“Uwak Semar sih enak hidupnya. Anak sudah lepas dan bisa cari makan sendiri. Rumah bertebaran di mana-mana. Mau pergi sudah ada mobil mewah dengan supir yang siap mengantarkan. Pokoknya, uang sudah ngga jadi masalah. Ngga kaya saya ini, hidup masih susah”
“Wah, ya ngga gitu lho Mas Iman. Kata siapa hidup Mas Iman masih susah. Kelihatannya sih, masih baik-baik saja.”
“Baik-baik saja gimana? Sekarang hidup saya tambah susah wak. Semenjak kenaikan BBM. Dulu saya biasanya bisa seminggu sekali jalan-jalan dengan keluarga. Makan daging setiap hari. Sekarang? Jangankan seminggu sekali. Sebulan sekali juga belum tentu bisa jalan-jalan Wak. Makan daging cuma tiga hari sekali. Hidup tambah susah.”
“Mas Iman baru melihat saya sekarang saja sih. Kalau melihat saya dulu sewaktu seumuran mas Iman, pasti merasa bersyukur dengan yang udah ada sekarang.”
“Ah, ngga mungkin Wak Semar hidup susah.”
“Eh ngga percaya. Dulu, saya jarang-jarang dapat uang banyak. Begitu dapat uang yang cukup banyak, saya belikan minyak tanah dan beras. Mikirnya, ya kalo ngga dapat uang lagi setidaknya masih bisa makan pakai beras. Kalau untuk lauknya, nyari lagi setiap hari.”
“Bohong nih Wak Semar”
“Bener mas. Jaman dulu tuh lebih susah dari jaman sekarang. Coba saja, baca novel-novel terbitan jadul. Sudah dari dulu bangsa ini menderita. Rakyatnya melarat di tengah kekayaan negerinya.”
“Tapi kan, ngga seganas sekarang Wak. Korupsi di mana-mana”
“Kata siapa? Coba kamu cari novel-novel yang dulu dibreidel. Isinya ya gitu, menceritakan kebobrokan para penguasa. Dari mulai korupsi, main perempuan, dan main kayu. Makanya, sekarang mas Iman harus bersyukur. Hidup susah aja, masih bisa makan pakai lauk. Masih bisa jalan-jalan sebulan sekali. Dulu mana bisa”
“Tapi tetep wak, hidup ini makin susah”
“Tenang saja Mas. Buat yang mau berusaha, insya Alloh ada jalannya. Tapi memang harus pasrah. Pertolongan Tuhan itu, kadang-kadang ngga tau dari mana datangnya. Tapi selalu ada di saat yang paling kita butuhkan.”
“Oh gitu ya Wak. Baiklah akan saya coba berjuang”
“Begitu dong, itu baru namanya anak muda. Insya Alloh nanti sudah tua bisa hidup senang macam saya ini, hehehe”
Semar mesem lagi.
semar mesem? wah, kayaknya pak iwan memang sedang m\ngefans berat sama tokoh semar, yak? kapan2 diceritakan dong pak lakon semar versi sunda, yang wayang golek ituh?
maaf Pak Sawali, saya ngga terlalu tau cerita wayang golek. Paling cuma nonton selewat aja, kalo pas ada cepot (bagong) yang lucu-lucunya hehehe.
Gara-gara sunatan dikasih tontonan wayang golek.
Yang penting ikhlas menghadapi semuanya, berusaha dan berdoa….sesulit apapun dengan iman dan doa hidup kita akan tenang.
The life is problems, problem must be solved; apa sih enaknya hidup ini kalau tidak ada masalah? Tapi, jagang usahakan bermasalah he he
enak kali ye kalo ngga bermasalah. Sayangnya, ngga ada hidup tanpa masalah. Orang malah bisa lebih hidup setelah dilibat masalah.
He..he…saya masuk tadinya dari comen kamu di pak ersis…yang bilang jaman dulu belum ada AC….karena nalisanya, saya kira jenis mahasiswa eksak…e…didalamnya banyak ceritanya…..
waduh pak, blognya banget-banget bagus. ceritanya kok hampir mirip lakon sayah sekarang ? dan karena tak terhindarkan jadinya saya sekarang “mencoba menjalani hidup dengan ikhlas”…
Ya namanya juga manusia mascayo, masalahnya itu-itu aja, cuma ada sedikit variasi. Cuma cara menghadapinya aja yang beda