Belanja, adalah hal biasa. Maklum sebagai makhluk biasa yang ngga mungkin menyediakan semua kebutuhan diri, perlu membeli dari orang lain. Di bawah ini, saya coba membuat daftar perilaku belanja berdasarkan tingkat keuangan. Bisa anda tentukan sendiri, kira-kira tingkat keuangannya yang mana ya masing-masing perilaku itu.
Tingkat 1.
Kalau diajak belanja, agak susah. Mikirnya lama karena harus penuh perhitungan. Kadang harus nabung dulu sekian lama, baru mau jalan ke pertokoan. Kata-kata yang sering diucapkan adalah “ntar dulu deh ke mallnya. Semua barang keperluan masih bisa dibeli di warung. Padahal kalau dihitung-hitung, ada barang yang bisa dibeli dengan harga lebih murah di mall. Tapi ga papa, kan namanya juga menghidupkan roda ekonomi. Ngga cuma beli di toko besar aja, toko kecil juga perlu pelanggan, iya ga?
Tingkat 2.
Yang ini sudah ngga susah diajak belanja. Karena tau, ada barang murah yang bisa di beli di toko besar. Kata-kata yang sering digunakan adalah “Yuk, kita ke mall. Kalau ada barang yang lebih murah, baru kita beli. Kalo ga ada, ya udah cuci mata aja.”
Saya, sejak jaman kuliah dulu sudah masuk di kategori ini. Tapi, ya sering cuci mata aja, belanjanya sih bisa dihitung dengan jari, hehehe. Anak kost, apa sih yang dibeli. Paling beli sabun, odol, dan snack sedikit. Sisanya ya dibeli di warung aja, ngga perlu ngongkos dan bayar parkir.
Sekarang juga masih. Kalau mau belanja ke mall, harus lihat dulu di internet lagi ada promosi apa. Kalo ga ada promosi, ya beli di dekat rumah aja. Lagi pula, ongkosnya mahal banget karena tempat mall terdekat sekitar 30 km dari rumah. Kalo ga ke bayar ongkos dengan promo, hmm pikir-pikir dulu deh, hehehe.
Tingkat 3.
Jadi ingat dosen saya dulu di Lab Konversi ITB. Kata dia, tingkat ini adalah tingkat orang yang sudah tidak punya masalah dengan uang. Kata-kata yang sering digunakan adalah “Ada barang bagus nih, beli ah”. Harga tidak jadi masalah, yang penting hati suka.
Kapan ya bisa seperti ini? Insya Allah satu saat nanti.
Tingkat 4.
Ini, orang yang udah bingung mau ngapain lagi dengan uang. Kata-kata yang sering keluar adalah “wah, udah tanggung nih nyampe di mall. Masa sih ngga beli apa-apa”. Gubrak. Enak banget bilangnya.
Teman saya di Bandung, terheran-heran dengan orang seperti ini. Waktu itu, sedang ganti oli dan kebetulan ada orang yang mau ganti ban sekalian rim nya. Belasan juta sekali jebret. Padahal ban yang lama masih bagus, terlalu bagus.
Kadang orang yang seperti ini juga jadi aneh pilih tempat belanja. Padahal made in Indonesia juga, tapi pengennya beli di Singapura. He he he, di Mangga Dua, jauh lebih bagus dan lebih banyak dapetnya kalo kata backpacker.
Ada juga seorang sultan, yang ngasih tukang cukur rambut seharga ratusan ribu dollar Amerika. Cuma nyukur gitu lho. Kebanyakan duit, mending kasihkan ke saya ya, biar bisa loncat ke tingkat 3. Dibuang-buang sayang tuh.
Anda sendiri, masuk tingkat mana? Mudah-mudahan sudah masuk yang 3, tapi jangan sampai masuk yang 4 ya.
Tags: shopping
Kalau saia pengen yang keempat dalam hal kebebasan finansialnya. Bebas ngapa-ngapain tanpa perlu mikir duitnya hihihi..
Etapi saia masih termasuk golongan ke-1 ding ^^
Kok tipe ku nggak ada ya?
Saya hanya belanja jika memang membutuhkan….hehehe…
Jadi urusan uang adalah nomor sekian….