“Hu hu hu hu, hiks hiks”
“Kenapa Cu, koq pulang sekolah malah nangis”
“Tadi di sekolah dipukulin sama teman”
“Teman laki atau perempuan”
“Teman laki-laki”
“Lho koq, anak laki-laki mukul anak perempuan”
“Iya, dia emang orangnya nakal, suka mukul dan nendang orang lain. Apalagi sama perempuan”
“Jangan diam aja atuh, dilawan dan dibalas”
“Aku kan perempuan, kalah tenaga sama anak laki-laki”
“Alah, pake cara apa aja deh. Pokoknya dilawan. Teriak yang kencang, biar jadi perhatian. Sini kakek ajarin cara mukul dan nendangnya”
Selama seminggu si cucu di ajarin berkelahi oleh kakeknya. Kali ini saat istirahat, dia diganggu lagi oleh teman pembulinya.
Ctak, dijitak.
“Heeeh, elo berani-beraninya ya ngejitak pala gue. Bokap gue aja ngga pernah nyentil apalagi mukul. Kurang ajar loe ye”
Keluarlah semua jurus yang dipelajari dari kakeknya. Tidak lupa juga teriakan-teriakan yang lantang dari mulut perempuan. Jelas saja jadi perhatian semua orang. Ternyata si pembuli tidak bisa melawan karena ngga konsentrasi dengan pukulan, tendangan, teriakan, dan perhatian orang ramai.
Gubrakkkk, dia terjengkang kena pintu.
Gubrakk lagi, dia terlempar ke lapangan sampai berdarah tangannya terkenal semen keras.
“Ampun-ampun” Akhirnya dia menyerah kalah. Setelah itu dia ngga pernah berani lagi mengganggu cucu si kakek. Kalo ke orang lain sih masih, karena ternyata pembuli selalu bisa menemukan orang yang ngga berani melawan.
Maka itu: LAWAN dan BALASLAH !!!
wah, asalkan nggak pakai pedang masih bisa dimaklumi, pak, hehehe
kalau bawa pedang ramai2 bawa banyak orang dan main keroyokan, walah, nggak ksatrian itu namanya, hehehehe
Pelajaran yang aneh.
“Lawan dan balas” saja tak cukup, si pembuli terus mencari korban lain. Harusnya si kakek mengajarkan “LAWAN DAN BUNUH”, dengan itu akan banyak anak-anak yang terselamatkan.
Kalo korban lain, itu bukan urusan si Kakek. Itu sudah jadi urusan masing-masing. Anak kecil seperti si cucu, tidak diharapkan bisa memecahkan permasalahan masyarakat. Cukup saja dia bisa memecahkan masalahnya sendiri, ngga nyusahin orang lain.
Prinsipnya “Save yourself, then if you could save other” kalo ngga, ya ngga usah dipikirkan. Sedikit selfish ya.
asal jangan jadi dendam aja ya pak..
Balas apa enggak ya? Soalnya yang mukul tuh perempuan.
Anak-anak memang harus diajari melawan jika dipalak (diporoti) atau diganggu teman…agar penganggu kapok. Kalaupun kalah, dengan teriakan dan keributan, akan banyak orang yang datang dan pelaku bulying tak berani melakukan pada anak kita.
Wah pengalaman pribadi ya pak?? Waktu kecil dulu suka dibuliin
sama anak perempuanya??Bukan pengalaman pribadi. Ini masalah serius anak sekarang. Maklum deh, yang lagi punya tiga anak kecil. Harus mempersiapkan anak sejak dini, supaya tidak membuli dan dibuli.
Tapi, takuut,,,, Jadi mungkin, sebelum korban melawan dan membalas, yang bukan korban membantu dan memberikan dorongan agar korban membalas, yah, seperti si kakek,…
Saya jadi berpikir, apakah guru2 sekarang hanya jadi pajangan saja di sekolah?? Masa anak didiknya di buli kok ga tau.
Jadi gini, pertama lapor dulu ke guru. Setelah laporan tidak ditindak-lanjuti, baru hajar babak belur tuh pembuli.
salam, apa betul “lawan dan balas” udah cukup…?
, pas saya ke sekolah, pada gelayutan di rok saya, mo minta kenalan tuh anak2 prempuan… ckckck, zaman skrg!
give me suggest please… anak saya yg baik hati, pinter & pendiam sering lebam2 pulang sekolah, yg katanya “dibuli” tmnnya. Udah dibales, trus temannya bales lagi, makanya sampe luka2. Udah dilaporkan ke guru, malah terus2an terulang lagi, si guru bilang harus maaf2an…nah, trusss, kalo’ guru marah2in “yg gebuk2an”, malah anak saya yg dimarahin karena tmn2nya pada “nunjuk” bhw dia yg mulai… Udah biasa memfitnah tuh anak2. Di rumah, saya sudah ajak ngobrol, anak saya ngotot gak pernah mulai main pukul2an… kyknya harus pindah skul neeh… Pembulian itu mungkin karena anak saya satu2nya orang “asing”(baca : Indonesia) di tanah Melayu (baca : malesiya), dan mungkin karena anak saya yg paling ganteng hihihi… karena anak perempuannya juga ngebuli,
Ya, gitu deh. Anak teman saya juga seperti itu, sering diambil barang-barangnya. Tapi karena dia juara 1, sekarang sudah berkurang tuh.
Buli-bulian, bukan hanya ada di Malaysia. Kawan saya dulu menyekolahkan anaknya di Indonesia juga kena buli, sampai ada yang harus memindahkan sekolah anak sampai pindah rumah. Malah, pas sekolah di Malaysia dia lebih senang karena ga ada yang berani buli, soalnya dia sekolah di swasta. 1 kelas hanya ada 16 orang, dan gurunya juga galak. Awalnya memang ada yang buli, tapi sekali kena buli yang membuli dimarahi oleh gurunya. Jadi sekarang ga ada yang buli lagi, lebih aman daripada Indonesia katanya.