Entries RSS Comments RSS

Archive for July, 2008

Perjalanan Ke Indonesia Tercinta

Sunday, July 20th, 2008

Blug, jam 2 pagi terbangun. Hati ngga tenang, karena besok pagi adalah perjalanan panjang menuju Indonesia tercinta setelah dua tahun berkelana di negeri orang. Baru bisa tidur lagi setelah jam setengah empat pagi.

Teng tong, pagi jam 6 sudah bangun. Beberes biar semua siap. Barang-barang sih sudah disiapkan jauh hari. Beratnya tas travel yang dibawa. Semua siap berangkat jam setengah sembilan pagi. Dari rumah di antar oleh dua orang teman. Satu mobil bawa tas travel, istri, dan aku. Satu lagi bawa anak-anak.

Sampai di terminal bis, belum datang bisnya. Ternyata banyak orang yang pergi ke Kuala Lumpur bareng bisku. Ada dua puluh dua tiket. Bis cukup penuh. Bahkan semua tempat duduk terisi setelah tempat pemberhentian ketiga. Dari terminal bis berangkat jam 9 pagi.

Wuaah, lamanya perjalanan ke KL. Lebih lama dari perjalanan KL Jakarta. Badan cape, istirahat dulu di hotel setengah hari. Bayarannya sih sama, satu hari hehehe. Istriku jalan-jalan sendiri di Petaling Street. Ribet katanya kalo bawa anak-anak kecil tiga orang. Penat, tapi puas katanya. Ngga ada apa-apa sih. Masih lebih bagus Bandung.

Jam 8.20 malam, sudah siap keluar dari hotel. Dipesenin taxi oleh petugas hotel. Tapi taxi datangnya lama banget. Jam 9.05 baru datang. Sempet khawatir ngga keburu check in. Tapi taxi ngebut dan sampai di Bandara LCCT jam 10.05 malam. Check in dan ternyata setelah ditimbang, travel bag kelebihan sekilo. Dipindahin dulu deh ke tas kabin. Lalu nunggu pesawat.

Eh pesawat terlambat. Padahal itu sudah di delay dua jam. Jadwal semula jam 9.30 malam jadi 11.30 malam. Pesawat dari Jakarta datang terlambat, jam 12 baru berangkat. Kasihan yang nunggu di Jakarta. Tapi anak-anak senang karena bisa lihat lampu kota dari atas udara. Mereka tidur setelah pesawat steady.

Lapar, pesen mi ABC cup. Satunya 13.000. Berapa ya aslinya? Saat itu ngga ada duit rupiah di kantong. Malas kokoreh dari dalam tas di kabin. Kata petugasnya boleh koq bayar pake ringgit. Beli tiga, total 39.000. Bayar 50 ringgit, eh dikembalikan 58000. Satu ringgit = 3000. 150.000 kembali 58.000 untuk 3 cup mie? Rugi bandar. Terpaksa kokoreh tas, ambil uang rupiah. Minta balikin uang ringgitnya.

Sampe di Jakarta jam 1 malam. Anak-anak sudah segar lagi. Aku nih yang teler. Kurang tidur. Akhirnya sampe di rumah ortu jam 3 pagi. Langsung tidur, sampe jam 6 pagi. Sebenernya udah bangun sih jam 5, sholat doang terus tidur lagi.

Siangnya beli nomor hp Indonesia. Terus camer adikku datang dengan keluarga. Ngobrol sana-sini sampe makan siang. Setelah mereka pulang, kami siap-siap pergi ke Bandung. Jam 3 berangkat, dan sekarang saya sudah di rumah mertua menikmati dinginnya Bandung. Biasanya di tronoh, 33 derajat celcius. Sekarang, di Bandung 18 derajat. Dinginnya, ngga perlu AC lagi deh.

Seneng banget bisa balik lagi di Indonesia. Jalan lebar, mulus, dan kosong sekarang sudah digantikan dengan jalan sempit, berlubang, dan macet. Ngga papa, ini Indonesia bung, katanya. Hopefully, sehat dan bahagia sampe balik lagi ke Malaysia.

  • Share/Bookmark

Aku Pulang

Friday, July 18th, 2008

Aku Pulang, dari rantau bertahun-tahun di negeri orang

Oh Malaysia

Akhirnya setelah hampir dua tahun ngga pulang ke Indonesia, besok 19 Juli 2008 aku pulang sebentar. Semua keluarga dibawa. Menghabiskan hampir setengah tabunganku hehehe. Tapi biarlah, itu berbaloi. Soalnya pulang dalam suasana khusus, pernikahan adik saya.

