Entries RSS Comments RSS

Archive for November, 2008

Ubuntu yang OK

Sunday, November 30th, 2008

Pengalamanku memakai ubuntu adalah sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Saat itu komputer di rumahku masih pakai AMD Athlon 1,7 GHz. Cukup menyenangkan memakainya meskipun kadang sebal karena banyak software dan hardware yang tidak kompatibel. Sayang komputer itu hilang dicuri orang sehingga pengembaraan ubuntu ku juga berhenti.

Di Malaysia, percobaan memakai ubuntu dimulai lagi. Awalnya ditawari bikin tulisan tentang aplikasi di ubuntu seperti Open Office dan lainnya untuk sekolah ubuntu yang dibuat oleh Arief Kurniawan dkk. Akhirnya setelah kebeli laptop sendiri pengen juga nyobain lagi. Mudah-mudahan pengalamannya jauh lebih baik daripada percobaan pertama 4 tahun lalu.

Kekhawatiran pertama adalah tentang driver device yang ada di komputerku. Maklum dulunya Linux ngga terlalu bersahabat dengan hardware-hardware terbaru.  Ternyata kekhawatiran itu tidak menjadi. Padahal saya install ubuntu di atas flashdisk 4 GB di kampus. Setelah itu dibawa ke rumah untuk dijalankan di laptop Acer Aspire 4520 langsung dari flashdisk. Eh semua proses berjalan dengan gampang. Bahkan soundcard, video card, dan Wifi langsung terdeteksi dengan baik dan bisa dipakai.

Selain kemudahan deteksi perangkat keras, ternyata ubuntu sekarang jauh lebih cepat. Saya sudah aktifkan desktop 3D yang ada videonya di youtube. Ternyata bisa berjalan dengan sempurna di laptopku. Padahal RAM nya cuma 512 MB.

Sekarang sih yakin untuk beralih sepenuhnya ke Ubuntu. Soalnya software di Windowsku lisensinya untuk mahasiswa universitasku, jadi kalo aku selesai sekolah ya sudah ngga berlaku lagi deh lisensinya. Lagipula untuk keperluan yang sekarang semua yang ada di Ubuntu sudah mencukupi. Buat yang ingin mencoba linux, coba deh Ubuntu ini. Selain bisa dijalankan dari Live CD yang bisa dikirim gratis, juga ternyata mudah sekali menjalankannya dari flashdisk. Jadi anda bisa membawa-bawa OS ini kemana-mana.

Oh iya, buat yang ingin mendapatkan CD ubuntu gratis, kunjungi saja website ubuntu dan minta dikirimkan CD nya gratis. Saya dulu pernah minta dikirimkan 100 buah CD ternyata dikirim seratus CD dalam 2 minggu. Lumayan bisa dibagikan ke murid-murid atau teman-teman. Jangan takut untuk mencobanya karena linux yang satu ini cukup mudah penggunaannya.

  • Share/Bookmark

Ubuntu di USB Flash Drive

Friday, November 28th, 2008

Assalamu ‘alaikum

Tadinya ngga mau nulis ini, tapi gatel. Sambil melupakan sejenak benda bernama Neural Network yang ngga ketemu juga celahnya saya mau coba install Linux Ubuntu di USB Flash Disk. Maklum baru saja beli sebuah USB Flashdisk berkapasitas 4 GB dengan harga murah meriah RM 28 sahaja. Harga Indonesianya ga tau.

Apa yang dibutuhkan untuk menginstall Ubuntu di flash tersebut? Cura-cari sana-sini ketemu juga tutorialnya diberbagai tempat, tapi yang paling OK adalah di pendrivelinux.com. Isi web tersebut adalah step-by-step instalasi ubuntu live cd di usb flashdisk dari windows. Kenapa install ubuntu live CD di flash disk dari windows? Karena saya ngga punya CD writer di kampus, yang ada komputer windows dan akses internet. So saya siapkan dua buah flash disk untuk instalasi ubuntu. Pertama untuk ubuntu live CD dan yang kedua untuk ubuntu install.

