Entries RSS Comments RSS

Hombreng and Lesbong

Udah lama ngga nulis. Eh pas nulis malah mengungkit cerita lama. Cerita yang terjadi dulu, sewaktu saya masih SMA. Baru puber dan berani menyatakan cinta.

Ceritanya, saya baru saja pulang dari toko buku Gunung Agung. Toko ini jauh sekali dari rumah saya yang ada di pinggiran Jakarta. Paling ngga, perlu waktu satu sampai dua jam perjalanan angkutan umum. Maklum, meskipun di rumah ada motor nganggur, ortu saya ngga pernah ngizinin anak tersayangnya ini memakai kendaraan sebelum punya SIM.

Pulang dari toko buku itu saya naik bis, bersamaan dengan waktu pulang ngantor. Tentu saja bis penuh sesak. Untungnya saya masih dapat tempat duduk di bagian paling belakang, pojokan dekat pintu. Enaknya di situ karena dekat dengan pintu, jadi masih dapat udara yang agak segar dibandingkan bagian lain dari dalam bis.

Sampai di dekat Pasar Senen penumpang di sebelah saya, laki-laki, tiba-tiba meletakkan tangannya di atas paha saya. Awalnya saya pikir, ah si Mas ini pasti kecapean. Pulang ngantor dan naik bis yang penuh sesak pasti pengennya menyandarkan semua badan ke tempat yang empuk. Saya biarin aja. Tapi eh, koq tiba-tiba tangannya itu makin lama makin ke atas, ke arah anu nya saya. Dan dia nempel aja di situ. Wah begidig saya, langsung aja tangan si Mas saya pindahkan. Saya ngga berani natap muka si Mas, seureum. Untungnya setelah dipindahkan tangannya ngga gerayangan lagi, hiiiiiiii.

Beberapa hari kemudian, saya berkunjung ke rumah teman. Kebetulan ibu teman saya ini adalah seorang psikolog yang sering mendapat pasien kelainan seksual terutama dari kalangan atlet. Entah bagaimana cerita bermula, pokoknya dibahaslah tentang kelainan seksual itu. Dari yang mulai frigid dan cara penanggulangannya (agak aneh juga, karena diberikan PSK profesional untuk menghilangkan frigiditas) sampai akhirnya ke bahasan homoseksual dan lesbian.

Saya ngga menyebutkan apa yang saya dengar dan masih ingat sampai sekarang adalah benar. Setidaknya ini menurut pendapat psikolog beneran. Jadi sebenarnya semua orang itu memiliki potensi menjadi waria, homo, atau lesbi. Kenapa? Karena secara alami hormon-hormon yang menimbulkan kejantanan atau kewanitaan itu ada disemua manusia. Karena tingkatnya berbeda-beda sajalah maka tampak wanita, pria, wanita kepriaan, pria kewanitaan, dan lainnya. Kalau wanita punya hormon kepriaan yang berlebih, kadang tumbuh rambut-rambut yang banyak (katanya), begitu juga kalau pria punya hormon kewanitaan yang lebih jadi lebih kemayu.

Untuk menjadi homo atau lesbi, tinggal trigger aja hormon-hormonnya langsung jadi deh. Makanya kata ibu temannya saya itu, hati-hati karena bisa menular. Dan katanya juga, mereka bisa saling mengenal orang-orang yang punya kelainan dengan hanya melihat penampilan atau pandangan matanya saja. Wuih seureum ya.

Menurut agama, kelakuan seksualnya itulah yang salah. Menjadi homo atau lesbi, ya mungkin harus diterima kenyataannya. Saran dari ibu teman saya itu bagi yang sudah jadi hombreng atau lesbong ikutlah organisasi homo atau lesbi agar mendapat panduan yang baik. Soalnya kalo hidup bebas-bebas aja, malah bisa merusak diri sendiri dan orang lain.

Saya sendiri merasa lelaki normal-normal saja. Tidak ada keinginan untuk mencintai lelaki lain ataupun berubah menjadi wanita. Alhamdulillah. Tapi kenapa ya, ada aja orang yang mencoba “menjurus” ke arah sana ke saya ya? Misalnya saja, beberapa bulan lalu ada lelaki muda yang pengen ketemu dan nanya-nanya kelompok lelaki mapan. Lah, saya bingung koq ngga biasanya cowok nanyain om-om. Beberapa hari lalu juga masih coba kontak saya. Maaf ya mas, saya bukan orang yang begituan. Pandangan mata saya memang beda, karena keturunan dari kakek buyut, ibu, saya, dan anak-anak saya memang begitu. Maklum, hidup itu penuh tantangan makanya pandangan mata saya juga agak garang. Tapi bukan berarti saya homo.

  • Share/Bookmark

Tags:

10 Responses to “Hombreng and Lesbong”

  1. edratna says:

    Hahahaha…saya geli……berarti bapak menarik dari kacamata perempuan maupun pria.

