Ketika berada di luar negeri, memang semangat kebangsaan itu makin terasa. Dulu yang namanya upacara dan acara tujuh belasan seperti sudah tidak punya arti apa-apa lagi. Sekarang ada di negara orang, koq beda ya rasanya.

Sebenarnya, acara tujuh belasan dimulai dari pagi. Biar menyambut detik-detik proklamasinya bisa pas jam 10 pagi gitu lho. Tapi sayangnya, buat yang punya keluarga ngga bisa segampang itu. Menyiapkan anak dari A sampai Z memerlukan waktu yang cukup banyak. Seringnya sih telat datangnya. Seperti hari ini, istri saya membantu menyiapkan bakso di tempat kawan. Sedangkan saya menyiapkan keluarga dan perbekalan. Baru bisa berangkat dari rumah lewat jam 10. Akhirnya kita ketinggalan acara upacara. Tinggal acara lombanya saja.

Lomba yang diadakan sebenarnya cukup banyak. Ada juga yang dimulai sebelum 17 Agustus seperti pertandingan badminton dan ping pong. Yang paling banyak ditunggu adalah acara ganda putra karena banyak pemainnya. Pemain diselang seling, yang jago dipasangkan dengan yang kurang jago. Ada juga sih yang ngga pengen ikutan acara ini gara-gara pasangannya dipilihkan. Ngga keren, susah menang, cape sendiri, katanya. Maklum deh merasa jago dan harus bekerja keras menutupi kelemahan pasangan bermainnya. Kalo saya sih belum jago, jadi dengan siapa saja dipasangkan ya ngga apa-apa. Lagi pula, bukan menangnya yang dicari, tapi keceriaan tujuhbelasannya yang ditunggu. Akhirnya ya kalah di babak pertama. He he he, langsung saja bikin babak lanjutan setelah lapangan ngga dipake. Meskipun daftarnya sekali tapi bisa main berkali-kali asalkan ngga dipake lapangannya.

Selanjutnya di hari H lomba jauh lebih banyak. Buat mahasiswa dan anak-anak. Anak-anak sih enak, menang ngga menang dapat hadiah. Saya sebenarnya daftar dua perlombaan: tarik tambang dan futsal. Tapi setelah tarik tambang, badan jadi lemas akhirnya ngga ikut futsal. Kali ini lolos dari babak pertama tapi kalah di semifinal.

Siangnya makan bakso bareng-bareng. Bakso, dulunya adalah barang langka di sini. Kalau mau ngebakso, harus pergi dulu ke silibin yang jaraknya bisa ditempuh dengan bensin seharga RM 30. Padahal harga baksonya cuma RM 3.50 semangkuk. Ngga sebanding ya. Untungnya sekarang sudah ada yang jual baksonya saja di warung. setengah kilo seharga RM 5.20. Isinya 40 buah. Lumayan tinggal bikin kuahnya saja.

Sehabis makan bakso, kumpul-kumpul bagi hadiah dan foto bersama. Ada juga acara bayar iuran. Iuran ini sempat juga jadi bahan perdebatan sengit, perlu atau tidaknya. Menurut pendapat saya pribadi sih, alhamdulillah saya masih dianggap pelajar dari Indonesia jadi ngga keberatan deh disuruh bayar iuran juga. Mudah-mudahan bisa mempermudah acara yang mengeratkan persatuan dikalangan pelajar Indonesia yang ada di sini.

Pulangnya, saya cukup puas dan anak-anak juga puas. Sebenarnya masih ada acara lainnya sih di malam hari. Tapi sekarang saya punya bayi, ngga bisa kalo harus datang dan pulang malam-malam. Jadi biarkanlah acara malam jadi milik batmen dan batwomen. Saya acara malam di rumah saja, nonton CSI hehehe.

Terima kasih buat para pelajar undergraduate yang telah menyelenggarakan acara dengan lancar. Buat ibu-ibu di Bandar Universiti juga terima kasih banyak baksonya, enak. Sayang sambelnya banyak yang tumpah padahal pedesnya oke punya lho.