Oke, paling ngga perlu sebuah flashdisk dengan kapasitas 1 GB untuk ubuntu live CD yang sudah diformat FAT32. Kemudian diperlukan file image live CD yang bisa didownload dari link ini. Setelah itu download juga file untuk bikin flash disk ubuntu live dan jalankan program itu untuk bikin folder ubuntu8. Kopi image .iso tadi ke folder tersebut dan jalankan fixu8.bat sambil mengikuti petunjuk dari program tersebut. Seharusnya ngga masalah dan bisa dipakai untuk boot. Oh iya, jangan lupa BIOS kompie diset supaya boot melalui USB sebelum CD atau HD. Kalau cara lain, ya silahkan bakar image tersebut ke CD kosong.

Dari booting usb, anda bisa masuk ke ubuntu dengan mudah dan pakai ubuntunya untuk browsing, chatting, downloading, office application, games, dll. Tapi sayangnya perubahan ngga bisa disimpan disini gara-gara live CD. Jadi saya harus install di flash disk lain, yang saya siapkan sebesar 4GB tadi. Kalo punya harddisk external USB mungkin lebih baik karena kapasitasnya lebih besar.

Untuk install di USB saya cukup klik install ubuntu. Lalu dia akan tanya dimana akan diinstall. Jangan pilih default yang pasti milih HD komputer. Saya pilih aja yang custom dan pilih usb kedua sebagai media instalasinya. Saya set 3,5 GB untuk mount point root dan sisanya untuk swap. Ngga lupa saya set GRUB diinstall di usb, bukan di HD. Setelah itu jreng-jreng, install deh. Oh iya, saat instalasi itu sempat terhenti ketika 82% gara-gara mirror. Ternyata dia nyari koneksi ke internet, akhirnya setelah lama ngga ada progress saya cabut aja koneksi internetnya dan langsung menyelesaikan instalasi ubuntu.

Setelah terinstall USB ini bisa dipakai untuk boot dan dipindah-pindahkan ke sembarang komputer. Soale dia otomatis detek HD, VGA, sound, dll. Beda dengan Windows yang kita miliki lisensi untuk menggunakannya Linux kita miliki softwarenya. Jadi saya coba deh untuk boot. Eh ternyata ga langsung bisa, karena diset untuk boot dari hd2 yang ngga terdeteksi langsung. Saya harus edit menjadi HD0 supaya bisa boot up. Dan berhasil !! Horeee.

Setelah itu saya ganti tuh boot loader setting dengan sudo gedit /boot/grup/menu.lst. Dengan demikian ketika saya pulang ke rumah saya bisa menggunakannya dengan laptop ACER ASPIRE 4520 saya. Langsung bisa deteksi bo semua hardwarenya. OK punya. Sekarang ngga perlu khawatir lagi, untuk kerja saya bisa bawa kesana kemari tuh USB flashdisk saya yang sudah berisi ubuntu. Lumayan cepat, bisa 3D desktop lagi seperti yang ada di youtube.

  • Share/Bookmark

Diam Itu Emas?

Wednesday, November 26th, 2008

Mari menyebut nama Allah setiap saat.
Mari melihat yang telah Tuhanmu perbuat
Mari tetap manapaki jalan
Hanya ketika kau hampir tak berharap,
tiba-tiba tabir terbuka
Lihat yang telah Tuhanmu perbuat
Kau berbuat apa?
Dia berbuat apa?

Mari menapaki jalan
Hanya dengan berjalan
Kita menemukan berbagai pengalaman
Diam hanya membuat kita mati membeku

Itu bukan kata-kata saya, tapi kata-kata teman saya, Yoni Hariyadi.
Kata-kata yang patut saya renungkan karena berkaitan erat dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini. Saya sudah buat apa? Kalo ngeblog itu, termasuk diam juga atau tidak ya? Meskipun secara aktif keluar pikiran dan pendapat, tapi apa hasil nyata dari blog misalnya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia?

