Entries RSS Comments RSS

Ketahanan Energi

Kebutuhan energi di Indonesia dipenuhi dari berbagai macam bentuk asal seperti Minyak Bumi, Gas Alam, Batubara, Hidro, atau dari yang sedang ngetrend sekarang, bio fuel. Dari berbagai macam bentuk asal tersebut, dirubah lagi menjadi bentuk energi siap pakai yang utama seperti BBM dan listrik. Bentuk energi siap pakai inilah yang digunakan untuk menggerakkan roda ekonomi bangsa Indonesia dari mulai industri sampai ke rumah tangga.

Mulai tahun 2004, Indonesia sudah tidak bisa memenuhi semua kebutuhan minyak bumi dari produksi sendiri. Mungkin 10 – 20% kebutuhan minyak Indonesia didapatkan dari mengimpor. Kebutuhan bentuk energi asal yang lain seperti Gas Alam dan Batubara alhamdulillah Indonesia masih memiliki produksi yang lebih banyak dibandingkan kebutuhan dalam negeri. Lagi pula cadangannya jauh lebih banyak dibandingkan cadangan minyak bumi. Mungkin masih cukup untuk beberapa puluh tahun ke depan.

Tapi sayangnya, meskipun produksinya lebih banyak dari konsumsi, sebagian besar gas alam Indonesia dipakai untuk ekspor ke luar negeri. Karena itulah beberapa industri di Indonesia sudah mulai kelimpungan mencari bahan bakar gas untuk keperluan produksinya. Misalnya yang sedang perlu banget adalah industri pupuk.

Sebenarnya pemerintah sudah melakukan keputusan yang baik dengan memprioritaskan kebutuhan gas alam dalam negeri. Tetapi karena gas alam ini harganya murah, maka negara lain pun susah payah ingin mendapatkannya dari Indonesia. Misalnya Jepang yang membutuhkan gas alam dalam jumlah banyak untuk industri pembangkitan listriknya. Dengan memakai bahan bakar gas yang murah dari Indonesia, mereka bisa memproduksi listrik dengan biaya yang lebih rendah.

Bagaimana dengan Indonesia? Industri listrik Indonesia katanya kurang bisa berkembang akibat terlalu besar subsidi. Apalagi dengan beberapa kasus pembangkit swasta yang menjual listriknya ke PLN dengan harga di atas harga jual PLN ke konsumen. Akibatnya PLN sering jadi sumber pemorotan keuangan negara. Padahal, kata teman-teman yang kerja di PLN, mereka masih sanggup koq memproduksi listrik dengan harga murah tanpa perlu bantuan pihak swasta.

Coba baca berita di koran kompas hari ini (31 Maret 2009) di mana Dubes Jepang untuk Indonesia menyurati Presiden sambil “mengancam” kelangsungan investasi Jepang di Indonesia akibat terkatung-katungnya proyek gas alam untuk industri listrik mereka. Bagaimana ya keputusan pemerintah? Apakah akan mengalah demi industri luar negeri mendapatkan biaya murah pembangkitan listrik atau lebih mementingkan industri dalam negeri?

Sewaktu supervisor saya masih orang Indonesia, beliau bercerita tentang istrinya yang diundang oleh Perdana Mentri Malaysia. Biasalah, perusahaan energi di Malaysia ada yang tertarik untuk mendapatkan hak mengusahakan gas alam di Indonesia. Untungnya orang PERTAMINA sekarang masih mementingkan kepentingan rakyat Indonesia. Bayangkan, jumlah penduduk miskin Indonesia saja lebih besar daripada jumlah penduduk seluruh Malaysia. Tapi perusahaan Malaysia masih ingin juga untuk bisa mengelola gas alam di Indonesia untuk kesejahteraan rakyat Malaysia.

Coba kita lihat keputusan apa yang akan diambil pemerintah. Apa bisa seperti pemerintah Malaysia dan Jepang, yang bersedia bahkan untuk mengambil sumber daya di negara lain demi kesejahteraan rakyatnya? Kalau bisa, maka layaklah orang itu kita pilih jadi pemimpin bangsa Indonesia untuk 5 tahun ke depan.

  • Share/Bookmark

Tags: ,

Leave a Reply