Entries RSS Comments RSS

Rakyat Indonesia Tidak Miskin

Beberapa waktu lalu koran dan tv Malaysia menyiarkan berita dengan headline ditulis besar-besar di halaman depan kalau banyak warga yang tewas karena berebut zakat yang nilainya ngga sampai RM 20 (Rp. 30rb ya katanya). Ditambah lagi, situs berita Indonesia yang membuat berita kalo peristiwa seperti itu adalah potret kemiskinan rakyat Indonesia. Betapa sedihnya ya?

Tapi saya melihat, itu bukan potret kemiskinan. Saya merasa yakin, kalau dari sekian banyak orang yang antri zakat itu banyak diantaranya bukan orang miskin. Saya yakin mereka yang tidak miskin itu ikut mengantri zakat yang tidak seberapa besar (kalo dibandingkan dengan UMR Jakarta) karena kemaruk harta. Kesempatan mendapatkan uang sedikit rasa malu pun dibuang jauh-jauh.

Hal seperti ini sudah tidak aneh. Banyak berita yang menampilkan bukti yang menguatkan. Misalnya ada orang yang rela dimasukkan dalam kategori orang miskin agar mendapatkan uang JPS. Ada juga yang masih mampu shopping di Mall, tapi ketika beli beras maunya dapat jatah raskin. Ada lagi yang maunya menyunat bantuan, bahkan rela menjual daging kurban karena dia menjadi panitia inti idul adha. Ngga aneh kan?

Saya percaya kebanyakan rakyat Indonesia itu masih hidup berkecukupan. Lha wong dari dulu sudah biasa hidup susah tapi masih bisa beli bakso untuk cemilan. Di tempat saya waktu dulu di Jakarta bisa dibilang kebanyakan orang hidup susah. Rumah masih sewa seharga seribu rupiah sehari. Kerja cuma jadi kuli angkut di pasar Induk Kramat Jati. Tapi setiap hari jajan yang lebih mewah daripada saya, yang kedua orangtuanya bekerja penuh. Mosok anak SD sudah jajan Burger dan Bakso lima ribu rupiah sehari? Itu sih bisa buat makan sehari keluarga saya (waktu itu ya). Jadi apanya yang salah?

Di tempat istri saya dulu juga sama. Kalau masalah pakaian, ngga mau yang jelek. Pokoknya yang bagus. Isi rumah harus furnitur yang wah, dengan aksesoris perangkat elektronik seperti DVD player dan TV minimal 20 inchi. Anaknya ngga sekolah karena katanya ngga punya uang untuk bayar sekolah bulanan. Aneh.

Teman saya punya pembantu yang setiap bulan pinjam uang, katanya untuk membiayai keluarga. Padahal gajinya dia tabung untuk beli HP sedangkan uang pinjamannya yang dipakai membiayai keluarga. Ngga bohong sih, memang pinjam untuk membiayai keluarga. Tapi ….    jadi gimana gitu. Aneh aja cara berpikirnya.

Mungkin dari kecil kita harus belajar mengatur keuangan dan menentukan prioritas. Potensi bangsa Indonesia untuk maju sangat besar. Kekayaan alam masih ada, orangnya pintar, kreatif, inovatif, dan tahan banting. Apalagi yang diperlukan supaya maju? Buktinya Pendapatan Domestik Bruto Indonesia itu sudah menjadi nomor 20 terbesar dunia. Dua kali lipat dari PDB nya Malaysia. Cuma setelah dibagikan ke seluruh penduduk Indonesia (PDB per kapita), Indonesia jadi peringkat 115, setengahnya peringkat Malaysia hehehe.

Mudah-mudahan dapat pemimpin yang dapat menggerakkan rakyatnya menjadi melek finansial. Insya Allah kebanyakan rakyat Indonesia ngga miskin koq. Dengan melek finansial negara Indonesia bisa jadi negara super power. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Tags:

3 Responses to “Rakyat Indonesia Tidak Miskin”

  1. edratna says:

    Betul pak, pendidikan memang harus dimulai dari rumah, dan kemudian bekerja sama dengan lingkungan sekolah. Mendidik anak hidup sederhana tidak mudah, karena lingkungan sekitar yang demikian mementingkan kemewahan. Namun atas kerjasama suami isteri, hal tsb dapat dilaksanakan.

  2. wah, kalau bicara soal lemiskinan, kayaknya debatable, pak. saya juga heran tuh, pak, ketika program BLT digulirkan, kenapa banyak orang yang mengaku miskin? padahal, sebenarnya lebih banyak saudara2nya yang lebih membutuhkan.

  3. pimbem says:

    hihihi bc tulisan bapak saya jd mbatin, niat mo beli notebook yg hihh spec diurungin aja ah, mending beli yg simpel2 aja wong cuma dipake buat ngenet selepas ngantor :smile:

Leave a Reply