Entries RSS Comments RSS

Archive for January, 2009

Keranda Nomor 180476

Wednesday, January 28th, 2009

Perkenalkan, namaku Keranda Nomor 180476. Aku hadir ke dunia tanpa ibu bapa, dan juga tanpa saudara. Aku ada bukan dilahirkan, tapi dibuat berdasarkan pesanan. Orang yang membuatku namanya Mang Maman, yang workshopnya ada di pengkolan Setrasari. Workshopnya terlihat kecil dan kusam bila dibandingkan sekelilingnya. Maklum, dia ada di perumahan mewah yang dikelilingi oleh pertokoan kelas atas, tidak seperti workshopnya Mang Maman yang hitam, dekil, dan banyak karatan.

Aku dibuat dari berbagai macam besi, yang besar dan kecil, yang silinder dan pipih, juga ada yang kotak-kotak. Sebagian dari besi yang kokoh, supaya bisa menahan beban yang kuat. Sebagian lagi dari besi-besi yang kecil.

Bentukku biasa saja, seperti keranda-keranda yang lain. Dasarnya empat persegi panjang dengan lintangan besi. Biasa dibuat seperti itu, karena kadang aku juga dipakai untuk memandikan mayat. Atau mungkin alasan utamanya, biar ngga terlalu berat. Tutupku seperti setengah bulatan kalau dilihat dari ujungnya. Mungkin biar bisa menampung tubuh mayat dari yang kecil sampai yang besar.

Warnaku monoton. Kalau tidak putih ya hijau. Di mana-mana warna keranda hampir sama, itu-itu saja. Kalau ada yang warnanya coklat, itu bukan di cat. Warna coklat artinya karat. Tanda-tanda keranda juga hampir menjadi mayat. Untungnya, kalau aku dipakai sering diberi pakaian berwarna hijau dan juga dihiasi bunga-bunga. Setidaknya merubah sedikit penampilanku.

Sebagian besar waktuku ku habiskan di gudang Masjid. Berdzikir menunggu waktu bekerja yang kadang-kadang sibuk, tapi lebih sering santai. Penghuni kompleks perumahan di dekat Masjidku memang banyak pensiunan, yang artinya memang sudah dekat pada kematian. Sibuk, kalau mereka hamper berbarengan meninggal dunia. Apalagi kalau ada wabah demam berdarah. Tak kira tua dan muda, aku hantar juga ke tempat mereka.

Tak banyak tempat yang aku kunjungi. Selain sekitar kompleks tempatku, ya paling jauh ke TPU lagi, TPU lagi. Kadang ada juga sih yang minta diantarkan ke kampung halamannya, tapi itu jarang. Kebanyakan mereka minta dikuburkan dekat-dekat sini saja. Biar gampang dilawat keluarga, katanya.
Biasanya, aku mendapat tempat yang istimewa. Selalu ada pengiring di sekitarku. Ada yang bertugas mengangkatku, ada yang menyiapkan jalan di depanku, juga ada yang mengiringi di belakangku. Kadang, aku juga diangkut pakai ambulan. Sirenenya meraung-raung memberikan amaran supaya kendaraan lain minggir dan memberikan jalan.

Sesampai di kuburan, aku selalu diangkat oleh orang. Kadang pengangkatku merasa keberatan, kadang juga merasa ringan. Mereka ga tau, kalau berat itu memang bawaannya si mayat. Biasanya kalau jahat, mereka berat. Kalau baik, selalu ada sesuatu yang tidak kelihatan ikut mengangkatku. Aku tahu, ngga cuma manusia saja yang ikut memegangku.

Tempat paling jauh aku bisa pergi ya di sisi liang lahat. Kadang aku coba-coba melihat, apa yang mereka lakukan pada si mayat. Tapi selalu terhalang, dan biasanya begitu mayat diangkat, aku pun dipindahkan ke tempat lain supaya tidak menghalangi.

Setelah selesai bertugas, aku biasanya dimandikan dan disikat. Maklum, dari pekuburan memang sering bergelimang dengan tanah. Selesai itu, aku disimpan lagi masuk ke dalam gudang. Berdzikir dan menunggu giliran bertugas.

Salam kenal buat anda semua. Mungkin suatu saat kita akan berjumpa. Bisa jadi andalah penunggang saya. Walaupun nanti tidak berjumpa dengan saya, mungkin dengan sesama saya. Nomor yang lain.

