Entries RSS Comments RSS

Santet

Home

“HI hi hi, hahaha”

Dua orang Kakak beradik ini senang sekali bermain kuda-kudaan di atas kasur. Mereka tertawa-tawa riang sampai akhirnya: Jeduk. Si adik terjengkang ke belakang dan terjeduk ke dinding. Mereka berdua diam. Si adik tidak menangis, tapi matanya mulai layu seperti mau tidur.

“Papaaaaa, Mamaaaaaaaa, takuuuuuuut”, si kakak berteriak memanggil kedua orangtuanya.

Kedua orangtua kaget melihat si adik seperti tertidur sambil senderan di tembok.

“Kenapa adikmu sayang. Adik, adik, bangun sayang”

“Cepat kita bawa ke rumah sakit!!” semua serabutan. Si kakak ditinggal di rumah sementara adiknya dibawa ke rumah sakit.

Rumah sakit terdekat adalah sebuah rumah sakit swasta. Tak apa, meskipun sangat mahal dibandingkan dengan penghasilan si Bapak yang cuma menerima order ketikan dan fotokopian, yang penting anaknya diharapkan bisa sehat. Ternyata dia gegar otak dan harus dirawat. Ibu dan Bapaknya tidak bisa menunggui setiap saat karena harus bekerja banting tulang, memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harapannya di rumah sakit bisa terawasi dengan baik oleh perawat, sampai akhirnya si adik cerita.

“Mama, papa, tadi aku dimarahi suster karena ngga bisa makan sendiri”

“Hah, apa! Mana kepala suster, saya mau lapor. Masa anak saya dimarahi. Anak saya ini sedang sakit, ditinggal di sini biar bisa dirawat dengan baik. Kalo begitu lebih baik saya bawa pulang saja.”

Akhirnya si adik dibawa pulang kembali. Dan tak lupa si perawat yang marah dipecat.

Tak berapa lama kemudian, giliran si ibu yang sakit-sakitan. Sudah dibawa ke dokter, periksa ini, itu, sampai rontgen katanya ngga ada apa-apa. Tapi kenapa jadi amuk-amukan dan sering muntah darah? Aaaah, ini kata orang-orang kena santet !!!!

Si Bapa ngga bisa berbuat apa-apa. Menurutnya, santet itu perbuatan musyrik dan hanya berserah kepada Tuhan saja yang bisa menolong istrinya. Sudah lama berdoa, tak kunjung sembuh juga. Kedua anaknya terpaksa dititipkan kepada keluarga yang lain karena takut melihat darah dan amukan ibunya kalau sedang kambuh.

Si ibu juga merasa khawatir, karena anak-anaknya masih kecil. Siapa nanti yang akan menjaga dan mendidik mereka? Dia ingin sembuh, tapi ngga tau harus berobat kemana. Dokter yang super jago saja tak mampu mengobatinya. Sampai suatu hari datang temannya.

“Ayo kita cari obatnya”

“Tapi dimana? Aku takut musyrik”

“Berdo’alah, mudah-mudahan obat yang kita cari terhindar dari kemusyrikan”

Lalu mereka berdua berangkat bersama. Catatan alamat yang pertama dicari-cari. Katanya Bapak ini orang sakti yang bisa menyembuhkan sakit santet. Tapi kenapa dicari mutar-mutar ngga ketemu?

“Sudahlah, mungkin bukan lewat Bapak itu kamu akan sembuh. Kita cari lagi yang lain. Ini ada alamat nenek tua”

Eh ternyata gampang sekali menemukan rumah nenek tua ini. Ngga pake nanya kiri kanan, langsung ketemu dengan rumahnya dan disambut di depan pintu dengan hangat.

“Kamu mau sembuh?”

“Iya nek”

“Kamu ingin balas?”

“Ngga nek, yang penting sembuh. Biar balasannya Allah yang tentukan”

“Bagus, kalo begitu nenek mau bantu. Ayo kita pergi ke rumah kamu”

Sesampainya di rumah, si bapak sudah menunggu dengan was-was. Tapi baru saja pergi sebentar untuk bekerja. Sekarang di rumah tak ada siapa-siapa, takut terjadi apa-apa terhadap istrinya.

