Pernah beberapa kali pertanyaan ini melintas dipikiran saya. Apa yang akan terjadi ketika saya akan meninggal? Dirunut-runut melihat pengalaman orang-orang yang meninggal, saya coba list pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan proses meninggal.
Pertama, kalo saya nanti meninggal kira-kira karena apa ya? Sebelumnya saya pernah bikin tulisan tentang memilih cara meninggal, yaitu suatu pekerjaan yang kita senangi. Ada yang senang dakwah, meninggalnya ketika berdakwah. Ada yang senang naik motor gede, meninggalnya juga saat naik motor gede. Tetapi sebab meninggalnya bukan itu sih. Misalnya Gito Rollies meninggal karena sakit keras sedangkan Sophan Sopian meninggal karena kecelakaan. Ketika saya mengantar mertua berobat ke sebuah rumah sakit, di sana juga ada yang meninggal gara-gara disantet. Ada juga yang sedang ngobrol tiba-tiba meninggal. Ngga ada tanda, ngga ada sebab. Dulu saya rindu sekali meninggal sebagai syuhada. Entah meninggalnya karena berperang atau sebab lainnya tapi bisa dikategorikan sebagai syahid. Sekarang entahlah, saya ngga tau lagi. Punya keinginan sebab mati juga ngga mungkin, tapi mudah-mudahan tidak memberatkan orang-orang yang dekat dengan saya. Kasihan kan.
Yang kedua, kalo saya sudah mau meninggal, siapa ya yang kira-kira membantu membimbing saya mengucap kalimat syahadat? Kalo lihat di film sih, banyak orang yang meninggal setelah mengucapkan kalimat-kalimat yang baik. Ada yang sebelum meninggal bersyahadat terlebih dahulu, ada yang bertakbir, ada juga yang bilang: “T t t tteruskan pp per juaangan kuuu aaaaaakkkkh”. Kalo melihat kenyataannya, tidak semudah itu mengharapkan bisa meninggal dengan kalimat terakhir yang baik. Kalo perkiraan saya, lagi-lagi berhubungan dengan kegiatan yang sering kita lakukan. Kalo kita sering berdzikir, sering bertasbih, tahmid, dan takbir, insya Allah kata-kata itu juga yang terakhir keluar dari bibir kita. Ada yang cerita seorang kenek yang terjatuh dari bisnya ketika akan meninggal malah keluar nama tempat yang biasa dia teriakkan ketika sedang menarik penumpang. Ada lagi yang katanya gerakan tangan dan tubuhnya seolah-olah sedang menghitung uang. Kayaknya kalo kita berharap ada kata-kata terakhir yang akan keluar dari bibir kita, harus sudah mulai sering kita ucapkan saat kita masih sadar. Sampai-sampai kalo kita sadarpun kata-kata itu yang akan sering keluar dari mulut kita. Beberapa orang yang saya kenal masih berkomat-kamit seperti memuji-muji Allah ketika mereka menjelang ajal. Biasanya sih, beberapa hari menjelang ajal suka sudah tidak sadar. Kecuali kalo yang matinya karena kecelakaan ya. Tapi mungkin juga sih kata-kata yang keluar adalah yang sering diucapkan ketika tidak sadar. Misalnya kalo orang yang sewaktu hidupnya terkaget-kaget mengucapkan astaghfirullah atau Allohu Akbar, kayaknya pas kecelakaan dan meninggal juga akan mengucapkan kata-kata itu. Sekarang bayangkan betapa lucunya seorang yang sewaktu hidup dan sering kaget mengucapkan nama-nama binatang, terus pas kecelakaan dan mau meninggal kata-kata itu juga yang keluar hehehe. Naudzu billah deh.
