Entries RSS Comments RSS

Merdeka

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tujuh belasan tahun ini dirayakan hanya bersama kawan-kawan yang tinggal di luar kampus. Biasanya sih, acara diadakan di dalam kampus dengan PPI sebagai panitianya. Tapi karena heboh wabah H1N1, acara belum bisa mendapatkan persetujuan pihak kampus dalam rentang waktu yang cukup untuk diumumkan. Akhirnya ya kawan-kawan bikin sendiri acara di luar kampus tanggal 15 Agustus, utamanya untuk anak-anak.

Acara dimulai cukup pagi. Sudah dari jam 8 hampir semua keluarga sudah berkumpul. Tepat jam 9 acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh anak-anak. Cukup aneh, karena hampir semua tidak bisa menyanyikannya. Hanya yang pernah sekolah di Indonesia saja yang sudah hafal, sedangkan yang sejak awal sekolah di Malaysia malah lebih hafal lagu kebangsaan Malaysia.

Saya sendiri sudah beberapa kali mengajarkan lagu Indonesia Raya, tapi lagu itu terlalu panjang untuk anak-anak. Jangankan lagu yang panjang, lagu bintang kecil saja masih susah untuk dihafalkan untuk anak-anak saya. Kalau lagu kebangsaan Malaysia, tentu mereka hafal karena setiap hari mereka upacara di sekolahnya. Apa Indonesia Raya juga harus dinyanyikan setiap hari ya biar hafal? Misalnya sebelum berangkat sekolah, upacara dulu di rumah. Ah kayaknya ngga mungkin.

Acara anak-anak cukup seru, karena banyak juga permainannya. Balap karung, sendok kelereng, masukin pulpen ke botol, cari permen di tepung, wah pokoknya buat anak-anak cukup rame. Kalo buat ortu sih, melihat anak senang juga sudah ikut senang hehehe.

Ada juaranya, dan dapat hadiah. Yang tidak juara juga dapat hadiah, tapi diberikan setelah yang juara dapat. Aneh ya, koq semua dapat? Ini konsep baru dalam perlombaan, dimana yang penting semua senang.  Ada juga sih hadiah yang tersedia dalam jumlah terbatas, yang akhirnya dibatasi juga penerimanya. Satu keluarga hanya boleh dapat maksimum dua. Keluarga saya juga hanya dapat dua, padahal ada tiga anak. Tapi kalo yang kue-kuehan, semua dapat.

Buat bapak-bapak, ada acara sepak bola dadakan. Ternyata badan yang sudah tua makin terasa. Ga kuat lagi euy main lama-lama. Untungnya kedudukan seimbang, jadi ngga terlalu sedih. Kan kalo kalah, sedih banget, udah cape, ngga bisa main lama, eh kalah pula.

Selepas itu, makan bakso. He he he, For Your Information, ngga banyak yang jualan bakso di sini. Ada pun harus jalan cukup jauh, sekitar 10 km dari perumahan. Atau yang cukup terkenal dikalangan orang Indonesia, ada 50 km dari kampus. Kalau mau bersabar, ada juga yang datang ke pasar malam seminggu sekali. Tapi mahal, jadi bikin sendiri aja. Setidaknya bisa menuntaskan kerinduan pada bakso.

Sudah makan bakso, pulang. Enak tho? Mantep tho?

Memang tidak seheboh agustusan di Indonesia, tapi terus terang  yang semacam ini buat yang sedang di luar negeri menyirami sedikit kerinduan kepada Indonesia. Memupuk rasa kebangsaan yang semakin lama semakin tergerus.

Merdeka.

  • Share/Bookmark

One Response to “Merdeka”

  1. meski sederehana, yang penting tetep semangat 45, pak iwan.

Leave a Reply