Semua keluarga siswa seangkatan atau yang di atas saya yang sudah lama ada di Malaysia sudah pernah pulang ke Indonesia. Sekali atau dua kali. Bahkan ada yang setahun dua kali. Pulangnya sampai satu bulan penuh. Aku sih, cuma dua minggu saja. Soalnya kuliah semester ini sudah mulai berjalan Senin depan.

Kuliahku belum selesai. Belum tau juga kapan selesainya. Tapi insya Allah, begitu selesai aku akan langsung pulang. Sebenarnya, kata teman-temanku bekerja di sini sangat menggiurkan. Beberapa lulusan universitasku langsung diterima di Petronas, bagian riset, dengan gaji yang mencapai 45 juta rupiah sebulan. Wah, gajiku dua tahun juga ngga sampe segitu. Gimana, tergiur ga?

Bahkan sudah ada yang berancang-ancang untuk tidak segera kembali. Padahal mereka sudah teken kontrak kembali bekerja di Indonesia. Maklumlah, seperti aku, mereka juga dapat gaji bulanan meskipun ngga bekerja. Tapi itu urusan masing-masing. Aku sih, takut kalo uang yang sudah didapat malah jadi tidak halal karena gagal melaksanakan kewajiban. Uangnya sih menggiurkan, tapi takut kalo jadi sesuatu yang tidak baik di masa depan. Bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk keluargaku, terutama anak-anak. Sudah banyak contoh nyata, orang-orang yang mencari harta tidak halal memiliki keluarga yang berantakan. Aku ngga mau.

Rizki itu bisa dicari di mana saja. Ngga harus di Malaysia. Yang penting cukup untuk semua kebutuhan. Perlu uang untuk sekolah anak, ada. Perlu uang untuk makan, ada. Perlu uang untuk beli rumah, ada. Perlu uang untuk naik haji, ada. Entah gimana deh nanti caranya, yang penting halal.

Pulang pulang pulang. Meskipun belum tau rumahnya dimana, soalnya belum mampu beli rumah sendiri sih. Tapi yang penting, begitu mau tidur, ada tempat untuk tidurnya, iya ngga?

  • Share/Bookmark

Catatan Hati Seorang Istri

Friday, July 11th, 2008

“Aku mual membaca buku ini”

Begitu kata seorang teman istriku.

“Ih kepala ini rasanya jangar, pusing tujuh keliling pas baca buku ini. Apa kayak gitu ya kelakuan para suami?”

Itu kata istriku setelah membaca buku “Catatan Hati Seorang Istri” karya Asma Nadia, terbitan Lingkar Pena Publishing dan didistribusikan oleh Mizan. Isinya tentang kelakuan para suami kurang ajar, yang menikah bukan cuma sekali. Tentu saja, membuat para istri atau calon istri yang membacanya merasa sebel, marah, muak, dan bimbang.

Saya ngga baca semua cerita dalam buku ini. Cuma baca cerita di bagian depan saja, tentang Pak Haris yang berterus terang kalau dia ingin menikah adalah karena dia cinta wanita itu. Bukan karena sunnah Rosul atau alasan klise lainnya. Kenapa ngga saya baca semua? Takut terinspirasi hehehe.

Biarlah sekarang saya menjadi suami yang setia dengan satu istri. Satu istri yang ini saja sudah berlimpah-limpah kebahagiaannya buat saya. Dengan tiga anak yang sudah menjadi buah hati kami, apa lagi sih yang dicari? Kan kegiatan kehidupan ini ngga cuma sekedar menyalurkan nafsu saja. Masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan dengan satu istri dan tiga anak.

  • Share/Bookmark

Anak Pilihan

Friday, July 4th, 2008

Keluarga Nano, punya tiga orang anak. Anak pertama dan kedua sangat rajin belajar. Mereka terkenal sebagai anak yang pintar di sekolahnya. Sedangkan anak yang bungsu, biasa-biasa sajalah. Cenderung tidak suka belajar malah. Karena itu, anak bungsu ini sering kena marah oleh orangtuanya.

“Budi, kamu ini gimana sih. Koq ngga belajar kayak kakak kamu. Masa kamu ngga sepintar kakak kamu. Memangnya kamu ngga malu, ngga setanding dengan kakak?”

“Ah, biarin aja Bu. Belajarnya kan udah, di sekolah. Di rumah sih cuma buat ngerjain PR aja. Udah deh, sini Budi bantuin ngebersihin rumah dan cuci piring.”