  • Share/Bookmark

Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

Friday, January 23rd, 2009

Biasanya, tingkat kesejahteraan secara ekonomi dari suatu negara dilihat dari GDP per Capita. Hitung-hitungannya adalah GDP negara itu dibagi ke jumlah penduduknya. Kalau dilihat dari daftar, Indonesia memiliki GDP nomor 20 terbesar sedunia. Tetapi setelah dibagi jumlah penduduknya, maka dari daftar juga, Indonesia jadi peringkat nomor 115 dunia. Artinya, jumlah penduduk itu yang menjadi penentu. India saja yang punya GDP hampir 3 kali lipat Indonesia ada di peringkat 134 dunia pendapatan kotor per kapitanya. Kalau Indonesia mau mengejar kesejahteraan lewat peningkatan pendapatan, harus berusaha berkali lipat lagi deh kayaknya. Dengan pertumbuhan GDP yang seret belakangan ini, ya bisa dibilang susah deh.

Setelah pengumuman krisis dunia di akhir tahun 2008 kemarin, saya penasaran dengan kondisi di Indonesia. Apa sih pengaruhnya buat yang tinggal di Indonesia? Saya tanya-tanya ke beberapa teman yang ada di sana. Jawabannya hampir sama, ya gitu aja deh ngga ada yang aneh. Biasa aja dengan krisis, malah beberapa bilang kalau dari segi pendapatan sih sekarang jauh lebih baik daripada tahun 2003. Di mall-mall, masih penuh dengan orang berbelanja. Jalanan masih macet dengan mobil-mobil terbaru. Lalu, apa pengaruhnya angka-angka tadi dan juga krisis ekonomi?

Apa saya yang salah. Maksudnya, saya nanyanya sama orang-orang yang ga terpengaruh oleh krisis (Atau berarti saya juga sudah masuk kalangan yang ngga terpengaruh ya hehehe, aamiin). Soalnya saya lihat juga, orang-orang yang mengeluh tentang krisis ini, sebenarnya “punya” tapi sebenarnya disimpan untuk keperluan yang lain. Misalnya ada kawan yang mengeluh kurang uang untuk bayar anak sekolah, untuk makan seadanya, tapi sebenarnya uangnya dipakai untuk mencicil rumah ke tiga. Weleh, ini sih bukan kekurangan, tapi mengurangi yang satu untuk dapat yang lain.

Di koran-koran memang sering diceritakan betapa orang-orang “kecil” semakin menjerit karena himpitan ekonomi. Tapi masih saya lihat juga, orang-orang “kecil” yang jajannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan makanan mingguan saya. Misalnya, tetangga di Jakarta, memilih makan pakai bakso yang harga satu mangkoknya sekali makan itu cukup untuk makan sekeluarga saya sehari. Rumahnya ngontrak dibuat dari bilik tapi ada TV dan DVD, sedangkan saya dulu cuma punya TV saja.

Kesejahteraan mungkin tidak seharusnya dihitung dari jumlah uang yang didapat saja. Buktinya, saya disini ditanya oleh penjaga kedai orang Malaysia berapa pendapatan saya sebulan. Ketika saya jawab dengan satu angka, dia bilang mana cukup uang segitu? Wah, padahal dengan uang segitu saya masih bisa nabung lebih banyak dibandingkan ketika ada di Indonesia. TKI di sini juga dibayar dengan gaji yang lebih kecil, tapi saya lihat sekali kirim bisa 3 kali lipat gaji saya di Indonesia (saya bukan TKI, jadi belum bisa ngirim 3 kali gaji saya di Indonesia hehehe).

Jadi ngga penting tuh kelihatan angka-angkanya. Yang penting terpenuhi kebutuhannya. Mungkin pemerintah Indonesia ngga perlu menghitung jumlah pendapatan yang harus didapat oleh rakyatnya. Tetapi lebih baik, kebutuhan dasar apa saja yang harus terpenuhi. Kalo ngga bisa dipenuhi oleh pendapatan si rakyat, ya dipenuhi oleh pemerintah saja.

Rakyat ngga perlu subsidi BBM. Yang diperlukan adalah saat mau pergi dari satu tempat ke tempat lain, dia bisa melakukannya dengan biaya terjangkau. Yang diperlukan adalah saat mau masak, ya ada energi masaknya. Terserah gimana caranya. Ketika bis yang disubsidi ternyata ongkosnya lebih mahal daripada beli motor sendiri, akhirnya orang pakai motor meskipun harus kredit baru. Ketika pakai kompor gas ternyata susah, ya balik lagi ke minyak tanah atau kayu bakar.

Kebutuhan dasar ini agak jarang dibahas dalam literatur. Pajangan angka saja yang banyak ditampilkan. Kalau melihat angkanya, kadang ngga kepikir gimana ya caranya. Misal, pemerintah cukup kaget karena setelah kenaikan harga BBM tahun lalu koq konsumsi BBM meningkat. Ternyata ya rakyat berubah metoda bepergiannya dari memakai angkutan umum menjadi angkutan pribadi karena menurut hitungan lebih murah. Pemerintah rugi juga karena harus “mengeluarkan” subsidi tambahan. Mungkin, kalau pemerintah menyediakan solusi angkutan yang murah, jumlah uangnya lebih sedikit daripada “mengeluarkan” subsidi.

