Entries RSS Comments RSS

Archive for September, 2008

Cedera Jiwa

Friday, September 26th, 2008

Saya pernah baca buku dari Jeffrey Lang, tentang perjuangannya mencari kebenaran dan mempertahankan kebenaran. Betapa dia melihat kawan-kawan yang dulu bersama mencari ternyata tidak bisa mempertahankan kebenaran yang mereka dapatkan. Orang-orang yang dulunya bersemangat sekali ketika baru masuk Islam sampai mengganti nama-nama mereka dengan bahasa arab, ternyata keluar lagi dari Islam termasuk embel-embel sakit hati mereka terhadap Islam.

Saya juga pernah berkawan dengan orang-orang yang pingin belajar Islam sungguh-sungguh. Mereka akhirnya masuk dalam sistem Negara Islam Indonesia dan mengikuti apapun yang menjadi tugas dari “atasan”. Termasuk diantaranya mengumpulkan uang untuk “perjuangan”. Banyak cara yang ditempuh, dari menjual barang sendiri sampai menjual barang orang lain. Keblinger dalam mencari Islam, tapi alhamdulillah mereka tersadarkan dan keluar dari sistem itu.

Dan sekarang ada lagi orang keblinger dengan ajaran Islam, bahkan memakai cara apapun untuk menyebarkan agama Islam. Termasuk mengambil alih blog teman saya, Pak Sawali, untuk menyebarkan ilmu mereka. Mereka mungkin belum membaca blog dari teman saya yang lain, Bang Aip Top, yang tersadar dari kelalaian memberikan pelatihan komputer di Masjid dengan software bajakan. Apa bisa berdakwah dengan memakai cara yang salah? Di bulan puasa bukannya berdakwah dengan cara yang indah, malah merusak rumah orang lain.

 

P Sawali Kena Hack

P Sawali Kena Hack

Mereka ngga tau apa, kalo masuk rumah orang tanpa permisi itu berdosa. Memakai barang milik orang lain tanpa izin itu juga dosa. Ngintip rumah orang juga dosa. Lalu mereka berharap dakwah mereka menghasilkan pahala dari perbuatan dosa? Ngga mungkin. Yang mungkin adalah mereka terkena cedera jiwa.

Mudah-mudahan websitenya P Sawali segera pulih. Hati-hati pak, ini bisa ada kebocoran di DH, atau .info yang katanya mudah dimasuki. Mudah-mudahan punya saya tidak terkena hal yang sedemikian.

  • Share/Bookmark

Apa Ide Anda Untuk Indonesia Bangkit?

Thursday, September 25th, 2008

Udah deh diselesaikan saja dulu bertengkarnya. Kalau memang punya ide untuk kebangkitan Indonesia, coba kirimkan ke google melalui website ini:

http://www.project10tothe100.com/

Google akan mengeluarkan uang sebesar 10 juta dollar US untuk membiayai ide yang anda berikan menjadi kenyataan. Ide itu haruslah sesuatu yang dapat membantu sebanyak mungkin orang. Membantu di bidang apa? Ada dibidang budaya, energi, pendidikan, menolong diri sendiri dan orang lain, tempat tinggal, lingkungan, peluang, dan lainnya. 

Ini terjemahan dari http://www.project10tothe100.com/how_it_works.html

Bagaimana Cara Kerjanya

Project 10100 (diucapkan “Project 10 to the 100th”) adalah sebuah panggilan untuk ide-ide yang dapat mengubah dunia dengan menolong sebanyak mungkin orang. Begini nih cara joinnya:

1. Kirimkan ide anda sebelum tanggal 20 Oktober 2008.

Isi formulir pengiriman ide anda. Anda dapat menambahkan proposal ide anda dengan video sepanjang 30 detik.

2. Voting terhadap ide-ide akan dimulai 27 Januari 2009.

Kami akan menerbitkan seleksi dari ratusan ide dan akan meminta anda, publik, untuk memilih dua puluh semi finalis. Lalu  dewan penasihat akan memilih lima ide final.  Kirimkan saya pengingat untuk memilih.

3. Kami akan menolong ide-ide ini menjadi kenyataan.  

Kami berkomitmen untuk memberikan 10juta dolar untuk mengimplementasikan proyek tersebut, dan tujuan kami adalah untuk menolong sebanyak mungkin orang yang bisa kami tolong.  Jadi ingatlah, uang bisa menjadi batu loncatan tapi idelah yang penting.

Semoga beruntung, dan orang yang menolong lebih banyaklah yang akan menang.