Begitulah Budi, si anak ketiga tadi. Daripada belajar, dia lebih suka mengurus pekerjaan rumah. Meskipun keluarga itu tidak punya pembantu, si ibu bisa sedikit leluasa karena ada bantuan Budi. Sedangkan dari kakak yang lain tidak pernah ibu meminta bantuan. Melihat prestasi mereka di sekolah, ibu memahami kalau mereka tidak membantu.

“Ibu, Bapak, tolong belikan aku gitar dong. Aku mau belajar musik nih”

“Ah kamu ini, bukannya belajar yang baik malah belajar musik. Lihat tuh kakak mu yang lain, ngga bisa musik juga masa depan mereka cerah. Selalu berprestasi di sekolah dan bakalan gampang dapat kerja yang bagus. Kalau kamu main musik, masa depan macam apa yang kamu harapkan”

Budi tidak kecewa meskipun tidak dibelikan gitar. Sedikit-demi-sedikit Budi mengumpulkan uang jajannya supaya bisa beli gitar. Kakak-kakaknya tidak pernah kesulitan mendapatkan barang apapun yang mereka inginkan. Biasanya, mereka bisa minta apa saja setelah pembagian rapor. Maklum deh, juara satu.

Setelah besar, kakak-kakak Budi melanjutkan ke perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Tentu saja orangtuanya bangga dengan prestasi mereka. Apalagi setelah mereka mendapatkan beasiswa, bahkan sampai sekolah ke luar negeri.

Budi berbeda, selepas SMA Budi ingin menjadi seniman. Pemusik. Tentu saja orangtuanya marah.

“Kamu ini apa-apaan. Sudah susah-susah kami membesarkan kamu supaya kamu jadi orang pintar. Supaya kamu sekolah yang benar. Supaya kamu bisa dapat kerjaan yang bagus. Eh sekarang kamu mau jadi pemusik. Ga boleh”

Budi senyum saja. Ini pilihan hidupnya.

“Ngga apa-apa lah Bu, Pak. Rizki kan Tuhan yang atur. Insya Allah dengan bermusik pun aku akan bisa hidup bahagia.”

“Ngga boleh!!! Kalau kamu masih membantah juga, lebih baik kamu pergi dari sini. Bapak ngga mau lihat wajah kamu lagi.”

Wah, si Budi dan juga ibunya sedih karena dia diusir. Tapi bagaimana lagi. Bukannya Budi ingin melawan orangtuanya. Tapi ini jalan hidup yang dipilihnya. Insya Allah, dia juga tidak akan menyia-nyiakan orangtuanya yang telah membesarkan dirinya dengan baik sehingga bisa membuat pilihan hidup sendiri.

Budi pergi dari rumah itu, untuk menjadi seniman. Pemusik. Yah memang tidak seberapa hasilnya. Tapi masih bisa dipakai untuk nyicil rumah dan menikah. Meskipun sudah diusir, tapi Budi masih sering datang ke rumah. Sekedar bantu-bantu ibunya yang sekarang kesepian setelah semua anaknya berada di luar. Bapaknya juga masih merengut, tapi hatinya sudah cair. Kadang masih suka bercanda-canda.

Kakak-kakak Budi sudah kembali dari belajar di luar negeri dan bekerja diperusahaan bonafide dengan gaji puluhan kali pendapatan Budi. Mereka juga sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya. Sibuknya mereka pergi pagi pulang malam untuk bekerja. Jangankan mengunjungi orangtua, untuk keluarganya saja sudah sangat sedikit waktu yang bisa disediakan.

Suatu hari, Bapak si Budi terserang stroke. Akibatnya dia tidak bisa mengerjakan keperluannya sendiri. Semua pekerjaan harus dibantu, termasuk yang jorok-jorok seperti membuang air kecil dan besar. Kakak-kakak si Budi tidak ada yang sempat membantu. Maklum, mereka harus menjaga karir mereka. Paling banter mereka bisa mengupah perawat untuk melakukan tugas-tugas kotor itu. Tapi ngga ada perawat yang sabar. Bapak Budi selalu merasa tidak enak, melihat raut muka perawat yang selalu terlihat jijik ketika membersihkan dirinya. Akhirnya semua perawat itu dipulangkan. Ibu Budi sendiri sudah tua, tidak ada cukup tenaga untuk melakukan pekerjaan itu.

Suatu hari, Budi dan keluarganya datang lagi ke rumah.

“Bapak, ibu. Aku dan keluarga mau tinggal di sini supaya bisa mengurus Bapak dan Ibu.”

“Lho, bagaimana dengan pekerjaan kamu nak?”