Bagi banyak pemerintah negara lain, kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi selain sandang, pangan, dan papan adalah pendidikan dan kesehatan. Sistem asuransi nasional memungkinkan rakyat mendapatkan pelayanan kesehatan dengan murah. Harga obat, harga dokter, harga RS, boleh saja mahal. Tapi karena ditanggung oleh asuransi maka harganya jadi tidak ada lagi. Pemerintah ngga perlu mikirkan subsidi obat lagi. Jujur saja, saya rela membayar asuransi asalkan saya dan keluarga ngga sakit meskipun uangnya hangus. Daripada saya masuk rumah sakit di kelas VVIP, mendingan saya sehat dan bisa beraktivitas dengan leluasa.

Pendidikan juga bukan sesuatu yang murah. Tetapi saya sudah melihat, TPA TKA, pesantren, sekolah minggu, dan lainnya itu koq bisa jalan-jalan saja dari dulu. Sejak kecil saya ikutan pengajian di Masjid, ada yang bayar ada yang gratis. Pendidikannya jalan sampai sekarang masih ada pengajian di Masjid.  Mungkin model sekolah terbuka bisa diadopsi juga. Ada yang bilang proses itu penting, tapi kenyataannya sekarang dinilai dari hasil. Artinya ya sudah nilai dari hasil saja, prosesnya terserah mau bagaimana. Mau belajar otodidak, belajar di sawah, di lapangan, atau di mana saja, test di tempat ujian. Kalo lulus, ya berarti pada saat itu dia sudah memiliki kelayakan. Kalau belum lulus, ya test lagi aja kapan-kapan.

Tapi percaya lah, banyak orang pintar di atas sana. Hal-hal tersebut bukannya ngga dipikirkan dan dirancang solusinya. Kalo ada ide, ya silahkan majukan biar jadi bahan pertimbangan orang-orang pintar itu. Kalo saya sih, mikirkan gimana caranya ya supaya meskipun pengeluaran saya meningkat tetap ada sumber-sumber pundi uang untuk membayarinya hehehe. Dasar.

  • Share/Bookmark

Lari Lari Lari !!!

Thursday, January 22nd, 2009

Kembali lagi tentang harga diri bangsa. Dulu harga diri Indonesia cukup disegani di bidang olah raga. Kata orang, salah satu macan asia lah kalo dalam urusan yang satu ini. Sekarang, sudah sangat jarang kita mendengar hal-hal seperti ini (apa iya? kurang gaul aja kali loe wan hehehe).

Cabang olah raga yang masih menjadi andalan kita untuk mendulang medali di berbagai event tingkat dunia, sekarang tinggal bulu tangkis. Itupun saat ini sudah ketar ketir dengan prestasi Cina. Bahkan negara Eropa seperti Denmark dan juga Asia lainnya seperti Malaysia sudah menggeliat. Kalau dilihat rangkin dunianya, Malaysia punya rangking satu dunia untuk tunggal putra dan ganda putri. Sisanya ya bagi-bagi Cina. Indonesia masih ada ga ya?

Tapi olah raga bulu tangkis itu mahal. Saya juga main bulu tangkis. Sekali main, satu cock nya aja sudah sepuluh ribu rupiah. Apalagi kalo habis ber kokok (banyak cock maksudnya). Ngga cocok lah buat kondisi Indonesia sekarang. Makanya itu juga kali yang jadi penghalang prestasi olah raga ini untuk bertahan atau meningkat.

Kalau mau meningkatkan prestasi, ya mungkin ngga usah dari olah raga yang mahal-mahal dulu lah. Contohnya lari. Tentu sudah sering dengar dong, pelari dari negeri antah berantah seperti Kenya, Jamaica, dan negara Afrika lainnya memenangkan berbagai kompetisi tingkat dunia.  Apa sih hebatnya negara-negara itu dibandingkan Indonesia?

Kalau dengar cerita, mereka berlatih berlari juga ngga pakai sepatu. Cuaca panas. Negara miskin, eh maksudnya masih di bawah Indonesia lah (Jamaica masih lebih bagus peringkatnya dari Indonesia). Mereka bisa tuh bikin atlet yang bagus. Masa Indonesia ngga bisa? Bisa lah.

Apa sih yang bisa ditawarkan dari olah raga? Keringat? Cape? Wah belum tau ya manfaat olah raga. Olah raga itu menyehatkan. Sehat itu ngga harus mahal, karena kalau sakit akan jadi lebih mahal. Berlari adalah olah raga murah meriah. Ngga perlu trak khusus, ngga perlu alat khusus. Tinggal keluar rumah, dan mulailah berlari.

