Heboh, anak kecil menemukan batu yang dipercaya banyak orang bisa menyembuhkan penyakit. Setelah itu, ramai-ramai orang lain mengklaim menemukan batu lainnya yang lebih sakti, bisa menyembuhkan penyakit, mendatangkan kekayaan, dan kekuasaan.
Ini sih, bukan barang baru di Indonesia. Dari dulu juga sudah ada. Cuma karena sekarang media informasi makin mudah menjangkau manusia, maka urusan yang tadinya hanya menyebar dari mulut ke mulut sekarang dari sms ke sms, e-mail ke e-mail, dan blog ke blog. Lebih cepat dan lebih luas jangkauannya.
Kembali ke masalah batu yang menyembuhkan atau membawa keberuntungan baik berupa kekayaan dan kekuasaan. Bagi beberapa orang hal ini dianggap wajar tapi ada juga yang menghadapinya dengan keras. Mereka bilang musyrik, percaya kepada batu yang bisa menyembuhkan.
Sebagai seorang yang pernah mengalami cobaan mencari kesembuhan, saya paham betul bahwa keinginan kuat untuk sembuh dari seseorang yang sakit itu kadang membutakan. Bila salah melangkah, maka batas musyrik dan keimanan yang tipis itu jadi tidak kelihatan.
Cap musyrik tidak akan menghentikan orang untuk percaya kepada hal seperti di atas tadi. Yang ada dipikiran mereka bukan masalah iman atau agama. Yang menguasai pikiran mereka adalah keinginan untuk sembuh. Maka, kalau bisa menawarkan kesembuhan dengan cara yang baik, rasanya mereka juga akan percaya. Apalagi kalau tawarannya sembuh secara instant. Di mana-mana lagi ngetrend, sembuh instant, kaya instant, atau berkuasa secara instant.
Lagi pula, bukan obatnya yang memberikan kuasa kesembuhan. Tetapi rasa percaya bahwa kesembuhan akan datang itulah yang berkuasa menyembuhkan. Ngga harus pada batu sih. Buktinya banyak cerita di chicken soup for the soul yang membuktikan bahwa keyakinan sembuh membantu banyak orang untuk berjuang melawan penyakitnya. Ketidakyakinan juga membantu mempercepat penyakit mematikan penderitanya.
Ngga percaya?
Archive for February, 2009
Batu yang Menyembuhkan
Friday, February 27th, 2009Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sunday, February 22nd, 2009Kadang beberapa orang menganggap yang namanya keadilan itu adalah kesamaan. Semua dibagi sama semua dibagi rata. Seperti grup lawak Bagito, yang konon artinya adalah bagi roto akhirnya tidak bertahan lama karena harus pecah akibat yang kononnya juga karena tidak bagi rata.
Keadilan yang diperjuangkan negara sosialis, yang membagi rata penghasilannya bagi seluruh rakyat. Mau pintar ataupun bodoh, mau kerja keras ataupun kerja cerdas semua dapat sama (kecuali pemimpinnya). Akhirnya toh, banyak yang tidak bisa bertahan juga. Negara seperti Rusia dan Cina pun sekarang mau menerima tidak bagi rata. Yang masih bertahan seperti Korea Utara dan Kuba, berakhir menjadi kerajaan kecil atas nama sosialis dimana yang berkuasa ya keluarga penguasa juga. Kekuasaan diwariskan berdasarkan kekerabatan bukan lagi karena pembagirataan.
Konsep keadilan menurut saya, bukan kesamarataan. Kesetaraan jender juga bukan berarti wanita duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Contohnya seperti kepada anak. Misalkan punya dua anak yang satu sudah SMA dan satu lagi masih SD. Dari bajunya saja, ngga mungkin diadilkan dengan mengambil harga yang sama. Juga ngga mungkin diadilkan diberi uang ongkos dan sangu yang sama. Mungkin lebih adil, kalau memberi anak SMA baju yang bagus sedikit karena dia sudah diperhatikan orang lain. Dengan baju yang bagus, dia dapat menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya. Untuk yang SD, ya belum banyak yang memperhatikan (walaupun belum tentu juga ya, katanya dari SD juga sekarang sudah saling memperhatikan hehehe). Ongkosnya, ya yang besar lebih sedikit sangunya karena wilayah perginya juga sudah semakin luas dibandingkan yang masih SD. Itu masih bisa adil.
