Perkenalkan, namaku Keranda Nomor 180476. Aku hadir ke dunia tanpa ibu bapa, dan juga tanpa saudara. Aku ada bukan dilahirkan, tapi dibuat berdasarkan pesanan. Orang yang membuatku namanya Mang Maman, yang workshopnya ada di pengkolan Setrasari. Workshopnya terlihat kecil dan kusam bila dibandingkan sekelilingnya. Maklum, dia ada di perumahan mewah yang dikelilingi oleh pertokoan kelas atas, tidak seperti workshopnya Mang Maman yang hitam, dekil, dan banyak karatan.
Aku dibuat dari berbagai macam besi, yang besar dan kecil, yang silinder dan pipih, juga ada yang kotak-kotak. Sebagian dari besi yang kokoh, supaya bisa menahan beban yang kuat. Sebagian lagi dari besi-besi yang kecil.
Bentukku biasa saja, seperti keranda-keranda yang lain. Dasarnya empat persegi panjang dengan lintangan besi. Biasa dibuat seperti itu, karena kadang aku juga dipakai untuk memandikan mayat. Atau mungkin alasan utamanya, biar ngga terlalu berat. Tutupku seperti setengah bulatan kalau dilihat dari ujungnya. Mungkin biar bisa menampung tubuh mayat dari yang kecil sampai yang besar.
Warnaku monoton. Kalau tidak putih ya hijau. Di mana-mana warna keranda hampir sama, itu-itu saja. Kalau ada yang warnanya coklat, itu bukan di cat. Warna coklat artinya karat. Tanda-tanda keranda juga hampir menjadi mayat. Untungnya, kalau aku dipakai sering diberi pakaian berwarna hijau dan juga dihiasi bunga-bunga. Setidaknya merubah sedikit penampilanku.
Sebagian besar waktuku ku habiskan di gudang Masjid. Berdzikir menunggu waktu bekerja yang kadang-kadang sibuk, tapi lebih sering santai. Penghuni kompleks perumahan di dekat Masjidku memang banyak pensiunan, yang artinya memang sudah dekat pada kematian. Sibuk, kalau mereka hamper berbarengan meninggal dunia. Apalagi kalau ada wabah demam berdarah. Tak kira tua dan muda, aku hantar juga ke tempat mereka.
Tak banyak tempat yang aku kunjungi. Selain sekitar kompleks tempatku, ya paling jauh ke TPU lagi, TPU lagi. Kadang ada juga sih yang minta diantarkan ke kampung halamannya, tapi itu jarang. Kebanyakan mereka minta dikuburkan dekat-dekat sini saja. Biar gampang dilawat keluarga, katanya.
Biasanya, aku mendapat tempat yang istimewa. Selalu ada pengiring di sekitarku. Ada yang bertugas mengangkatku, ada yang menyiapkan jalan di depanku, juga ada yang mengiringi di belakangku. Kadang, aku juga diangkut pakai ambulan. Sirenenya meraung-raung memberikan amaran supaya kendaraan lain minggir dan memberikan jalan.
Sesampai di kuburan, aku selalu diangkat oleh orang. Kadang pengangkatku merasa keberatan, kadang juga merasa ringan. Mereka ga tau, kalau berat itu memang bawaannya si mayat. Biasanya kalau jahat, mereka berat. Kalau baik, selalu ada sesuatu yang tidak kelihatan ikut mengangkatku. Aku tahu, ngga cuma manusia saja yang ikut memegangku.
Tempat paling jauh aku bisa pergi ya di sisi liang lahat. Kadang aku coba-coba melihat, apa yang mereka lakukan pada si mayat. Tapi selalu terhalang, dan biasanya begitu mayat diangkat, aku pun dipindahkan ke tempat lain supaya tidak menghalangi.
Setelah selesai bertugas, aku biasanya dimandikan dan disikat. Maklum, dari pekuburan memang sering bergelimang dengan tanah. Selesai itu, aku disimpan lagi masuk ke dalam gudang. Berdzikir dan menunggu giliran bertugas.
Salam kenal buat anda semua. Mungkin suatu saat kita akan berjumpa. Bisa jadi andalah penunggang saya. Walaupun nanti tidak berjumpa dengan saya, mungkin dengan sesama saya. Nomor yang lain.

duh, jadi inget masalah kematian, pak. siapa pun orangnya sudah pasti akan bertemu dg si keranda itu, pak.
hiiii, serem. thx udah ngingetin ya …
@ sawali, iya nih Pak. Yang jadi rahasia tinggal waktunya. Tapi mungkin ngga usah khawatir dengan waktunya kalo sudah puas hidup di dunia.
@ Supermance, masa sih serem hehehe. Kan biasa saja. Dulu sewaktu kuliah beberapa kali saya menggotong keranda, bahkan jadi model mayatnya dikursus pengurusan jenazah