“Tenang saja, masih banyak waktu luang koq. Insya Allah ngga akan mengganggu. Lagipula, kalau aku ngga ada istri dan anakku juga bisa membantu kakek neneknya”

Bapak Budi merasa terharu. Kelihatan si Budi dan keluarganya tidak pernah merasa jijik untuk membantu dirinya. Mereka selalu mengerjakan keperluan si Bapak dengan senyuman dan keikhlasan. Betapa dulu, si anak yang dianggap cacat keluarga ini ternyata adalah anak yang diimpikan oleh semua orangtua. Anak yang berbakti, sampai akhir hayatnya.

Pesan: Ini cerita beneran dari keluarga teman.

  • Share/Bookmark

Santet

Tuesday, July 1st, 2008

“HI hi hi, hahaha”

Dua orang Kakak beradik ini senang sekali bermain kuda-kudaan di atas kasur. Mereka tertawa-tawa riang sampai akhirnya: Jeduk. Si adik terjengkang ke belakang dan terjeduk ke dinding. Mereka berdua diam. Si adik tidak menangis, tapi matanya mulai layu seperti mau tidur.

“Papaaaaa, Mamaaaaaaaa, takuuuuuuut”, si kakak berteriak memanggil kedua orangtuanya.

Kedua orangtua kaget melihat si adik seperti tertidur sambil senderan di tembok.

“Kenapa adikmu sayang. Adik, adik, bangun sayang”

“Cepat kita bawa ke rumah sakit!!” semua serabutan. Si kakak ditinggal di rumah sementara adiknya dibawa ke rumah sakit.

Rumah sakit terdekat adalah sebuah rumah sakit swasta. Tak apa, meskipun sangat mahal dibandingkan dengan penghasilan si Bapak yang cuma menerima order ketikan dan fotokopian, yang penting anaknya diharapkan bisa sehat. Ternyata dia gegar otak dan harus dirawat. Ibu dan Bapaknya tidak bisa menunggui setiap saat karena harus bekerja banting tulang, memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harapannya di rumah sakit bisa terawasi dengan baik oleh perawat, sampai akhirnya si adik cerita.

“Mama, papa, tadi aku dimarahi suster karena ngga bisa makan sendiri”

“Hah, apa! Mana kepala suster, saya mau lapor. Masa anak saya dimarahi. Anak saya ini sedang sakit, ditinggal di sini biar bisa dirawat dengan baik. Kalo begitu lebih baik saya bawa pulang saja.”

Akhirnya si adik dibawa pulang kembali. Dan tak lupa si perawat yang marah dipecat.

Tak berapa lama kemudian, giliran si ibu yang sakit-sakitan. Sudah dibawa ke dokter, periksa ini, itu, sampai rontgen katanya ngga ada apa-apa. Tapi kenapa jadi amuk-amukan dan sering muntah darah? Aaaah, ini kata orang-orang kena santet !!!!

Si Bapa ngga bisa berbuat apa-apa. Menurutnya, santet itu perbuatan musyrik dan hanya berserah kepada Tuhan saja yang bisa menolong istrinya. Sudah lama berdoa, tak kunjung sembuh juga. Kedua anaknya terpaksa dititipkan kepada keluarga yang lain karena takut melihat darah dan amukan ibunya kalau sedang kambuh.

Si ibu juga merasa khawatir, karena anak-anaknya masih kecil. Siapa nanti yang akan menjaga dan mendidik mereka? Dia ingin sembuh, tapi ngga tau harus berobat kemana. Dokter yang super jago saja tak mampu mengobatinya. Sampai suatu hari datang temannya.

“Ayo kita cari obatnya”

“Tapi dimana? Aku takut musyrik”

“Berdo’alah, mudah-mudahan obat yang kita cari terhindar dari kemusyrikan”

Lalu mereka berdua berangkat bersama. Catatan alamat yang pertama dicari-cari. Katanya Bapak ini orang sakti yang bisa menyembuhkan sakit santet. Tapi kenapa dicari mutar-mutar ngga ketemu?

“Sudahlah, mungkin bukan lewat Bapak itu kamu akan sembuh. Kita cari lagi yang lain. Ini ada alamat nenek tua”

Eh ternyata gampang sekali menemukan rumah nenek tua ini. Ngga pake nanya kiri kanan, langsung ketemu dengan rumahnya dan disambut di depan pintu dengan hangat.

“Kamu mau sembuh?”

“Iya nek”

“Kamu ingin balas?”

“Ngga nek, yang penting sembuh. Biar balasannya Allah yang tentukan”

“Bagus, kalo begitu nenek mau bantu. Ayo kita pergi ke rumah kamu”

Sesampainya di rumah, si bapak sudah menunggu dengan was-was. Tapi baru saja pergi sebentar untuk bekerja. Sekarang di rumah tak ada siapa-siapa, takut terjadi apa-apa terhadap istrinya.

