Kemiskinan memang hal yang tidak bisa dihindarkan dari sebuah negara. Berapa besarpun kemampuan ekonomi sebuah negara, insya Allah ada saja orang miskin. Contohnya Amerika Serikat dengan GDP terbesar di dunia, masih punya orang miskin. Apalagi Indonesia yang cuma 20 besar dunia.
Menurut statistik jumlah penduduk miskin di Indonesia sejak tahun 2006 semakin menurun. Dengan adanya krisis ekonomi dunia, kemungkinan akan bertambah lagi. Tapi itu wajar. Soalnya kemiskinan dihitung berdasarkan penghasilan saja. Yang terpenting bukan penghasilannya, tapi bisa ngga mendapatkan kebutuhan dasarnya.
Kebutuhan dasar manusia ya katanya sih sandang, pangan, dan papan. Bukan berarti semua didapatkan dari hasil keringat sendiri. Misalnya, orang miskin di Amerika bisa mendapatkan makanan dengan mengantri pembagian makan. Mereka ngga punya penghasilan untuk beli makan, tapi mereka bisa makan. Artinya yang penting bukan dapat penghasilan untuk makan, yang penting adalah bisa makan meskipun itu diberikan secara gratis.
Sandang dan papan pun bisa diberikan secara gratis, misalnya saja dipenampungan korban bencana alam yang biasanya dapat tenda dan pakaian sumbangan. Kita ngga bicara masalah kualitas. Ya namanya saja gratis, kualitas sesuai dengan yang bisa diberikan oleh pendonornya saja. Kalau mau kualitas lebih, ya silahkan cari sendiri. Kerja, dapatkan penghasilan.
Selain ketiga hal di atas, mungkin kebutuhan penting lainnya adalah kesehatan dan pendidikan. Kesehatan adalah barang mahal. Lebih murah menjaga kesehatan daripada menyembuhkan sakit. Kesadaran ini perlu dikembangkan supaya orang lebih suka menjaga tubuh sehat daripada menyembuhkan penyakit.
Kalo di negara maju, biasanya biaya kesehatan ditanggung bersama melalui asuransi kesehatan nasional. Di Indonesia juga bisa diterapkan seperti itu. Saya rela koq membayar 20rb sebulan supaya saya sehat daripada sakit. Mendingan sehat daripada mendapatkan perawatan kelas VVIP. Cuma kesadaran seperti ini susah dikembangkan karena ngga kelihatan secara visual keuntungannya.
Untuk pendidikan, ngga usah terlalu ngoyo dengan pendidikan formal yang kesuksesannya ditentukan lewat sekali ujian itu. Kalo perlu ikut saja program kejar paket A, B, C untuk mendapatkan ijasahnya. Pendidikan kemahiran hidup yang lebih utama. Kemahiran disesuaikan dengan profesi yang dipilih. Misalnya kemahiran tukang bengkel tentu berbeda dengan petani. Dengan kemahiran tertentu, pekerjaan akan lebih efisien dengan hasil yang lebih optimal. Di negara maju, seorang petani bisa mengerjakan lahan yang berkali lipat lebih luas dibandingkan dengan di Indonesia.
Jadi, biarin saja miskin yang penting bisa makan, punya tempat berteduh, berpakaian, belajar, dan sehat. Gimana?
Kemiskinan selalu akan ada, tapi harapannya adalah makin mengecil, bukannya tambah banyak
@edratna, pinginnya sih seperti trend 2007 dan 2008 dimana jumlah penduduk yang miskin semakin mengecil (padahal jumlah penduduknya bertambah). Melihat yang ada sekarang di Malaysia, pekerja dari Indonesia banyak yang dipulangkan mudah-mudahan masih menyisakan harapan tidak bertambahnya jumlah penduduk miskin.
Bener juga Pak. Sebenarnya negara kita mampu, harusnya mampu, untuk memenuhi ‘kebutuhan dasar’ setiap warganya.
Dengan kebutuhan dasar terpenuhi, setiap orang akan lebih bebas berkarya untuk mencapai kualitas hidup yang mereka inginkan.
Tapi kenapa ini belum terjadi? Apa yang diperlukan agar itu bisa terwujud?
@guh, nah yang jadi pertanyaan, kalo kebutuhannya dipenuhi pada tambah semangat berkarya atau malah tambah malas? Soale ada juga yang memilih jadi pengemis yang penting pendapatan gede daripada bekerja dengan pendapatan kecil.
