Entries RSS Comments RSS

Partai Golongan Kaya dan PDI Peruangan

Pemilu sebentar lagi. Bahang panasnya sudah sampai ke seluruh dunia. Bahkan sampai ke pelosok Malaysia seperti tempat saya sekarang ini.
Malaysia, adalah tempat pemilihan luar negeri yang paling banyak jumlah daftar pemilih tetapnya. Pendaftarannya ngga seperti di Indonesia yang pakai sistem RT/RW. Di sini pemilih mendaftarkan diri melalui sms atau lewat internet. Jadi, ada ratusan ribu orang yang terdaftar di sini.
Ratusan ribu orang itu, tentu tidak akan cukup ditampung TPS-TPS yang jumlahnya cuma sedikit di KBRI KL, Konjen, dan sekolah-sekolah Indonesia. Tadinya jumlah TPS mau ditambah dengan pendekatan pribadi Dubes yang mantan Kapolri, balai Polis di beberapa daerah akan dijadikan TPS. Ternyata, kemungkinannya susah juga. Soalnya jumlah pemilih dan jumlah TPS yang diijinkan tidak akan seimbang. Akhirnya ya pakai sistem undi pos juga.
Undi pos memang rawan kecurangan. Misalnya kartu suara dikirimkan ke pabrik atau kebun tempat bekerja TKI. Lalu kartu suara itu diambil oleh satu orang dan dicoblosin semuanya berdasarkan keinginan sipengambil kartu. Dikirimkan balik ke KBRI, jadilah suara sah untuk partai tertentu saja.
Sekarang ada model baru untuk mengurangi kemungkinan curang, yaitu dengan sistem jemput kartu suara. Kartu yang disampaikan harus diantar langsung oleh pemilih kepada penjemput. Harapannya, kecurangan pemilu dapat dikurangi.
Yah, mudah-mudahan saja pemilu sekarang di Malaysia dapat berjalan dengan baik. Jangan sampai panitianya malah jadi obyek pemeriksaan karena kasus pemalsuan kartu suara.
Sekedar mengingat masa lalu, ketika dulu cuma ada 3 partai yang ikutan pemilu. Saat itu Golkar adalah partai penguasa, katanya mewajibkan pegawai negeri untuk memilihnya. Bahkan setiap pegawai negeri harus memastikan keluarganya juga mencoblos Golkar. Jangankan keluarga, guru di sekolah saya pun dulu mewanti-wanti agar siswa yang menjadi pemilih pemula supaya mencoblos nomor 2 yang berwarna kuning.
Sekarang pilihan lebih banyak, puluhan malah. Entah pemilih jadi bingung atau tidak. Terkadang ngga bingung, karena katanya suara bisa diberikan kepada pembeli terbesar. Beberapa kawan yang datang untuk sosialisasi pemilu di sini pun sudah ditanyakan, kaos dan bayarannya berapa. Padahal bukan tukang kampanyeu lho.
Ada calon pemilih yang meminta uang dan ternyata ada juga caleg yang mau memberikan uang. Ini sih dari partai manapun, namanya adalah caleg partai Golongan Kaya atau PDI peruangan karena mampu menghamburkan uang sedemikian banyaknya hanya agar gambarnya dibolongin atau kotaknya dicorat-coret. Sayang ya uangnya. Coba kalau digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, misalnya memberi saya beasiswa sekolah sampai selesai S teler.
Perubahan yang terjadi setelah selesai pemilu pun ternyata katanya tidak seperti harapan. Banyak janji yang diingkari oleh orang yang terpilih (katanya). Akhirnya menyebabkan beberapa orang menjadi apatis, memilih untuk tidak memilih karena merasa perbuatan memilih adalah perbuatan sia-sia.
Di sisi lain, ada lagi yang mengharamkan perbuatan tidak memilih atau yang lebih dikenal sebagai golput. Sampai-sampai keluar fatwa. Hebat-hebat.
Yah, saya sebagai rakyat jelalatan eh jelatawan cukup mengikuti saja perjalanan pemilu sekarang. Kalau sempat memilih, ya ikut milih. Kalau ngga sempat, ya mau gimana lagi. Mudah-mudahan siapapun yang terpilih, lebih banyak yang menginginkan kebaikan bagi Indonesia daripada yang menginginkan kebaikan bagi diri pribadi. Dengan begitu pas saya pulang, Indonesia sudah menjadi negara yang jauh lebih baik. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Tags:

2 Responses to “Partai Golongan Kaya dan PDI Peruangan”

  1. sungguh keblinger apabila wakil rakyat hasil pemilu 2009 nanti tdk melakukan perubahan, pak iwan, terutama budaya korupsi yang sdh mengakar di gedung dewan.

  2. edratna says:

    Saya masih tenang-tenang aja pak..senyum2 aja melihat foto caleg yang bertebaran dipinggir jalan itu.

Leave a Reply