Ingat, deadline 
October 20th, 2008

Panduan

Tujuan kami adalah memberikan sesedikit mungkin aturan. Tapi kami minta agar anda menempatkan ide anda pada kategori-kategiri berikut dan perhatikan kriteria penilaiannya di bagian bawah.

Kategorie:

  • Community/Komunitas: Bagaimana kita dapat menghubungkan orang, membangun komunitas, dan melindungi budaya yang unik?
  • Opportunity/Kesempatan: Bagaimana caranya kita dapat menolong orang agar mereka dapat menafkahi diri mereka sendiri dan keluarganya.
  • Energy/Energi: Bagaimana kita dapat menggerakkan dunia ini ke arah energi yang aman, bersih, dan murah?
  • Environment/Lingkungan: Bagaimana kita dapat mempromosikan ekosistem global yang bersih dan berkesinambungan?
  • Health/Kesehatan: Bagaimana kita menolong orang mendapatkan hidup yang sehat dan lebih lama?
  • Education/Pendidikan: Bagaimana kita dapat menolong orang mendapatkan akses kepada pendidikan yang lebih baik?
  • Shelter/Tempat Berlindung: Bagaimana kita bisa menolong memastikan setiap orang memiliki tempat yang aman untuk tinggal?
  • Everything else/DLL: Kadang kala ide terbaik tidak masuk di kategori manapun.

Kriteria:

  • Reach/Jangkauan: Berapa banyak orang yang akan terpengaruh oleh ide ini?
  • Depth/Kedalaman: Berapa dalam impaknya? Seberapa penting kebutuhannya?
  • Attainability/Keberjangkauan: Dapatkan ide ini diimplementasikan dalam setahun atau dua tahun?
  • Efficiency/Efisiensi: Seberapa sederhana dan efektif ongkoskah ide anda?
  • Longevity/Kelamaan: Berapa lama impak dari ide anda akan terasa? 
Udah siap? Yak kirimkan saja. Mudah-mudahan kalo di implementasikan di Indonesia bisa membantu Indonesia bangkit. 
Ayo buruan ikutan. Sebarin ya ke yang lain.
Tambahan untuk pengiriman ide, ada pertanyaan ini:
1. Satu kalimat apa yang sangat baik menjelaskan ide anda (max 150 karakter)
2. Jelaskan ide anda lebih dalam (max 300 kata)
3. Masalah atau isu apa yang dituju oleh ide anda (max 150 kata)
4. Jika ide anda menjadi kenyataan, siapa yang akan meraih keuntungan dan bagaimana? (max 150 kata)
5. Apa langkah pertama agar ide ini bisa diimplementasikan? (max 150 kata)
6. Jelaskan outcome optimal ketika ide anda dipilih dan diimplementasikan. Bagaimana cara mengukurnya? (max 150 kata)
  • Share/Bookmark

Uang Lebaran

Tuesday, September 23rd, 2008

Sewaktu masih dibawah umur, Lebaran adalah salah satu kegiatan yang dinanti untuk menambah pundi-pundi uang. Sebagai anak-anak, tentu saja senang kalau bertamu ke rumah orang terus dikasih uang. Dulu sewaktu beli semangkuk bakso masih seharga seratus rupiah, dari kegiatan lebaran saya bisa mengumpulkan 20ribu rupiah. Bisa buat dua ratus mangkuk bakso tuh.

Biasanya sih, uang lebaran dikasihkan lagi ke orangtua untuk ditabungkan. Paling-paling sehabis beli satu – dua mainan sisanya ngga akan dipakai jajan lagi. Paling besar jajanan yang menghabiskan uang lebaran adalah ketika pengen beli radio. Waktu itu saya hanya punya radio AM genggam. Ada satu stasion radio favorit, Radio Suara Kejayaan, yang pindah dari AM ke FM. Wah merananya ngga bisa dengerin lawakan Bagito selama berminggu-minggu. Padahal ada acara lawak yang dibikin serial akhirnya ketinggalan jauh. Jadi begitu terkumpul uang dari lebaran langsung dibelikan radio FM.

Setelah SMA sudah makin sedikit orang yang ngasih. Apalagi pas sudah kuliah, hampir ga ada deh. Jangankan orang lain, orang tua aja udah ngga ngasih lagi hehehe. Beda katanya. Dulu mah dikasih uang agak gede pas lebaran karena sehari-hari juga dibatasi uang jajannya. Pas kuliah kan dikasih uang gede buat sehari-hari, masa masih mau minta lagi.