Supaya lari jadi olah raga pilihan untuk mengangkat harga diri bangsa, tentu perlu lah gula-gula yang bisa mendorong orang melakukannya. Ngga sekedar sehat, tapi juga bisa menghasilkan uang. Coba ada ya, kompetisi rutin tingkat RT RW kelurahan, sampai nasional untuk lari ini. Ngga usah gede-gede hadiahnya, asal ada, juga sudah cukup membahagiakan.

Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, masa sih ngga ada yang bisa lari cepat dan lari kuat. Bisa lah. Bisa. Nanti, kalo balik ke Indonesia insya Allah akan mempopulerkan lari. Biar bisa nyaingi badminton. Biar lahir juara-juara dunia dari Indonesia. 100m, marathon, triathlon, dan lainnya. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Belilah Produk Indonesia

Thursday, January 22nd, 2009

Seperti yang kita ketahui, seluruh dunia sedang dilanda krisis. Katanya sih sumber krisisnya ada di Amerika sana. Gara-gara kredit perumahan yang macet, terjadilah reaksi domino, menjatuhkan piranti-piranti ekonomi lainnya. Bahasa gampang saya mah, pokoknya semua jadi seret uang. Gara-gara seret uang, ya jadi seret belanja.

Amerika dan negara-negara maju sudah lama menjadi tumpuan negara lain untuk menjadi pasar empuk. Banyak produk buatan negara seperti Cina, Vietnam, Malaysia, India, dan juga Indonesia yang diekspor ke negara-negara tersebut. Tetapi dengan adanya krisis di negara besar ekonomi tersebut, membuat produk-produk yang sudah dihasilkan sulit untuk dipasarkan. Beberapa negara sudah bersiap memotong produksinya dan juga memberhentikan pekerja. Lalu, barang yang sudah diproduksi dikemanakan?

Nah, inilah yang jadi masalah. Kata pengusaha, daripada rugi keseluruhan mending dijual dengan harga murah saja. Kalo yang gede ngga mau beli ya jual ke yang kecil. Indonesia, adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Artinya ya, potensi pasar yang sangat besar. Memang sih, orang Indonesia ngga beli dengan harga setinggi orang di Amerika atau Eropa misalnya. Tapi mungkin dengan filosopi mengurangi kerugian, ya daripada ngga kejual mending dikasih harga murah yang penting barang habis.

Jalur resmi sebuah barang masuk ke Indonesia mungkin tidaklah mudah. Banyak persyaratan, dari mulai proteksi pemerintah Indonesia untuk produk dalam negeri sampai ke pajak yang harus dibayar. Tapi, yah namanya juga negara besar, ada aja bolongnya seperti penyelundupan dan suap-menyuap. Untuk pelakunya memang menguntungkan, tapi untuk negara Indonesia sangat merugikan.

Kalau banyak produk asing membanjiri Indonesia dengan harga murah, maka produk lokal akan sulit bersaing. Setelah sulit bersaing dan ngga bisa menjual produknya, industri lokal akan mati. Industri mati, karyawan di phk. Di phk, ngga punya uang. Jangankan untuk membeli produk luar negeri, untuk membeli sayur produksi dalam negeri saja belum tentu punya. Ini seperti efek domino juga. Sudah uangnya lari ke luar negeri, eh dalam negeri juga ngga ada uang lagi untuk diputar.

Pada jaman resesi ekonomi tahun 1930 an di Amerika, pemerintahnya sengaja memberikan pekerjaan padat tenaga kerja seperti pembuatan jalan atau infrastruktur lainnya. Diharapkan rakyatnya punya uang untuk belanja, industri bisa berkembang karena barangnya dibeli, nanti industri bisa rekrut rakyat untuk kerja lagi. Kalau misalnya kita membeli barang produksi luar negeri, bagaimana bisa industri lokal berkembang? Kalau begitu nanti bagaimana caranya rakyat mendapatkan kesempatan kerja?

Salah satu contoh yang bisa ditiru misalnya dulu ada sebuah kelompok pengajian (yang akhirnya dilarang), memiliki kegiatan ekonomi sendiri. Semua jamaah pengajian itu kalau mau beli sesuatu, ya dari jamaah pengajian itu juga. Dengan demikian, secara finansial uang jama’ah itu akan tetap berada di jama’ahnya. Belum lagi kalo ada orang di luar jama’ah yang membeli barang, artinya ada tambahan uang. Dengan cara seperti ini, mereka mampu menjamin kehidupan jama’ahnya.