Begitu juga untuk rakyat Indonesia. Keadilan bukan berarti semua mendapatkan hal yang sama. Sesuai saja dengan tempatnya. Yang di desa dapat berbeda dengan yang di kota. Yang kaya dapat lebih baik kalau mau bayar lebih mahal. Yang miskin, ya dapat seadanya aja juga ga apa-apa, yang penting masih dapat.
Adil juga bukan berarti memberikan sesuatu tanpa ada sesuatu dibelakangnya. Misalnya, beberapa lembaga pemberi beasiswa lebih memprioritaskan siswa dari sekolah tertentu untuk mendapatkan beasiswa, dengan harapan suatu saat nanti kalau siswa itu sudah berhasil dia akan menjadi penyumbang lembaga beasiswa tersebut. Bukan tidak adil kalau siswa dari sekolah lain cuma dapat jatah sedikit.
Cukup adil, kalau pembangunan hanya berlaku cepat di beberapa bagian tertentu sedangkan di tempat lain seperti jalan di tempat atau malah mundur ke belakang. Kenapa? Ya karena ada kepentingan tertentu tadi, ada sesuatu di belakangnya.
Lho koq bisa disebut adil? Namanya juga manusia, wajar saja dong punya kecenderungan tertentu walaupun sudah berusaha adil. Ada anak kesayangan, ada murid kesayangan, juga ada rakyat kesayangan. Dan dalam suatu negara, biasanya yang jadi kesayangan adalah warga partainya, hehehe.
Upin dan Ipin
Tuesday, February 17th, 2009Hari Minggu kemarin saya membawa keluarga untuk menonton film Upin dan Ipin versi layar lebar. Semua keluarga, termasuk bayi berumur 11 bulan juga saya ajak.
Sengaja saya pergi pagi, supaya bisa dapat menonton jadwal paling awal. Bahkan ikut beratur di konter tiket begitu sampai di bioskop. Tapi maklum lah, tempat tinggal agak jauh dari kota. Sudah berangkat pagi pun, sampainya ya sudah siang juga. Akhirnya ketika antri sudah melihat tulisan kalo 3 jadwal pertama film itu sudah penuh penontonnya. Yang masih ada, ya jam 7 malam. Weleh, masa saya mau menunggu 8 jam untuk menonton film anak-anak? Lha, anak-anak ngapain dong selama 8 jam itu? Akhirnya saya paksain juga antri dan nanya kemungkinan nonton di jam 12.30.
Ternyata masih ada tiket. 6 tiket lagi, tapi tempat duduk yang paling depan. He he he, ga papa deh daripada pulang lagi. Udah janji sejak sebulan yang lalu sih sama anak-anak. Tiketnya murah meriah, sekeluarga hanya RM 28. Kalo dirupiahkan, ngga sampe seratus ribu. Bioskopnya sekelas 21.
Film baru akan dimulai satu jam lagi, jadi kami nunggu di tempat bermain anak. Menjelang jam 12.30 sekeluarga pergi lagi ke bioskopnya. Wah ternyata banyak juga anak-anak yang menonton. Dan yang bawa bayi ngga cuma saya sendiri. Bahkan ada yang bawa baby stroller.
Saat menonton, jadi teringat kenangan masa SD dulu. Ada beberapa kali dari SD kami diwajibkan menonton film perjuangan macam kabut sutra ungu, stasiun terakhir, dan lainnya. Kami harus berjalan kaki sejauh 3 km dari SD sampai ke bioskop. Dalam bioskop, jelas suara yang paling dominan berteriak, tertawa, dan berseloroh adalah suara anak-anak. Begitu juga di film Upin dan Ipin ini.