Ada yang bisa tolong jawab?

  • Share/Bookmark

Pertanyaan Sebelum Datangnya Kematian

Friday, November 14th, 2008

Pernah beberapa kali pertanyaan ini melintas dipikiran saya. Apa yang akan terjadi ketika saya akan meninggal? Dirunut-runut melihat pengalaman orang-orang yang meninggal, saya coba list pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan proses meninggal.

Pertama, kalo saya nanti meninggal kira-kira karena apa ya? Sebelumnya saya pernah bikin tulisan tentang memilih cara meninggal, yaitu suatu pekerjaan yang kita senangi. Ada yang senang dakwah, meninggalnya ketika berdakwah. Ada yang senang naik motor gede, meninggalnya juga saat naik motor gede. Tetapi sebab meninggalnya bukan itu sih. Misalnya Gito Rollies meninggal karena sakit keras sedangkan Sophan Sopian meninggal karena kecelakaan. Ketika saya mengantar mertua berobat ke sebuah rumah sakit, di sana juga ada yang meninggal gara-gara disantet. Ada juga yang sedang ngobrol tiba-tiba meninggal. Ngga ada tanda, ngga ada sebab. Dulu saya rindu sekali meninggal sebagai syuhada. Entah meninggalnya karena berperang atau sebab lainnya tapi bisa dikategorikan sebagai syahid. Sekarang entahlah, saya ngga tau lagi. Punya keinginan sebab mati juga ngga mungkin, tapi mudah-mudahan tidak memberatkan orang-orang yang dekat dengan saya. Kasihan kan.

Yang kedua, kalo saya sudah mau meninggal, siapa ya yang kira-kira membantu membimbing saya mengucap kalimat syahadat? Kalo lihat di film sih, banyak orang yang meninggal setelah mengucapkan kalimat-kalimat yang baik. Ada yang sebelum meninggal bersyahadat terlebih dahulu, ada yang bertakbir, ada juga yang bilang: “T t t tteruskan pp per juaangan kuuu aaaaaakkkkh”. Kalo melihat kenyataannya, tidak semudah itu mengharapkan bisa meninggal dengan kalimat terakhir yang baik. Kalo perkiraan saya, lagi-lagi berhubungan dengan kegiatan yang sering kita lakukan. Kalo kita sering berdzikir, sering bertasbih, tahmid, dan takbir, insya Allah kata-kata itu juga yang terakhir keluar dari bibir kita. Ada yang cerita seorang kenek yang terjatuh dari bisnya ketika akan meninggal malah keluar nama tempat yang biasa dia teriakkan ketika sedang menarik penumpang. Ada lagi yang katanya gerakan tangan dan tubuhnya seolah-olah sedang menghitung uang. Kayaknya kalo kita berharap ada kata-kata terakhir yang akan keluar dari bibir kita, harus sudah mulai sering kita ucapkan saat kita masih sadar. Sampai-sampai kalo kita sadarpun kata-kata itu yang akan sering keluar dari mulut kita. Beberapa orang yang saya kenal masih berkomat-kamit seperti memuji-muji Allah ketika mereka menjelang ajal. Biasanya sih, beberapa hari menjelang ajal suka sudah tidak sadar. Kecuali kalo yang matinya karena kecelakaan ya. Tapi mungkin juga sih kata-kata yang keluar adalah yang sering diucapkan ketika tidak sadar. Misalnya kalo orang yang sewaktu hidupnya terkaget-kaget mengucapkan astaghfirullah atau Allohu Akbar, kayaknya pas kecelakaan dan meninggal juga akan mengucapkan kata-kata itu. Sekarang bayangkan betapa lucunya seorang yang sewaktu hidup dan sering kaget mengucapkan nama-nama binatang, terus pas kecelakaan dan mau meninggal kata-kata itu juga yang keluar hehehe. Naudzu billah deh.