Kalau Indonesia mampu menerapkan seperti itu, mungkin ekonomi Indonesia akan lebih baik. Sekarang sih, katanya sudah mulai. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata ibu edratna di edratna.wordpress.com, sekitar 4,9% tahun ini. Itu jauh lebih baik dari pertumbuhan di Malaysia yang diperkirakan sekitar 1,3% menurut agensi swasta.

Barang produksi Indonesia, menurut beberapa orang yang pesimis, berkualitas jelek dengan harga yang lebih mahal. Tapi lihat dulu dong. Insya Allah barang Indonesia juga bagus. FYI, orang Malaysia saja sering sengaja bepergian ke Bandung untuk memborong pakaian dan menjualnya kembali di Malaysia. Barang elektroniknya juga bisa dibandingkan dengan produksi Malaysia atau Cina. Orang Indonesia itu, apa sih yang ngga bisa dibikin. Asal ada yang mau beli, insya Allah bisa dibikin dengan baik.

Barang-barang bikinan Jepang juga dulunya diejek oleh orang Eropa dan Amerika. Tapi lihat saja sekarang banyak produk Jepang yang dijadikan patokan barang berkualitas baik. Barang buatan Indonesia pun, kalau diberi kesempatan insya Allah akan jadi lebih baik.

Mulai sekarang, mari kita perhatikan label dalam produk yang kita beli. Made in Indonesia, insya Allah kita beli. Belinya ngga usah diluar negeri, dalam negeri ajalah. Yang penting uangnya jalan di Indonesia. Insya Allah ekonomi Indonesia akan jadi lebih baik.

  • Share/Bookmark

Menyemai Benih Harapan

Wednesday, January 21st, 2009

Jalan hidup memang tidak bisa ditebak. Dulu maunya apa, sekarang menjadi apa. Mungkin malah ngga ada lagi hubungannya dengan cita-cita, karena ternyata hidup itu jauh lebih luas dari bayangan. Apalagi sekedar bayangan anak kecil.

Sewaktu kecil, ketika ditanya tentang cita-cita jawaban anak-anak sih standar saja. Saya cuma bisa bilang jadi insinyur elektro, sembari membayangkan kalo saya bikin sebuah tivi dan menikmati tivi hasil buatan saya. Perjalanan sekolah SD, SMP, dan SMA adalah sebuah perjuangan menggapai cita-cita, harapan menjadi insinyur elektro. Setelah masuk kuliah, ternyata insinyur elektro itu ngga membuat tivi ya hehehe.

Lalu apa gunanya menyemai benih-benih harapan, kalo kenyataannya ternyata tidak sesuai? Istri saya dulu pernah tanya, kenapa ya dulu sewaktu sekolah mati-matian belajar, berorganisasi, dan kegiatan aktif lainnya kalo ternyata setelah menikah hanya sekedar jadi ibu rumah tangga. Pekerjaannya pun ngga jauh dari mencuci, memasak, dan beberes rumah.

Apa gunanya juga menanyakan cita-cita pada seorang anak yang masih belum melihat luasnya dunia. Ternyata pada akhirnya, dia tidak menjadi seperti yang dia cita-citakan. Malah kadang tersepak dari cita-citanya karena ketidakmampuan ekonomi seperti tokoh Lintang dalam buku “Laskar Pelangi”.

Ada juga yang terlalu menaruh harapan berlebihan pada satu cita-cita sebelum melihat dunia. Misalnya istri saya cerita tentang seorang kawan yang terlalu memuja pemuda saat SMA. Seolah-olah si pemuda itu adalah orang terbaik sedunia dengan kondisinya saat itu. Padahal kalau saja dia mau melihat, ternyata di dunia mahasiswa jauh lebih banyak orang yang lebih baik dari pemuda itu. Rugi.

Tapi tidak rugi kalau kita masih bisa merubah harapan. Harapan tidak cuma disemai sekali. Kesempatan tidak datang dua kali, tapi berkali-kali. Jadi masih ada kesempatan untuk merubah nasib, meskipun sekarang tidak sesuai dengan cita-cita atau harapan yang pertama kali. Masih ada pemuda lain, masih ada pekerjaan lain, masih ada sekolah lain, masih ada rejeki lain.

Harapan, membuat hidup menjadi hidup. Dia yang memompa semangat manusia apalagi yang seperti saya.

  • Share/Bookmark

Upacara Bendera

Tuesday, January 20th, 2009

Salah seorang teman saya di facebook, pidi baiq, menuliskan status sedang rindu upacara bendera. Jadi teringat lagi, kenangan yang tidak terlalu indah dengan upacara bendera, terutama saat sekolah dulu. Dari SD sampai SMA upacara bendera adalah rutinitas (setidaknya) mingguan. Kalau masuk pagi upacaranya hari Sening sedangkan kalau masuk siang upacaranya hari Sabtu (dulu Sabtu masuk sekolah lho). Peran petugas upacara jadi hal yang ngga mungkin lepas buat saya, karena badan saya yang dulu termasuk tinggi dan langsing, persis tiang bendera hehehe.