Filmnya cukup menghibur, ada yang lucunya dan juga yang menyeramkannya. Kualitas animasi cukup bagus. Cerita di awal juga lumayan. Tapi terganggu dengan akhir cerita.
Biasanya film Upin dan Ipin versi televisi yang cuma 5 menit itu mengambil cerita seperti kehidupan nyata. Yah, yang menghibur dari kegiatan sehari-hari lah. Ngga ada unsur supranatural atau yang aneh-aneh gitu lah.
Dalam film versi layar lebar ini, akhir cerita yang mengikutsertakan unsur ga jelas, malah mengurangi keasyikan awal cerita. Binatang jejadian yang menyeramkan dan berasal dari dunia lain, sepertinya ngga cocok buat film ini. Padahal, kalo misalnya dibikin binatang jejadian dari orang yang menyamar mungkin akan lebih menarik. Kalo yang seperti film ini, agak susah juga menjaga image film Upin dan Ipin versi layar kaca yang serba nyata.
Btw aniwe, filmnya cukup menghibur dan menyeronokkan kata anak-anak saya. Bahkan mereka minta diajak nonton lagi. Gile kali ye, masih kecil sudah jadi sufi (suka film red.). Ortunya aja jarang ke bioskop, masa anaknya sering. He he he.
Buat yang di Indonesia, tunggu aja DVD nya sebelum bisa nonton filmnya. Atau datang aja deh ke Malaysia, kan sudah murah tuh tiket pesawatnya.
Kemiskinan di Indonesia Gak Mungkin Dihapuskan
Tuesday, February 10th, 2009Kemiskinan memang hal yang tidak bisa dihindarkan dari sebuah negara. Berapa besarpun kemampuan ekonomi sebuah negara, insya Allah ada saja orang miskin. Contohnya Amerika Serikat dengan GDP terbesar di dunia, masih punya orang miskin. Apalagi Indonesia yang cuma 20 besar dunia.
Menurut statistik jumlah penduduk miskin di Indonesia sejak tahun 2006 semakin menurun. Dengan adanya krisis ekonomi dunia, kemungkinan akan bertambah lagi. Tapi itu wajar. Soalnya kemiskinan dihitung berdasarkan penghasilan saja. Yang terpenting bukan penghasilannya, tapi bisa ngga mendapatkan kebutuhan dasarnya.
Kebutuhan dasar manusia ya katanya sih sandang, pangan, dan papan. Bukan berarti semua didapatkan dari hasil keringat sendiri. Misalnya, orang miskin di Amerika bisa mendapatkan makanan dengan mengantri pembagian makan. Mereka ngga punya penghasilan untuk beli makan, tapi mereka bisa makan. Artinya yang penting bukan dapat penghasilan untuk makan, yang penting adalah bisa makan meskipun itu diberikan secara gratis.
Sandang dan papan pun bisa diberikan secara gratis, misalnya saja dipenampungan korban bencana alam yang biasanya dapat tenda dan pakaian sumbangan. Kita ngga bicara masalah kualitas. Ya namanya saja gratis, kualitas sesuai dengan yang bisa diberikan oleh pendonornya saja. Kalau mau kualitas lebih, ya silahkan cari sendiri. Kerja, dapatkan penghasilan.
Selain ketiga hal di atas, mungkin kebutuhan penting lainnya adalah kesehatan dan pendidikan. Kesehatan adalah barang mahal. Lebih murah menjaga kesehatan daripada menyembuhkan sakit. Kesadaran ini perlu dikembangkan supaya orang lebih suka menjaga tubuh sehat daripada menyembuhkan penyakit.
Kalo di negara maju, biasanya biaya kesehatan ditanggung bersama melalui asuransi kesehatan nasional. Di Indonesia juga bisa diterapkan seperti itu. Saya rela koq membayar 20rb sebulan supaya saya sehat daripada sakit. Mendingan sehat daripada mendapatkan perawatan kelas VVIP. Cuma kesadaran seperti ini susah dikembangkan karena ngga kelihatan secara visual keuntungannya.