Sekarang sudah berkeluarga, bekerja, dan punya anak-anak. Harus siap-siap nih membagi-bagikan uang lebaran. Untungnya belum ada keponakan jadi masih bisa menarik nafas lega setidaknya 5 tahun ke depan hehehe. Anak-anak saya nih sekarang sudah bisa nagih uang lebaran. Kasihan juga lebaran di luar negeri terbatas sekali uang lebarannya cuma dari ortu.

Uang lebaran juga jadi tradisi di Malaysia sini. Bedanya di sini macam angpow gitulah, dikasih amplop kecil warna-warni. Kalo di Indonesia saya cuma bisa berharap dari keluarga saja dapat uang lebarannya. Di sini koq ya aneh, anak-anak sengaja berkunjung rumah-rumah orang bahkan yang tidak dikenal supaya bisa dapat uang lebaran. Kawan saya orang Indonesia, ngga tau tentang uang lebaran ini. Pas ada yang datang, eh ditagih uang raya. Ngasih agak gede, terus disebarin ke teman-teman yang lain. Akhirnya rame juga anak-anak yang datang ke rumah dia. Padahal ngga ada satupun yang kenal hehehe.

Uang lebaran buat yang sudah besar juga ada. Namanya THR. Kalo yang kerja di swasta sih enak, dapat THRnya bisa berkali-kali gaji. Kami ini yang PNS kadang ngga dapat THR. Kalaupun dapat paling 10-20% gaji. Itu juga alhamdulillah masih dapat. Sekarang saya sedang tidak bekerja, ya ngga dapat THR deh. Ngga apa, mudah-mudahan rejekinya cukup meskipun ngga dapat THR. Siapa tahun THRnya diakumulasi nanti pas balik ke Indonesia.

Aaamiin.

  • Share/Bookmark

Kenangan Pulang Kampung

Tuesday, September 23rd, 2008

Dulu, perjalanan pulang kampung semasa idul Fitri dan Idul Adha adalah pekerjaan rutin setiap tahun buat keluarga kami. Hari raya di Jakarta boleh dihitung dengan jari sebelah tangan deh, karena saking seringnya kami pulang kampung.

Awalnya kami pulang kampung naik kereta api. Tapi setelah layanan kereta api dihentikan, kami harus naik bis sambung-menyambung. Dari rumah naik angkutan kota ke Cililitan, terus naik bis ke Pangandaran atau Banjar, lalu naik bis lagi ke Cijulang. Belum kepikiran macet, karena dapat bisnya saja belum tentu cepat. Kadang nunggu berjam-jam di terminal bahkan pernah terpaksa pulang lagi ke rumah setelah sehari semalam ga dapat bis juga.

Setelah punya mobil sendiri, baru deh ngitung-ngitung macet. Jenderal perjalanan harus mikirkan waktu yang paling tepat untuk berangkat supaya tidak terjebak oleh macet di jalan. Waktu favorit yang dipilih untuk berangkat adalah malam takbiran karena cenderung lebih lancar. Tapi ternyata orang lain juga makin pintar, mereka memilih waktu yang sama. Akhirnya ya lama-lama macet juga.

Dulu, sekali pulang kampung orang sekampung ikutan juga. Mobil kecil hijet 1000 bisa dipenuhi oleh tiga keluarga. Sering kami tambahkan bagasi di atas mobil supaya bagian dalam bisa untuk orang saja. Malah ditambahkan kursi jongkok supaya semua tempat lowong bisa digunakan dengan sebaiknya. Lama-lama makin sepi yang ikut karena orang sekampung semakin membaik ekonominya.

Pulangnya dari kampung juga bawa orang banyak, ditambah oleh-oleh yang aneh. Mosok bawa ayam hidup dari kampung sampai di Jakarta. Manusia aja teler, apalagi ayam. Kasian deh tuh ayam. Lagian juga, ngapain sih orang ngasih ayam hidup. Mau ditolak ngga enak. Akhirnya manusia, ayam, sayur, kelapa, beras, semua dimasukkan ke dalam dan di atas mobil.

Paling enak kalo perjalanannya berhenti-henti. Soale ngga tahan sama mabok darat. Kalo berhenti bisa meluruskan pinggang sebentar, narik-narik urat sebentar, sambil menikmati jajanan yang ada disepanjang jalan. Apalagi kalo jalannya siang dan lagi puasa. Seger deh bisa mandi dan kumur-kumur, hehehe.

Sekarang, sudah hampir ga pernah pulang kampung. Karena ternyata ongkosnya berat banget. Apalagi kalo cuma perjalanan sendiri. Mending uangnya buat beli beras di Bandung. Keluarga di sana pun sudah hampir ngga ada. Kebanyakan sudah pindah ke kota-kota seperti Bandung dan Jakarta. Tanah sudah dijual dan rumah ngga ada yang nempati. Dipinjamkan saja sama orang.