“Kang, nenek ini ingin membantu”

“Tapi, saya takut musyrik”

“Berdoalah, kalau musyrik mudah-mudahan dipersulit. Kalau tidak, mudah-mudahan dipermudah”

“Kamu suaminya?”

“Iya nek”

“Cepat, belikan kepala muda. Kalau tidak istrimu sudah akan meninggal”

Si bapak segera pergi mencari kelapa muda. Dia ambil satu dan langsung dibawa ke rumah. Baru masuk pintu ternyata kelapa itu langsung meledak, Duaaaarrrrr. Kencang sekali.

“Beli lagi” Perintah si nenek.

Kali ini, sebelum masuk pintu rumah si nenek sudah memegang kelapa itu dan dibawa ke tengah kamar ibu. Di lempar ke lantai dan langsung meledak. Duarrrrr. Suaranya keras sekali. Airnya muncrat sampai atap rumah. Si nenek kokoreh dan mengambil sesuatu yang langsung dibungkus. Bungkusan di taruh di dekat sumur.

“Kalau ada yang mau ambil barang ini, kasihkan saja. Ingat kamu janji tidak membalas”

Si nenek pulang. Si teman pulang. Tinggal satu keluarga, ibu bapak dan anak-anaknya terdiam di rumah itu.

Malamnya, si Bapak mendengar suara dari dekat sumur. Ada bayangan hitam berkelebat. Bayangan hitam itu mengambil bungkusan dari dekat sumur dan pergi menghilang.

Esok harinya si ibu sudah membaik. Tidak lagi histeris dan muntah darah. Dia ingin berterima kasih kepada si nenek. Berangkat dengan suaminya mencari alamat nenek itu. Tapi muter-muter, ngga pernah ketemu lagi sampai sekarang.

Perawat yang dipecat itu pun besoknya datang dan minta maaf. Ya sudahlah, semua sudah terjadi mudah-mudahan ada hikmah yang bisa jadi pelajaran buat semua. Cerita selesai. Ini cerita sungguhan. Nyata. Bukan karangan, tapi sudah dikemas sedemikian rupa.

Untungnya di Indonesia, perang politik cukup pakai santet. Kalo ngga ada santet, mungkin sudah banyak korban bom berjatuhan macam di India dan Pakistan sana.

Tumbnail nyomot dari sini.

  • Share/Bookmark

8 Responses to “Santet”

  1. arhan says:

    bagus ceritanya. ini terjadi di daerah mana?

    balas dendam itu…

    ah, sudahlah

  2. Di Indonesia bagian barat :) . Dekat-dekat daerah penghasil dukun santet seperti tempat kelahiran sayah.

  3. Rita says:

    Untung? santet ama bom bukannya sama2 berbehaya?
    sasarannya iya beda…
    aw, ngeri ya, hari gini masih ada hal2 seperti itu (perdukunan)
    kalo bom, orang lain yang bukan sasaran juga bisa kena. Kalo santet, ya biasanya yang jadi sasaran aja yang kena. Apalagi kalo udah perang santet, cuma dukun-dukunnya aja yang kena :)

  4. negeri kita emmang kaya mithos, pak iwan, sayangnya banyak orang2 kita yang selalu mempercayai mithos sehingga sering mengalahkan rasio dan akal budi :mrgreen: :

  5. hanggadamai says:

    penjagaan dr semua itu adalah dekat kepadaNya

  6. Wah wah … kalau soal santet ngeri deh … Kita berserah diri pada Allah SWT.

  7. ehmm, percaya ga percaya yaa…

  8. pakde says:

    Saya yang paling nggak ngerti dengan yang beginian, di bilang nggak percaya, ada kejadian. Di bilang percaya belum kejadian…dan berharap tidak terjadi kejadiannya apapun modus, motiv dan bentuk santetnya. No Thanks….Kabur!!

Leave a Reply