Dulu ngga ngerti sih, kenapa harus upacara bendera segala? Belum lagi upacara tiap hari sebelum masuk kelas. Makanya pas kuliah seneng banget ngga ada upacara lagi. Tidak ada lagi acara berdiri panas-panasan. Tidak ada lagi acara latihan baris berbaris untuk persiapan. Senangnya.

Tapi, rasanya tidak mungkin suatu kegiatan dianjurkan untuk dilakukan kalau tidak ada manfaatnya. Tempat gemblengan pemimpin, selalu ada upacara. Coba saja lihat di pelatihan prajabatan semua instansi, baik negeri maupun swasta, selalu ada upacara. Apalagi di kalangan militer, jangankan sehari sekali upacara. Mungkin bisa jadi seharian penuh kerjaannya upacara saja.

Jadi apa dong manfaat upacara? Kalo searching di google, ngga jauh-jauh deh dari menghitamkan kulit dan membakar lemak. Padahal ngga mungkin kan menghitamkan kulit jadi tujuan dari upacara di akademi militer? Berikut ini kira-kira aja sih manfaat dari upacara.

Menanamkan disiplin. Bukan dari keperluan mendandani peserta upacara dengan pakaian yang lengkap dan atribut lainnya sih. Tapi dengan berdiri tegak atau berposisi seperti yang diperintahkan oleh pemimpin upacara seperti istirahat, hormat, dan gerakan lainnya sebenarnya melatih kita menjadi disiplin. Sayangnya hal ini banyak hilang dari perilaku peserta upacara. Pada saat seharusnya berdiri tegak, banyak yang berdiri dengan satu kaki tegak dan satu lagi entah kemana. Pada saat harus istirahat di tempat, ada yang malah duduk. Biasanya, hal ini dilakukan oleh orang yang belum pernah mendapatkan pendidikan khusus upacara. Tidak terdidik upacara, gitu maksudnya.

Kebersamaan. Buat orang yang pernah mendapat didikan upacara beneran (saya maksudnya hehehe), kebersamaan adalah aspek penting dalam upacara. Ngga sah deh segala kegiatan upacara, kalo misalnya gerakannya ngga bareng. Contohnya saat diperintahkan untuk berdiri tegak, begitu mendengar suara Siap Grak, seharusnya semua bersamaan melakukan tindakan untuk berdiri tegak dalam waktu yang bersamaan. Ada satu saja yang ngga sama, maka biasanya disuruh ulang lagi tuh gerakannya. Paling kelihatan sih kalo gerakannya berjalan seperti maju jalan. Di jaman kuliah, hal seperti ini bisa dilakukan lagi melalui kegiatan OSPEK. Ngga bareng, maka dihukum push up.

Sabar. Gimana ngga melatih kesabaran. Udah cape berdiri terus eh upacara belum selesai juga. Makanya ketika terdengar bubar jalan, umpamanya dia itu adalah suara angin surga. Langsung lari, ada yang ke kantin, ke kelas, dan juga ke toilet.

Postur tubuh yang baik. Berdiri tegak dengan posisi yang benar adalah baik untuk kesehatan. Buat yang kerja kantoran, ada baiknya upacara sendiri sebelum berangkat ke kantor atau sebelum memulai kerja kantor. Dia melatih tulang untuk menyangga tubuh dengan cara yang baik sehingga bisa mendukung aktivitas anda.

Itu aja deh yang kepikiran oleh saya. Kira-kira apa lagi ya manfaat upacara? Kalau di Malaysia sini, anak saya masih harus upacara setiap hari sebelum masuk ke kelas. Maklum sekolah negeri. Dia sudah hafal lagu kebangsaan Malaysia, tapi belum hafal lagu kebangsaan Indonesia. Di Indonesia, katanya sudah mulai berkurang ya pelaksanaan upacara ini. Sayang juga, padahal cukup banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan setengah jam ini.

  • Share/Bookmark

Harga Diri Bangsa

Monday, January 19th, 2009

Sebagian orang Indonesia sendiri bilang, harga diri bangsa Indonesia saat ini sedang terpuruk. Rakyatnya dilecehkan di banyak tempat di luar negeri. Suara bangsa Indonesia tidak diperhatikan oleh bangsa lain. Pemerintahnya pun dikatakan tidak mampu menghadapi tekanan-tekanan, baik dari negara besar maupun dari negara kecil. Benarkah demikian?

Sayangnya kalo anda mengharapkan jawabannya dari tulisan saya, ya maaf, ngga ada tuh. Saya pingin bahas tentang kenapa sih beberapa negara dikatakan memiliki harga diri yang tinggi. Menurut saya setidaknya ada dua sebab kenapa suatu negara dihormati oleh negara lain yaitu: ekonomi dan militer.