@Healthy Wealthy, errr, pak.. soal pengemis. Seandainya kita sudah berhasil mewujudkan “terpenuhinya kebutuhan minimal” untuk semua, tentu saja kita bisa mengusir setiap pengemis dari setiap tempat mangkal TANPA kuatir mereka akan mati kelaparan
Bangsa kita tidak boleh miskin, karena kalau kita miskin kita akan menjadi bangsa babu (bangsa pesuruh) bagi bangsa lain. Bangsa kita sebenarnya adalah bangsa yang kaya, tapi kenapa rakyatnya banyak yang miskin? itulah yang harus kita cari jawabannya.
@Tongkonan, menjadi babu adalah profesi juga. Pembantu paling tidak ngga perlu mikirin tempat tinggal, makan, dan kesehatan (kalau dapat majikan yang baik). Semua pendapatan adalah simpanan. Bandingkan dengan buruh yang harus mikir di mana tinggal, makan, transport, dan kesehatannya sendiri.
Babu, bisa ikut naik mercy majikan dan kadang ikut makan di restoran mahal, hehehe. Tapi kenapa jarang sekali orang memilih profesi babu yang baik ya? Padahal, ada juga majikan yang memberikan ruang babunya untuk berkembang. Ada lho orang yang menyekolahkan atau setidaknya mengkursuskan babunya.
Menurutku orang indonesia itu kaya,tapi bermental miskin.jadi kekayaan orang indonesia tidak cukup untuk menutupi kemiskinan mentalnya.
Satu contoh kebiasaan mental miskin kita,adalah pecandu rokok.sudah tahu penghasilan pas-pasan gak mau berhenti merokok.sampai ada istilah lebih baik gak makan sehari dari pada gak merokok.karena miskin mental dalam segala keilmuan maupun pekerjaan dan usaha menjadi minder,padahal kaya.
Jadi kebanyakan kita ini doyan/hobi miskin.
Bahkan untuk menjaga kebersihanpun harus di iklankan di TV dan di pasang spanduk2 di jalan2.dan masih banyak miskin2 yang lainnya.
Negara2 bermental kaya,walaupun miskin selalu berusaha untuk kaya,’baik keilmuan maupun materi’.
Mungkìn kelamaan di jajah kali ya..!
Tapi kalau pejabat saking takut miskinnya sampe…x…x…x..??
@Ione.saja, kelamaan dijajah? hmm, jadi yang salah penjajah nih sekarang?
Orang indonesia, mental miskin dan kin-kin yang lainnya harus di beresin/sadarin.baik aparat pemerintahan maupun rakyatnya.!
BINGUNG…?
SUDAH….!
MERDEKA…?
INDONESIA…!
MASIH
INDONESIA SUDAH MERDEKA MASIH BINGUNG…!?
BINGUNG..?
SUDAH…!
MERDEKA…?
INDONESIA…!
MASIH..?
BINGUNG…!
SUDAH…!
MERDEKA..?
INDONESIA..!
MASIH..?
BINGUUUUNG….!!
@healthy w
Penjajah hanya akibat,bukan penyebab.
Karena mental kita yang miskin,banyak mengakibatkan kerugìan kita.apalagi di jaman persaingan sekarang ini.orang yang di pedalaman hutanpun ikut terjarah.
Kalau kita tidak merubah mental kita,mungkin kekayaan kita tak sempat kita rasakan.keburu di rampas bangsa bermental kaya.
@Ione.saja, hayu atuh kita ubah mental bersama-sama. menuju Indonesia yang lebih baik.
Bener! Bukan cuman di Indonesia. Di negara manapun, di belahan bumi manapun, orang miskin itu akan selalu ada. Begitupula dengan orang kaya. Mustahil salah satunya dihilangkan karena udah kodratnya ada yang miskin dan yang kaya. Setuju, biarkanlah miskin, asal tetap bisa makan, punya tempat berteduh dan gak punya utang. Sayangnya… saya sangat dekat dengan kehidupan seperti itu di jalanan.
