dari pengajar, baik suara maupun data. Ngga ada yang aneh, cuma menggantikan buku dengan ipod saja. Pelajar ngga perlu datang, cukup taruh ipodnya di ruang kelas dan pergi ke tempat lain. Eh bisa sepi ya kelasnya.

Kalau e-learning dimaksudkan segala macam media elektronik yang dipakai sebagai alat bantu ajar, tentu ngga cuma internet atau komputer aja yang memenuhi syarat jadi media e-learning. Remote control dan alat pemutar musik pun akhirnya jadi media e-learning juga.

Jadi ingat dulu sewaktu masih SMP, ada suatu TV yang menjadi media e-learning. Tau lah nama TV  nya apa. Sampai sekarang pun, masing memakai singkatan TV yang sama, tapi isinya … masih dipakai belajar ngga ya?

Sadar tidak sadar, TV adalah media e-learning juga. Lalu pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari TV? Kekerasan? Haus kekayaan? Konsumerisme? ataukah Nasionalisme? Keinginan untuk maju dengan bekerja keras? atau ada yang lainnya?

Entah apa yang akan terjadi dengan bangsa Indonesia. Ketika learning atau bahkan media e-learningnya menyajikan materi pelajaran yang merubah budaya bangsa menjadi lebih …. lebih apa coba? Kalo saya sih sebagai bagian dari bangsa ini, maunya jadi bangsa yang lebih baik. Tapi, apakah mungkin dengan materi belajar yang kita dapatkan dari TV sekarang menjadikan kita bangsa yang lebih baik?

  • Share/Bookmark

Bongkar Pasang E-Learning

Monday, June 16th, 2008

Pada dasarnya, pembelajaran langsung maupun tidak langsung hanyalah perangkat saja. Fungsinya adalah membantu proses belajar mengajar yang hasilnya lebih banyak ditentukan oleh pengajar dan peserta ajar, bukan medianya. Proses yang memakai peralatan tradisional seperti kapur dan papan tulis belum tentu tidak lebih baik daripada yang memakai teknologi IT terbaru seperti e-learning. Anyway, tidak ada salahnya mencoba berbagai macam metoda untuk melihat mana yang memberi hasil lebih baik. Proses coba mencoba inilah yang saya akan coba sampaikan, terutamanya memakai teknologi e-learning.

Saat itu, saya sedang giat-giatnya mencari sesuatu yang baru. Mungkin saja hal baru ini dapat membantu proses belajar mengajar di tempat saya mencari makan hehehe. Tahun 2004 saya mencoba berbagai macam perangkat lunak baru untuk membantu proses belajar mengajar melalui jaringan komputer ataupun melalui internet.

Berkelanalah saya mencari software Course Management System seperti Moodle, Blackboard, dan kawan-kawannya baik yang gratis maupun berbayar. Ternyata setelah mencari dan mencoba fitur sekian banyak CMS, moodle yang gratis mendapat tempat yang terbaik. Akhirnya saya coba implementasikan untuk dipakai teman-teman yang lain dalam membantu proses belajar mengajar. Tapi ternyata, ngga bisa jalan karena ngga ada komitmen baik dari pengurus sekolah maupun pengajar untuk menggunakan software ini. Apalagi, ngga bisa langsung pakai begitu saja. Perlu sedikit oprekan bagi pengajar supaya bisa memaksimalkan penggunaan softwarenya. Mungkin perlu diadakan pelatihan penggunaan software ini dulu (tentunya setelah ada komitmen untuk mendayagunakan software yang dimaksud).

Beberapa perguruan tinggi yang sebelumnya menggunakan software CMS berbayar seperti blackboard juga mulai berpindah ke moodle, kalau ingin mencari bandingan. Contohnya tempat sekolah saya sekarang ini di Universiti Teknologi Petronas. Sekarang tingkat oprekan administrator e-learning dan pengajar memakai moodle ini sudah cukup tinggi. Soalnya dari materi kuliah, test, quiz, dan penilaian dapat langsung dilakukan dalam moodle. Bahkan forum untuk berkomunikasi antar civitas suatu kuliah bisa dilakukan juga. Hmm, sempat kepikiran sih, kalau menambah lagi fasilitas instant messaging seperti jabber yang gratis untuk menambah lagi kemampuan moodle. Tapi sekarang sih sudah ngga mikirin lagi, soalnya kembali ke pengajar dan yang diajar sih. Pake metoda klasik juga ngga papa deh asal hasilnya maksimal.

Setelah bosan dan gagal percobaan moodle nya, beberapa pengajar ingin membuat suatu sistem belajar aktif memakai teknologi IT. Kali ini persyaratannya adalah bisa dipakai untuk belajar atau bekerja bersama memecahkan suatu studi kasus dengan kemampuan menyimpan semua perubahan yang dilakukan. Misalnya gini, kalau di moodle setiap kali materi kuliah di update, materi yang lama akan otomatis terhapus. Yang dicari adalah model wiki, dimana setiap kali perubahan dilakukan materi yang lama tetap akan tersimpan dan bisa dilihat lagi sebagai bahan pembanding.

Kalau wiki ini saya coba beberapa software dan buatan wikipedia yang akhirnya menjadi pilihan. Kenapa? Karena wikipedia kan salah satu wiki terbesar di dunia. Jadi kalau nanti lulusan tempat saya harus adaptasi dengan sesuatu yang lebih besar, bisa lebih mudah. Percobaan dapat dilakukan dengan baik karena memang ada komitmen dari grup pengajar untuk menggunakannya di kelas. Beberapa kuliah sudah menggunakan software ini dalam satu semester. Setidaknya sebelum saya berangkat ke Malaysia, software ini masih digunakan. Entah kalau sekarang hehehe. Namanya juga bongkar pasang.

Kalau untuk anak-anak kecil, misalnya untuk anak saya, saya malah lebih tertarik dengan sekolah yang menggunakan alam sekitar sebagai sarana belajar. Misalnya sekolah alam bandung atau bogor. Atau yang memakai kondisi real entrepreneur seperti School of Universe itu lho (maaf, ga ada hubungan dengan blog ini). Tapi lagi-lagi, sarana pendidikan alternatif baik berupa e-learning dan alam adalah produk yang memerlukan biaya lebih yang mungkin membuat orang memilih menerima pendidikan dengan sarana apa-adanya. He he he, ortu juga sibuk nyari uang, yang penting kewajiban mendidik anak sudah terbayar, gitu kali ya. Pengajar bongkar pasang metoda juga ngga pada peduli, yang penting anaknya lulus dan dapat kerja.

  • Share/Bookmark