Entries RSS Comments RSS

Lawan dan Balas

“Hu hu hu hu, hiks hiks”

“Kenapa Cu, koq pulang sekolah malah nangis”

“Tadi di sekolah dipukulin sama teman”

“Teman laki atau perempuan”

“Teman laki-laki”

“Lho koq, anak laki-laki mukul anak perempuan”

“Iya, dia emang orangnya nakal, suka mukul dan nendang orang lain. Apalagi sama perempuan”

“Jangan diam aja atuh, dilawan dan dibalas”

“Aku kan perempuan, kalah tenaga sama anak laki-laki”

“Alah, pake cara apa aja deh. Pokoknya dilawan. Teriak yang kencang, biar jadi perhatian. Sini kakek ajarin cara mukul dan nendangnya”

Selama seminggu si cucu di ajarin berkelahi oleh kakeknya. Kali ini saat istirahat, dia diganggu lagi oleh teman pembulinya.

Ctak, dijitak.

“Heeeh, elo berani-beraninya ya ngejitak pala gue. Bokap gue aja ngga pernah nyentil apalagi mukul. Kurang ajar loe ye”

Keluarlah semua jurus yang dipelajari dari kakeknya. Tidak lupa juga teriakan-teriakan yang lantang dari mulut perempuan. Jelas saja jadi perhatian semua orang. Ternyata si pembuli tidak bisa melawan karena ngga konsentrasi dengan pukulan, tendangan, teriakan, dan perhatian orang ramai.

Gubrakkkk, dia terjengkang kena pintu.

Gubrakk lagi, dia terlempar ke lapangan sampai berdarah tangannya terkenal semen keras.

“Ampun-ampun” Akhirnya dia menyerah kalah. Setelah itu dia ngga pernah berani lagi mengganggu cucu si kakek. Kalo ke orang lain sih masih, karena ternyata pembuli selalu bisa menemukan orang yang ngga berani melawan.

Maka itu: LAWAN dan BALASLAH !!!

  • Share/Save/Bookmark

10 Responses to “Lawan dan Balas”

  1. wah, asalkan nggak pakai pedang masih bisa dimaklumi, pak, hehehe :lol: kalau bawa pedang ramai2 bawa banyak orang dan main keroyokan, walah, nggak ksatrian itu namanya, hehehehe :lol:

  2. Guh says:

    Pelajaran yang aneh.
    “Lawan dan balas” saja tak cukup, si pembuli terus mencari korban lain. Harusnya si kakek mengajarkan “LAWAN DAN BUNUH”, dengan itu akan banyak anak-anak yang terselamatkan.

  3. Kalo korban lain, itu bukan urusan si Kakek. Itu sudah jadi urusan masing-masing. Anak kecil seperti si cucu, tidak diharapkan bisa memecahkan permasalahan masyarakat. Cukup saja dia bisa memecahkan masalahnya sendiri, ngga nyusahin orang lain.
    Prinsipnya “Save yourself, then if you could save other” kalo ngga, ya ngga usah dipikirkan. Sedikit selfish ya.

  4. hanggadamai says:

    asal jangan jadi dendam aja ya pak..

  5. Rafki RS says:

    Balas apa enggak ya? Soalnya yang mukul tuh perempuan.

  6. edratna says:

    Anak-anak memang harus diajari melawan jika dipalak (diporoti) atau diganggu teman…agar penganggu kapok. Kalaupun kalah, dengan teriakan dan keributan, akan banyak orang yang datang dan pelaku bulying tak berani melakukan pada anak kita.

  7. Yari NK says:

    Wah pengalaman pribadi ya pak?? Waktu kecil dulu suka dibuliin sama anak perempuan ya?? :mrgreen:

  8. Bukan pengalaman pribadi. Ini masalah serius anak sekarang. Maklum deh, yang lagi punya tiga anak kecil. Harus mempersiapkan anak sejak dini, supaya tidak membuli dan dibuli.

  9. manusiasuper says:

    Tapi, takuut,,,, Jadi mungkin, sebelum korban melawan dan membalas, yang bukan korban membantu dan memberikan dorongan agar korban membalas, yah, seperti si kakek,…

  10. CY says:

    Saya jadi berpikir, apakah guru2 sekarang hanya jadi pajangan saja di sekolah?? Masa anak didiknya di buli kok ga tau.
    Jadi gini, pertama lapor dulu ke guru. Setelah laporan tidak ditindak-lanjuti, baru hajar babak belur tuh pembuli.

Leave a Reply