Di Malaysia, jumlah orang masih sedikit. Se Malaysia itu jumlahnya cuma sekitar 27 juta orang yang mungkin sama dengan tumplek blek nya Jakarta di hari sibuk. Karena itu tempat wisata di sini ngga pernah terlalu penuh (setidaknya tempat yang sudah pernah saya kunjungi). Bukan cuma orang lokal yang berkeliaran seperti penjual atau tukang parkir, pengunjungnya juga tidak terlalu penuh.
Kunjungan pertama ke peninggalan kapal korek di daerah Kampar, Perak. Pengunjungnya cuma rombongan kami. Tidak ada penjaga, tidak ada penjaja. Meskipun demikian tempatnya bisa dibilang bersih. Mungkin juga karena tidak pernah ada pengunjung jadi tetap bersih hehehe.
Selanjutnya ke air terjun (Lata) Kinjang. Yang datang boleh dihitung dengan jari. Paling banter di luar rombongan kami hanya ada 10 mobil lagi. Penjaga hanya minta uang parkir sedangkan masuk ke tempat wisatanya gratis. Ngga ada orang yang sibuk nawar-nawarkan barang. Pengunjung bebas seperti berkunjung ke kampung sendiri.
Tempat yang lain juga seperti itu. Hampir ga ada biaya sama sekali, ngga ada yang gangguin dengan menawarkan bermacam-macam barang. Semua penjual adalah berlisensi yang ngga pernah ngintilin pengunjung sambil memaksa untuk membeli. Beda dengan cerita di perencanakeuangan.com tentang wisata ke Borobudur yang asyik diganggu oleh tawaran barang, tawaran cuci mobil, yang bahkan ketika kita bilang tidak pun mereka tetap mengikuti kita atau mencucikan mobil kita yang sedang diparkir.
Pengunjung tempat wisata di Malaysia memang lebih nyaman, tidak merasa terganggu, dan juga merasa lebih aman. Apalagi dengan banyaknya polisi yang berjaga di sekitar tempat-tempat berkumpulnya orang. Apakah di Indonesia bisa seperti itu? Berat deh kayaknya dengan jumlah orang sebanyak ini. Apalagi dengan semangat memiliki yang sangat tinggi, setiap orang merasa memliki tempat dan memiliki hak untuk berusaha mendapatkan uang. Tidak dengan mencuri, tidak dengan korupsi, tapi dengan pasang badan di depan calon pembeli sampai barangnya terjual. Bahkan mengerjakan apa yang tidak dibutuhkan orang lain agar dapat uang. Pembeli dan pelanggan tidak lagi menjadi raja. Perjalanan wisata menjadi menyebalkan gara-gara gangguan yang tak perlu. Lalu akhirnya ya wisatawan asing jadi malas datang lagi.
Kembali lagi ke wisata di Malaysia, terutamanya di Pulau Penang. Ada hal menarik yang mungkin bisa dijadikan pelajaran. Pada satu masa dulu, Pulau Penang adalah tempat yang menarik wisatawan terutama wisata pantainya. Kalau melihat foto-foto yang diupload oleh wisatawan mancanegara tahun 2004 an, terlihat pasir yang berwarna putih dan air yang biru. Indah sekali. Tapi kemarin saya pergi ke Pantai Feringghi, tidaklah lebih menarik dibandingkan pantai di dekat tempat saya tinggal. Pantai Teluk Batik terlihat lebih cantik dengan penataan yang lebih baik.
Menurut penjaga kamar tukar baju berenang, dalam beberapa tahun terakhir memang jumlah wisatawan asing yang datang ke Pantai Feringghi jauh berkurang. Lagi, menurut supir taksi yang mengantar saya pulang dari pantai, Gurney Drive dan beberapa pantai lainnya di dekat kota Georgetown sudah tidak layak lagi untuk disentuh airnya karena sudah butek, kental, dan kadang berwarna hitam. Suatu hal yang tidak bisa dihindari karena Pulau Penang juga ingin maju di bidang lain. Akhirnya jumlah penduduk makin banyak, perumahan juga, industri berkembang, akhirnya yang jadi korban adalah alam. Habis mau bagaimana lagi, limbah dari rumah tangga dan industri ya larinya ke laut juga.
Saya membayangkan apa yang akan terjadi pada wisata alam di Indonesia. Apakah akan bernasib sama seperti Pulau Penang? Kalau memang ingin maju dari pariwisata ya mungkin harus melupakan maju dari Industri. Keseimbangan alam juga harus dijaga supaya tarikan keindahan alam tetap bisa terjual ke wisatawan. Atau apakah kita bisa seperti negara Eropa yang mampu menjaga kelestarian alamnya disamping memajukan industri lainnya?
Pertanyaan yang belum bisa saya temukan jawabannya. Mungkin hanya waktu yang bisa, satu saat nanti.