Ekonomi jelas sering menjadi patokan apakah suatu negara itu bermartabat atau tidak. Jangankan suatu negara, kita dalam kehidupan sehari-hari pun sering menilai ketinggian martabat dari status ekonomi. Orang kaya, akan lebih dihargai daripada orang miskin. Itu fakta.

Negara kita, Republik Indonesia, sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Pendapatan kotornya saja nomor 20 terbesar sedunia. Tapi sayangnya karena jumlah penduduknya yang sangat tinggi (mungkin nomor 4 atau 5 sedunia), pendapatan kotor per orangnya jadi melorot ke nomor 115 (bisa lihat di wikipedia). Hal yang sama juga berlaku kepada India dan Cina, yang beberapa warga negaranya menjadi orang terkaya sedunia, tetap saja masih di bawah 100 dunia. Kasus berbeda mungkin di Amerika dan Jepang yang meskipun penduduknya di atas 100 juta, pendapatan mereka tetap tinggi.

Kalau mau mengejar harga diri dari peningkatan ekonomi, kayaknya susah. Faktor utama penghalangnya ya itu tadi, jumlah penduduk yang sangat tinggi. Apalagi penduduk di Pulau Jawa yang merupakan pusat ekonomi negara Indonesia yang mungkin sudah 100 jutaan. Mau ngejar sekuat apapun, lama deh baru akan meningkat taraf pendapatan masyarakatnya.

Lalu cara apa lagi yang bisa ditempuh supaya harga diri bangsa meningkat? Militer tentu saja. Jaman dulu kala, ketika Indonesia masih muda kekuatan militer Indonesia sangat diperhitungkan. Meskipun saat itu ekonomi Indonesia tidak seberapa bagus, tetap saja suaranya didengar diberbagai belahan dunia. Kita mungkin tidak mendengar kekuatan militer ini secara langsung. Kita hanya mendengar bagaimana Bung Karno mampu mengatakan ya atau tidak kepada bangsa-bangsa lain. Padahal di belakang itu, ada kekuatan militer yang siap mendukung. Apalagi saat itu, bangsa Indonesia baru saja selesai berjuang senjata melawan penjajah dan juga pemberontakan-pemberontakan. Bahkan usaha untuk menjatuhkan bangsa Indonesia juga dilakukan melalui pembersihan militer, misalnya seperti kasus G 30 S PKI.

Saat ini, kekuatan militer Indonesia mungkin tidak begitu diperhitungkan. Berbagai macam embargo persenjataan, mungkin melemahkannya. Militer Malaysia, Singapura, dan Australia mungkin berani untuk beradu hanya karena mereka memiliki pakta pertahanan bersama negara persemakmuran dan persenjataan yang lebih canggih. Tapi dari soal keberanian, mungkin tentara Indonesia lebih tangguh.

Karena itu, perlu dipikirkan untuk meningkatkan taraf kemampuan persenjataan tentara Indonesia. Kalau di embargo, ya bikin saja sendiri seperti di Iran sana. Banyak koq orang pinter di Indonesia yang bisa peluru kendali. Misalnya saja, dosen saya dulu Dr. Dimitri Mahayana pernah cerita, kalo dia bisa bikin kendali peluru. Tapi takut saja bikinnya karena takut digunakan untuk membunuh diri sendiri hehehe. Peralatan militer lainnya juga bisa koq, apalagi industri pendukungnya sudah ada di Indonesia. Dari mulai industri pesawat, industri senjata, dan lainnya. Jadilah Indonesia negara yang ditakuti lagi hehehe.

Cuma, nanti disalahgunakan ga ya sama tentara Indonesia.

  • Share/Bookmark

Bahasa Nasional?

Thursday, January 15th, 2009

Sewaktu saya SD dulu, seingat saya pertama kali belajar bahasa ya mulai dari yang gampang dulu. Ini ibu Budi. Ibu Budi pergi ke pasar. Gitu aja, ngga susah-susah. Tapi kayaknya sekarang permintaan pasar udah makin tinggi deh.

Anak saya yang belajar di Malaysia sini juga terkena imbas permintaan pasar yang tinggi ini. Saat di sekolah setingkat TK, sudah diajari Bahasa Inggris, menulis, dan berhitung. Padahal dulu saya di TK cuma belajar menyanyi dan menggambar. Sekolah tingkat SD nya apalagi. Matematika dan Sains diajarkan dalam Bahasa Inggris, tambah pelajaran Bahasa Inggris (saya baru belajar pas SMP). Padahal sekolah negeri lho. Cukup bikin pusing kepala, lha wong pelajaran Bahasa Melayu nya aja ortunya anak-anak belum bisa. Malah jagoan mereka dibanding saya.