Ketiga, kalo pas meninggal siapa yang ngurusin ya? Ngerepotin ngga ya kira-kira? Kalo meninggalnya siang hari dan hari kerja, mungkin ngga nyusahin yang ngurus. Mau beli kain kafan dan kapas gampang. Mau mesen kubur juga ngga susah. Kalo meninggalnya jam 12 malam? Masa harus ditunggu sampai siang dulu sih baru diurusin. Mertua saya sudah menyiapkan kain kafan dan kapas sejak berbulan sebelum meninggal. Alhamdulillah, ketika meninggal malam hari tidak merepotkan keluarga untuk mencari keperluan pengurusan jenazah, sehingga bisa langsung diurus malam itu juga dan siap untuk dikuburkan pagi-pagi sekali. Pengurusan jenazah berkaitan dengan pemandian dan pensholatan. Meskipun saya sudah beberapa kali ikut kursus pengurusan jenazah, kayaknya tetap mesti buka kamus dulu deh untuk pelaksanaannya. Banyak yang lupa. Lah kalo keluarga ngga ada yang bisa gimana? Siapa yang mau mandikan dan menyolatkan? Bisa sih dimandikan oleh orang lain, tapi kan lebih baik kalo dimandikan oleh keluarga sendiri. Senang juga kalo anak sendiri yang bisa mengimami sholat jenazahnya.

Keempat, siapa yang akan mengantarkan jenazah dan mendoakan? Sewaktu tetangga saya meninggal, yang mengantarkan sampai ke kubur bisa dihitung dengan jari. Soalnya sudah tua dan tidak terlalu aktif di masyarakat. Kalo saya, paling ya teman kantor aja sama tetangga. Itupun kalo ada yang mau. Maklum deh, saya kan belum terasa kehadirannya oleh orang lain. Kalo orang yang sudah terasa kehadirannya, kehilangannya pun akan terasa dan orang akan memperjuangkan waktu dan tenaga untuk mengantarkan. Seperti yang saya lihat ketika uwak saya meninggal, begitu banyak orang yang datang untuk menyolatkan dan mengantarkan. Begitu juga ketika seorang aktivis meninggal, banyak kawan sesama aktivis yang ikut mengantarkan. Pak Harto, meskipun banyak yang benci ternyata banyak juga yang mengantarkan. Artinya Pak Harto adalah orang yang terasa kehadirannya. Ketika mertua saya meninggal, banyak juga yang mau ikut mengantarkan ke kubur. Tapi kebetulan tempat tinggalnya bukan berisi orang-orang berada yang punya kendaraan pribadi, sedangkan jarak ke pekuburan umum juga cukup jauh. Mau ngga mau harus disiapkan kendaraan untuk mengangkut para pengiring ini. Biasanya sih biar banyak daya muatnya disiapkan bis atau truk. Keluarga harus rela keluar uang sedikit yang penting almarhum banyak yang mengantarkan dan mendoakan. Apalagi katanya setelah 40 langkah pengiring meninggalkan kubur, maka sudah harus bersiap-siap berhadapan dengan malaikat yang bertanya dalam kubur.

Kelima, kira-kira keluarga mendoakan terus ngga ya? Menurut ajaran Islam, semua amal sudah terputus setelah kita meninggal. Ngga ada lagi usaha yang bisa kita lakukan untuk menambah pahala atau mengurangi dosa. Yang tinggal adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariah, dan doa dari anak. Mudah-mudahan anak-anak saya selalu ingat untuk mendoakan orangtuanya. Jangan sampe deh, punya anak yang cuma bisa berkelahi berebut warisan setelah ortunya meninggal. Saya setuju dengan keputusan untuk membuat masjid atau jadi tabung abadi penyantunan orang yang membutuhkan daripada sekedar diwariskan ke anak. Biar deh ditinggalkan secukupnya saja, anak juga sudah punya rejeki sendiri, ngga harus dari orangtua terus. Mudah-mudahan sempat menyiapkan anak menjadi anak yang sholeh dan ngga bergantung dengan suapan orangtua terus. Jadi ketika saya nanti meninggal, mereka bisa jadi jalan penghapusan dosa saya dan juga mereka bisa meneruskan hidup dengan baik sepeninggal saya. Aamiin. Gimana dengan anda?