Ketiga, kalo pas meninggal siapa yang ngurusin ya? Ngerepotin ngga ya kira-kira? Kalo meninggalnya siang hari dan hari kerja, mungkin ngga nyusahin yang ngurus. Mau beli kain kafan dan kapas gampang. Mau mesen kubur juga ngga susah. Kalo meninggalnya jam 12 malam? Masa harus ditunggu sampai siang dulu sih baru diurusin. Mertua saya sudah menyiapkan kain kafan dan kapas sejak berbulan sebelum meninggal. Alhamdulillah, ketika meninggal malam hari tidak merepotkan keluarga untuk mencari keperluan pengurusan jenazah, sehingga bisa langsung diurus malam itu juga dan siap untuk dikuburkan pagi-pagi sekali. Pengurusan jenazah berkaitan dengan pemandian dan pensholatan. Meskipun saya sudah beberapa kali ikut kursus pengurusan jenazah, kayaknya tetap mesti buka kamus dulu deh untuk pelaksanaannya. Banyak yang lupa. Lah kalo keluarga ngga ada yang bisa gimana? Siapa yang mau mandikan dan menyolatkan? Bisa sih dimandikan oleh orang lain, tapi kan lebih baik kalo dimandikan oleh keluarga sendiri. Senang juga kalo anak sendiri yang bisa mengimami sholat jenazahnya.
Keempat, siapa yang akan mengantarkan jenazah dan mendoakan? Sewaktu tetangga saya meninggal, yang mengantarkan sampai ke kubur bisa dihitung dengan jari. Soalnya sudah tua dan tidak terlalu aktif di masyarakat. Kalo saya, paling ya teman kantor aja sama tetangga. Itupun kalo ada yang mau. Maklum deh, saya kan belum terasa kehadirannya oleh orang lain. Kalo orang yang sudah terasa kehadirannya, kehilangannya pun akan terasa dan orang akan memperjuangkan waktu dan tenaga untuk mengantarkan. Seperti yang saya lihat ketika uwak saya meninggal, begitu banyak orang yang datang untuk menyolatkan dan mengantarkan. Begitu juga ketika seorang aktivis meninggal, banyak kawan sesama aktivis yang ikut mengantarkan. Pak Harto, meskipun banyak yang benci ternyata banyak juga yang mengantarkan. Artinya Pak Harto adalah orang yang terasa kehadirannya. Ketika mertua saya meninggal, banyak juga yang mau ikut mengantarkan ke kubur. Tapi kebetulan tempat tinggalnya bukan berisi orang-orang berada yang punya kendaraan pribadi, sedangkan jarak ke pekuburan umum juga cukup jauh. Mau ngga mau harus disiapkan kendaraan untuk mengangkut para pengiring ini. Biasanya sih biar banyak daya muatnya disiapkan bis atau truk. Keluarga harus rela keluar uang sedikit yang penting almarhum banyak yang mengantarkan dan mendoakan. Apalagi katanya setelah 40 langkah pengiring meninggalkan kubur, maka sudah harus bersiap-siap berhadapan dengan malaikat yang bertanya dalam kubur.
Kelima, kira-kira keluarga mendoakan terus ngga ya? Menurut ajaran Islam, semua amal sudah terputus setelah kita meninggal. Ngga ada lagi usaha yang bisa kita lakukan untuk menambah pahala atau mengurangi dosa. Yang tinggal adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariah, dan doa dari anak. Mudah-mudahan anak-anak saya selalu ingat untuk mendoakan orangtuanya. Jangan sampe deh, punya anak yang cuma bisa berkelahi berebut warisan setelah ortunya meninggal. Saya setuju dengan keputusan untuk membuat masjid atau jadi tabung abadi penyantunan orang yang membutuhkan daripada sekedar diwariskan ke anak. Biar deh ditinggalkan secukupnya saja, anak juga sudah punya rejeki sendiri, ngga harus dari orangtua terus. Mudah-mudahan sempat menyiapkan anak menjadi anak yang sholeh dan ngga bergantung dengan suapan orangtua terus. Jadi ketika saya nanti meninggal, mereka bisa jadi jalan penghapusan dosa saya dan juga mereka bisa meneruskan hidup dengan baik sepeninggal saya. Aamiin. Gimana dengan anda?