“Kang, nenek ini ingin membantu”

“Tapi, saya takut musyrik”

“Berdoalah, kalau musyrik mudah-mudahan dipersulit. Kalau tidak, mudah-mudahan dipermudah”

“Kamu suaminya?”

“Iya nek”

“Cepat, belikan kepala muda. Kalau tidak istrimu sudah akan meninggal”

Si bapak segera pergi mencari kelapa muda. Dia ambil satu dan langsung dibawa ke rumah. Baru masuk pintu ternyata kelapa itu langsung meledak, Duaaaarrrrr. Kencang sekali.

“Beli lagi” Perintah si nenek.

Kali ini, sebelum masuk pintu rumah si nenek sudah memegang kelapa itu dan dibawa ke tengah kamar ibu. Di lempar ke lantai dan langsung meledak. Duarrrrr. Suaranya keras sekali. Airnya muncrat sampai atap rumah. Si nenek kokoreh dan mengambil sesuatu yang langsung dibungkus. Bungkusan di taruh di dekat sumur.

“Kalau ada yang mau ambil barang ini, kasihkan saja. Ingat kamu janji tidak membalas”

Si nenek pulang. Si teman pulang. Tinggal satu keluarga, ibu bapak dan anak-anaknya terdiam di rumah itu.

Malamnya, si Bapak mendengar suara dari dekat sumur. Ada bayangan hitam berkelebat. Bayangan hitam itu mengambil bungkusan dari dekat sumur dan pergi menghilang.

Esok harinya si ibu sudah membaik. Tidak lagi histeris dan muntah darah. Dia ingin berterima kasih kepada si nenek. Berangkat dengan suaminya mencari alamat nenek itu. Tapi muter-muter, ngga pernah ketemu lagi sampai sekarang.

Perawat yang dipecat itu pun besoknya datang dan minta maaf. Ya sudahlah, semua sudah terjadi mudah-mudahan ada hikmah yang bisa jadi pelajaran buat semua. Cerita selesai. Ini cerita sungguhan. Nyata. Bukan karangan, tapi sudah dikemas sedemikian rupa.

Untungnya di Indonesia, perang politik cukup pakai santet. Kalo ngga ada santet, mungkin sudah banyak korban bom berjatuhan macam di India dan Pakistan sana.

Tumbnail nyomot dari sini.

  • Share/Bookmark

Bosan dengan Acer Empowering

Tuesday, July 1st, 2008

Akhir-akhir ini, laptop Acer 4520 milikku sudah mulai ngadat. Nunggu windows siap aja, bisa sampe 5 menit lebih. Buka program udah mulai lambat. Virus menyerang dari kiri kanan. Ada apa gerangan?

Daripada cape install ulang seluruh program, mending pilah-pilih program yang akan di uninstall. Terutama sekali, program gratisan yang udah mulai ngadat atau memperlambat laptop. Salah 1, 2, 3, 4 nya adalah keturunan Acer Empowering.

Lagi pula, software tadi ngga seberapa banyak dipake. Misalnya, data security, e-lock, e-presentation so pasti ngga pernah dipake sama saya. Saya habisin aja ketiga-tiganya.

Selanjutnya adalah Power Management. Ini program salah bikin kayaknya. Masa, setiap kali nyalain atau matiin batere, wirelessku langsung terdisconnect. Emangnya gue cowok ganteng apaan, mesti bulak-balik enable wireless setiap satu jam sekali karena ngisi batere.

Setelah di uninstall, ternyata laptopku kembali sehat wal afiat. Boot up ngga lama, dan wireless ngga pernah putus lagi. Gitu dong seharusnya laptop bekerja. Apalagi sekarang Windowsnya sudah di update ke Service Pack 3, tambah kinclong dan kenceng.

Saran buat kawan-kawan: Kalo ngga butuh, buat apa dimiliki, iya ngga? So ngga perlu lah Acer Empowering Technology itu. Cukup pake software seadanya yang diperlukan saja. Okeh.

Btw, info terbaru di Malaysia dengan harga sama dengan sewaktu saya beli sekarang Acer 4520 sudah dilengkapi dengan prosesor yang lebih cepat, HD 160GB, RAM 1 GB, dan Windows Vista Home Basic Aseli cap Microsoft. Kalo ada yang mau nitip beliin, silahkan kirim uang 2000 ringgit Malaysia ke pundi-pundi saya. Nanti akhir Juli saya balik ke Indonesia (Bandung dan Jakarta), insya Allah.

  • Share/Bookmark