@pengamen cinta
Kita semua tau di manapun pasti ada orang miskin.adanya orang kaya karena adanya orang miskin.’semua itu sudah bagian dari hukum alam.hukum ketergantungan antar mahluk.tapi sejatinya negri kita yang mudah di olah dan banyak menghasilkan devisa,jangan sampai mendapat predikat; ter- dan paling banyak….kinnya. mungkin di afrika sana masih bisa di maklumi.mungingat kondisi alamnya jauh berbeda dengan kita.
Masih ingat lagunya;
‘bukan lautan hanya kolam susu’
Kail dan jala cukup menghidupimu’
Tonggak dan kayu bisa jadi tanaman’
Lagu itu bukan sekedar isapan jempol.tapi suatu kenyataan negeri kita. ‘Oke’
Selamat siang Pak Iwan, memang sepanjang ada kehidupan kemiskinan pasti terjadi, paling tidak tugas kita sebagai aparatur pemerintah meminimalkan kemiskinan yang ada, Satu hal yang akan saya utarakan disini adalah di Kalteng ada program unggulan Pemerintah yang namanya PM2L ( Program Mamangun Tuntang Mahaga Lewu ) Program pengentasan kemiskinan di Kalteng yang dibuat oleh Gubernur A. Teras Narang SH dan Wagub Ir. H. Achmad Diran, yang lain dari pada yang lain ,ingin tahu lebih jauh bisa lihat pada blog saya atau blog Atn Center Kalimantan Tengah. Semoga program unggulan pemerintah kalteng bisa juga diterapkan di daerah anda. Selamat Mencoba.
Regards, agnessekar.wordpress.com
Saya sependapat dengan komentar2 di atas. Kemiskinan tidak akan pernah bisa dihapuskan dari muka bumi ini. Kemiskinan itu sebuah keniscayaan. Barangkali definisinya yang harus selalu diperbaharui, tentunya dari berbagai perspektif.
Karena kemiskinan, maka:
1. Ada program2 pemerintah –> Anggaran untuk honor pegawai, perjalan dinas, pembangunan sarana fisik, dll.
2. Kita wajib bayar zakat (bagi muslim) –> Kalau ndak ada yg miskin, bayar zakat ke mana/siapa?
3. Ada yang jadi pembantu, penjaga kebun, tukang pukul, polisi, maling, koruptor. Kalau ndak ada kemiskinan–>ndak ada maling–>ndak ada polisi–>ndak ada hakim–>……..dst.
4. Orang kaya ndak perlu bayar pajak…
5. dst…
Kemiskinan hanya bisa bekurang….sampai batas tertentu….
gimna indonesia ny ng miskin
klo rakyat nya ng bisa mandiri
dikit dikit ada bencana alam semua minta tanggungan pemerintah
dikit dikit selalu nyalahin pemerintah
padahal klo ditanya apa da solusi buat pa yang dia kritik blum tentu ad
cobalah berbuat sedikit untuk negara
jangan cuma nuntut pa yang bakalan di berikan oleh negara
jangan cuma kritik doang
cepat bertindak lancarkan strategi untuk memperbaiki pa yang ingin di kritik
makana klo ada pemilu tu yang bener dong milih nya
jgn asal coblos n nyontreng doang
jangan terlalu semangan nyalahin pemerintah……….
yang ngasi mereka kesempatan buat jadi bagian pengambilan keputusan penting negara yang bikin kecewa kn kita kita juga
Kemiskinan tidak mungkin dapat dikikis habis dari muka bumi Indonesia. Hal ini disebabkan oleh faktor manusianya yang senang menempuh jalan pintas, sabet sana-sini, dan faktor kesengajaannya. Selain itu, definisi kemiskinan ada banyak, Jadi pengertian miskin pun beraneka-ragam. Jadi selama masih demikian, maka itu berarti kemiskinan terletak di antara berbagai macam konsep itu.
Jadi perlu klarifikasi indikator dan batasannya.
Tidak ada orang Indonesia yang kaya. Semuanya masih miskin, bukan ???
Tks
@guh, bukan mengemisnya yang jadi perhatian, tapi semangat berkaryanya. Bayangkan, kalau orang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya dan merasa nyaman dengan itu terus ngga mau susah-susah lagi. Gimana? Sayangnya saya bukan orang yang tau sosiologi dan perilaku hidup masyarakat. Kalau yang tau, mungkin bisa menyiapkan suatu program yang bisa memenuhi kebutuhan hidup tapi tetap membuat orang semangat berkarya.