Di sini, saya kangen pulang ke Indonesia. Udah tiga kali Ramadhan saya habiskan di sini. Idul Fitri sepi karena penduduk kompleks pun pada pulang kampung. Mahasiswa Indonesia yang ngga bawa keluarga biasanya pulang ke Indonesia sedangkan yang bawa keluarga tetap ada di sini. Sedih tapi mau gimana lagi. Mudah-mudahan tahun depan saya sudah kembali lagi ke Indonesia. Jadi bisa pulang kampung lagi. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Rakyat Indonesia Tidak Miskin

Monday, September 22nd, 2008

Beberapa waktu lalu koran dan tv Malaysia menyiarkan berita dengan headline ditulis besar-besar di halaman depan kalau banyak warga yang tewas karena berebut zakat yang nilainya ngga sampai RM 20 (Rp. 30rb ya katanya). Ditambah lagi, situs berita Indonesia yang membuat berita kalo peristiwa seperti itu adalah potret kemiskinan rakyat Indonesia. Betapa sedihnya ya?

Tapi saya melihat, itu bukan potret kemiskinan. Saya merasa yakin, kalau dari sekian banyak orang yang antri zakat itu banyak diantaranya bukan orang miskin. Saya yakin mereka yang tidak miskin itu ikut mengantri zakat yang tidak seberapa besar (kalo dibandingkan dengan UMR Jakarta) karena kemaruk harta. Kesempatan mendapatkan uang sedikit rasa malu pun dibuang jauh-jauh.

Hal seperti ini sudah tidak aneh. Banyak berita yang menampilkan bukti yang menguatkan. Misalnya ada orang yang rela dimasukkan dalam kategori orang miskin agar mendapatkan uang JPS. Ada juga yang masih mampu shopping di Mall, tapi ketika beli beras maunya dapat jatah raskin. Ada lagi yang maunya menyunat bantuan, bahkan rela menjual daging kurban karena dia menjadi panitia inti idul adha. Ngga aneh kan?

Saya percaya kebanyakan rakyat Indonesia itu masih hidup berkecukupan. Lha wong dari dulu sudah biasa hidup susah tapi masih bisa beli bakso untuk cemilan. Di tempat saya waktu dulu di Jakarta bisa dibilang kebanyakan orang hidup susah. Rumah masih sewa seharga seribu rupiah sehari. Kerja cuma jadi kuli angkut di pasar Induk Kramat Jati. Tapi setiap hari jajan yang lebih mewah daripada saya, yang kedua orangtuanya bekerja penuh. Mosok anak SD sudah jajan Burger dan Bakso lima ribu rupiah sehari? Itu sih bisa buat makan sehari keluarga saya (waktu itu ya). Jadi apanya yang salah?

Di tempat istri saya dulu juga sama. Kalau masalah pakaian, ngga mau yang jelek. Pokoknya yang bagus. Isi rumah harus furnitur yang wah, dengan aksesoris perangkat elektronik seperti DVD player dan TV minimal 20 inchi. Anaknya ngga sekolah karena katanya ngga punya uang untuk bayar sekolah bulanan. Aneh.

Teman saya punya pembantu yang setiap bulan pinjam uang, katanya untuk membiayai keluarga. Padahal gajinya dia tabung untuk beli HP sedangkan uang pinjamannya yang dipakai membiayai keluarga. Ngga bohong sih, memang pinjam untuk membiayai keluarga. Tapi ….    jadi gimana gitu. Aneh aja cara berpikirnya.

Mungkin dari kecil kita harus belajar mengatur keuangan dan menentukan prioritas. Potensi bangsa Indonesia untuk maju sangat besar. Kekayaan alam masih ada, orangnya pintar, kreatif, inovatif, dan tahan banting. Apalagi yang diperlukan supaya maju? Buktinya Pendapatan Domestik Bruto Indonesia itu sudah menjadi nomor 20 terbesar dunia. Dua kali lipat dari PDB nya Malaysia. Cuma setelah dibagikan ke seluruh penduduk Indonesia (PDB per kapita), Indonesia jadi peringkat 115, setengahnya peringkat Malaysia hehehe.

Mudah-mudahan dapat pemimpin yang dapat menggerakkan rakyatnya menjadi melek finansial. Insya Allah kebanyakan rakyat Indonesia ngga miskin koq. Dengan melek finansial negara Indonesia bisa jadi negara super power. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Hombreng and Lesbong

Tuesday, September 16th, 2008

Udah lama ngga nulis. Eh pas nulis malah mengungkit cerita lama. Cerita yang terjadi dulu, sewaktu saya masih SMA. Baru puber dan berani menyatakan cinta.