Untuk pendidikan, ngga usah terlalu ngoyo dengan pendidikan formal yang kesuksesannya ditentukan lewat sekali ujian itu. Kalo perlu ikut saja program kejar paket A, B, C untuk mendapatkan ijasahnya. Pendidikan kemahiran hidup yang lebih utama. Kemahiran disesuaikan dengan profesi yang dipilih. Misalnya kemahiran tukang bengkel tentu berbeda dengan petani. Dengan kemahiran tertentu, pekerjaan akan lebih efisien dengan hasil yang lebih optimal. Di negara maju, seorang petani bisa mengerjakan lahan yang berkali lipat lebih luas dibandingkan dengan di Indonesia.
Jadi, biarin saja miskin yang penting bisa makan, punya tempat berteduh, berpakaian, belajar, dan sehat. Gimana?
Broadband Daily Unlimited
Friday, February 6th, 2009Hu hu hu, internet makin murah saja baik perangkatnya maupun melanggannya. Sebuah modem yang dulunya dihargai tak kurang dari 2,4 juta rupiah sekarang dapat dibeli dengan harga tak lebih dari 1 juta rupiah saja. Langganannya pun semakin murah. Sekarang dengan uang ngga sampe 300 ribu, bisa internetan tanpa batas, 24 jam sehari dan 7 jam seminggu.
Setelah handphone warisan saya rusak gara-gara ketimpa badan ketika main badminton, saya terpaksa beli lagi handphone baru. Cari yang ngga mahal, saya akhirnya dapatkan sony ericsson Z310i dengan harga sekitar 600 ribu rupiah.
Ternyata handphone kecil ini cukup bertenaga. Saya ngga terlalu tertarik dengan fasilitas macam mp3 player atau kameranya yang cuma segitu aja. Saya tertarik dengan kemampuan EDGE, GPRS, bluetooth, dan infrared dari handphone ini. Terutama sekali kalo bisa dipakai untuk akses internet. Asyik kan, bisa akses internet dari handphone murah meriah.
Pertama kali pakai, langsung cari kabel USB. Setelah dapat, langsung sambung ke internet. Ternyata ngga berhasil. USB ngga bisa dijadikan media koneksi ke internet oleh handphone sederhana ini.
Akhirnya cari bluetooth. Gigi biru satu ini katanya sih bisa juga dijadikan media penghubung komputer dengan internet melalui handphone. Setelah dapat bluetooth dan dicoba, ternyata berhasil. Waah senangnya.
Sekarang tinggal cari providernya. Awalnya tertarik dengan DiGi yang membolehkan foreigner macam saya ini melanggan internet dengan hanya uang muka 300 ribu rupiah. Eh ternyata harus pakai kartu kredit, yang akhirnya menyurutkan langkah saya untuk melanggan DiGi. Begitu juga dengan Celcom yang dealernya bilang ngga mungkin bisa handphone murah dipasangkan dengan SIM mereka yang punya kemampuan 3G.
Wah, penjual ngga tau teknik nih. Saya penasaran dong, masa sih keinginan saya punya akses internet dari handphone musnah begitu saja? Akhirnya beli saja prabayar Celcom yang murah meriah, Celcom blue.
Begitu beli, langsung tambah nilai (top up maksudnya) biar bisa buat daftar internet. Hu hu, cukup dengan uang Rp. 50 rb, semua proses berjalan dengan mulus.
Untuk percobaan saya berlangganan broadband daily unlimited yang ngga sampe Rp. 20 rb untuk akses internet 24 jam. Ternyata bisa, horeeey. Akhirnya, bye bye DiGi, welcome Celcom. Cukup yang harian aja deh, yang penting bisa internetan secukupnya. Meskipun yang bulanan cuma 200 ribuan, tapi persyaratannya itu yang ngga nahan. Maklum, alien di negeri orang. Kalo balik ke Indonesia, mungkin ngga akan seribet ini urusannya.