  • Share/Bookmark

Pharmacist Knows Better

Friday, November 14th, 2008

Rasanya saya pernah tulis di sini tentang sikap dokter Melayu yang ada di sini. Kebanyakan bersikap dingin apalagi yang bekerja di poliklinik milik pemerintah. Cool banget. Pernah ketika saya memeriksakan anak saya yang sakit si dokter ngga nanya apa-apa. Cuma diem aja dan terus menuliskan resep untuk pasien tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.

Ngga cuma sekali kejadian itu terjadi. Gara-gara ngga sembuh juga sakit batuk saya bawa anak ke tempat praktik dokter bebas. Di sana juga sama saja, baik pasien maupun orang tua ngga ditanya macam-macam. Dokter diem aja mendengarkan keluhan dari pasien tanpa bertanya atau memberikan saran. Ngga ada senyum sedikitpun.

Kejadiannya beda kalo kita pergi ke dokter swasta yang biasanya diisi oleh dokter India atau China. Secara alaminya keturunan non Bumiputera yang ada di Malaysia memang dibatasi untuk memasuki jurusan-jurusan tertentu termasuk kedokteran (sama juga dengan di Indonesia kali ya). Karena itu bagi mereka yang ingin menjadi dokter biasanya sekolah di luar negeri seperti di Indonesia (banyak di kedokteran UNPAD, UNBRAW, dll), India, dan Rusia. Dokter-dokter ini biasanya lebih ramah dan mau menyapa termasuk ke anak-anak. Sewaktu kami periksa kehamilan istri di rumah sakit swasta di Ipoh, anak saya juga diajak ngobrol dan diberi permen oleh dokternya langsung.

Berdasarkan pengalaman di atas, kalau harus periksa ke dokter yang bayarnya hampir sama ya kami lebih baik pergi ke rumah sakit swasta dari pada ke poliklinik. Tapi sayangnya rumah sakit swasta cukup jauh dari rumah sewa kami. Karena itu kalau ada sakit apa-apa biasanya kami langsung pergi ke apotek saja untuk nanya ke apotekernya.

Biasanya si apoteker juga punya pengetahuan tentang penyakit dan obatnya. Cukup bawa orang yang sakit dan ceritakan apa keluhannya si apoteker bisa memberikan saran obat apa yang harus dimakan dengan sekalian takarannya. Ini jauh lebih murah karena kita ngga perlu bayar si apoteker hehehe. Saya pernah bawa anak saya yang kena sakit jari akibat sering digigitin sendiri ke apotek. Di sana saya cuma ceritakan sedikit keluhan dan sebab terjadinya penyakit itu ke apoteker. Eh ternyata jawaban si apoteker jauh lebih panjang dan lebih informatif dibandingkan kalo saya pergi ke dokter. Ya udah, sekarang apotek jadi langganan saya kalo ada penyakit. Tapi mudah-mudahan ngga perlu banyak ke apotek deh. Bagaimanapun hidup sehat lebih baik dari pada sakit. Mendingan saya bayar asuransi kesehatan tapi ngga pernah menggunakannya daripada saya dapat pelayanan kelas satu di rumah sakit. Iya ngga? Biar deh orang lain saja yang menggunakan asuransi kesehatan yang saya bayar, yang penting keluarga saya sehat wal afiat.

  • Share/Bookmark

Wanita Muda yang Cantik Ingin Menikahi Pria Kaya

Tuesday, November 4th, 2008

Ini terjemahan dari sebuah e-mail. Lucu juga sih, makanya saya mau share. Sharing is Caring.