    Tapi benar pak, saat anak kecil sampai dewasa, saya sangat menjaga anak-anak….apalagi jika di rumah ada keponakan laki-laki, karena kadang yang merusak adalah keponakan yang sudah remaja (taraf coba-coba), sedang anak kita masih kecil. Dan untuk pembantu, saya membuat agar mereka berdua tak terlalu dekat, gaji dibedakan, sehingga dengan pura2 minta dipijitin, saya bisa mengobrol dengan mereka bergantian (ongkos pijitnya ada juga, jadi mereka suka kalau di suruh mijit).

    Terus anak-anak tak boleh membawa teman masuk kamar, apalagi kamar di tutup, ini untuk menjaga hal-hal yang diceritakan di atas. Saya selalu memberi contoh, kan ibu nggak pernah mengajak teman masuk kamar ibu. Demikian juga teman ayah, diterimakanya di ruang tamu, dan kalau kerabat dekat baru di ruang keluarga.

    Saya mengikuti apa yang disarankan oleh majalah “Ayahbunda”, majalah untuk keluarga, banyak artikel yang di tulis oleh dokter dan psikolog.

  2. iya bu, apalagi yang punya anak perempuan seperti saya ini. tapi anak perempuan anak lelaki sama juga tantangannya ya Bu. Ada orang Indonesia yang sengaja cari kerja di Malaysia sini supaya bisa menghindarkan anaknya dari pergaulan kurang baik di Indonesia.
    Ya, kita cuma bisa berdoa dan berusaha saja Bu. Mudah-mudahan Tuhan memberi perlindungan kepada keluarga.

  3. sampai sekarang saya kok masih percaya pada opini bahwa tak ada seorang pun yang berharap jadi homo atau lesbi. banyak faktor yang memengaruhi sehingga mereka terjebak dalam kelainan seks semacam itu. agaknya pendidikan seks dalam linkungan keluarga perlu digalakkan, pak.

  4. Pakde says:

    Ha ha ha…kalau kang Iwan jadi Hombreng APA KATA DUNIA…seru juga ceritanya. Tapi bikin merinding bulu kuduk, Alhamdulillah selama ini saya tak pernah jadi sandaran lelaki.

    Dan tak pernah berharap!!!

    Kang, inget nggak lagu LETTO?
    …”Kaulah sandaran Banci…sadaran banci…” ini yang suka saya nyanyikan kalau melihat yang beginian disekitar saya.
    Eh kaum bancinya malah ngamuk. Sok Normal loeh..gitu katanya. Saya malah makin kenceng nyanyinya…Kau lah sandaran Banciiiiiiiiiiiiiii …ha ha ha

  5. bel ami says:

    kalo pengen tahu tentang lesbong dan hemong hubungi aku

    http://www.manjam.com/belamino

  6. Marya says:

    Lho.. Kok ngomongin Homosexual & Heterosexual doang?

    Menurutku.. ini essai yg lumayan diplomatis yang seharusnya juga diutarakan buat semua orientasi sexual.. Ini bukan negara maju.. dan banyak orang di negara ini masih belom tahu tentang “Bisexuality”..

    Suggesti aku sih essainya harus lebih dilengkapkan.. karena di dunia ini ga hanya cuma homosexual & heterosexual saja.. masih ada asexual dan bisexual juga..

  7. cupZ says:

    Hoho,, seru pengalamannya.
    sy jg ga tau nih kang punya bbrp pengalaman yg hampir sama.
    yg jelas sy tuh manusia normal, laki2, yang suka liat cewe cantik.

    tapi anehnya,, beberapa temen cowo saya pernah bilang suka liat saya. apalagi liat bibir saya. duh,, kacau balau,, jadi malu. coba cewe cantik yg bilang gitu. beberapa temen sy yg cowo juga kadang deket sbg temen tp suka berlebihan. jd ngerasa aneh aja. kadang suka timbul firasat buruk aja. apalagi bbrpa diantara mrka pernah bilang mimpiin saya (makin kacau ni). Padahal kan katanya org yg punya kecenderungan begini bisa saling ngeliat dr tatapan dsb, padahal saya cowo tulen sehat normal koq bisa ngalamin beberapa temen sy sepertinya nganggap sy ‘teman’nya yg sama punya kecenderungan kearah sana…

    ya gitu deh,, akhirnya sy suka bingung ngebedain antara mereka yg becanda sama beneran. kadang suka mesra-mesraan, entah beneran atw ngga. sy si sbg org yg humoris kadang suka nanggepin dgn becanda lagi. tp jadi takut aja kalo tiba2 firasat buruk itu muncul jangan2 ni cowo beneran begitu.

    semoga aja cuma firasat doang…

  8. hamka says:

    kalau bisa dibilang ini hanyalah variasi seks

    • hamka says:

      bagi saya homoseks dan lesbong adalah sebuah sikap atau ungkapan manusia yang yang memiliki ketertarikan dengan sesamanya. janganlah kita menganggap bahwa hal itu harus di hindari karena bagaimanapun mereka juga adalah sama seperti kita yang butuh kasih dan sayang butuh makan butuh minum yang pentingkan tidak mengganggu dan merugikan orang lain. marilah kita hidup berdampingan bukankah perbedaan itu adalah salah satu warna dari keindahan dunia ini. SALAM SAYA SELALU

Leave a Reply