Entries RSS Comments RSS

Pilihan Hidup

Home

Hidup manusia, penuh dengan pilihan. Semua terbentang di depan mata, tinggal kita memilih dan menjalaninya. Biasanya dalam hidup ada beberapa momen, kita harus membuat pilihan berat yang akan menentukan jalan hidup kita dikemudian hari.

Kalau untuk anak yang belum baligh, pilihan belum berbuah tanggung jawab. Beda dengan orang yang sudah baligh, semua ada konsekuensi yang cukup besar. Mungkin, saat-saat kita membuat pilihan yang benar-benar akan merubah hidup adalah saat kita sudah punya KTP. Kita? Atau setidaknya buat saya deh.

Pilihan pertama, adalah tempat kuliah. Beberapa yang lain mungkin memilih untuk langsung bekerja. Tapi buat saya, pilihan kuliah memang menentukan jalan hidup seterusnya. Dulu milih tempat kuliah sudah cukup berat. Kadang pertimbangan bidang yang saya senangi, kadang juga memperhatikan pendapat keluarga, atau memperhatikan trend yang sedang ada.

Saat itu, Teknik Elektro bukan pilihan pertama saya. Dulu saya ingin masuk Teknik Mesin, tapi orang tua saya yang lulusan mesin memberi pertimbangan agar memilih jurusan lain karena ada sedikit pengalaman ga enak akibat jurusan ini. He he he, no hurt feeling ya yang dari Mesin.

Akhirnya pilih juga deh Teknik Elektro. Eh ternyata harus milih sub jurusan lagi setelah satu tahun kuliah. Pilih Teknik Kendali, karena jumlah orangnya yang ngga terlalu banyak.  Hanya hitungan belasan saja, tapi bisa lebih kompak dan menyenangkan.

Selanjutnya memilih istri. Buat beberapa orang, mungkin sulit memilih istri yang baik karena mereka punya beberapa pilihan. Kasus saya, cuma satu ini yang mau menerima saya jadi suaminya. Dia memilih, saya terpilih. Alhamdulillah bisa menyingkirkan pesaing-pesaing tangguh. Tapi, terus terang saat itu saya ngga tau kalo saya punya saingan. Duh, untung aja terpilih. Kalo tau punya saingan, mungkin hidup saya tambah uring-uringan.

Pekerjaan adalah salah satu pilihan terberat. Pada saat masuk kuliah dulu, dengan status Teknik Elektro di perguruan tinggi paling ternama di Indonesia, tentu sudah banyak impian pekerjaan yang muluk muluk. Perusahaan multinasional, atau kerja di luar negeri dengan gaji yang besar. Pilah pilih pekerjaan, sampai-sampai ga ada yang mau nerima hehehe.

Akhirnya, saat mengerjakan suatu proyek di anak perusahaan asing, saya merasakan kenyamanan bekerja menjadi pengajar daripada kantoran lainnya. Setelah itu, konsentrasi pemilihan pekerjaan pun hanya pada lowongan menjadi dosen, entah swasta atau negeri.

Ternyata, kesempatan itu datang juga. Setelah satu bulan menikah, masih sekolah, dan belum punya pekerjaan, saya diterima menjadi PNS. PNS gitu lho, yang katanya gaji pas-pasan. Tapi saya gembira sekali.

Memang benar, dulu gaji PNS pas-pasan (emang sekarang udah berlebihan ya?). Maka ketika ada kesempatan ke luar negeri, muncul juga godaan-godaan. Bayangkan saja, gaji di Malaysia bisa lebih dari 8 kali lipat gaji PNS dengan posisi yang sama.

Untungnya (untung apa rugi sih?), saya masih yakin rejeki saya ada di PNS di Bandung sana. Mudah-mudahan segera selesai kewajiban di sini dan bisa pulang menjadi PNS lagi, secepatnya. Ngga tertarik dengan gaji gede? Tertarik juga sih, tapi kayaknya tetep pulang aja deh sebagai pilihan.

Beberapa kawan lain yang sekolah di negara Eropa dan Jepang, memilih tidak meneruskan sebagai PNS. Ada beberapa alasan, terutamanya kekecewaan akibat kurangnya perhatian saat menjadi PNS. Seperti tidak diuruskan pra jabatan, tidak diberi bantuan keuangan saat menuntut ilmu, dan banyak lagi.

Akhirnya ya pilih keluar, dengan segala konsekuensinya. Ada juga sih, yang katanya setelah selesai sekolah mereka kerja dulu di luar untuk mengumpulkan uang. Misalnya untuk mengembalikan uang yang dipakai untuk sekolah. Setelah kerja beberapa waktu, mereka kembali lagi ke tempat kerjanya.

Sempat penasaran juga, berapa lama ya orang-orang yang mengambil keputusan untuk kerja dulu di luar sebelum kembali lagi itu bertahan di tempat kerjanya? Misalnya setelah kuliah selesai, kerja 3 tahun di luar, lalu kembali ke tempat kerja lama. Berapa lama setelah kembali dia bisa bertahan kerja di tempat lama?

Kabarnya, yang langsung kembali saja pada pergi lagi keluar. Alasannya banyak, dari tidak terpakainya ilmu yang dipelajari di luar, kurangnya fasilitas untuk melanjutkan ilmu yang sudah diperoleh, sampai alasan klasik yaitu uang yang sedikit dari tempat kerja. Apalagi yang kerja dulu di luar, sudah merasakan tingginya penghasilan dan tiba-tiba harus hidup seadanya lagi ketika kembali ke Indonesia.

Jangankan yang kerja, saya saja yang sekolah sudah terasa bedanya. Padahal cuma di negeri tetangga lho. Mungkin ga seberapa tinggi uang yang didapat mahasiswa di sini bila dibandingkan dengan orang yang sekolah di Eropa atau Arab sana. Tapi dari sisi kebutuhan hidup, sudah cukup terpenuhi dari yang sedikit itu. Apalagi kalau kerja yang gajinya berkali lipat dari pendapatan mahasiswa.

Sebagai bandingannya gini, ada orang Indonesia yang kerja serabutan di Malaysia. Dia bilang, kerja di Indonesia seminggu ngga cukup buat sekeluarga 1 hari. Kerja di Malaysia sehari, cukup buat makan seminggu. Nah lho, menggiurkan ga tuh? Itu untuk pekerjaan sekelas tukang bangunan.

Kerjaannya gampang saja. Membetulkan saluran air yang mampet, dapat RM 80. Padahal kerjanya cuma 2 jam selesai. Sehari makan di restoran, cukup dengan RM 10. Artinya untuk makan di restoran saja, kerja 2 jam cukup untuk seminggu. Apalagi masak sendiri, bisa buat sekeluarga tuh. (Meskipun, ga selalu seperti ini ya pekerjaannya, banyak juga yang hidup seadanya, tapi setidaknya bisa makan)

Anyway, setiap pilihan, terutama buat yang sudah dewasa, penuh dengan tanggung jawab dan menentukan nasib berikutnya. Menjadi pemilih bijak, ngga datang dalam satu tahun. Seandainya sudah terbiasa memilih sejak kecil, mungkin ketika dewasa sudah lebih bijak memilih.

Ups, sori ga tau lagi mau dibawa kemana tulisan ini. Jadi disudahi saja dulu. Wassalam

  • Share/Bookmark

Leave a Reply