Disebuah kolom konsultasi ada seorang wanita menulis seperti ini:

Saya ingin jujur tentang semua yang saya katakan di sini. Saya akan berumur 25 tahun ini. Saya sangat cantik, bergaya, dan bercita rasa tinggi. Saya ingin menikah dengan seorang laki-laki yang memiliki pendapatan tahunan sekitar US$500000 (Sekitar Rp. 5 Milyar) lebih. Anda boleh bilang saya tamak, tapi seseorang dengan pendapatan tahunan US$ 1 juta di New York hanya masuk kelas pertengahan saja.

Permintaan saya tidak terlalu tinggi. Apakah ada orang di forum ini yang memiliki pendapatan tahunan US$ 500k? Apakah anda sudah menikah? Yang ingin saya tanyakan: Apa yang harus saya lakukan agar dapat menikahi orang seperti anda? Diantara orang yang pernah saya kencani, paling tinggi hanya berpendapatan US$ 250k. Mungkin ini limit tertinggi saya. Jika ada orang ingin pindah ke tempat tinggal berbiaya tinggi di barat Taman New York, US$ 250k tidak akan cukup.

Saya di sini ingin menanyakan beberapa hal penting:

  1. Dimana lajang kaya biasanya berlepak?
  2. Grup mana seharusnya menjadi target saya?
  3. Kenapa istri orang kaya biasanya berwajah biasa saja?
  4. Bagaimana cara anda menentukan siapa yang akan menjadi istri anda, dan siapa yang hanya bisa menjadi teman wanita anda?  (Target saya sekarang adalah untuk menikah)

Tertanda, gadis cantik.

Dan ini jawabannya:

Saya membaca posting anda dengan rasa ketertarikan yang tinggi. Kiranya banyak gadis di luar sana yang memiliki pertanyaan yang sama dengan anda. Ijinkan saya untuk menjawab pertanyaan anda dengan kedudukan saya sebagai investor yang memiliki pendapatan lebih dari US$ 500k yang tentunya sesuai dengan permintaan anda. Mudah-mudahan orang lain tidak menganggap saya membuang waktu menjawab pertanyaan ini.

Dari sudut pandang bisnis, menikahi anda adalah keputusan yang jelek. Jawabannya sangat mudah, jadi ijinkan saya menjelaskannya. Kita ketepikan detailnya dulu, intinya anda ingin menukar “kecantikan” dengan “uang”. Orang A menyediakan kecantikan sedangkan orang B menyediakan uang, cukup fair.

Tapi ada masalah yang mematikan di sini, kecantikan anda pasti akan berkurang sedangkan uang saya tidak akan pergi kemana-mana tanpa alasan yang jelas. Faktanya, pendapatan saya bisa bertambah dari tahun ke tahun sedangkan anda tidak akan pernah bertambah cantik bila tahun bertambah. Karena itu dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset apresiasi sedangkan anda adalah aset depresiasi. Bukan sekedar depresiasi normal, tapi depresiasi eksponensial. Jika anda hanya punya aset itu, nilai anda akan mengkhawatirkan 10 tahun ke depan.

Dalam istilah yang biasa dipakai di Wall Street, setiap perdagangan memiliki posisi. Berkencan dengan anda juga merupakan posisi perdagangan. Jika nilai perdagangan jatuh kami akan menjualnya dan juga bukanlah ide yang bagus untuk menyimpannya untuk jangka panjang seperti pernikahan yang anda inginkan. Mungkin kejam kalau saya harus berkata seperti itu, tapi untuk membuat keputusan bijak maka setiap aset dengan depresiasi tinggi harus segera dijual atau disewakan. Setiap orang dengan pendapatan US$ 500k bukanlah orang bodoh; kami hanya akan mengencani anda tapi tidak akan menikahi anda. Saya sarankan anda lupakan mencari petunjuk untuk menikahi pria kaya. Lagi pula, anda dapat menjadikan diri anda orang kaya berpendapatan lebih dari US$ 500 k. Peluangnya lebih besar daripada mendapatkan orang kaya yang bodoh

Mudah-mudahan balasan saya ini dapat menolong.

Tertanda JPM

  • Share/Bookmark