Happy surfing, and fyi, tulisan ini saya buat memakai broadband daily unlimited dengan kecepatan 115 kbps. Lumayan
Air
Sunday, February 1st, 2009Ini adalah cerita sakainget sakahoyong. Tentang cara saya mendapatkan air dan menikmatinya, sejak dulu kala sampai sekarang.
Dulu, saya tinggal di kampung. Daerah Cijulang di Ciamis Selatan. Bukan daerah yang subur banget sih, tapi di sana hampir semua orang bersandar dari bidang pertanian. Air bukan barang yang gampang dicari di beberapa bagian. Untuk keperluan mandi atau rumah tangga, banyak juga yang pergi ke sungai. Bagi yang tinggalnya dekat sungai sih gampang pergi ke sana. Tapi buat yang agak jauh, ya perlu perjuangan juga.
Di rumah kakek dari pihak ayah, air sungai dialirkan ke rumah melalui pipa. Jadi kualitas air di rumah mengikuti kualitas air sungai. Kalau sungai sedang keruh, maka di rumah juga keruh. Kalau sungai jernih, maka di rumah tetap keruh karena tercampur air yang kerus sebelumnya hehehe. Susahnya kalau air sungai sedang dalam paras rendah karena air ke rumah belum tentu ada.
Di rumah kakek dari pihak ibu, air didapatkan dari penggalian sumur. Biasanya setelah 4 atau 5 meter tanah digali, air akan muncul. Bukan muncrat sih, biasanya seperti merembes saja. Kalau sedang musim hari raya, air ditimba dari pagi sampai siang saja karena biasanya sudah habis ga bisa ditimba lagi. Kami harus tunggu besok paginya lagi untuk bisa mulai menimba kembali.
Pergi ke Jakarta di waktu kecil, air didapatkan dari pompa tangan. Saya masih ingat bagaimana kami harus selalu punya cadangan air agar bisa ”memancing” air keluar dari pompa. Kesenangan saya adalah mandi dipancuran pompa. Tapi karena ngga ada yang mau mompain, ya terpaksalah pompa sendiri terus lari ke bawah pancurannya. Kalo pancuran habis, ya pompa lagi dan lari lagi.
Setelah saya masuk SMP, baru di rumah pakai pompa listrik. Kali ini galian pompa listrik harus lebih dalam karena sudah ngga ada lagi air di tanah yang tidak dalam. Lebih enak karena ngga perlu berlarian lagi dari pompa ke bawah keran untuk menikmati pancuran. Sayangnya, saya sudah ngga terlalu suka pancuran lagi, hehehe.
Sampai situ, air masih gratis. Tinggal pompa dari dalam tanah. Tapi lama-kelaman air habis juga dan kami harus bergantung pada air PAM. Bayar, sesuai pemakaian. Airnya juga beda rasanya. Tapi gimana lagi, kalo musim kemarau sudah ngga ada lagi air yang bisa dipompa. Beberapa kali pompa rusak.
Pindah ke Bandung, sudah biasa dengan air PAM. Tapi sekarang musim kemarau air PAM juga sering menghilang. Kadang kadang kalau kemaraunya panjang, beberapa hari air tidak keluar. Kami terpaksa harus bulak-balik kantor untuk mengambil air buat mandi di rumah. Untungnya kantor dekat dan tidak pakai air PAM. Kalau minum, ya beli air mineral.
Jaman sekarang, air memang makin susah didapat. Tapi begitu sekali dapat, banyak sekali dalam bentuk banjir atau tsunami. Harganya lebih mahal daripada bensin. Kata siapa, energi itu paling mahal. Mungkin yang paling mahal ya air ini.
Kata orang, tinggi permukaan air laut semakin tinggi gara-gara pemanasan global. Ah itu mah teori. Kalo ngga kerasa langsung oleh kita, biasanya kita ngga peduli. Iya ga? Tapi bisa jadi sih. Kampung saya yang dekat dengan laut juga sudah mulai menyaksikan pantai yang menghilang gara-gara air laut makin tinggi. Entah sampai kapan, mungkin banyak pulau di Indonesia yang juga akan hilang ditelan air.