Ceritanya, saya baru saja pulang dari toko buku Gunung Agung. Toko ini jauh sekali dari rumah saya yang ada di pinggiran Jakarta. Paling ngga, perlu waktu satu sampai dua jam perjalanan angkutan umum. Maklum, meskipun di rumah ada motor nganggur, ortu saya ngga pernah ngizinin anak tersayangnya ini memakai kendaraan sebelum punya SIM.

Pulang dari toko buku itu saya naik bis, bersamaan dengan waktu pulang ngantor. Tentu saja bis penuh sesak. Untungnya saya masih dapat tempat duduk di bagian paling belakang, pojokan dekat pintu. Enaknya di situ karena dekat dengan pintu, jadi masih dapat udara yang agak segar dibandingkan bagian lain dari dalam bis.

Sampai di dekat Pasar Senen penumpang di sebelah saya, laki-laki, tiba-tiba meletakkan tangannya di atas paha saya. Awalnya saya pikir, ah si Mas ini pasti kecapean. Pulang ngantor dan naik bis yang penuh sesak pasti pengennya menyandarkan semua badan ke tempat yang empuk. Saya biarin aja. Tapi eh, koq tiba-tiba tangannya itu makin lama makin ke atas, ke arah anu nya saya. Dan dia nempel aja di situ. Wah begidig saya, langsung aja tangan si Mas saya pindahkan. Saya ngga berani natap muka si Mas, seureum. Untungnya setelah dipindahkan tangannya ngga gerayangan lagi, hiiiiiiii.

Beberapa hari kemudian, saya berkunjung ke rumah teman. Kebetulan ibu teman saya ini adalah seorang psikolog yang sering mendapat pasien kelainan seksual terutama dari kalangan atlet. Entah bagaimana cerita bermula, pokoknya dibahaslah tentang kelainan seksual itu. Dari yang mulai frigid dan cara penanggulangannya (agak aneh juga, karena diberikan PSK profesional untuk menghilangkan frigiditas) sampai akhirnya ke bahasan homoseksual dan lesbian.

Saya ngga menyebutkan apa yang saya dengar dan masih ingat sampai sekarang adalah benar. Setidaknya ini menurut pendapat psikolog beneran. Jadi sebenarnya semua orang itu memiliki potensi menjadi waria, homo, atau lesbi. Kenapa? Karena secara alami hormon-hormon yang menimbulkan kejantanan atau kewanitaan itu ada disemua manusia. Karena tingkatnya berbeda-beda sajalah maka tampak wanita, pria, wanita kepriaan, pria kewanitaan, dan lainnya. Kalau wanita punya hormon kepriaan yang berlebih, kadang tumbuh rambut-rambut yang banyak (katanya), begitu juga kalau pria punya hormon kewanitaan yang lebih jadi lebih kemayu.

Untuk menjadi homo atau lesbi, tinggal trigger aja hormon-hormonnya langsung jadi deh. Makanya kata ibu temannya saya itu, hati-hati karena bisa menular. Dan katanya juga, mereka bisa saling mengenal orang-orang yang punya kelainan dengan hanya melihat penampilan atau pandangan matanya saja. Wuih seureum ya.

Menurut agama, kelakuan seksualnya itulah yang salah. Menjadi homo atau lesbi, ya mungkin harus diterima kenyataannya. Saran dari ibu teman saya itu bagi yang sudah jadi hombreng atau lesbong ikutlah organisasi homo atau lesbi agar mendapat panduan yang baik. Soalnya kalo hidup bebas-bebas aja, malah bisa merusak diri sendiri dan orang lain.

Saya sendiri merasa lelaki normal-normal saja. Tidak ada keinginan untuk mencintai lelaki lain ataupun berubah menjadi wanita. Alhamdulillah. Tapi kenapa ya, ada aja orang yang mencoba “menjurus” ke arah sana ke saya ya? Misalnya saja, beberapa bulan lalu ada lelaki muda yang pengen ketemu dan nanya-nanya kelompok lelaki mapan. Lah, saya bingung koq ngga biasanya cowok nanyain om-om. Beberapa hari lalu juga masih coba kontak saya. Maaf ya mas, saya bukan orang yang begituan. Pandangan mata saya memang beda, karena keturunan dari kakek buyut, ibu, saya, dan anak-anak saya memang begitu. Maklum, hidup itu penuh tantangan makanya pandangan mata saya juga agak garang. Tapi bukan berarti saya homo.

  • Share/Bookmark