Tujuan dari pengantaran pelajaran Matematika dan Sain dalam English adalah untuk meningkatkan modal persaingan era global. Supaya anak-anak yang dididik di Malaysia sudah mahir berbahasa asing sejak kecil dan tidak canggung lagi untuk menggunakannya di saat mereka besar nanti.

Tujuannya memang baik. Tetapi tujuan baik tetap juga ada yang berpendapat sebaliknya. Misalnya beberapa hari lalu ada suatu wawancara di televisi yang menampilkan tokoh pendidikan yang ingin supaya semua pelajaran di sekolah negeri setingkat SD disampaikan dalam bahasa ibu. Bahasa ibu di sini setidaknya ada 3, bukan cuma Bahasa Melayu saja. Sekolah negeri di Malaysia ada jenis Cina dan Tamil, yang masing-masing bahasa ibunya berbeda.

Dalam wawancara tersebut terlihat sekali kalo si pembawa acara lebih mendukung Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Penampilan wawancara dengan orang awam pun hanya dari pihak yang mendukung penggunaan Bahasa Inggris saja. Saat bertanya jawab pun, selalu berusaha memojokkan pendapat tokoh pendidikan ini.

Tapi, bagaimanapun si tokoh pendidikan memang teruji kemampuan untuk membawakan misinya. Meskipun dipojokkan sana sini, akhirnya memang kelihatan argumen dia jauh lebih logis untuk diterima. Misalnya, menurut penelitian dia, sebagian besar (lebih dari 80%) orang tua menginginkan kedua pelajaran tadi diberikan dalam bahasa ibu. Hal ini disebabkan matematika dan sain mementingkan pemahaman konsep yang mungkin lebih baik disampaikan dalam bahasa yang familiar. Pembawa acara memojokkan dengan pertanyaan apakah demi yang mayoritas maka minoritas harus dipinggirkan? Tokoh ini cukup menjawab dengan dua kalimat. Tugas pemerintah adalah membuat kebijakan. Yang namanya kebijakan ya memang harus mengakomodir yang mayoritas daripada yang minoritas. Wah si pembawa acara langsung saja menghentikan acara untuk sesi iklan hehehe.

Penggunaan bahasa asing yang lebih kerap, menurut saya memang akan menghilangkan identitas bangsa. Contohnya semalam ada wawancara pemusik yang merasa tersaingi lagu-lagu dari Indonesia. Di Indonesia mau keturunan Jawa, Cina, Sumatra, dll, dalam hal lagu mereka akan menerima lagu dalam Bahasa Indonesia. Di Malaysia beda, lagu Melayu ya diterima oleh orang Melayu, Lagu Cina diterima oleh orang Cina, dan lagu Tamil oleh keturunan India. Karena itu industri musiknya dikatakan saat ini kurang berkembang.

Kekhawatiran lainnya adalah, satu saat Malaysia akan menjadi English Speaking country. Seperti Singapura gitu lah. Meskipun katanya Bahasa Melayu adalah bahasa nasional, dia akan menjadi terpinggirkan karena kedudukannya akan menjadi sama dengan Bahasa Cina dan Tamil. Mungkin kalo di Indonesia menjadi seperti bahasa daerah. Dia tidak akan digunakan secara luas di kegiatan negara.

Di sini ngga aneh melihat mentri atau bahkan perdana mentri memberikan ucapan dalam Bahasa Inggris. Bagus untuk publikasi internasional. Di Indonesia, jarang-jarang atau bahkan saya ngga pernah lihat mentri memberikan pernyataan media dalam Bahasa Inggris. Selalu Bahasa Indonesia. Dalam konteks identitas bangsa masih bagus. Tapi kadang Bahasa Indonesianya juga tercampur-campur atau tidak baku.

Bahasa, adalah produk budaya yang paling sering dipakai. Tidak seperti pakaian tradisional atau tarian yang dipakai pada acara tertentu saja, bahasa dipakai setiap hari. Bila bahasa sudah tercemar, maka bisa jadi itu adalah indikator budaya nasional juga sudah tercemari. Apalagi kalo sudah digantikan dengan bahasa lain, artinya sudah tidak punya gigi lagi.

Tapi memang terserah pada kebijakan pemerintah, mau membawa bangsa ini kemana melalui bahasanya. Go global dengan penggunaan bahasa internasional (boleh dibilang English dan Chinesse sudah ada ribuan tahun lalu, dibanding Bahasa Indonesia yang baru seumur siapa ya?). Atau tetap dengan budaya sendiri tapi masih mengakomodir globalisasi (Seperti Jepang mungkin). Jadi, kita rakyat ya ikut saja.

  • Share/Bookmark